
Catherinetengah di
tangani oleh seorang Dokter. Aiden
berdiri di luar ruangan UGD. Harry tengah mencari keberadaan robert di bantu
pihak kepolisian dan mengamankan binatang-binatang yang di tangkap oleh Robert.
Aiden
terlihat duduk di kursi yang berada di sisi pintu ruangan. Tatapannya
menerawang ke depan. Kepingan kejadian beberapa jam yang lalu kembali memenuhi
kepalanya. Saat Catherine melindungi dirinya dan mengorbankan nyawa catherine
sendiri.
Aku mencintaimu... Aiden....
Kata-kata
itu terngiang di telinga aiden dan terasa begitu menyesakkan dada.
"Kamu
harus kembali sehat, cath." gumam Aiden mengusap wajahnya dengan gusar.
Tak
lama seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ia meminta Aiden untuk
mengikutinya menuju ruangannya.
"Bagaimana
keadaan catherine?" tanya Aiden saat ia sudah duduk di kursi yang
berhadapan dengan Dokter.
Aiden
terlihat begitu khawatir dan ada ketakutan di mata tajam nya. Dokter itu tampak
menghela napasnya seraya membenarkan posisi kacamata yang ia gunakan.
"Bagaimana?"
tanya Aiden begitu lirih. "Dia baik-baik saja, bukan?"
"Nona
Catherine sudah melewati masa kritisnya. Hanya ada sedikit masalah,"
serunya.
"Apa?"
tanya Aiden menanti sang Dokter berucap.
"Kondisi
Nona Catherine keseluruhan tidak begitu serius. Hanya saja cedera di tulang
belakangnya cukup parah," seru Dokter.
Aiden
masih diam menunggu sang Dokter melanjutkan ucapannya.
"Efek
dari cedera tulang belakang atau spinal cord injury ini berdampak pada
hilangnya semua kemampuan saraf sensorik (inderawi) atau saraf motorik
(pergerakan). Tergantung seberapa parahnya cedera itu," seru Dokter.
"Jadi
apa yang di alami Catherine?" tanya Aiden.
"Kami
belum bisa memastikan. Ini akan dapat di ketahui setelah Pasien siuman.
Kategori dari cedera saraf ini tidak berfungsinya indera perasa pasien, seperti
mati rasa. Tidak merasakan panas, dingin maupun rasa sakit. Dan kategori
lainnya adalah paralysis atau kelumpuhan."
Deg
"Lumpuh?"
seru Aiden.
"Iya.
Bukan hanya akan sering mengalami rasa sakit di bagian leher dan tulang
belakang. Pasien bisa mengalami kelumpuhan pada pinggul ke bawah atau kedua
kakinya tidak mampu bergerak lagi."
Wajah
__ADS_1
Aiden berubah menjadi pucat pasi. Apa yang baru saja ia dengar sungguh mengagetkan.
Bagaimana kalau Catherine yang mendengar semua ini.
"Kami
akan menindaklanjuti kasus yang menimpa nona Catherine ini."
Aiden
tidak mengatakan apapun lagi. Penjelasan Dokter sudah jelas semuanya. Kini ia
pergi meninggalkan ruangan Dokter dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit
dengan tatapan kosong.
Aiden
memasuki ruangan Catherine dengan memakai pakaian steril berwarna biru. Ia
melihat tubuh wanita yang selalu ia lukai itu terbaring tak berdaya di atas brankar.
Aiden
mengambil duduk di kursi yang berada di sisi brankar dan menatap sendu wajah
pucat Catherine yang terlelap.
"Kenapa
kamu harus melakukan ini?" gumam Aiden.
Hatinya
bergemuruh dan terasa sangat sesak dan terbakar. Semua ini karena dirinya.
"Kenapa
kamu harus menolongku, Cath?" tanya Aiden dengan matanya yang memerah.
Aiden
tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Catherine nanti saat mengetahui
kondisi dirinya.
