
Catherineberdiri di depan
wastafel kamar mandi di kamarnya. Tatapannya tertuju pada cermin di depannya.
Kamu berhak bahagia, kamu berhak mengejar keinginanmu sendiri. Jangan
jual kebahagiaanmu dan hidupmu demi bisnis. Tinggalkan pria sialan itu.
Ucapan Aiden tadi kembali terngiang di telinganya. Andai, andai ia bisa menggapai
kebahagiaannya. Andai cintanya tidak sebelah pihak. Andai Aiden juga
mencintainya. Mungkin semua rasa sakit ini tidak akan pernah ia rasakan.
Tangan Catherine
terangkat memegang dadanya yang mendadak sesak dan sakit. Ia meremas pakaiannya
seakan ingin menghentikan rasa sakit di dadanya. Air mata tanpa sadar luruh
membasahi pipinya.
‘Aku ingin bahagia, sangat ingin. Tetapi apa aku bisa bahagia tanpa kamu?’ batin Catherine.
Ꙭ
Aiden tengah berdiri
di balkon apartemennya seraya meminum bir dalam kaleng. Bayangannya teringat
pada kejadian tadi dimana tatapan Catherine tadi entah kenapa membuatnya merasa
tak nyaman.
“Ada apa denganku,”
gumamnya.
Aiden terus
terpikirkan Catherine dan tatapannya. Tatapan Catherine tadi tidak dingin
maupun datar. Tetapi tatapan penuh rasa sakit dan seakan mengharapkan sesuatu.
Aiden tidak memahami semua itu.
Ꙭ
“Apa kamu gila!” pekik
Robert didalam ruangan Catherine.
“Sudah aku katakan,
aku ingin membatalkan pertunangan ini,” seru Catherine dengan tenang.
“Jangan bermain-main
denganku, Catherine. Kau pikir bisa seenaknya membatalkan pertunangan ini!”
pekiknya terlihat sangat emosi.
“Kenapa harus begitu
emosi? Bukankah sejak awal pertunangan ini hanya untuk mempererat bisnis kita.
Tetapi aku pikir semua itu tidak perlu dengan kita harus menikah,” ucap
Catherine masih dengan nada datar.
“Kau!” Robert
mencengkram kedua pipi Catherine dengan kencang membuatnya meringis kesakitan.
“Angkuh sekali kamu ini. Kau pikir kamu siapa bisa seenaknya membatalkan
pertunangan ini!”
“Lepaskan aku!”
“Jangan harap bisa
membatalkan pernikahan ini.”
Brak
Robert mendorong tubuh Catherine hingga punggungnya
membentur sofa di belakangnya. Sebelum Catherine bangun, Robert sudah menindih
tubuhnya.
“Aku bodoh karena
selama ini bersikap baik dan menghormatimu, ******.” Tanpa permisi Robert
menarik paksa kemeja yang di gunakan Catherine hingga terbuka dan
memperlihatkan bra berwarna creamnya juga perut putihnya.
“Lepaskan aku!”
Catherine berontak dan sekuat tenaga mendorong tubuh Robert. “Tolong.....”
“Teriak saja. Dasar
bodoh! Ruangan ini kedap suara,” kekeh Robert tertawa jahat dan mulai mencumbu
bagian leher Catherine walau ia tahan dengan kedua tangannya. Tetapi apalah
daya tenaga seorang wanita yang kalah berkali-kali lipat dari tenaga seorang
pria.
“Tolong.... siapapun
tolong aku!” isaknya. “Lepaskan aku, Bajingan!” teriak Catherine terus
berontak.
Robert menahan kedua
tangan Catherine di atas kepalanya dengan sebelah tangan Robert. Sebelahnya
lagi menjamah bagian dada Catherine yang terasa sangat sakit.
Tolong... jangan membuat hidupku semakin hina...
Brak
Pintu terbuka lebar dan dengan langkah lebar, seseorang
yang baru saja mendobrak pintu langsung menarik Robert menjauh dari tubuh
Catherine.
“Sialan!”
Bug
Pria itu adalah Aiden. Aiden mengamuk dan memukuli Robert
tanpa ampun hingga membuat darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya yang
sobek.
