Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 18


__ADS_3

Catherinebaru saja


kembali dari makan siangnya bersama Alan. Mereka berpisah di lobby kantor. Dan


kini Catherine berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.


                Catherine berjalan


sedikit melamun hingga tatapannya melebar melihat seseorang berdiri di dekat


meja sekretarisnya. Karena kehilangan fokus, tubuhnya mendadak oleng karena


kaget dan hampir saja jatuh ke belakang kalau seseorang tidak dengan sigap


merengkuh pinggangnya juga memegang lengannya.


                Tatapan mereka berdua


terkunci satu sama lainnya.


                Aiden....


                Sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri dan berusaha melupakan, tetap


saja ujung-ujungnya pertahanannya kembali runtuh dan kembali jatuh dalam


perasaan cintanya sendiri.


                Aiden membantu


Catherine berdiri tegak dan melepaskan pegangannya. Catherine berdehem sedikit


dan sedikit menjaga jarak pada Aiden. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain.


Kebetulan sekretarisnya belum kembali dari makan siangnya.


                “Apa ada masalah, Mr.


Aiden?” tanya Catherine.


                “Kamu makan siang


dengan Alan?” tanya Aiden.


                “Bukan urusan anda.


Kalau ada pertanyaan mengenai pekerjaan, anda bisa bicarakan dengan sekretaris


saya,” seru Catherine dengan nada formal.


                Catherine kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


                “Cath, apa harus


seperti ini?” tanya Aiden menatap Catherine.


                Catherine menghentikan


langkahnya mendengar pertanyaan Aiden. Ia menghela napasnya kemudian kembali


melangkahkan kakinya.


                Tetapi sebelum kakinya


melangkah, seseorang menarik paksa lengannya membuatnya tertarik dan menabrak


sesuatu yang keras.


                “Aiden lepaskan aku!”


Catherine berusaha mendorong dada Aiden yang kini berada di depannya. Aiden


memeluknya dengan paksa.


                “Aiden, lepaskan aku!”


                “Sebentar saja,” ucap


Aiden memeluk Catherine dengan erat dan menyandarkan kepala Catherine di dada


bidangnya yang berdebar kencang.


                “Jangan


mempersulitku,” gumam Catherine sudah tak mampu berusaha tegar lagi.


Pertahanannya kini telah runtuh.


                “I Miss You, Cath.”


Aiden bergumam pelan dan mampu terdengar oleh Catherine.


                Catherine memejamkan


matanya merasakan sesuatu yang menghangat ke dalam hatinya. Ia sudah ingin


menangis dan menjawab ungkapan Aiden. Tetapi lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya


terasa tersumbat sesuatu yang keras.


                “Apa yang kamu


inginkan, Aiden? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku harus melupakanmu


dan mencari kebahagiaanku. Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya akan terus


menyakitiku,” ucap Catherine melepaskan pelukannya dan segera memalingkan


wajahnya.


                “Jangan seperti ini


dan semakin mempersulitku. Aku mohon.”Setelah mengatakan itu, Catherine masuk


ke dalam ruangannya dan menutup rapat ruangannya. Ia bersandar ke daun pintu


dengan memejamkan matanya. Air mata luruh membasahi pipinya.


                ‘I Miss You too, Aiden...’ batin  Catherine memegang dadanya yang terasa nyeri.


                Aiden berjalan dengan


tatapan kosong menyusuri lorong kantor dan masuk ke dalam lift.

__ADS_1


                Ada apa dengan dirinya....? apa ia memiliki perasaan lebih pada


Catherine atau hanya sayang sebagai sahabat?



                “Cath....”


                Panggilan itu


membuatnya menengadahkan kepalanya melihat ke arah pintu.


                “Eve, kamu kemari? Ayo


masuk,” seru Catherine dan Evelyn pun masuk ke dalam ruangan Catherine.


                Mereka duduk bersama


di sofa ruangan yang ada di ruangan milik Catherine.


                “Kelihatannya kamu


sedang bahagia,” seru Catherine membuat Evelyn terkekeh.


                “Kausudah seperti


peramal saja. Tetapi memang benar sih, aku memang sedang senang,” ucap Evelyn tersenyum


merekah.


                “Karena apa?” tanya


Catherine.


                Sekretaris Catherine


masuk dan menyuguhkan dua gelas cokelat panas di atas meja. Kemudian ia kembali


keluar dari ruangan.


                “Di minum,” seru


Catherine mengambil gelas dan menyeduhnya.


                “Catherin, aku sangat


bahagia,” seru Evelyn.


                “Ada apa? Bukan karena


mendapat tender besar, Kan?” tanya Catherine membuat Evelyn menggelengkan


kepalanya.


                “So?”


                “Aku kemarin dinner


dengan dia,” ucap Evelyn tersenyum lebar.


                “Jadi kamu berhasil


merayu nya dan mengajaknya makan malam denganmu,” seru Catherine membuat Evelyn


                “Aku tidak merayu nya.


