Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 5


__ADS_3

Saatini Catherin


tengah bersama Robert di salah satu restaurant western terkenal di sana. Ingatan Catherin tertuju pada Aiden yang


kini menjadi pengacara di perusahaan yang dia kelola.


                Kenapa? Kenapa takdir


melakukan semua ini. Kenapa mereka harus terus bertemu dan kembali


berinteraksi. Apa belum cukup rasa sakit yang selama bertahun-tahun ini di


tanggung olehnya.


                Kenapa harus mencintai


kalau hanya mendapatkan rasa sakit yang teramat dalam.


                Cintanya telah


bertepuk sebelah tangan, dan Catherin sungguh ingin keluar dari lingkup


perasaan yang menyakitkan ini. Ia ingin terlepas bebas dan melupakan Aiden.Walau sudah bertahun-tahun berlalu, tetap saja begitu


sulit. Dan sekarang takdir malah mempertemukan mereka berdua kembali, ini


semakin mempersulit dirinya.


                Dan Jasmine, bagaimana


kalau Aiden mengetahui siapa Jasmine...?


                “Cath!”


                Panggilan dengan


sentuhan di tangannya menyadarkan Catherin dari lamunannya.


                “Eh kenapa Robert?”


tanya Catherin.


                “Apa kamu hanya akan


terus menatap makanan di depanmu sampai dingin?” tanya Robert.


                “Emmm... aku akan


segera menghabiskannya,” seru Catherin segera menikmati makanannya dalam diam.


                “Ada apa? Tidak


biasanya kamu melamun saat sedang


makan, dan kamu terlihat begitu pusing,” seru Robert.


                “Bukan apa-apa. Hanya masalah pekerjaan,” jawab Catherin mengalihkan


pembicaraan.


                “Benarkah? Apa ada


yang menyulitkanmu?” tanya Robert.


                “Tidak ada, kamu tidak


perlu khawatir,” jawab Catherin menikmati makanannya.


                Robert adalah tunangan


Catherine yang di pilihkan oleh Ayahnya, Mr. William. Robert mampu menerima kehadiran Jasmine di antara mereka, walau Robert


sama sekali tidak pernah berbicara dengan Jasmine. Mereka bertunangan baru 5


bulan ini dan rencananya pernikahan mereka akan di lakukan sekitar satu tahunan


lagi.



                Aiden baru saja sampai


di kantor Firma tempatnya bekerja.


                “Ambar, tolong bawakan


semua dokumen dari perusahaan SR,” seru Aiden melalui interkom.


                Tak lama sekretarisnya


masuk ke sana dengan beberapa dokumen di tangannya.


                “Ini dokumennya, Sir.”


                “Baiklah terima kasih,


kamu boleh kembali,” seru Aiden saat Ambar telah menyimpan berkas-berkas itu di


atas mejanya.


                Ambar menatap Aiden


dengan tatapan penuh rasa kekaguman dan berjalan perlahan keluar dari ruangan


itu.


                “Mr. Aiden akhir-akhir


ini tidak lagi sedingin sebelumnya, dia menjadi lebih hangat dan lembut,”


gumamnya tersenyum penuh rasa kagum.


                Didalam ruangannya,


Aiden mulai membaca dan memahami mengenai perusahaan SR dimana Catherin yang


merupakan direkturnya.


                Aiden tidak heran


kalau saat ini Catherin memegang posisi sebagai direktur utama. Kenyataannya


Catherin adalah tuan putri dari salah seorang billionaire. Tetapi yang membuat


Aiden kagum dan menyukainya adalah sikapnya yang tidak pernah sombong maupun


manja layaknya seorang tuan putri. Bahkan Catherin terbilang begitu dewasa dan


sangat mandiri.


                “Kenapa akhir-akhir


ini aku terus memikirkan Catherine?” gumam Aiden.


                Ingatannya menerawang


pada kejadian terakhir, dimana ia melihat Catherine pergi bersama seorang pria.


                “Kalau aku tidak salah


ingat, dia adalah Robert Gracious dari perusahaan GG corp. Sebenarnya apa


hubungan di antara mereka berdua?” gumam Aiden.


