Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 1


__ADS_3

5 Tahun Kemudian...


Aiden kini menjadi


seorang pengacara yang cukup handal di Kota N. Yang merupakan cita-citanya


sejak dulu, sampai ia mengambil Fakultas Hukum. Tetapi keinginannya itu sempat


tertunda karena obsesi dari Ibunya, Elena.Yang menginginkan putranya menjadi presiden di WT Corp yang merupakan


perusahaan milik keluarga Wiratama.


                Karena obsesinya, Elena sampai bertindak curang dan sekarang imbasnya ia harus di penjara. Ayahnya


meninggal dunia karena kehilangan semua hartanya dan semua sahamnya hilang karena utang. Dan Aiden yang sekarang sebatang kara memilih menjauh dan merintis kembali kariernya dari nol.


                Tanpa terasa kini ia


telah mulai berjaya dalam waktu 5 tahun dan menjadi seorang Pengacara yang


hebat dan terpercaya di kota N.


                Pagi itu Aiden


berjalan menuju dapur apartemen dan membuat sandwich dengan segelas kopi untuk


sarapannya.Ia membawa sarapannya menuju pantry yang berada tepat di dekat


dinding dari kaca yang menjadi pembatas ruangan dalam dengan balkon apartemen.


Ia mulai melahap makanannya dalam diam, seraya membaca koran.


                Ya, Aiden terbiasa


hidup sendiri dan melakukan segalanya sendiri. Sosok yang dulu begitu ramah


kini telah berubah menjadi sosok yang begitu pendiam dan sangat tertutup.


                Selesai menghabiskan


sarapan juga kopinya, ia menutup korannya kembali dan membawa peralatan makan yang


kotor kemudian mencucinya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamarnya dan mulai


bersiap untuk berangkat bekerja.



                Dalam perjalanan menuju


Firma Hukum tempatnya bekerja. Ia melihat seorang


anak perempuan tampak menangis di pinggir jalan.


                Aiden meminggirkan


mobilnya, kemudian menuruni mobilnya. Ia berjalan mendekati anak kecil itu dan


berlutut di hadapannya.


                “Kamu kenapa?” tanya


Aiden pada gadis kecil yang menundukkan kepalanya dan terisak.


                Mendengar suara Aiden,


gadis kecil itu menengadahkan kepalanya dan tatapan polosnya langsung bertemu


dengan mata tajam Aiden.


                Mata ini.... batin Aiden.


                “Uncle, Aku mau pulang...


hikzz...” isak gadis kecil itu.


                “Ibu mu ke mana?”


tanya Aiden.


                “Aku tidak tau. Tadi


saat sedang berjalan, peganganku terlepas,” isaknya.


                Aiden menoleh ke sana


kemari untuk mencari sosok Ibunya tetapi tidak ia temukan.


                “Sudah jangan menangis


lagi, ini Uncle punya permen. Kamu mau?” seru Aiden merogoh saku jasnya dan


mengeluarkan satu buah permen dan memberikannya pada gadis kecil itu.


                “Tetapi aku di larang


menerima barang atau makanan dari orang asing,” serunya dengan lucu.


                Aiden tersenyum penuh


maklum.


                “Gadis pintar. Permen


ini masih terbungkus rapi, dan aku tidak berniat jahat, apalagi


pada gadis cantik seperti kamu,” seru Aiden


tetapi gadis itu hanya diam saja. “Baiklah kalau kamu tidak percaya, aku akan


memakannya.”


Aiden memakan permen di tangannya dan


menunjukkan tidak ada sesuatu yang aneh.


                “Ini makanlah, supaya


kamu tidak sedih lagi,” seru Aiden kembali mengambil permen dan memberikannya


kepada gadis itu.


                “Terima kasih, Uncle.”


Kali ini gadis kecil itu menerimanya.


                “Your Welcome.”


Gadis itu membuka permen dan memakannya tanpa


rasa curiga. Ia kemudian menghapus air mata di pipinya yang gembil seraya


tersenyum merekah ke arah Aiden.


                Entah kenapa melihat


senyuman dari gadis kecil ini mampu menghangatkan


hati Aiden. Rasanya ia ingin memeluk gadis kecil di depannya ini.


                “Siapa namamu?” tanya


Aiden.


                “Namaku Jasmine,


tetapi Uncle bisa memanggilku Mine.”


                “Mine...”


                Gadis itu tersenyum


seraya mengangguk.


                “Nama Uncle tampan


siapa?” tanya gadis itu.


