Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 12


__ADS_3

Catherineberdiri di depan


wastafel kamar mandi di kamarnya. Tatapannya tertuju pada cermin di depannya.


                Kamu berhak bahagia, kamu berhak mengejar keinginanmu sendiri. Jangan


jual kebahagiaanmu dan hidupmu demi bisnis. Tinggalkan pria sialan itu.


                Ucapan Aiden tadi kembali terngiang di telinganya.  Andai, andai ia bisa menggapai


kebahagiaannya. Andai cintanya tidak sebelah pihak. Andai Aiden juga


mencintainya. Mungkin semua rasa sakit ini tidak akan pernah ia rasakan.


                Tangan Catherine


terangkat memegang dadanya yang mendadak sesak dan sakit. Ia meremas pakaiannya


seakan ingin menghentikan rasa sakit di dadanya. Air mata tanpa sadar luruh


membasahi pipinya.


                ‘Aku ingin bahagia, sangat ingin. Tetapi apa aku bisa bahagia tanpa kamu?’ batin Catherine.



                Aiden tengah berdiri


di balkon apartemennya seraya meminum bir dalam kaleng. Bayangannya teringat


pada kejadian tadi dimana tatapan Catherine tadi entah kenapa membuatnya merasa


tak nyaman.


                “Ada apa denganku,”


gumamnya.


                Aiden terus


terpikirkan Catherine dan tatapannya. Tatapan Catherine tadi tidak dingin


maupun datar. Tetapi tatapan penuh rasa sakit dan seakan mengharapkan sesuatu.


Aiden tidak memahami semua itu.



                “Apa kamu gila!” pekik


Robert didalam ruangan Catherine.


                “Sudah aku katakan,


aku ingin membatalkan pertunangan ini,” seru Catherine dengan tenang.


                “Jangan bermain-main


denganku, Catherine. Kau pikir bisa seenaknya membatalkan pertunangan ini!”


pekiknya terlihat sangat emosi.


                “Kenapa harus begitu


emosi? Bukankah sejak awal pertunangan ini hanya untuk mempererat bisnis kita.


Tetapi aku pikir semua itu tidak perlu dengan kita harus menikah,” ucap


Catherine masih dengan nada datar.


                “Kau!” Robert


mencengkram kedua pipi Catherine dengan kencang membuatnya meringis kesakitan.


“Angkuh sekali kamu ini. Kau pikir kamu siapa bisa seenaknya membatalkan


pertunangan ini!”


                “Lepaskan aku!”


                “Jangan harap bisa


membatalkan pernikahan ini.”


                Brak


                Robert mendorong tubuh Catherine hingga punggungnya


membentur sofa di belakangnya. Sebelum Catherine bangun, Robert sudah menindih


tubuhnya.


                “Aku bodoh karena


selama ini bersikap baik dan menghormatimu, ******.” Tanpa permisi Robert


menarik paksa kemeja yang di gunakan Catherine hingga terbuka dan


memperlihatkan bra berwarna creamnya juga perut putihnya.


                “Lepaskan aku!”


Catherine berontak dan sekuat tenaga mendorong tubuh Robert. “Tolong.....”


                “Teriak saja. Dasar


bodoh! Ruangan ini kedap suara,” kekeh Robert tertawa jahat dan mulai mencumbu


bagian leher Catherine walau ia tahan dengan kedua tangannya. Tetapi apalah


daya tenaga seorang wanita yang kalah berkali-kali lipat dari tenaga seorang


pria.


                “Tolong.... siapapun


tolong aku!” isaknya. “Lepaskan aku, Bajingan!” teriak Catherine terus


berontak.


                Robert menahan kedua


tangan Catherine di atas kepalanya dengan sebelah tangan Robert. Sebelahnya


lagi menjamah bagian dada Catherine yang terasa sangat sakit.


                Tolong... jangan membuat hidupku semakin hina...


                Brak


                Pintu terbuka lebar dan dengan langkah lebar, seseorang


yang baru saja mendobrak pintu langsung menarik Robert menjauh dari tubuh


Catherine.


                “Sialan!”


                Bug


                Pria itu adalah Aiden. Aiden mengamuk dan memukuli Robert


tanpa ampun hingga membuat darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya yang


sobek.


