Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 29


__ADS_3

Catherinetengah di


tangani  oleh seorang Dokter. Aiden


berdiri di luar ruangan UGD. Harry tengah mencari keberadaan robert di bantu


pihak kepolisian dan mengamankan binatang-binatang yang di tangkap oleh Robert.


Aiden


terlihat duduk di kursi yang berada di sisi pintu ruangan. Tatapannya


menerawang ke depan. Kepingan kejadian beberapa jam yang lalu kembali memenuhi


kepalanya. Saat Catherine melindungi dirinya dan mengorbankan nyawa catherine


sendiri.


Aku mencintaimu... Aiden....


Kata-kata


itu terngiang di telinga aiden dan terasa begitu menyesakkan dada.


"Kamu


harus kembali sehat, cath." gumam Aiden mengusap wajahnya dengan  gusar.


Tak


lama seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ia meminta Aiden untuk


mengikutinya menuju ruangannya.


"Bagaimana


keadaan catherine?" tanya Aiden saat ia sudah duduk di kursi yang


berhadapan dengan Dokter.


Aiden


terlihat begitu khawatir dan ada ketakutan di mata tajam nya. Dokter itu tampak


menghela napasnya seraya membenarkan posisi kacamata yang ia gunakan.


"Bagaimana?"


tanya Aiden begitu lirih. "Dia baik-baik saja, bukan?"


"Nona


Catherine sudah melewati masa kritisnya. Hanya ada sedikit masalah,"


serunya.


"Apa?"


tanya Aiden menanti sang Dokter berucap.


"Kondisi


Nona Catherine keseluruhan tidak begitu serius. Hanya saja cedera di tulang


belakangnya cukup parah," seru Dokter.


Aiden


masih diam menunggu sang Dokter melanjutkan ucapannya.


"Efek


dari cedera tulang belakang atau spinal cord injury ini berdampak pada


hilangnya semua kemampuan saraf sensorik (inderawi) atau saraf motorik


(pergerakan). Tergantung seberapa parahnya cedera itu," seru Dokter.


"Jadi


apa yang di alami Catherine?" tanya  Aiden.


"Kami


belum bisa memastikan. Ini akan dapat di ketahui setelah Pasien siuman.


Kategori dari cedera saraf ini tidak berfungsinya indera perasa pasien, seperti


mati rasa. Tidak merasakan panas, dingin maupun rasa sakit. Dan kategori


lainnya adalah paralysis atau kelumpuhan."


Deg


"Lumpuh?"


seru Aiden.


"Iya.


Bukan hanya akan sering mengalami rasa sakit di bagian leher dan tulang


belakang. Pasien bisa mengalami kelumpuhan pada pinggul ke bawah atau kedua


kakinya tidak mampu bergerak lagi."


Wajah

__ADS_1


Aiden berubah menjadi pucat pasi. Apa yang baru saja ia dengar sungguh mengagetkan.


Bagaimana kalau Catherine yang mendengar semua ini.


"Kami


akan menindaklanjuti kasus yang menimpa nona Catherine ini."


Aiden


tidak mengatakan apapun lagi. Penjelasan Dokter sudah jelas semuanya. Kini ia


pergi meninggalkan ruangan Dokter dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit


dengan tatapan kosong.


Aiden


memasuki ruangan Catherine dengan memakai pakaian steril berwarna biru. Ia


melihat tubuh wanita yang selalu ia lukai itu terbaring tak berdaya di atas brankar.


Aiden


mengambil duduk di kursi yang berada di sisi brankar dan menatap sendu wajah


pucat Catherine yang terlelap.


"Kenapa


kamu harus melakukan ini?" gumam Aiden.


Hatinya


bergemuruh dan terasa sangat sesak dan terbakar. Semua ini karena dirinya.


"Kenapa


kamu harus menolongku, Cath?" tanya Aiden dengan matanya yang memerah.


Aiden


tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Catherine nanti saat mengetahui


kondisi dirinya.


