
Saatini Catherin
tengah bersama Robert di salah satu restaurant western terkenal di sana. Ingatan Catherin tertuju pada Aiden yang
kini menjadi pengacara di perusahaan yang dia kelola.
Kenapa? Kenapa takdir
melakukan semua ini. Kenapa mereka harus terus bertemu dan kembali
berinteraksi. Apa belum cukup rasa sakit yang selama bertahun-tahun ini di
tanggung olehnya.
Kenapa harus mencintai
kalau hanya mendapatkan rasa sakit yang teramat dalam.
Cintanya telah
bertepuk sebelah tangan, dan Catherin sungguh ingin keluar dari lingkup
perasaan yang menyakitkan ini. Ia ingin terlepas bebas dan melupakan Aiden.Walau sudah bertahun-tahun berlalu, tetap saja begitu
sulit. Dan sekarang takdir malah mempertemukan mereka berdua kembali, ini
semakin mempersulit dirinya.
Dan Jasmine, bagaimana
kalau Aiden mengetahui siapa Jasmine...?
“Cath!”
Panggilan dengan
sentuhan di tangannya menyadarkan Catherin dari lamunannya.
“Eh kenapa Robert?”
tanya Catherin.
“Apa kamu hanya akan
terus menatap makanan di depanmu sampai dingin?” tanya Robert.
“Emmm... aku akan
segera menghabiskannya,” seru Catherin segera menikmati makanannya dalam diam.
“Ada apa? Tidak
biasanya kamu melamun saat sedang
makan, dan kamu terlihat begitu pusing,” seru Robert.
“Bukan apa-apa. Hanya masalah pekerjaan,” jawab Catherin mengalihkan
pembicaraan.
“Benarkah? Apa ada
yang menyulitkanmu?” tanya Robert.
“Tidak ada, kamu tidak
perlu khawatir,” jawab Catherin menikmati makanannya.
Robert adalah tunangan
Catherine yang di pilihkan oleh Ayahnya, Mr. William. Robert mampu menerima kehadiran Jasmine di antara mereka, walau Robert
sama sekali tidak pernah berbicara dengan Jasmine. Mereka bertunangan baru 5
bulan ini dan rencananya pernikahan mereka akan di lakukan sekitar satu tahunan
lagi.
Ꙭ
Aiden baru saja sampai
di kantor Firma tempatnya bekerja.
“Ambar, tolong bawakan
semua dokumen dari perusahaan SR,” seru Aiden melalui interkom.
Tak lama sekretarisnya
masuk ke sana dengan beberapa dokumen di tangannya.
“Ini dokumennya, Sir.”
“Baiklah terima kasih,
kamu boleh kembali,” seru Aiden saat Ambar telah menyimpan berkas-berkas itu di
atas mejanya.
Ambar menatap Aiden
dengan tatapan penuh rasa kekaguman dan berjalan perlahan keluar dari ruangan
itu.
“Mr. Aiden akhir-akhir
ini tidak lagi sedingin sebelumnya, dia menjadi lebih hangat dan lembut,”
gumamnya tersenyum penuh rasa kagum.
Didalam ruangannya,
Aiden mulai membaca dan memahami mengenai perusahaan SR dimana Catherin yang
merupakan direkturnya.
Aiden tidak heran
kalau saat ini Catherin memegang posisi sebagai direktur utama. Kenyataannya
Catherin adalah tuan putri dari salah seorang billionaire. Tetapi yang membuat
Aiden kagum dan menyukainya adalah sikapnya yang tidak pernah sombong maupun
manja layaknya seorang tuan putri. Bahkan Catherin terbilang begitu dewasa dan
sangat mandiri.
“Kenapa akhir-akhir
ini aku terus memikirkan Catherine?” gumam Aiden.
Ingatannya menerawang
pada kejadian terakhir, dimana ia melihat Catherine pergi bersama seorang pria.
“Kalau aku tidak salah
ingat, dia adalah Robert Gracious dari perusahaan GG corp. Sebenarnya apa
hubungan di antara mereka berdua?” gumam Aiden.
