
Catherinebaru saja
kembali dari makan siangnya bersama Alan. Mereka berpisah di lobby kantor. Dan
kini Catherine berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.
Catherine berjalan
sedikit melamun hingga tatapannya melebar melihat seseorang berdiri di dekat
meja sekretarisnya. Karena kehilangan fokus, tubuhnya mendadak oleng karena
kaget dan hampir saja jatuh ke belakang kalau seseorang tidak dengan sigap
merengkuh pinggangnya juga memegang lengannya.
Tatapan mereka berdua
terkunci satu sama lainnya.
Aiden....
Sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri dan berusaha melupakan, tetap
saja ujung-ujungnya pertahanannya kembali runtuh dan kembali jatuh dalam
perasaan cintanya sendiri.
Aiden membantu
Catherine berdiri tegak dan melepaskan pegangannya. Catherine berdehem sedikit
dan sedikit menjaga jarak pada Aiden. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Kebetulan sekretarisnya belum kembali dari makan siangnya.
“Apa ada masalah, Mr.
Aiden?” tanya Catherine.
“Kamu makan siang
dengan Alan?” tanya Aiden.
“Bukan urusan anda.
Kalau ada pertanyaan mengenai pekerjaan, anda bisa bicarakan dengan sekretaris
saya,” seru Catherine dengan nada formal.
Catherine kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
“Cath, apa harus
seperti ini?” tanya Aiden menatap Catherine.
Catherine menghentikan
langkahnya mendengar pertanyaan Aiden. Ia menghela napasnya kemudian kembali
melangkahkan kakinya.
Tetapi sebelum kakinya
melangkah, seseorang menarik paksa lengannya membuatnya tertarik dan menabrak
sesuatu yang keras.
“Aiden lepaskan aku!”
Catherine berusaha mendorong dada Aiden yang kini berada di depannya. Aiden
memeluknya dengan paksa.
“Aiden, lepaskan aku!”
“Sebentar saja,” ucap
Aiden memeluk Catherine dengan erat dan menyandarkan kepala Catherine di dada
bidangnya yang berdebar kencang.
“Jangan
mempersulitku,” gumam Catherine sudah tak mampu berusaha tegar lagi.
Pertahanannya kini telah runtuh.
“I Miss You, Cath.”
Aiden bergumam pelan dan mampu terdengar oleh Catherine.
Catherine memejamkan
matanya merasakan sesuatu yang menghangat ke dalam hatinya. Ia sudah ingin
menangis dan menjawab ungkapan Aiden. Tetapi lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya
terasa tersumbat sesuatu yang keras.
“Apa yang kamu
inginkan, Aiden? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku harus melupakanmu
dan mencari kebahagiaanku. Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya akan terus
menyakitiku,” ucap Catherine melepaskan pelukannya dan segera memalingkan
wajahnya.
“Jangan seperti ini
dan semakin mempersulitku. Aku mohon.”Setelah mengatakan itu, Catherine masuk
ke dalam ruangannya dan menutup rapat ruangannya. Ia bersandar ke daun pintu
dengan memejamkan matanya. Air mata luruh membasahi pipinya.
‘I Miss You too, Aiden...’ batin Catherine memegang dadanya yang terasa nyeri.
Aiden berjalan dengan
tatapan kosong menyusuri lorong kantor dan masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Ada apa dengan dirinya....? apa ia memiliki perasaan lebih pada
Catherine atau hanya sayang sebagai sahabat?
Ꙭ
“Cath....”
Panggilan itu
membuatnya menengadahkan kepalanya melihat ke arah pintu.
“Eve, kamu kemari? Ayo
masuk,” seru Catherine dan Evelyn pun masuk ke dalam ruangan Catherine.
Mereka duduk bersama
di sofa ruangan yang ada di ruangan milik Catherine.
“Kelihatannya kamu
sedang bahagia,” seru Catherine membuat Evelyn terkekeh.
“Kausudah seperti
peramal saja. Tetapi memang benar sih, aku memang sedang senang,” ucap Evelyn tersenyum
merekah.
“Karena apa?” tanya
Catherine.
Sekretaris Catherine
masuk dan menyuguhkan dua gelas cokelat panas di atas meja. Kemudian ia kembali
keluar dari ruangan.
“Di minum,” seru
Catherine mengambil gelas dan menyeduhnya.
“Catherin, aku sangat
bahagia,” seru Evelyn.
“Ada apa? Bukan karena
mendapat tender besar, Kan?” tanya Catherine membuat Evelyn menggelengkan
kepalanya.
“So?”
“Aku kemarin dinner
dengan dia,” ucap Evelyn tersenyum lebar.
“Jadi kamu berhasil
merayu nya dan mengajaknya makan malam denganmu,” seru Catherine membuat Evelyn
“Aku tidak merayu nya.