                “Pria tidak bermoral!”


seru Aiden begitu emosi. Ia hampir melayangkan tinjunya lagi, tetapi petugas


keamanan yang di panggil oleh sekretaris Catherine datang dan membawa Robert ke


kantor polisi.


                Aiden menghembuskan napasnya


dan menoleh ke arah Catherine yang sudah duduk dengan memeluk tubuhnya sendiri


dan mengeratkan kemejanya untuk menutupi tubuhnya.


                “Nyonya, apa anda


baik-baik saja?” tanya sekretaris Catherine.


                Catherine tak menjawab


dan hanya menangis dalam diam. “Kamu boleh keluar, biar aku yang menemani


Catherine,” ucap Aiden.


                “Emm... baik Sir.”


Sekretarisnya pun keluar dari ruangan dan menutup pintunya.


                Kini hanya tinggal


Aiden dan Catherine berdua. Aiden berjalan mendekati Catherine dan duduk di


sofa di sampingnya. Catherine masih menundukkan kepalanya dengan tangisannya.


Tubuhnya terlihat bergetar hebat.


                Aiden menarik


Catherine ke dalam pelukannya. “Semuanya sudah baik-baik saja,” ucapnya


mengusap punggung Catherine yang bergetar.


                Catherine menangis


dalam pelukan Aiden. “Aku sangat takut,” gumamnya menangis terisak.


                “Aku ada di sini. Kamu


tenanglah,” ucap Aiden mengeratkan pelukannya.


                Cukup lama mereka


dalam posisi itu sampai tangisan Catherine mereda. Kemudian Catherine


melepaskan pelukannya dan tatapan mata sendunya beradu dengan tatapan mata


Aiden yang begitu hangat dan menenangkan.


                Aiden menghapus air


mata di pipi Catherine. “Jangan menangis lagi. Kejadian ini tidak akan pernah


terulang lagi,” seru Aiden yang di angguki Catherine.


                Aiden melihat kemeja

__ADS_1


Catherine yang compang camping karena ulah Robert. Juga terlihat bercak merah


juga memar di bagian pundak Catherine karena ulah pria berengsek itu. Entah


kenapa melihat itu, darah Aiden mendidih dan rasanya ia ingin membunuh Robert.


                “Buka saja kemejamu


itu,” ucap Aiden seraya melepaskan jas miliknya. “Pakai ini.” Menyodorkan jasnya


ke arah Catherine.


                Catherine menerima jas


yang di sodorkan oleh Aiden. Tatapan Aiden tidak sengaja melihat ke arah bawah


udel Catherine saat kemeja itu tersingkap. Ada bekas luka memanjang di sana.


                “Luka ini?” seru Aiden


melihat ke arah luka itu membuat Catherine kaget dan segera menutupinya dengan


kemejanya.


                “Itu... itu bekas


operasi usus buntu,” jawabnya dan beranjak seraya membawa jas milik Aiden.


                ‘Bekas luka operasi usus buntu? Benarkah?’ batin Aiden menatap


punggung Catherine yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi didalam ruangannya. ‘Kenapa aku merasa kalau Catherine


menyembunyikan sesuatu dariku?’



“Mommy....!”


Jasminemenerobos masuk


ke dalam kamar Catherine.


                “Mom, katanya Mom


terluka?” seru Jasmine melihat Catherine yang tengah tiduran di atas


ranjangnya.


                “Mommy nggak apa-apa


kok, Mine.”


                “Tapi katanya semalam


Mommy terluka. Siapa yang lukain Mom? Biar Jasmine kasih dia pelajaran!” seru


bocah itu dengan begitu lucunya membuat Catherine terkekeh dan merasa sangat


lucu melihat tingkah gadis kecil berusia 5 tahun.


                “Kamu ini anak


perempuan, kenapa begitu arrogant,” kekehnya.


                “Mommy malah


mentertawakanku. Aku serius lho, aku tuh mau jagain Mommy.”


                “Benarkah?” goda


Catherine.


                “Serius Mom. Bukankah


kita hanya berdua saja. Jadi kita berdua harus saling menjaga satu sama


lainnya. Aku tidak punya Daddy yang akan selalu jagain Mom dan aku.”


                Deg


                Ucapan Jasmine menyentil hati Catherine hingga membuat


senyumannya lenyap. Ada rasa sesal juga sakit di hatinya karena menyembunyikan


fakta tentang ayahnya. Tapi kalau Aiden mengetahui semua ini, akankah ia


menerima dirinya juga Jasmine.