Perusahaan GG Corp
__ADS_1
adalah salah satu perusahaan terkemuka di Negara ini. Aiden yakin hubungan di
antara mereka berdua bukan sekedar teman.
Ꙭ
“Mommy...”
Panggilan itu membuat
Catherin menoleh ke sumber suara.
“Mine, kemarilah Nak,”
seru Catherine saat melihat Jasmine berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
“Mommy sedang sibuk?”
tanya Jasmine berjalan mendekati Catherin yang tengah duduk di kursi
kebesarannya dengan laptop di hadapannya.
“Tidak terlalu, hanya
ada beberapa pekerjaan yang perlu Mommy selesaikan,” ucap Catherin. “Apa kamu
sudah mengerjakan tugas rumahmu?”
“Sudah,” jawab
Jasmine.
“Kenapa tidak pergi
tidur?”
“Aku belum mengantuk.
Mommy bisa bacakan aku dongeng lagi?” seru Jasmine penuh harap.
Catherin tersenyum kecil
dan beranjak dari duduknya.
“Ayo,” ajak Catherin
seraya membawa Jasmine ke dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar Jasmine.
Ꙭ
Saatini Aiden tengah
duduk berhadapan dengan Catherin didalam ruangan milik Catherin.
“Aku sudah mempelajari
semua dokumen yang di berikan oleh asistenmu,” seru Aiden.
“Baiklah kalau
begitu,” seru Catherin.
“Ini beberapa dokumen
yang harus kamu sepakati.Kamu bisa
membacanya,” seru Aiden menyerahkan dokumen ke arah Catherin.
Catherin membuka dan
membacanya dengan seksama.
“Kamu dekat dengan
Robert?” tanya Aiden membuat Catherin menghentikan aktivitas membacanya dan
“Memangnya ada masalah?”
tanya Catherin mengernyitkan dahinya.
“Tidak ada, aku senang
melihatmu bahagia,” ucap Aiden terlihat tulus.
“Terima kasih atas
perhatianmu,” jawab Catherin memalingkan wajahnya. Entah kenapa hatinya masih
berdegup cepat saat berada di sisi Aiden.
Tak ada yang berubah
dari 5 tahun yang lalu, apa yang dulu di rasakan Catherin pada Aiden, kini
masih terasa juga menyakitkan. Sekuat apapun menahan dan menyembunyikan perasaannya, tetap saja tidak mampu melupakan Aiden,
bahkan mengenyahkan perasaannya itu.
“Kamu sudah lama
menetap di kota ini?” tanya Catherin saat ia selesai membaca dokumen di
tangannya.
“Ya, sekarang di
sinilah tempatku,” jawab Aiden.
“Apa yang terjadi 5
tahun yang lalu sampai kamu memilih datang ke kota ini dan berubah profesi,”
tanya Catherin tak mampu menahan rasa penasarannya.
“Banyak yang berubah,”
seru Aiden menerawang ke masa lalu yang menyakitkan dan menghancurkan dirinya.
“Kamu seperti ini apa
karena wanita bernama Agneta itu?” tanya Catherin membuat Aiden melihat ke
arahnya dan terlihat tatapannya menggelap dan terlihat luka mendalam di sana.
“Jangan pernah
menyebut nama itu,” seru Aiden terlihat enggan.
“Kenapa? Kamu
membencinya?” tanya Catherin seakan terus menggali informasi.
“Aku tidak
membencinya, hanya saja aku tidak ingin mengingatnya dan mendengar namanya
lagi. Kini kehidupanku ada di sini.” Aiden berbicara dengan penuh penekanan.
Luka itu masih terasa,
rasa sakit itu masih membekas didalam relung hatinya yang membawa Aiden ke
dalam kegelapan terdalam didalam hatinya.