                “Nama Uncle, A...”

__ADS_1


                “Mine!” seruan itu


membuat mereka berdua menoleh.


                “Ibu Angkat....”


Jasmine berlari dan memeluk wanita itu. Wanita yang sudah cukup tua, mungkin


sekitar 40 tahunan.


                Aiden beranjak dari


duduknya dan melihat ke arah mereka berdua yang terlihat berpelukan penuh


kelegaan.


                “Ya Tuhan, syukurlah


kamu tidak apa-apa.


 seru wanita itu terlihat


khawatir juga gelisah.


                “Aku tidak apa-apa,


Ibu Angkat.”


                Wanita itu kemudian


melepaskan pelukan Jasmine dan berdiri tegak menghadap ke arah Aiden.


                “Ibu Angkat, Uncle


tampan ini yang tadi menemaniku. Dan memberikanku permen supaya aku tidak


menangis lagi,” seru Jasmine. Gadis kecil itu terlihat begitu pintar dan


menggemaskan.


                “Uncle sudah baik padaku,” seru Jasmine.


                “Terima kasih, Tuan.


Maaf sudah merepotkan anda,” seru Wanita


itu.


                “Sama-sama,” jawab


Aiden.


                “Kalau begitu kami


permisi dulu,” seru Wanita itu dan beranjak pergi seraya menuntun Jasmine.


                “Sampai jumpa, Uncle


Tampan.” Jasmine melambaikan tangannya seraya menampilkan senyuman lebarnya.


                Aiden tersenyum ke


arahnya.


                Aiden bahkan di buat


kaget sendiri, ia mampu tersenyum tulus lagi, setelah 5 tahun berlalu. Bahkan


ia tidak pernah bisa tersenyum lagi atau merasa senang selama 5 tahun ini.


Hidupnya seakan kelabu dan gelap tanpa tujuan yang jelas. Tetapi hari ini, ia


seperti mendapatkan secerca cahaya yang membuat hatinya menghangat dan bibirnya


mampu kembali mengukir senyum yang telah lama menghilang.


                “Aku berharap bisa


kembali bertemu dengan anak itu,” gumam Aiden.



Didalam ruangannya,


kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Client nya adalah korban, dimana ia telah di aniaya oleh suaminya selama 2 tahun terakhir. Dan penyiksaan


dari suaminya yang terakhir membuatnya


cedera parah hingga terbaring di rumah sakit selama satu bulan.


                Aiden masih membaca


dan memahami kasusnya secara rinci. Kemudian ia menekan intercom dan meminta sekretarisnya untuk membuat janji bertemu


dengan client. Aiden ingin mengajukan


beberapa pertanyaan dan menyelidiki dulu semuanya hingga jelas sebelum


persidangan.


                Setelahnya ia menutup


berkas di tangannya dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati dinding


pembatas yang terbuat dari kaca hingga ia dapat melihat keramaian di kota N di


luar sana. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kedua saku celananya.


                Entah kenapa wajah


gadis kecil kemarin terus terbayang oleh dirinya. Wajahnya terlihat familiar


dan mengingatkan Aiden pada seseorang.


                Aiden menghela napasnya,


entah akan bagaimana kehidupannya nanti. Hidupnya terasa begitu monoton. Entah


apa yang sekarang menjadi tujuan hidupnya. Aiden seakan kehilangan jiwanya, dan


hidup dalam cangkang yang kosong.



                Sore itu Aiden baru


saja keluar dari ruangannya. Ia berjalan hendak meninggalkan kantor. Beberapa


karyawan wanita menyapanya dengan begitu ramah. Tetapi seperti biasa, Aiden


hanya memasang wajah datar, membuat para wanita itu merasa sedih dan menciut


karena di acuhkan.


                Aiden tidak perduli


semua itu, ia terus berjalan dengan langkah lebar menuju lift.


                Aiden meninggalkan


kantor Firma Hukum dengan mobilnya. Ia pergi menuju sebuah klab malam yang


selalu ia datangi hampir setiap malam. Kebetulan pemiliknya adalah salah satu


temannya saat kuliah dulu.


                ---


Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan


memasuki klabdengan sudah melepaskan jasnya, dan hanya mengenakan kemeja putih


yang bagian tangannya telah di lipat hingga siku.


                “Kau datang?” seru


sang bartender saat melihat Aiden duduk di meja bartender.


                “Seperti biasa yah,”

__ADS_1


seru Aiden.