                Perusahaan GG Corp

__ADS_1


adalah salah satu perusahaan terkemuka di Negara ini. Aiden yakin hubungan di


antara mereka berdua bukan sekedar teman.



                “Mommy...”


                Panggilan itu membuat


Catherin menoleh ke sumber suara.


                “Mine, kemarilah Nak,”


seru Catherine saat melihat Jasmine berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.


                “Mommy sedang sibuk?”


tanya Jasmine berjalan mendekati Catherin yang tengah duduk di kursi


kebesarannya dengan laptop di hadapannya.


                “Tidak terlalu, hanya


ada beberapa pekerjaan yang perlu Mommy selesaikan,” ucap Catherin. “Apa kamu


sudah mengerjakan tugas rumahmu?”


                “Sudah,” jawab


Jasmine.


                “Kenapa tidak pergi


tidur?”


                “Aku belum mengantuk.


Mommy bisa bacakan aku dongeng lagi?” seru Jasmine penuh harap.


                Catherin tersenyum kecil


dan beranjak dari duduknya.


                “Ayo,” ajak Catherin


seraya membawa Jasmine ke dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar Jasmine.



Saatini Aiden tengah


duduk berhadapan dengan Catherin didalam ruangan milik Catherin.


                “Aku sudah mempelajari


semua dokumen yang di berikan oleh asistenmu,” seru Aiden.


                “Baiklah kalau


begitu,” seru Catherin.


                “Ini beberapa dokumen


yang harus kamu sepakati.Kamu bisa


membacanya,” seru Aiden menyerahkan dokumen ke arah Catherin.


                Catherin membuka dan


membacanya dengan seksama.


                “Kamu dekat dengan


Robert?” tanya Aiden membuat Catherin menghentikan aktivitas membacanya dan


                “Memangnya ada masalah?”


tanya Catherin mengernyitkan dahinya.


                “Tidak ada, aku senang


melihatmu bahagia,” ucap Aiden terlihat tulus.


                “Terima kasih atas


perhatianmu,” jawab Catherin memalingkan wajahnya. Entah kenapa hatinya masih


berdegup cepat saat berada di sisi Aiden.


                Tak ada yang berubah


dari 5 tahun yang lalu, apa yang dulu di rasakan Catherin pada Aiden, kini


masih terasa juga menyakitkan. Sekuat apapun menahan dan menyembunyikan perasaannya, tetap saja tidak mampu melupakan Aiden,


bahkan mengenyahkan perasaannya itu.


                “Kamu sudah lama


menetap di kota ini?” tanya Catherin saat ia selesai membaca dokumen di


tangannya.


                “Ya, sekarang di


sinilah tempatku,” jawab Aiden.


                “Apa yang terjadi 5


tahun yang lalu sampai kamu memilih datang ke kota ini dan berubah profesi,”


tanya Catherin tak mampu menahan rasa penasarannya.


                “Banyak yang berubah,”


seru Aiden menerawang ke masa lalu yang menyakitkan dan menghancurkan dirinya.


                “Kamu seperti ini apa


karena wanita bernama Agneta itu?” tanya Catherin membuat Aiden melihat ke


arahnya dan terlihat tatapannya menggelap dan terlihat luka mendalam di sana.


                “Jangan pernah


menyebut nama itu,” seru Aiden terlihat enggan.


                “Kenapa? Kamu


membencinya?” tanya Catherin seakan terus menggali informasi.


                “Aku tidak


membencinya, hanya saja aku tidak ingin mengingatnya dan mendengar namanya


lagi. Kini kehidupanku ada di sini.” Aiden berbicara dengan penuh penekanan.


                Luka itu masih terasa,


rasa sakit itu masih membekas didalam relung hatinya yang membawa Aiden ke


dalam kegelapan terdalam didalam hatinya.