                “Mom...”


                Catherine tersadar


dari lamunannya dan tersenyum kecil pada Jasmine.ia membelai pipi putrinya


dengan lembut.


                “Apa Mine ingin punya


Daddy?” tanya Catherine.


                “Ingin, tapi tidak mau


uncle Robert. Dia itu tidak baik,” seru Jasmine.


                “Lalu Jasmine ingin


Daddy yang seperti apa?” tanya Catherine.


                “Emmm....” Jasmine


                “Aku ingin Daddy


seperti Uncle tampan. Dia itu sangat baik, dan Jasmine merasa sangat nyaman di


sampingnya. Selain itu Mine juga merasa aman saat dengannya,” seru Jasmine.


                Darah memang lebih kental daripada air...


                Catherine tersenyum kecil seraya merapikan rambut Jasmine. Jasmine sendiri


sudah dapat merasakan kedekatan dengan Ayahnya sendiri.


                “Mom, Mine punya ide


cemerlang,” seru Jasmine sangat antusias.


                “Apa itu?”


                “Bagaimana kalau Mom


aku temui sama Uncle Tampan. Kita undang dia untuk makan malam, gimana?”


serunya sangat antusias.


                “Memangnya kamu tau


alamat Uncle itu? Atau no teleponnya?” pertanyaan Catherine berhasil membuat


Jasmine terdiam dan berubah menjadi lesu.


                “Aku tidak punya,”


serunya lemah.


                Ada senyum bersalah di


bibir Catherine. Bahkan sampai detik ini dia masih belum bisa mengatakan yang


sebenarnya.


                “Sudahlah, sebaiknya


kita tidur saja. Masalah Uncle itu kita pikirkan lagi nanti,” ucapnya menarik


Jasmine ke sisinya dan memeluknya untuk tidur bersama.


                Selang beberapa menit,


Jasmine sudah terlelap dalam tidurnya. Catherine masih melamun, menatap kosong


ke depan dengan tangannya yang mengelus punggung Jasmine.



                “Lama tidak bertemu


Mr. Aiden,” sapaan itu membuat Aiden menoleh ke sumber suara.


                Aiden mengernyitkan


dahinya menatap seseorang di depannya itu.


                “Kamu...?”


                “Apa kabar? Masih


ingat aku?” seru wanita cantik nan anggun itu.


                “Evelyn?” seru Aiden


masih berusaha mengingatnya.


                “Ingatan yang tidak buruk,”


kekehnya.


                “Ah ternyata benar


kamu. Bagaimana kabarmu?” seru Aiden.


                “Kabarku baik.”


                “Kamu ada di sini?”


tanya Aiden karena saat ini ia sedang berjalan menyusuri lorong apartemen


menuju kamarnya.


                “Ya, aku menyewa apartemen


di sini. Apa kamu juga tinggal disini?” tanya Evelyn.


                “Ya, kamarku ada di


depan,” ucapnya.


                “Ternyata kita


bertetangga,” kekehnya. “Sudah lama sekali sejak kejadian itu.”


                “Iya,” seru Aiden.

__ADS_1


“Bagaimana sekarang kondisi Ibumu?”


                “Dia sudah lebih baik.


Setelah kejadian itu, aku membawanya pergi meninggalkan kota N dan menetap di


daerah pedesaan yang cukup tenang. Tetapi aku harus kembali ke sini karena ada


pekerjaan,” jelas Evelyn.


                “Syukurlah kalau


begitu,” ucap Aiden.


                “Baru pulang kerja?”


tanya Evelyn.


                “Ya begitulah,” ucap


Aiden. “Baiklah aku harus kembali ke kamarku. Senang bisa bertemu denganmu


Evelyn,” ucapnya.


                “Iya apalagi aku,


sangat senang bisa bertemu dengan penyelamatku,” ucapnya membuat Aiden


tersenyum kecil.


                Ia kemudian pamit dan


masuk ke dalam kamarnya.


                ‘Alasanku kembali bukan hanya pekerjaan, tetapi karena kamu, Pahlawanku,’ batin Evelyn tersenyum


bahagia.