                “Oke,” seru Bartender bernama


Louis itu. “Ngomong-ngomong Harry sedang ada di atas.”


                “Tumben dia datang


lebih awal,” seru Aiden menerima gelas yang di sodorkan Louis.


                “Ya, karena ada mangsa


baru,” kekeh Louis. “Kau tidak ingin bergabung dengannya?”


                “Aku tidak tertarik.”


Aiden meneguk minumannya.


                “Ck, sampai kapan kamu


akan seperti ini? Apa hasratmu sudah lenyap untuk perempuan? Atau mungkin sudah


mengering?” ejek Louis.


                “Ck, omong kosong apa


yang kamu katakan.” Aiden mengeluarkan rokok dari saku celananya dan membakar


ujungnya.


                “Ayolah Aiden, apa kamu


sungguh tidak tertarik lagi pada wanita?” seru Louis.


                “Hmmm...” Aiden enggan


menjawab dan fokus menghisap rokoknya.


                “Hallo seksi,” seru


seorang wanita cantik dengan pakaian minim. Dengan tak tau malunya ia


bergelayut manja di lengan Aiden.


                “Enyahlah!” seru Aiden


menepis lengan wanita itu hingga terlepas.


                “Ck, kamu masih saja


dingin padaku. Padahal aku sudah mengejarmu selama beberapa bulan ini,” seru


wanita itu dengan nada manja dan menggoda. Ia mengambil duduk di kursi yang


berada di samping Aiden.


                Aiden hanya diam dan


enggan menjawab seruan wanita itu.


                “Dia kini sudah


berpindah haluan, Lala.” Seru Louis dengan kekehannya.


                “Oh jangan sampai itu


terjadi, aku akan sangat patah hati,” rengek Lala. “Kau tau, Tuan Aiden. Aku sudah


sangat lama mengagumimu.”


                Aiden seakan menulikan


telinganya dan mengabaikan Lala.


                “Sayang, ayolah. Aku


akan memuaskanmumalam ini,” seru Lala


kembali berani merangkul dan sedikit memijat pundak Aiden dengan gerakan


menggoda.


                “Enyah dari hadapanku, *****!” seru Aiden penuh penekanan


membuat Lala akhirnya mengerucutkan bibirnya sebal.


                “Sepertinya ucapanmu


benar, Louis!” Lala yang kesal beranjak pergi meninggalkan gelak tawa dari


Louis.


                “Ayolah Brother. Nikmati hidup ini,” kekeh


Louis. “Kau punya wajah tampan, pasti akan sangat banyak wanita yang rela


menghangatkan ranjangmu setiap malam. Jangan sia-siakan kelebihanmu itu.”


                “Berisik!” Aiden


kembali meneguk minumannya.


                “Wow, Pengacara dingin


kembali datang di klab ku,” seruan itu membuatnya menoleh dan terlihat seorang


pria tampan dengan pakaian casualnya dan terlihat santai.


                “Sepertinya kamu


kembali menolak Lala, tadi wajahnya terlihat muram,” kekehnya yang kini duduk


di samping Aiden. Dia adalah Harry, teman satu kampus Aiden.


                “Kau benar Harry,


lagi-lagi Lala gagal meluluhkan hatinya. Entah wanita seperti apa yang akan


meluluhkan hati temanmu ini,” seru Louis.


                “Mungkin wanita di masa


lalunya,” kekeh Harry yang mengetahui sedikit kisah masa lalu Aiden.Aiden


tampak tak perduli dan fokus dengan minuman dan rokoknya.



                Hari ini Aiden ada


pertemuan dengan clientnya. Ia telah


menunggu kedatangan clientnya di


salah satu ruangan tertutup di sebuah restaurant.


                Aiden terlihatmasih menunggu kedatangan clientnya seraya menikmati kopinya. Tak lama pintu ruangan pribadi


itu terbuka dan menampilkan sosok pelayan wanita di sana.


                “Silakan masuk,


Nyonya. Tuan telah menunggu anda,” serunya.


                Tap tap tap


                Terdengar langkah kaki anggun. Aiden menatap ke arah


pintu dan menantikan kedatangan seseorang yang di panggil nyonya itu.


                Deg


                Aiden berdiri dari duduknya saat sosok Nyonya itu telah


masuk ke dalam ruangan. Kedua mata mereka melebar dan saling menatap satu sama


lainnya.


                “Catherin....”

__ADS_1


                “Aiden....”



__ADS_2