“Pria tidak bermoral!”
seru Aiden begitu emosi. Ia hampir melayangkan tinjunya lagi, tetapi petugas
keamanan yang di panggil oleh sekretaris Catherine datang dan membawa Robert ke
kantor polisi.
Aiden menghembuskan napasnya
dan menoleh ke arah Catherine yang sudah duduk dengan memeluk tubuhnya sendiri
dan mengeratkan kemejanya untuk menutupi tubuhnya.
“Nyonya, apa anda
baik-baik saja?” tanya sekretaris Catherine.
Catherine tak menjawab
dan hanya menangis dalam diam. “Kamu boleh keluar, biar aku yang menemani
Catherine,” ucap Aiden.
“Emm... baik Sir.”
Sekretarisnya pun keluar dari ruangan dan menutup pintunya.
Kini hanya tinggal
Aiden dan Catherine berdua. Aiden berjalan mendekati Catherine dan duduk di
sofa di sampingnya. Catherine masih menundukkan kepalanya dengan tangisannya.
Tubuhnya terlihat bergetar hebat.
Aiden menarik
Catherine ke dalam pelukannya. “Semuanya sudah baik-baik saja,” ucapnya
mengusap punggung Catherine yang bergetar.
Catherine menangis
dalam pelukan Aiden. “Aku sangat takut,” gumamnya menangis terisak.
“Aku ada di sini. Kamu
tenanglah,” ucap Aiden mengeratkan pelukannya.
Cukup lama mereka
dalam posisi itu sampai tangisan Catherine mereda. Kemudian Catherine
melepaskan pelukannya dan tatapan mata sendunya beradu dengan tatapan mata
Aiden yang begitu hangat dan menenangkan.
Aiden menghapus air
mata di pipi Catherine. “Jangan menangis lagi. Kejadian ini tidak akan pernah
terulang lagi,” seru Aiden yang di angguki Catherine.
Aiden melihat kemeja
__ADS_1
Catherine yang compang camping karena ulah Robert. Juga terlihat bercak merah
juga memar di bagian pundak Catherine karena ulah pria berengsek itu. Entah
kenapa melihat itu, darah Aiden mendidih dan rasanya ia ingin membunuh Robert.
“Buka saja kemejamu
itu,” ucap Aiden seraya melepaskan jas miliknya. “Pakai ini.” Menyodorkan jasnya
ke arah Catherine.
Catherine menerima jas
yang di sodorkan oleh Aiden. Tatapan Aiden tidak sengaja melihat ke arah bawah
udel Catherine saat kemeja itu tersingkap. Ada bekas luka memanjang di sana.
“Luka ini?” seru Aiden
melihat ke arah luka itu membuat Catherine kaget dan segera menutupinya dengan
kemejanya.
“Itu... itu bekas
operasi usus buntu,” jawabnya dan beranjak seraya membawa jas milik Aiden.
‘Bekas luka operasi usus buntu? Benarkah?’ batin Aiden menatap
punggung Catherine yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi didalam ruangannya. ‘Kenapa aku merasa kalau Catherine
menyembunyikan sesuatu dariku?’
Ꙭ
“Mommy....!”
Jasminemenerobos masuk
ke dalam kamar Catherine.
“Mom, katanya Mom
terluka?” seru Jasmine melihat Catherine yang tengah tiduran di atas
ranjangnya.
“Mommy nggak apa-apa
kok, Mine.”
“Tapi katanya semalam
Mommy terluka. Siapa yang lukain Mom? Biar Jasmine kasih dia pelajaran!” seru
bocah itu dengan begitu lucunya membuat Catherine terkekeh dan merasa sangat
lucu melihat tingkah gadis kecil berusia 5 tahun.
“Kamu ini anak
perempuan, kenapa begitu arrogant,” kekehnya.
“Mommy malah
mentertawakanku. Aku serius lho, aku tuh mau jagain Mommy.”
“Benarkah?” goda
Catherine.
“Serius Mom. Bukankah
kita hanya berdua saja. Jadi kita berdua harus saling menjaga satu sama
lainnya. Aku tidak punya Daddy yang akan selalu jagain Mom dan aku.”