Tetapi ku rasa dia juga menyukaiku,” seru Evelyn sangat percaya diri.


                “Aku senang


mendengarnya. Selamat kalau begitu,” ucap Catherine.


                “Doakan semoga kali ini


berhasil. Aku lelah sendirian terus, apalagi Ibu ku terus saja membicarakan


tentang pernikahan dan calon suami,” ucap Evelyn.


                “Apa kamu yakin dengan


pria ini?” tanya Catherine.


                “Sangat Cath. Aku


sangat yakin, dia pria yang sangat baik dan punya sopan santun yang tinggi. Aku


selalu di buat kagum dan terpesona setiap bersamanya,” ucap Evelyn tersenyum


merekah membayangkan sosok Aiden.


                “Syukurlah kalau


begitu. Aku ikut senang mendengarnya,” ucap Catherine.


                “Eh aku dengar si Alan


menemui mu?” tanya Evelyn.


                “Ya, kami menjalin kerja


sama. Cukup menyenangkan bertemu dengannya lagi,” ucap Catherine.


                “Kau tau bukan, kalau


dia begitu menyukaimu sejak kita kuliah,” seru Evelyn membuat Catherine


tersenyum kecil seraya menyeruput minumannya. “Kamu masih tidak bisa melupakan


pria itu, eh? Ayah biologisnya Mine.”


                Catherine terdiam


sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Evelyn. “Aku akan mencoba membuka


hati untuk Alan. Kali ini aku ingin bahagia,” ucap Catherine.


                “Syukurlah kalau


begitu. Jangan stuck di masa lalu yang menyakitkan,” seru Evelyn membuat


Catherine terdiam.


__ADS_1


                Aiden duduk termenung


memegang gelas kecil berisi cairan cokelat dengan es batu di tangannya.


Ingatannya melalang buana ke beberapa kejadian sebelumnya dimana Catherine


bertemu dengan Alan dan mereka terlihat sangat akrab.


                Ia memegang kalung


yang di serahkan oleh Catherine dan menatapnya dengan begitu intens.


                Ia memejamkan matanya


saat rasa sesak menyesakkan dadanya. Ia tak paham dengan apa yang terjadi


dengan dirinya. Kenapa setelah ungkapan cinta dari Catherine dan ucapan


perpisahan darinya, Aiden merasa begitu kesakitan dan rasanya ada sesuatu yang


mencekik dirinya.


                Apa ia mencintai


Catherine....?


                Tapi rasa takut itu


masih membekas didalam hatinya. Luka dan rasa sakit karena cinta masih membekas


dan menganga lebar didalam hati.


                Aiden membuka matanya


dan matanya memerah menahan air matanya. Entah kenapa ia merasa begitu cengeng


karena cinta. Ia meneguk habis minuman dalam gelasnya.



                “Sialan!”


                Robert mengamuk didalam


ruang kerjanya.


                “Bagaimana ada


seseorang yang menutup kasus perselingkuhan ****** itu? Kenapa mereka tidak


becus bekerja!” amuknya melempar segala barang yang ada di ruang kerjanya.


                “Catherine, jangan


senang dulu. Pembalasanku belum selesai. Kau harus merasakan penderitaan yang


sangat dalam dariku!” seru Robert dengan tatapan tajam penuh amarah dan dendam.



Catherinebaru saja keluar


dari rumahnya. Ia menatap ke langit saat butiran salju jatuh ke tanah. Ia


menengadahkan telapak tangannya hingga butiran salju itu menyentuh kulit


tangannya.


                Tidak terasa, sekarang


sudah masuk ke musim dingin dimana salju pertama sudah turun.


                Saat tengah menikmati


hujan salju pertama, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuatnya


melihat ke arah seseorang itu.


                “Alan?” seru


Catherine.


                “Hai, selamat pagi,”


sapanya dengan senyuman lebar.


                “Kamu? Kenapa ke sini?”


tanya Catherine mengernyitkan dahinya.


                “Sengaja aku datang


kemari untuk mengantarmu ke kantor,” seru Alan.


                “Tapi arah menuju


kantor berbeda denganmu,” seru Catherine.


                “Tidak masalah. Ayo


aku antar kamu ke kantor,” ucap Alan menarik pergelangan tangan Catherine dan


masuk ke dalam mobil Alan.


                Dari kejauhan sebuah


mobil tampak berhenti dan sang sopir terlihat mengawasi Catherine yang masuk ke


dalam mobil Alan. Kedua tangannya terlihat mencengkram setir mobil.


                “Ada apa denganku,”


gumamnya yang tak lain adalah Aiden.


                “Kenapa rasanya sangat


marah melihat Catherine bersama pria itu.”


                Aiden memukul setir


mobilnya karena kesal. Sesaat ia terdiam menyandarkan kepalanya ke sandaran jok


mobil seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.

__ADS_1



__ADS_2