
5 Tahun Kemudian...
Aiden kini menjadi
seorang pengacara yang cukup handal di Kota N. Yang merupakan cita-citanya
sejak dulu, sampai ia mengambil Fakultas Hukum. Tetapi keinginannya itu sempat
tertunda karena obsesi dari Ibunya, Elena.Yang menginginkan putranya menjadi presiden di WT Corp yang merupakan
perusahaan milik keluarga Wiratama.
Karena obsesinya, Elena sampai bertindak curang dan sekarang imbasnya ia harus di penjara. Ayahnya
meninggal dunia karena kehilangan semua hartanya dan semua sahamnya hilang karena utang. Dan Aiden yang sekarang sebatang kara memilih menjauh dan merintis kembali kariernya dari nol.
Tanpa terasa kini ia
telah mulai berjaya dalam waktu 5 tahun dan menjadi seorang Pengacara yang
hebat dan terpercaya di kota N.
Pagi itu Aiden
berjalan menuju dapur apartemen dan membuat sandwich dengan segelas kopi untuk
sarapannya.Ia membawa sarapannya menuju pantry yang berada tepat di dekat
dinding dari kaca yang menjadi pembatas ruangan dalam dengan balkon apartemen.
Ia mulai melahap makanannya dalam diam, seraya membaca koran.
Ya, Aiden terbiasa
hidup sendiri dan melakukan segalanya sendiri. Sosok yang dulu begitu ramah
kini telah berubah menjadi sosok yang begitu pendiam dan sangat tertutup.
Selesai menghabiskan
sarapan juga kopinya, ia menutup korannya kembali dan membawa peralatan makan yang
kotor kemudian mencucinya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamarnya dan mulai
bersiap untuk berangkat bekerja.
Ꙭ
Dalam perjalanan menuju
Firma Hukum tempatnya bekerja. Ia melihat seorang
anak perempuan tampak menangis di pinggir jalan.
Aiden meminggirkan
mobilnya, kemudian menuruni mobilnya. Ia berjalan mendekati anak kecil itu dan
berlutut di hadapannya.
“Kamu kenapa?” tanya
Aiden pada gadis kecil yang menundukkan kepalanya dan terisak.
Mendengar suara Aiden,
gadis kecil itu menengadahkan kepalanya dan tatapan polosnya langsung bertemu
dengan mata tajam Aiden.
Mata ini.... batin Aiden.
“Uncle, Aku mau pulang...
hikzz...” isak gadis kecil itu.
“Ibu mu ke mana?”
tanya Aiden.
“Aku tidak tau. Tadi
saat sedang berjalan, peganganku terlepas,” isaknya.
Aiden menoleh ke sana
kemari untuk mencari sosok Ibunya tetapi tidak ia temukan.
“Sudah jangan menangis
lagi, ini Uncle punya permen. Kamu mau?” seru Aiden merogoh saku jasnya dan
mengeluarkan satu buah permen dan memberikannya pada gadis kecil itu.
“Tetapi aku di larang
menerima barang atau makanan dari orang asing,” serunya dengan lucu.
Aiden tersenyum penuh
maklum.
“Gadis pintar. Permen
ini masih terbungkus rapi, dan aku tidak berniat jahat, apalagi
pada gadis cantik seperti kamu,” seru Aiden
tetapi gadis itu hanya diam saja. “Baiklah kalau kamu tidak percaya, aku akan
memakannya.”
Aiden memakan permen di tangannya dan
menunjukkan tidak ada sesuatu yang aneh.
“Ini makanlah, supaya
kamu tidak sedih lagi,” seru Aiden kembali mengambil permen dan memberikannya
kepada gadis itu.
“Terima kasih, Uncle.”
Kali ini gadis kecil itu menerimanya.
“Your Welcome.”
Gadis itu membuka permen dan memakannya tanpa
rasa curiga. Ia kemudian menghapus air mata di pipinya yang gembil seraya
tersenyum merekah ke arah Aiden.
Entah kenapa melihat
senyuman dari gadis kecil ini mampu menghangatkan
hati Aiden. Rasanya ia ingin memeluk gadis kecil di depannya ini.
“Siapa namamu?” tanya
Aiden.
“Namaku Jasmine,
tetapi Uncle bisa memanggilku Mine.”
“Mine...”
Gadis itu tersenyum
seraya mengangguk.
“Nama Uncle tampan
siapa?” tanya gadis itu.