Deg
Ucapan Jasmine menyentil hati Catherine hingga membuat
senyumannya lenyap. Ada rasa sesal juga sakit di hatinya karena menyembunyikan
fakta tentang ayahnya. Tapi kalau Aiden mengetahui semua ini, akankah ia
menerima dirinya juga Jasmine.
“Mom...”
Catherine tersadar
dari lamunannya dan tersenyum kecil pada Jasmine.ia membelai pipi putrinya
dengan lembut.
“Apa Mine ingin punya
Daddy?” tanya Catherine.
“Ingin, tapi tidak mau
uncle Robert. Dia itu tidak baik,” seru Jasmine.
“Lalu Jasmine ingin
Daddy yang seperti apa?” tanya Catherine.
“Emmm....” Jasmine
“Aku ingin Daddy
seperti Uncle tampan. Dia itu sangat baik, dan Jasmine merasa sangat nyaman di
sampingnya. Selain itu Mine juga merasa aman saat dengannya,” seru Jasmine.
Darah memang lebih kental daripada air...
Catherine tersenyum kecil seraya merapikan rambut Jasmine. Jasmine sendiri
sudah dapat merasakan kedekatan dengan Ayahnya sendiri.
“Mom, Mine punya ide
cemerlang,” seru Jasmine sangat antusias.
“Apa itu?”
“Bagaimana kalau Mom
aku temui sama Uncle Tampan. Kita undang dia untuk makan malam, gimana?”
serunya sangat antusias.
“Memangnya kamu tau
alamat Uncle itu? Atau no teleponnya?” pertanyaan Catherine berhasil membuat
Jasmine terdiam dan berubah menjadi lesu.
“Aku tidak punya,”
serunya lemah.
Ada senyum bersalah di
bibir Catherine. Bahkan sampai detik ini dia masih belum bisa mengatakan yang
sebenarnya.
“Sudahlah, sebaiknya
kita tidur saja. Masalah Uncle itu kita pikirkan lagi nanti,” ucapnya menarik
Jasmine ke sisinya dan memeluknya untuk tidur bersama.
Selang beberapa menit,
Jasmine sudah terlelap dalam tidurnya. Catherine masih melamun, menatap kosong
ke depan dengan tangannya yang mengelus punggung Jasmine.
Ꙭ
“Lama tidak bertemu
Mr. Aiden,” sapaan itu membuat Aiden menoleh ke sumber suara.
Aiden mengernyitkan
dahinya menatap seseorang di depannya itu.
“Kamu...?”
“Apa kabar? Masih
ingat aku?” seru wanita cantik nan anggun itu.
“Evelyn?” seru Aiden
masih berusaha mengingatnya.
“Ingatan yang tidak buruk,”
kekehnya.
“Ah ternyata benar
kamu. Bagaimana kabarmu?” seru Aiden.
“Kabarku baik.”
“Kamu ada di sini?”
tanya Aiden karena saat ini ia sedang berjalan menyusuri lorong apartemen
menuju kamarnya.
“Ya, aku menyewa apartemen
di sini. Apa kamu juga tinggal disini?” tanya Evelyn.
“Ya, kamarku ada di
depan,” ucapnya.
“Ternyata kita
bertetangga,” kekehnya. “Sudah lama sekali sejak kejadian itu.”
“Iya,” seru Aiden.
__ADS_1
“Bagaimana sekarang kondisi Ibumu?”
“Dia sudah lebih baik.
Setelah kejadian itu, aku membawanya pergi meninggalkan kota N dan menetap di
daerah pedesaan yang cukup tenang. Tetapi aku harus kembali ke sini karena ada
pekerjaan,” jelas Evelyn.
“Syukurlah kalau
begitu,” ucap Aiden.
“Baru pulang kerja?”
tanya Evelyn.
“Ya begitulah,” ucap
Aiden. “Baiklah aku harus kembali ke kamarku. Senang bisa bertemu denganmu
Evelyn,” ucapnya.
“Iya apalagi aku,
sangat senang bisa bertemu dengan penyelamatku,” ucapnya membuat Aiden
tersenyum kecil.
Ia kemudian pamit dan
masuk ke dalam kamarnya.
‘Alasanku kembali bukan hanya pekerjaan, tetapi karena kamu, Pahlawanku,’ batin Evelyn tersenyum
bahagia.
