Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 22


__ADS_3

Saat ini Aiden menemui Evelyn di restaurant yang ada di sebrang apartement mereka.


Aiden tengah berjalan menuju ke arah meja dimana Evelyn sudah duduk dengan anggun dan tersenyum ke arahnya.


"Hai," sapa Evelyn membuat Aiden tersenyum dan duduk di hadapan Evelyn.


"Sudah menunggu lama?" tanya Aiden.


"Tidak. Aku baru sampai 5 menit yang lalu," seru Evelyn.


"Sudah pesan?" tanya Aiden.


"Belum. Aku menunggu kamu. Baiklah mau pesan apa?" tanya Evelyn seraya melambaikan tangannya pada salah satu waiter.


Mereka berdua memesan makanan kepada waiters.


"Jangan lupa satu botol anggur terbaik," seru Evelyn yang di angguki oleh waiters itu dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Jadi apa yang sedang kamu kerjakan sekarang?" tanya Aiden.


"Aku kembali ke pekerjaanku sebelumnya. Tetapi bukan sebagai asisten desaigner lagi, sekarang akulah desaignernya," seru Evelyn.


"Syukurlah. Sudah aku katakan kamu itu berbakat Eve."


Evelyn tersenyum tersipu. "Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang kamu sudah menemukan seseorang setelah 3 tahun berlalu?" tanya Evelyn sangat berharap Aiden masih sendiri.


Aiden hanya tersenyum kecil.


"Tidak ada yang berubah dengan hidupku, Eve. Aku masih tetap sama seperti dulu," jawab Aiden mampu membuat Evelyn sangat bahagia mendengarnya.


Pesanan mereka datang. Dua piring steak kini tersaji di hadapan mereka. Waiter itu kini menuangkan anggur jenis terbaik ke dalam gelas berkaki.


"Mari kita bersulang terlebih dahulu. Untuk pertemuan kita berdua," seru Evelyn mengangkat gelas miliknya.


"Baiklah," seru Aiden ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang bersama.


Setelah menyesap sedikit anggurnya, mereka berdua pun menikmati makanan mereka dengan berbagai obrolan mengenai banyak hal.


---


Aiden baru saja sampai di apartementnya setelah menikmati makan malam bersama Evelyn.


Ia mendaratkan pantatnya ke atas sofa. Dering handphone menyadarkannya. Aiden mengangkat sambungan telpon itu.


"Ya Mike?


"......"


"Apa kau sudah bisa mengatasi berita berita yang saat ini tranding itu?" tanya Aiden.


"....."


"Kenapa sulit? Biasanya kau sangat mampu menyelesaikan masalah seperti ini."

__ADS_1


"....."


"Kalau begitu, coba kamu cari informasi yang lebih tranding untuk meredakan berita tentang Catherine."


"......"


"Ah, aku ada beberapa informasi tentang salah satu menteri yang memiliki skandal. Aku ingin kamu menyebarkan informasi ini."


"......"


"Kalau terjadi sesuatu, aku yang akan bertanggung jawab."


"......"


"Aku harus menolongnya. Tolong lakukan ini untukku."


"....."


"Catherine bukan siapa-siapa."


"......"


"Aku perduli padanya."


"......"


"Ya, aku tau resikonya kalau berurusan dengan seorang Menteri. Aku tidak masalah kalau harus di berhentikan dari firma hukum."


"......."


"....."


"Apa? Tidak Mike, aku tidak mencintainya."


"....."


"Sudahlah jangan banyak bertanya. Kau lakukan saja, dan nanti datanya aku email kepadamu."


"....."


"Baiklah weekend ini kita bertemu di club nya Harry."


"....."


Aiden menutup sambungan telponnya dan termenung sesaat.


Kau sudah gila, Aiden. Kenapa kau ingin melakukan semua ini demi wanita itu. Apa kau mencintainya....


Kau bahkan bisa di berhentikan dari firma hukum karena ini.


Aiden termenung memikirkan ucapan Mike. Apakah dia mencintai Catherine?


"Tidak, itu tidak mungkin," gumam Aiden mengusap wajahnya. "Aku hanya perduli padanya sebagai sahabat."

__ADS_1


***


Saat ini Catherine akan mengadakan pertemuan dengan salah satu clientnya. Aiden tampak sudah datang di ruang meeting bersama dengan Catherine juga salah satu Manager.


Catherine berusaha mengabaikan keberadaan Aiden dan berbincang beberapa hal dengan Managernya. Aiden sesekali melihat ke arah Catherine yang terlihat jelas menghindarinya juga menjaga jarak darinya.


Sebenarnya sikap dingin Catherine ini menyakiti dirinya. Tetapi Aiden sendiri tidak berani melangkah dan mengambil sikap. Ia merasa takut akan dirinya juga perasaannya sendiri. Ia tidak berani untuk membuat sebuah hubungan lagi. Ada keraguan di dalam hatinya. Tetapi kondisi seperti ini pun membuat dia tidak nyaman.


"Permisi Mrs. Catherine. Mr. Alan dari perusahaan Qla sudah datang."


"Persilahkan masuk," ucap Catherine.


Terlihat tiga orang pria masuk ke dalam ruangan itu.


"Selamat siang," sapa salah seorang dari mereka.


"Alan?" seru Catherine beranjak dari duduknya dan menghampiri pria yang merupakan Ceo dari perusahaan Qla.


"Catherine. Apa kabar?" seru Alan.


Deg


Aiden membeku saat melihat Catherine berpelukan bahkan mencium pipi kiri dan kanan Alan tanpa ragu.


"Aku baik. Aku tidak menyangka akhirnya perusahaan kita bisa bekerjasama," seru Catherine.


"Aku sudah menunggu saat seperti ini," seru Alan.


Mereka duduk bersama, dan saling berdekatan. Tatapan tajam Aiden tak lepas dari mereka berdua. Entah kenapa ada rasa yang terbakar dari dirinya melihat semua itu.


"Aku baru pindah dan mulai mengelola perusahaan yang di sini. Makanya aku langsung menghubungimu dan mengajakmu untuk bekerjasama," seru Alan.


"Aku juga sempat kaget mendapat email darimu," seru Catherine. Raut wajah catherine berubah seketika.


Yang tadi begitu dingin, kini terlihat begitu ramah dan bersahabat. Aiden merasa sangat kesal karena hal itu.


Sebenarnya siapa Alan ini? Batin Aiden terlihat mengepalkan kedua tangannya.


"Bisa kita mulai meetingnya." Ucapan Aiden yang penuh penekanan membuat Catherine dan Alan melihat ke arahnya.


"Baiklah. Mr. Alan kenalkan ini Mr. Aiden, dia adalah pengacara di perusahaan ini. Dan ini Mr. Sihab kepala Manager di sini," ucap Catherine.


Alan pun mulai memperkenalkan siapa saja yang bersama dirinya.


Kemudian setelah sesi perkenalan. Mereka pun membahas mengenai kerjasama mereka.


Aiden kembali di buat emosi dan terbakar karena melihat mereka berdua yang sangat akrab satu sama lain. Bahkan Catherine tanpa ragu untuk tersenyum dan tertawa. Bahkan tangannya sesekali menepuk pelan lengan Alan tampak begitu akrab.


Aiden memalingkan wajahnya dan menghirup udara untuk menenangkan dirinya yang rasanya ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah Alan dan menjauhkan Alan dari Catherine.


*** 


TBC...

__ADS_1


10-04-2020


__ADS_2