“Nama Uncle, A...”
__ADS_1
“Mine!” seruan itu
membuat mereka berdua menoleh.
“Ibu Angkat....”
Jasmine berlari dan memeluk wanita itu. Wanita yang sudah cukup tua, mungkin
sekitar 40 tahunan.
Aiden beranjak dari
duduknya dan melihat ke arah mereka berdua yang terlihat berpelukan penuh
kelegaan.
“Ya Tuhan, syukurlah
kamu tidak apa-apa.
seru wanita itu terlihat
khawatir juga gelisah.
“Aku tidak apa-apa,
Ibu Angkat.”
Wanita itu kemudian
melepaskan pelukan Jasmine dan berdiri tegak menghadap ke arah Aiden.
“Ibu Angkat, Uncle
tampan ini yang tadi menemaniku. Dan memberikanku permen supaya aku tidak
menangis lagi,” seru Jasmine. Gadis kecil itu terlihat begitu pintar dan
menggemaskan.
“Uncle sudah baik padaku,” seru Jasmine.
“Terima kasih, Tuan.
Maaf sudah merepotkan anda,” seru Wanita
itu.
“Sama-sama,” jawab
Aiden.
“Kalau begitu kami
permisi dulu,” seru Wanita itu dan beranjak pergi seraya menuntun Jasmine.
“Sampai jumpa, Uncle
Tampan.” Jasmine melambaikan tangannya seraya menampilkan senyuman lebarnya.
Aiden tersenyum ke
arahnya.
Aiden bahkan di buat
kaget sendiri, ia mampu tersenyum tulus lagi, setelah 5 tahun berlalu. Bahkan
ia tidak pernah bisa tersenyum lagi atau merasa senang selama 5 tahun ini.
Hidupnya seakan kelabu dan gelap tanpa tujuan yang jelas. Tetapi hari ini, ia
seperti mendapatkan secerca cahaya yang membuat hatinya menghangat dan bibirnya
mampu kembali mengukir senyum yang telah lama menghilang.
“Aku berharap bisa
kembali bertemu dengan anak itu,” gumam Aiden.
Ꙭ
Didalam ruangannya,
kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Client nya adalah korban, dimana ia telah di aniaya oleh suaminya selama 2 tahun terakhir. Dan penyiksaan
dari suaminya yang terakhir membuatnya
cedera parah hingga terbaring di rumah sakit selama satu bulan.
Aiden masih membaca
dan memahami kasusnya secara rinci. Kemudian ia menekan intercom dan meminta sekretarisnya untuk membuat janji bertemu
dengan client. Aiden ingin mengajukan
beberapa pertanyaan dan menyelidiki dulu semuanya hingga jelas sebelum
persidangan.
Setelahnya ia menutup
berkas di tangannya dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati dinding
pembatas yang terbuat dari kaca hingga ia dapat melihat keramaian di kota N di
luar sana. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kedua saku celananya.
Entah kenapa wajah
gadis kecil kemarin terus terbayang oleh dirinya. Wajahnya terlihat familiar
dan mengingatkan Aiden pada seseorang.
Aiden menghela napasnya,
entah akan bagaimana kehidupannya nanti. Hidupnya terasa begitu monoton. Entah
apa yang sekarang menjadi tujuan hidupnya. Aiden seakan kehilangan jiwanya, dan
hidup dalam cangkang yang kosong.
Ꙭ
Sore itu Aiden baru
saja keluar dari ruangannya. Ia berjalan hendak meninggalkan kantor. Beberapa
karyawan wanita menyapanya dengan begitu ramah. Tetapi seperti biasa, Aiden
hanya memasang wajah datar, membuat para wanita itu merasa sedih dan menciut
karena di acuhkan.
Aiden tidak perduli
semua itu, ia terus berjalan dengan langkah lebar menuju lift.
Aiden meninggalkan
kantor Firma Hukum dengan mobilnya. Ia pergi menuju sebuah klab malam yang
selalu ia datangi hampir setiap malam. Kebetulan pemiliknya adalah salah satu
temannya saat kuliah dulu.
---
Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan
memasuki klabdengan sudah melepaskan jasnya, dan hanya mengenakan kemeja putih
yang bagian tangannya telah di lipat hingga siku.
“Kau datang?” seru
sang bartender saat melihat Aiden duduk di meja bartender.
“Seperti biasa yah,”
__ADS_1
seru Aiden.
