
"Jadi Aiden pergi ke Indonesia?" tanya Evelyn.
"Iya, dia berangkat kemarin," seru Catherine menyeduh teh dalam mug nya.
"Ayah kamu tetap saja seperti itu dari sejak dulu, tidak ada yang berubah. Hanya bisnis dan uang saja yang dia pikirkan," seru Evelyn.
"Dia akan selalu seperti itu. Dan aku tidak yakin dia akan berubah," seru Catherine mengedikkan bahunya. "Tapi yang aku pikirkan bukan itu. Masalah itu aku yakin sih dengan posisi Aiden yang merupakan direktur di WT, Ayahku akan langsung memberi persetujuan akan hubungan kami. Apalagi saat itu kontrak kerjasama kami di putus karena kasus Ibu nya Aiden," seru Catherine.
"Lalu apa yang kamu pikirkan?" tanya Evelyn. "Jangan bilang kalau kamu masih meragukan Aiden. Oh come on Catherine, Aiden sudah berusaha keras seperti ini," seru Evelyn.
"Tidak tidak Eve bukan itu," seru Catherine. "Aku sudah mempercayainya. Bahkan karena kata-katanya saat itu, aku bahkan tidak bisa tidur dan makan dengan enak. Aku merasa jantungku terus berdebar-debar dan kata-katanya terus terngiang di telingaku. Aku tidak gila, kan?" tanya Catherine dengan wajah polos.
"Kau memang sudah gila," kekeh Evelyn.
"Apa?"
"Gila karena cinta. Tergila-gila pada Aiden. Apa sih kalau di Indonesia panggilannya, Abang yah," kekeh Evelyn.
"Ck, kamu pikir Abang tukang bakso," seru Catherine.
"Apa tuh tukang bakso?" tanya Evelyn.
"Main ke Indonesia baru kamu tau," seru Catherine membuat Evelyn manyun.
"Cath, kalau Aiden kembali melamarmu setelah dia kembali, apa kamu akan menerimanya?" tanya Evelyn membuat Catherine diam membisu.
***
Aiden tidak menunggu lama lagi. Setelah sampai di Indonesia, ia langsung datang menemui Devara walau ia tidak sempat beristirahat.
Ternyata di kediaman Devara ada Dave juga bersama Agneta dan kedua anak mereka.
"Aiden?" seru Devara sempat kaget melihat kedatangan Aiden yang tanpa kabar.
"Maaf aku mengganggu waktu kalian. Tetapi aku ada keperluan dengan kalian, Dave dan Devara."
Devara terlihat bingung sedangkan Dave hanya menatapnya tajam seperti biasa tanpa kata.
"Santailah dulu, kita berbincang santai dulu saja, bagaimana?" tanya Devara.
"Sebenarnya aku tidak ingin berlama-lama," seru Aiden.
__ADS_1
"Jangan begitu Kakak sepupu. Santai lah dulu, kau pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan," seru Dave yang seakan mengetahui maksud Aiden.
Aiden pun menyerah dan mengambil duduk di atas sofa dekat Kevin suami dari Devara. Ia mengeluarkan handphone nya dan memberi kabar ke Catherine kalau dirinya telah sampai di Indonesia.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Devara. "Kamu terlihat jauh lebih baik dari terakhir kali kita bertemu."
"Ya, kabarku semakin baik."
"Aku senang mendengarnya," seru Devara.
"Hallo Regan, Apa kabar?" sapa Aiden.
"Hallo Ayah Aiden. Egan baik," jawab Regan
"Ayahmu cuma ada satu, Egan," seru Dave membuat Aiden melihat ke arahnya.
"Panggil saja uncle Aiden," ucap Aiden.
"Eh... oke Uncle," seru Regan tersenyum kikuk.
"Kau masih saja cemburu," seru Aiden kini lebih santai.
"Aku cemburu padamu. Ck, jangan mimpi," seru Dave.
"Hey, apa maksud kata-katamu itu!" seru Dave terlihat tidak suka.
"Aku mencintainya Aiden," jawab Agneta yang mengetahui kalau Aiden hanya bercanda. Bagaimana pun Agneta sudah sangat mengenal Aiden.
"Nah kau dengar itu, Kakak sepupu. Dia hanya mencintaiku," seru Dave penuh percaya diri.
"Ck, kalian berdua ini kapan akurnya sih," seru Devara.
"Aku rasa kami tidak akan pernah bisa akur," seru Dave dengan tenang.
"Bukan aku yang membangun permusuhan ini yah, Vara. Sekali-kali kau ajarkan kembaranmu ini bagaimana caranya bersikap sopan pada Kakak," seru Aiden.
"Aku tidak begitu senang memiliki Kakak sepupu seperti dirimu," seru Dave,
"Apa kamu pikir aku juga senang, punya adik yang memiliki ekspresi terbatas sepertimu dan hanya bisa mengintimidasi orang-orang," seru Aiden.
"Melihat kau menjawab ucapanku. Sepertinya kau sudah sembuh dari sakit hatimu itu," seru Dave.
__ADS_1
Bagaimanapun hubungan Dave dan Aiden. Sebenarnya mereka berdua sama-sama perduli dan saling memahami satu sama lainnya. Walau mereka berdua tidak menunjukkannya.
"Bisa di katakan seperti itu," ucap Aiden duduk bersandar ke sandaran sofa dengan santai.
"Regan, ajak yang lainnya main di kamar dulu yah," ujar Devara.
"Baik Aunty."
Regan mengajak adiknya juga anaknya Devara meninggalkan ruangan itu.
"Jadi apa yang membuatmu kemari, Aiden?" tanya Devara.
"Aku akan kembali ke WT Corp," seru Aiden dengan pasti.
"Wah wah, ada angin apa ini? Apa kau sudah jadi pengangguran di sana?" seru Dave.
"Itu salah satunya," seru Aiden dengan santai.
"Dan alasan lainnya?" tanya Devara.
Benar-benar saudara kembar. Pikir Aiden.
"Singkat cerita saja. Aku memiliki anak dari perempuan yang aku sukai. Dan aku ingin menikahinya, tapi Ayahnya tidak menerimaku karena aku seorang pengacara. Ah tidak, sekarang aku hanya seorang pengangguran," seru Aiden.
"Whoaaa ternyata kau berengsek juga," ejek Dave.
"Aku anggap itu sebagai pujian," seru Aiden melirik Dave.
Agneta terlihat tersenyum lega. Ia senang akhirnya Aiden menemukan wanita yang ia cintai.
"Kau boleh kembali tetapi syaratnya kau harus menikah di Indonesia dan kenalin pasanganmu pada kami," seru Devara.
"Apa harus seperti itu?" seru Aiden mengernyitkan dahinya.
"Harus dong. Kita kan saudara," seru Devara.
"Akan aku pikirkan," seru Aiden dengan santai.
***
Tbc...
__ADS_1
06-06-2020