"Sungguh


Cath, kamu tidak harus melakukan ini. Bagaimana bisa?" gumamnya tidak


mampu berkata-kata lagi. Ia merasa sesuatu yang tajam menyumbat tenggorokannya.


"Aku


tidak paham bagaimana bisa kamu mencintaiku sedalam ini." Tak mampu lagi


menahan tangisannya. Air matanya luruh membasahi pipinya.


"Aku


Catherine yang masih terlelap.


"Aku


sering menyakitimu. Tapi kamu malah membalasku dengan cinta yang begitu tulus.


Bagaimana bisa aku mendapatkan semua ini. Bagaimana aku harus


membalasnya?"


Tangan


Aiden terulur menyentuh pipi Catherine dan membelainya.


"Apa


sekarang aku tidak terlambat untuk mencintaimu dan memahamimu. Sampai sekarang


pun aku masih tidak bisa memahamimu. Bagaimana kamu bisa mencintaiku seperti


ini. Sungguh aku merasa tak pantas mendapatkan pengorbanan sebesar ini


darimu."


"Seharusnya


aku yang lumpuh dan cedera. Seharusnya aku yang menerima kesakitan ini semua.


Kamu tidak berhak mendapatkan kesakitan ini. Kamu harusnya bahagia."


Aiden


hanya bisa menangis dalam diam menatap wajah Catherine.


"Untuk


sekarang biarkan aku yang menjagamu, membahagiakanmu. Mulai kali ini ijinkan


aku untuk selalu di sisi kamu. Aku ingin membalas cintamu. Aku ingin menjadi


orang yang bisa membuatmu bahagia."


"Cepatlah


buka matamu. Aku menunggu mu di sini." Aiden mencium mening Catherine.


__ADS_1


Harry


datang ke rumah sakit dan melihat Aiden duduk terdiam di depan ruang Catherine.


"Bagaimana


keadaannya? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Harry yang mengambil duduk


di sisi Aiden.


"Kenapa


harus seperti ini. Kenapa bukan aku yang celaka. Kenapa dia harus melindungi


ku. Kenapa aku begitu tidak berguna," seru Aiden mengusap wajahnya dengan


gusar.


"Kamu


jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Semua ini sudah takdirnya. Tidak ada yang


perlu di salahkan dalam hal ini."


"Bagaimana


bisa dia mencintaiku setulus ini.".


"Aku


tidak tau bagaimana perasaan cinta itu. Aku bahkan belum pernah mencintai


seseorang."


"Aiden...


Bagaimana dengan Catherine?"


Pertanyaan


itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara dimana Evelyn berdiri.


"Setelah


mendapat kabar darimu, aku  langsung


datang ke sini. Bagaimana Catherine?" tanya Evelyn terlihat sangat


khawatir.


"Dia


masih belum sadarkan ini," ucap Aiden.


Harry


terlihat wajahnya memerah hingga telinganya saat melihat kehadiran Evelyn di


sana. Ia merasa hatinya berdebar cepat dan rasanya ingin meloncat keluar.


"Ba-bagaimana


ceritanya kok Catherine bisa sampai terluka parah? Huh, pria berengsek itu


benar-benar ingin aku bejek-bejek sampai jadi perkedel Robert!" seru


Evelyn berapi-api.


Melihat


tingkah Evelyn yang terlihat polos dan lucu itu membuat Harry sangat gemas.


Rasanya ia ingin segera berkencan dengan Evelyn.


"Ini


semua karena aku," seru Aiden.


"Apa


maksud kamu?" tanya Evelyn mengernyitkan dahinya.


Aiden


pun menceritakan apa yang terjadi.


"Kalau


saat itu Catherine tidak melindungiku. Mungkin dia tidak akan terbaring didalam


sana," ucapnya.


"Jangan


menyalahkan dirimu sendiri," seru Harry.


"Benar.


Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Harry merasa sangat bahagia


saat Evelyn menyetujui kata-katanya.


"Ya,


kalian benar," gumam Aiden.


Mereka

__ADS_1


bertiga terdiam dan termenung dengan pikiran masing-masing.



__ADS_2