Catherin tersenyum
__ADS_1
miris, ternyata cinta untuk wanita itu masih ada. Memang sejak dulu cintanya
hanya sebuah cinta sepihak saja. Bahkan Aiden sama sekali tidak menyadari
perasaan Catherin padanya.Dan sejak dulu
Catherin hanya pelarian dari Agneta bagi Aiden. Sungguh cinta yang menyakitkan.
“Baiklah kita kembali
membahas pekerjaan saja,” seru Catherin yang di angguki Aiden.
Aiden sesekali
menjelaskan sesuatu kepada Catherin, tetapi Catherin malah tidak fokus dan
terus menatap wajah Aiden.
‘Kamu berubah Aiden. Kamu menjadi sosok yang menutup dirimu dan menjadi
sosok lain untuk menyembunyikan segala duka dan rasa sakitmu. Aku yakin, wanita
itu masih mempengaruhimu hingga saat ini. Sebesar inikah rasa cintamu untuknya?’ batin Catherin.
“Cath.”
“Eh?”
“Apa kamu mendengar
ucapanku?” tanya Aiden.
“Oh ya, lanjutkan
lagi,” seru Catherin kini mulai berusaha fokus pada pekerjaan.
Ꙭ
Aiden baru saja
selesai mandi dan sudah memakai pakaian rumahannya. Ia menuangkan kopi dari
mesin pembuat kopi ke dalam gelas. Kemudian ia menyalakan televisi dan menonton
berita.
“Catherin?” gumamnya
saat melihat berita di televisi.
“Catherin dan Robert?
Ternyata mereka memang sudah bertunangan.”
Acara berita televisi
itu tengah mewawancarai hubungan Catherin dan Robert yang merupakan pewaris
tunggal dari salah satu pebisnis ternama di Negara ini.
“Tidak di sangka kamu
akhirnya menerima pernikahan karena kontrak bisnis,” gumamnya.
Aku tidak ingin hidupku di atur oleh kedua orang tuaku yang bahkan
hanya memikirkan bisnisnya saja daripada aku putri kandungnya sendiri.
Aku ingin menikah dengan pria
yang begitu aku cintai dan dia juga mencintaiku. Hidup bahagia dan memiliki
banyak anak. Itu adalah impianku, Aiden.
Bahkan aku rela meninggalkan
statusku sebagai Nona billionaire hanya untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga
yang akan mengurus suami dan anak-anaknya kelak. Asalkan impianku tercapai.
“Sebenarnya apa yang
membuatmu berubah,” gumamnya menyeduh kopi yang masih mengepulkan asap itu.
Ꙭ
“Ck, terkadang berita
seperti ini selalu di lebih-lebihkan,” seru Catherin mematikan saluran
televisi.
“Mommy kenapa
marah-marah?” tanya Jasmine yang berada di sisinya.
“Tidak apa-apa, kamu
sudah selesai mengerjakan tugas?” tanyanya.
“Ya Mom, aku ingin
duduk di sini bersama Mom,” seru Jasmine duduk di samping Catherin dan
merebahkan kepalanya di pangkuan Catherin.
“Mom,”
“Hmm...”
“Aku melihat berita
Mom dengan Uncle Robert, apa Mom beneran akan menikah dengannya?” tanya
Jasmine.
“Kenapa kamu
menanyakan hal itu?” tanya Catherin.
“Apa Mom
mencintainya?” tanya Jasmine melihat ke arah wajah Catherin yang kini terlihat
menegang.
Karena tidak ada
jawaban dari Catherin, Jasmine kembali bersuara. “Kalau memang tidak
mencintainya, kenapa harus menikah sih Mom?”
“Kamu anak kecil tau
apa sih tentang cinta dan pernikahan,” kekeh Catherin tertawa garing.
“Ck, kenapa para orang
dewasa begitu ribet. Padahal hanya tinggal menikah saja dengan pria yang di
cintai. Kenapa sulit sekali,” keluh Jasmine yang sudah begitu dewasa
pemikirannya.
‘Semuanya tidak semudah yang kamu ucapkan. Mine.’ Batin Catherin.
__ADS_1
Ꙭ