Tetapi ku rasa dia juga menyukaiku,” seru Evelyn sangat percaya diri.
“Aku senang
mendengarnya. Selamat kalau begitu,” ucap Catherine.
“Doakan semoga kali ini
berhasil. Aku lelah sendirian terus, apalagi Ibu ku terus saja membicarakan
tentang pernikahan dan calon suami,” ucap Evelyn.
“Apa kamu yakin dengan
pria ini?” tanya Catherine.
“Sangat Cath. Aku
sangat yakin, dia pria yang sangat baik dan punya sopan santun yang tinggi. Aku
selalu di buat kagum dan terpesona setiap bersamanya,” ucap Evelyn tersenyum
merekah membayangkan sosok Aiden.
“Syukurlah kalau
begitu. Aku ikut senang mendengarnya,” ucap Catherine.
“Eh aku dengar si Alan
menemui mu?” tanya Evelyn.
“Ya, kami menjalin kerja
sama. Cukup menyenangkan bertemu dengannya lagi,” ucap Catherine.
“Kau tau bukan, kalau
dia begitu menyukaimu sejak kita kuliah,” seru Evelyn membuat Catherine
tersenyum kecil seraya menyeruput minumannya. “Kamu masih tidak bisa melupakan
pria itu, eh? Ayah biologisnya Mine.”
Catherine terdiam
sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Evelyn. “Aku akan mencoba membuka
hati untuk Alan. Kali ini aku ingin bahagia,” ucap Catherine.
“Syukurlah kalau
begitu. Jangan stuck di masa lalu yang menyakitkan,” seru Evelyn membuat
Catherine terdiam.
Ꙭ
__ADS_1
Aiden duduk termenung
memegang gelas kecil berisi cairan cokelat dengan es batu di tangannya.
Ingatannya melalang buana ke beberapa kejadian sebelumnya dimana Catherine
bertemu dengan Alan dan mereka terlihat sangat akrab.
Ia memegang kalung
yang di serahkan oleh Catherine dan menatapnya dengan begitu intens.
Ia memejamkan matanya
saat rasa sesak menyesakkan dadanya. Ia tak paham dengan apa yang terjadi
dengan dirinya. Kenapa setelah ungkapan cinta dari Catherine dan ucapan
perpisahan darinya, Aiden merasa begitu kesakitan dan rasanya ada sesuatu yang
mencekik dirinya.
Apa ia mencintai
Catherine....?
Tapi rasa takut itu
masih membekas didalam hatinya. Luka dan rasa sakit karena cinta masih membekas
dan menganga lebar didalam hati.
Aiden membuka matanya
dan matanya memerah menahan air matanya. Entah kenapa ia merasa begitu cengeng
karena cinta. Ia meneguk habis minuman dalam gelasnya.
Ꙭ
“Sialan!”
Robert mengamuk didalam
ruang kerjanya.
“Bagaimana ada
seseorang yang menutup kasus perselingkuhan ****** itu? Kenapa mereka tidak
becus bekerja!” amuknya melempar segala barang yang ada di ruang kerjanya.
“Catherine, jangan
senang dulu. Pembalasanku belum selesai. Kau harus merasakan penderitaan yang
sangat dalam dariku!” seru Robert dengan tatapan tajam penuh amarah dan dendam.
Ꙭ
Catherinebaru saja keluar
dari rumahnya. Ia menatap ke langit saat butiran salju jatuh ke tanah. Ia
menengadahkan telapak tangannya hingga butiran salju itu menyentuh kulit
tangannya.
Tidak terasa, sekarang
sudah masuk ke musim dingin dimana salju pertama sudah turun.
Saat tengah menikmati
hujan salju pertama, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuatnya
melihat ke arah seseorang itu.
“Alan?” seru
Catherine.
“Hai, selamat pagi,”
sapanya dengan senyuman lebar.
“Kamu? Kenapa ke sini?”
tanya Catherine mengernyitkan dahinya.
“Sengaja aku datang
kemari untuk mengantarmu ke kantor,” seru Alan.
“Tapi arah menuju
kantor berbeda denganmu,” seru Catherine.
“Tidak masalah. Ayo
aku antar kamu ke kantor,” ucap Alan menarik pergelangan tangan Catherine dan
masuk ke dalam mobil Alan.
Dari kejauhan sebuah
mobil tampak berhenti dan sang sopir terlihat mengawasi Catherine yang masuk ke
dalam mobil Alan. Kedua tangannya terlihat mencengkram setir mobil.
“Ada apa denganku,”
gumamnya yang tak lain adalah Aiden.
“Kenapa rasanya sangat
marah melihat Catherine bersama pria itu.”
Aiden memukul setir
mobilnya karena kesal. Sesaat ia terdiam menyandarkan kepalanya ke sandaran jok
mobil seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Ꙭ