
Sudah satu minggu lamanya Aiden di Indonesia. Membuat Catherine merasa sangat kesepian dan tersiksa karena rindu. Begitu juga dengan Mine.
"Mom, Daddy kenapa lama sih," keluh Mine.
"Sabar yah Sayang. Daddy sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di Indonesia," seru Catherine.
"Kata Mom, keluarga Daddy ada di Indonesia. Kenapa kita nggak ke sana saja? Mine belum pernah pergi ke sana," seru Mine.
"Sekarang kan belum masa liburan sekolah. Jadi kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Nanti kalau kamu sudah libur sekolah, baru kita ke sana yah," seru Catherine.
"Tapi Mine kangen Daddy."
Catherine menatap jam digital yang ada di atas meja sudut.
"Bagaimana kalau kita telpon Daddy saja, mungkin Daddy sudah bangun jam segini," seru Catherine.
Mine mengangguk setuju.
Catherine melakukan panggilan video ke Aiden. Dalam dering ke 5 panggilan di angkat dan terlihat Aiden baru bangun dengan rambut acak-acakan dan matanya sedikit sembab karena baru bangun tidur. Ia terlihat hanya memakai kaos tanpa lengan hingga memperlihatkan otot tubuhnya yang errr sangat seksi sekali.
Catherine tanpa sadar menelan salivanya sendiri melihat Aiden yang terlihat begitu seksi di sana.
"Daddyyyy...."
Panggilan Mine itu menyadarkan lamunan Catherine dari berbagai pikiran negative.
"Hallo Princes," seru Aiden tersenyum melihat ke arah mereka dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Daddy baru bangun yah?"
"Emmm iya, panggilan dari Mommy kamu membangunkan Daddy," seru Aiden sedikit menguap.
"Sorry Daddy."
"It's Oke, Princes."
"I miss you so much Daddy... sangat sangat kangen," seru Mine dengan lucu membuat Aiden tersenyum.
"I miss you too Sayang. Ngomong-ngomong sampai kapan Mommy mu hanya akan menatap Daddy seperti itu," seru Aiden membuat Catherine memalingkan pandangannya.
"Mine yang sedang ingin ngobrol denganmu," seru Catherine berdehem kecil.
"Daddy, para Ibu teman-temanku di sekolah mencari dan menanyai Daddy terus," seru Mine dengan polosnya membuat Catherine melihat ke arah anak itu.
"Siapa Mine?" tanya Catherine sedikit sinis.
"Kenapa Mommy marahin Mine?" seru Mine melihat ke arah Catherine.
"Tidak bukan memarahi, Mommy hanya ingin tau siapa yang menanyai Daddy," seru Catherine berusaha mengendalikan kegugupannya yang terlihat sekali cemburu.
"Mommy kamu tidak sedang marah, Princes. Dia itu sedang cemburu," goda Aiden membuat Catherine menyipitkan matanya ke arah Aiden.
"Cemburu itu apa?" tanya Mine.
"Seperti ini. Mine marah tidak kalau Daddy sama anak lain dan menggendongnya?" tanya Aiden.
"Jangan! Nggak boleh. Daddy hanya punya Mine," seru anak itu dengan lantang dan sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Nah itu namanya cemburu," seru Aiden.
"Oh begitu yah. Jadi Mommy cemburu sama Ibunya temen-temen aku?" seru Mine yang langsung menebaknya.
"Anak pintar," kekeh Aiden.
"Kenapa harus mengajarkannya begitu,ck," seru Catherine.
"Lagian Mommy kalau nggak suka bilang dong. Nanti Mine sampain ke mereka kalau Mommy aku cemburu," seru Mine.
"Mine..."
Aiden terkekeh mendengar penuturan Mine yang sangat lucu. Catherine hanya mendengus saja tanpa menanggapi.
"Mine, kenapa belum tidur?" tanya Aiden.
"Belum mengantuk Dad. Lagian masih jam setengah delapan malam," seru Mine.
"Sudah makan malam?" tanya Aiden.
"Sudah. Tapi makanannya nggak seenak masakan Daddy. Daddy kapan pulang? Mine kangen banget."
"Secepatnya Daddy akan pulang. Setelah semua urusan di sini selesai. Daddy akan kembali ke sisi kamu dan Mommy."
"Mine tunggu yah."
"Oke."
Ꙭ
"Ah ada hal apa kalian menyambutku?" tanya Aiden menaikkan sebelah alisnya.
"Vara, apa kamu tidak menjelaskannya pada Direktur baru ini," seru Key.
"Aku lupa," jawab Devara dengan santai. "Aiden, untuk sekarang dan kedepannya. Pemuda kembar ini akan menjadi asisten pribadimu, selain sekretaris Yuna yang akan membantumu," seru Devara seraya menunjuk ke arah wanita muda yang sejak tadi diam saja di belakang mereka.