                Catherin tersenyum

__ADS_1


miris, ternyata cinta untuk wanita itu masih ada. Memang sejak dulu cintanya


hanya sebuah cinta sepihak saja. Bahkan Aiden sama sekali tidak menyadari


perasaan Catherin padanya.Dan sejak dulu


Catherin hanya pelarian dari Agneta bagi Aiden. Sungguh cinta yang menyakitkan.


                “Baiklah kita kembali


membahas pekerjaan saja,” seru Catherin yang di angguki Aiden.


                Aiden sesekali


menjelaskan sesuatu kepada Catherin, tetapi Catherin malah tidak fokus dan


terus menatap wajah Aiden.


                ‘Kamu berubah Aiden. Kamu menjadi sosok yang menutup dirimu dan menjadi


sosok lain untuk menyembunyikan segala duka dan rasa sakitmu. Aku yakin, wanita


itu masih mempengaruhimu hingga saat ini. Sebesar inikah rasa cintamu untuknya?’ batin Catherin.


                “Cath.”


                “Eh?”


                “Apa kamu mendengar


ucapanku?” tanya Aiden.


                “Oh ya, lanjutkan


lagi,” seru Catherin kini mulai berusaha fokus pada pekerjaan.



                Aiden baru saja


selesai mandi dan sudah memakai pakaian rumahannya. Ia menuangkan kopi dari


mesin pembuat kopi ke dalam gelas. Kemudian ia menyalakan televisi dan menonton


berita.


                “Catherin?” gumamnya


saat melihat berita di televisi.


                “Catherin dan Robert?


Ternyata mereka memang sudah bertunangan.”


                Acara berita televisi


itu tengah mewawancarai hubungan Catherin dan Robert yang merupakan pewaris


tunggal dari salah satu pebisnis ternama di Negara ini.


                “Tidak di sangka kamu


akhirnya menerima pernikahan karena kontrak bisnis,” gumamnya.


                Aku tidak ingin hidupku di atur oleh kedua orang tuaku yang bahkan


hanya memikirkan bisnisnya saja daripada aku putri kandungnya sendiri.


                Aku ingin menikah dengan pria


yang begitu aku cintai dan dia juga mencintaiku. Hidup bahagia dan memiliki


banyak anak. Itu adalah impianku, Aiden.


                Bahkan aku rela meninggalkan


statusku sebagai Nona billionaire hanya untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga


yang akan mengurus suami dan anak-anaknya kelak. Asalkan impianku tercapai.


                “Sebenarnya apa yang


membuatmu berubah,” gumamnya menyeduh kopi yang masih mengepulkan asap itu.



                “Ck, terkadang berita


seperti ini selalu di lebih-lebihkan,” seru Catherin mematikan saluran


televisi.


                “Mommy kenapa


marah-marah?” tanya Jasmine yang berada di sisinya.


                “Tidak apa-apa, kamu


sudah selesai mengerjakan tugas?” tanyanya.


                “Ya Mom, aku ingin


duduk di sini bersama Mom,” seru Jasmine duduk di samping Catherin dan


merebahkan kepalanya di pangkuan Catherin.


                “Mom,”


                “Hmm...”


                “Aku melihat berita


Mom dengan Uncle Robert, apa Mom beneran akan menikah dengannya?” tanya


Jasmine.


                “Kenapa kamu


menanyakan hal itu?” tanya Catherin.


                “Apa Mom


mencintainya?” tanya Jasmine melihat ke arah wajah Catherin yang kini terlihat


menegang.


                Karena tidak ada


jawaban dari Catherin, Jasmine kembali bersuara. “Kalau memang tidak


mencintainya, kenapa harus menikah sih Mom?”


                “Kamu anak kecil tau


apa sih tentang cinta dan pernikahan,” kekeh Catherin tertawa garing.


                “Ck, kenapa para orang


dewasa begitu ribet. Padahal hanya tinggal menikah saja dengan pria yang di


cintai. Kenapa sulit sekali,” keluh Jasmine yang sudah begitu dewasa


pemikirannya.


                ‘Semuanya tidak semudah yang kamu ucapkan. Mine.’ Batin Catherin.

__ADS_1



__ADS_2