Ia tidak menyangka
bahwa takdir begitu mudah mempertemukan dirinya dengan Aiden. Bahkan dalam
jarak yang begitu dekat.
Ꙭ
“Kenapa kamu masuk
kerja?” tanya Aiden saat masuk ke dalam ruangan Catherine.
“Aku sudah merasa
lebih baik,” ucap Catherine fokus dengan pekerjaannya.
“Harusnya kamu
istirahat saja,” ucap Aiden mengambil duduk di hadapan Catherine.
“Ada apa datang
kemari?” tanya Catherine.
“Hanya ingin
melihatmu,” ucap Aiden dan berhasil membuat Catherine membeku di tempatnya.
Ada getaran didalam
hatinya, dan rasanya begitu hangat juga nyaman.
‘Kenapa? Kenapa Aiden begitu lembut dan memperhatikanku? Apa dia juga
memiliki perasaan yang sama denganku?’ batin Catherine.
“Ada apa?” tanya
Aiden.
“Emm tidak apa-apa,”
ucap Catherine tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong makasih karena kemarin kamu
menyelamatkanku,” ucap Catherine.
“Tidak masalah. Sudah
seharusnya aku menjagamu,” ucap Aiden dengan santai.
“Kenapa kamu harus
menjagaku? Kamu bukan kekasih ataupun suamiku.” Ucapan Catherine membuat Aiden
menatapnya cukup lama.
Senyuman terukir di
bibir Aiden. “Sebagai seorang sahabat, apa aku tidak bisa menjagamu, hm?”
Catherine tersenyum
sinis. “Sahabat?”
“Kenapa, apa ada
masalah?” tanya Aiden.
“Jangan terlalu baik
pada seorang wanita, kalau kamu tidak mau membuatnya terluka,” seru Catherine
membuat Aiden mengernyitkan dahinya bingung.
“Maksudmu apa?”
“Sudahlah kalau kamu
tidak paham. Hari ini aku sedang baik, jadi ayo kita makan siang bersama, aku
akan mentraktirmu,"”seru Catherine beranjak dari duduknya.
Aiden tersenyum
menanggapinya.
“Baiklah.”
Ꙭ
Mereka berdua kini
sudah duduk berhadapan di sebuah restaurant Korea. Catherine memang sedang
ingin memakan makanan Korea.
“Jadi bagaimana dengan
pertunanganmu dan Robert?” tanya Aiden seraya menyeduh kopi yang sudah ia
pesan.
“Akan aku batalkan.
Robert membuat ulah dan mengancamku dengan berbagai hal,” seru Catherine.
“Kamu tidak perlu
takut, aku akan selalu ada di sisimu dan melindungimu dari pria berengsek itu,”
ucap Aiden.
“Kenapa kamu ingin
melindungiku?” tanya Catherine.
“Kenapa kamu selalu
mempertanyakan pertanyaan yang sama padaku?” tanya Aiden.
“Aiden, sebenarnya
sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padaku.”
“Kalau begitu tanyakan
saja,” seru Aiden.
“Apa yang terjadi
denganmu dan Agneta 5 tahun lalu?” pertanyaan Catherine mampu membuat raut
wajah Aiden menjadi keras.
“Kenapa harus
menanyakan hal ini?” tanya Aiden.
“Aku hanya ingin tau,”
seru Catherine.
“Apa yang sebenarnya
kamu ingin tau? Bukankah kamu mengetahui pernikahan Agneta dan Davero 5 tahun
lalu. Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan wanita yang sudah menikah,” ucap
Aiden terlihat rahangnya mengeras.
Catherine sadar kalau
pertanyaannya memancing emosi Aiden.
“Apa kamu masih
memiliki perasaan untuk Agneta?” tanya Catherine.
“Cath, apa yang
sebenarnya ingin kamu pastikan?” pertanyaan Aiden tepat sasaran membuat
Catherine membeku di tempatnya.
“Itu-“ Catherine
terdiam.
“Kalau begitu mari
kita balik pertanyaannya. Apa yang membuatmu menjauhiku 5 tahun lalu dan pergi
meninggalkanku. Apa yang membuatmu menghindariku, Cath? Apa ada sesuatu yang
__ADS_1
kamu sembunyikan dan tidak boleh aku ketahui?”
Ꙭ