"Aku tidak butuh asisten seperti mereka, Vara. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri," seru Aiden dengan santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Jangan begitulah Aiden. Kau ingin kami jadi pengangguran," seru Kay.
"Apalagi kami sudah di buang sama Dave. Duh menyedihkan hidup saudara kembar ini. Di campakkan oleh semua orang," seru Key dengan ekspresi sedih membuat Devara terkekeh.
"Kalian bukan di buang oleh Dave. Tapi aku yang meminta kalian berdua untuk membantuku di sini," seru Devara.
"Dan sekarang Bu Boss mencampakkan kami. Sedih sekali rasanya," seru Key menyentuh dadanya dengan ekspresi lesu.
"Ck, menggelikan," seru Aiden.
"Sudahlah, kau buat mereka bekerja rodi saja, Aiden. Mereka berdua sangat rajin dan semangat bekerja kok," goda Devara mengedipkan sebelah matanya sebelum beranjak pergi menuju ruangannya.
"Hah nggak kembarannya nggak dia, sama-sama kejam," keluh Kay.
"Kalian tau, aku tidak suka di khianati. Dan kalian pernah mengkhianatiku di masa lalu," seru Aiden.
"Ah kau sangat pendendam Aiden. Dulu kan kami setia pada bos kami," seru Key.
"Aku bukan orang baik yang mudah memaafkan," ucap Aiden.
__ADS_1
Aiden kini melihat ke arah Yuna. "Sekretaris Yun, bisakah kamu tunjukkan apa saja yang harus aku kerjakan?" tanya Aiden yang langsung di angguki Yuna.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan Aiden dan terlihat tumpukkan berkas dan beberapa laporan penting yang perlu di tandatangani dan di periksa oleh Aiden. Selain itu ada beberapa laporan yang belum di buat untuk schedule ke depannya.
"Wah hari pertama yang sibuk," seru Aiden melipat kedua tangannya di dada.
Aiden melihat ke arah Kay dan Key dengan tatapan misterius membuat Kay dan Key menatapnya curiga.
"Ah karena kalian sangat rajin bekerja dan setia pada atasan kalian. Jadi aku ingin kalian yang mengerjakan semua pekerjaan ini," seru Aiden.
"Apa?" pekik keduanya.
"Kenapa bisa begitu?" seru Key tak terima.
"Itu kan pekerjaanmu," timpal Kay.
"Ya bisa di katakana ini bukti kesetiaan kalian dan untuk menebus kesalahan kalian di masa lalu," jawab Aiden dengan santai.
"Baiklah kalian kerjakan semua ini. Dan Sekretaris Yun, tolong kosongkan jadwalku dalam seminggu ke depan. Biarkan Asisten pribadiku yang sangat loyal ini menghandlenya. Aku akan pergi ke Luar Negeri dalam satu minggu ini," seru Aiden dengan santai.
"Bagaimana bisa kau lepas tangan begitu saat pertama kali bekerja," protes Kay.
"Di sini yang jadi bos nya siapa?" tanya Aiden.
"Kamu."
"Nah kalau begitu ikutin saja perintahku. Ah kalian berdua sungguh loyal sekali, aku sampai ingin menangis karena terharu," goda Aiden.
"Menyebalkan!" gerutu Key.
"Baiklah, selamat bekerja Twins. Aku akan menemui Vara dulu dan bersiap untuk berangkat ke kota N," ucap Aiden berjalan santai keluar ruangannya meninggalkan Kay dan key yang terlihat dongkol dan sekretaris Yuna yang hanya bisa terkekeh.
"Ah dasar bos kejam. Aku pikir setelah lepas dari si kembar Devil bisa tenang. Eh Kakak sepupunya juga sama kejamnya," keluh Kay.
"Kenapa keturunan Wiratama kejam-kejam semua sih. Dan sialnya kita harus terlibat dengan mereka semua," ucap Key menepuk jidatnya.
"Kita teraniaya terus," keluh Kay.
"Selamat bekerja. Saya permisi dulu," kekeh Sekretaris Yuna dan beranjak keluar ruangan meninggalkan si kembar yang tengah ketiban sial dengan tumpukan pekerjaan.
---
"Kamu akan kembali?" tanya Vara saat Aiden sudah berada di ruangannya.
Devara menyimpan gelas kopi di atas meja depan Aiden.
"Ya, hanya seminggu saja. Setelah itu aku akan kembali dengan membawa pengantinku," seru Aiden tersenyum merekah.
"Baiklah. Aku akan membantu twins menghandle pekerjaanmu dulu. Setelah kau kembali, jangan lupa memperkenalkan mereka kepadaku," seru Devara tampak antusias.
"Baiklah. Aku akan mengenalkan mereka kepadamu."
Ꙭ
TBC...
13-06-2020
__ADS_1