“Oke,” seru Bartender bernama
Louis itu. “Ngomong-ngomong Harry sedang ada di atas.”
“Tumben dia datang
lebih awal,” seru Aiden menerima gelas yang di sodorkan Louis.
“Ya, karena ada mangsa
baru,” kekeh Louis. “Kau tidak ingin bergabung dengannya?”
“Aku tidak tertarik.”
Aiden meneguk minumannya.
“Ck, sampai kapan kamu
akan seperti ini? Apa hasratmu sudah lenyap untuk perempuan? Atau mungkin sudah
mengering?” ejek Louis.
“Ck, omong kosong apa
yang kamu katakan.” Aiden mengeluarkan rokok dari saku celananya dan membakar
ujungnya.
“Ayolah Aiden, apa kamu
sungguh tidak tertarik lagi pada wanita?” seru Louis.
“Hmmm...” Aiden enggan
menjawab dan fokus menghisap rokoknya.
“Hallo seksi,” seru
seorang wanita cantik dengan pakaian minim. Dengan tak tau malunya ia
bergelayut manja di lengan Aiden.
“Enyahlah!” seru Aiden
menepis lengan wanita itu hingga terlepas.
“Ck, kamu masih saja
dingin padaku. Padahal aku sudah mengejarmu selama beberapa bulan ini,” seru
wanita itu dengan nada manja dan menggoda. Ia mengambil duduk di kursi yang
berada di samping Aiden.
Aiden hanya diam dan
enggan menjawab seruan wanita itu.
“Dia kini sudah
berpindah haluan, Lala.” Seru Louis dengan kekehannya.
“Oh jangan sampai itu
terjadi, aku akan sangat patah hati,” rengek Lala. “Kau tau, Tuan Aiden. Aku sudah
sangat lama mengagumimu.”
Aiden seakan menulikan
telinganya dan mengabaikan Lala.
“Sayang, ayolah. Aku
akan memuaskanmumalam ini,” seru Lala
kembali berani merangkul dan sedikit memijat pundak Aiden dengan gerakan
menggoda.
“Enyah dari hadapanku, *****!” seru Aiden penuh penekanan
membuat Lala akhirnya mengerucutkan bibirnya sebal.
“Sepertinya ucapanmu
benar, Louis!” Lala yang kesal beranjak pergi meninggalkan gelak tawa dari
Louis.
“Ayolah Brother. Nikmati hidup ini,” kekeh
Louis. “Kau punya wajah tampan, pasti akan sangat banyak wanita yang rela
menghangatkan ranjangmu setiap malam. Jangan sia-siakan kelebihanmu itu.”
“Berisik!” Aiden
kembali meneguk minumannya.
“Wow, Pengacara dingin
kembali datang di klab ku,” seruan itu membuatnya menoleh dan terlihat seorang
pria tampan dengan pakaian casualnya dan terlihat santai.
“Sepertinya kamu
kembali menolak Lala, tadi wajahnya terlihat muram,” kekehnya yang kini duduk
di samping Aiden. Dia adalah Harry, teman satu kampus Aiden.
“Kau benar Harry,
lagi-lagi Lala gagal meluluhkan hatinya. Entah wanita seperti apa yang akan
meluluhkan hati temanmu ini,” seru Louis.
“Mungkin wanita di masa
lalunya,” kekeh Harry yang mengetahui sedikit kisah masa lalu Aiden.Aiden
tampak tak perduli dan fokus dengan minuman dan rokoknya.
Ꙭ
Hari ini Aiden ada
pertemuan dengan clientnya. Ia telah
menunggu kedatangan clientnya di
salah satu ruangan tertutup di sebuah restaurant.
Aiden terlihatmasih menunggu kedatangan clientnya seraya menikmati kopinya. Tak lama pintu ruangan pribadi
itu terbuka dan menampilkan sosok pelayan wanita di sana.
“Silakan masuk,
Nyonya. Tuan telah menunggu anda,” serunya.
Tap tap tap
Terdengar langkah kaki anggun. Aiden menatap ke arah
pintu dan menantikan kedatangan seseorang yang di panggil nyonya itu.
Deg
Aiden berdiri dari duduknya saat sosok Nyonya itu telah
masuk ke dalam ruangan. Kedua mata mereka melebar dan saling menatap satu sama
lainnya.
“Catherin....”
__ADS_1
“Aiden....”
Ꙭ