                Ia tidak menyangka


bahwa takdir begitu mudah mempertemukan dirinya dengan Aiden. Bahkan dalam


jarak yang begitu dekat.



                “Kenapa kamu masuk


kerja?” tanya Aiden saat masuk ke dalam ruangan Catherine.


                “Aku sudah merasa


lebih baik,” ucap Catherine fokus dengan pekerjaannya.


                “Harusnya kamu


istirahat saja,” ucap Aiden mengambil duduk di hadapan Catherine.


                “Ada apa datang


kemari?” tanya Catherine.


                “Hanya ingin


melihatmu,” ucap Aiden dan berhasil membuat Catherine membeku di tempatnya.


                Ada getaran didalam


hatinya, dan rasanya begitu hangat juga nyaman.


                ‘Kenapa? Kenapa Aiden begitu lembut dan memperhatikanku? Apa dia juga


memiliki perasaan yang sama denganku?’ batin Catherine.


                “Ada apa?” tanya


Aiden.


                “Emm tidak apa-apa,”


ucap Catherine tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong makasih karena kemarin kamu


menyelamatkanku,” ucap Catherine.


                “Tidak masalah. Sudah


seharusnya aku menjagamu,” ucap Aiden dengan santai.


                “Kenapa kamu harus


menjagaku? Kamu bukan kekasih ataupun suamiku.” Ucapan Catherine membuat Aiden


menatapnya cukup lama.


                Senyuman terukir di


bibir Aiden. “Sebagai seorang sahabat, apa aku tidak bisa menjagamu, hm?”


                Catherine tersenyum


sinis. “Sahabat?”


                “Kenapa, apa ada


masalah?” tanya Aiden.


                “Jangan terlalu baik


pada seorang wanita, kalau kamu tidak mau membuatnya terluka,” seru Catherine


membuat Aiden mengernyitkan dahinya bingung.


                “Maksudmu apa?”


                “Sudahlah kalau kamu


tidak paham. Hari ini aku sedang baik, jadi ayo kita makan siang bersama, aku


akan mentraktirmu,"”seru Catherine beranjak dari duduknya.


                Aiden tersenyum


menanggapinya.


                “Baiklah.”



                Mereka berdua kini


sudah duduk berhadapan di sebuah restaurant Korea. Catherine memang sedang


ingin memakan makanan Korea.


                “Jadi bagaimana dengan


pertunanganmu dan Robert?” tanya Aiden seraya menyeduh kopi yang sudah ia


pesan.


                “Akan aku batalkan.


Robert membuat ulah dan mengancamku dengan berbagai hal,” seru Catherine.


                “Kamu tidak perlu


takut, aku akan selalu ada di sisimu dan melindungimu dari pria berengsek itu,”


ucap Aiden.


                “Kenapa kamu ingin


melindungiku?” tanya Catherine.


                “Kenapa kamu selalu


mempertanyakan pertanyaan yang sama padaku?” tanya Aiden.


                “Aiden, sebenarnya


sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padaku.”


                “Kalau begitu tanyakan


saja,” seru Aiden.


                “Apa yang terjadi


denganmu dan Agneta 5 tahun lalu?” pertanyaan Catherine mampu membuat raut


wajah Aiden menjadi keras.


                “Kenapa harus


menanyakan hal ini?” tanya Aiden.


                “Aku hanya ingin tau,”


seru Catherine.


                “Apa yang sebenarnya


kamu ingin tau? Bukankah kamu mengetahui pernikahan Agneta dan Davero 5 tahun


lalu. Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan wanita yang sudah menikah,” ucap


Aiden terlihat rahangnya mengeras.


                Catherine sadar kalau


pertanyaannya memancing emosi Aiden.


                “Apa kamu masih


memiliki perasaan untuk Agneta?” tanya Catherine.


                “Cath, apa yang


sebenarnya ingin kamu pastikan?” pertanyaan Aiden tepat sasaran membuat


Catherine membeku di tempatnya.


                “Itu-“ Catherine


terdiam.


                “Kalau begitu mari


kita balik pertanyaannya. Apa yang membuatmu menjauhiku 5 tahun lalu dan pergi


meninggalkanku. Apa yang membuatmu menghindariku, Cath? Apa ada sesuatu yang

__ADS_1


kamu sembunyikan dan tidak boleh aku ketahui?”



__ADS_2