"Sungguh
Cath, kamu tidak harus melakukan ini. Bagaimana bisa?" gumamnya tidak
mampu berkata-kata lagi. Ia merasa sesuatu yang tajam menyumbat tenggorokannya.
"Aku
tidak paham bagaimana bisa kamu mencintaiku sedalam ini." Tak mampu lagi
menahan tangisannya. Air matanya luruh membasahi pipinya.
"Aku
Catherine yang masih terlelap.
"Aku
sering menyakitimu. Tapi kamu malah membalasku dengan cinta yang begitu tulus.
Bagaimana bisa aku mendapatkan semua ini. Bagaimana aku harus
membalasnya?"
Tangan
Aiden terulur menyentuh pipi Catherine dan membelainya.
"Apa
sekarang aku tidak terlambat untuk mencintaimu dan memahamimu. Sampai sekarang
pun aku masih tidak bisa memahamimu. Bagaimana kamu bisa mencintaiku seperti
ini. Sungguh aku merasa tak pantas mendapatkan pengorbanan sebesar ini
darimu."
"Seharusnya
aku yang lumpuh dan cedera. Seharusnya aku yang menerima kesakitan ini semua.
Kamu tidak berhak mendapatkan kesakitan ini. Kamu harusnya bahagia."
Aiden
hanya bisa menangis dalam diam menatap wajah Catherine.
"Untuk
sekarang biarkan aku yang menjagamu, membahagiakanmu. Mulai kali ini ijinkan
aku untuk selalu di sisi kamu. Aku ingin membalas cintamu. Aku ingin menjadi
orang yang bisa membuatmu bahagia."
"Cepatlah
buka matamu. Aku menunggu mu di sini." Aiden mencium mening Catherine.
Ꙭ
__ADS_1
Harry
datang ke rumah sakit dan melihat Aiden duduk terdiam di depan ruang Catherine.
"Bagaimana
keadaannya? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Harry yang mengambil duduk
di sisi Aiden.
"Kenapa
harus seperti ini. Kenapa bukan aku yang celaka. Kenapa dia harus melindungi
ku. Kenapa aku begitu tidak berguna," seru Aiden mengusap wajahnya dengan
gusar.
"Kamu
jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Semua ini sudah takdirnya. Tidak ada yang
perlu di salahkan dalam hal ini."
"Bagaimana
bisa dia mencintaiku setulus ini.".
"Aku
tidak tau bagaimana perasaan cinta itu. Aku bahkan belum pernah mencintai
seseorang."
"Aiden...
Bagaimana dengan Catherine?"
Pertanyaan
itu membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara dimana Evelyn berdiri.
"Setelah
mendapat kabar darimu, aku langsung
datang ke sini. Bagaimana Catherine?" tanya Evelyn terlihat sangat
khawatir.
"Dia
masih belum sadarkan ini," ucap Aiden.
Harry
terlihat wajahnya memerah hingga telinganya saat melihat kehadiran Evelyn di
sana. Ia merasa hatinya berdebar cepat dan rasanya ingin meloncat keluar.
"Ba-bagaimana
ceritanya kok Catherine bisa sampai terluka parah? Huh, pria berengsek itu
benar-benar ingin aku bejek-bejek sampai jadi perkedel Robert!" seru
Evelyn berapi-api.
Melihat
tingkah Evelyn yang terlihat polos dan lucu itu membuat Harry sangat gemas.
Rasanya ia ingin segera berkencan dengan Evelyn.
"Ini
semua karena aku," seru Aiden.
"Apa
maksud kamu?" tanya Evelyn mengernyitkan dahinya.
Aiden
pun menceritakan apa yang terjadi.
"Kalau
saat itu Catherine tidak melindungiku. Mungkin dia tidak akan terbaring didalam
sana," ucapnya.
"Jangan
menyalahkan dirimu sendiri," seru Harry.
"Benar.
Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Harry merasa sangat bahagia
saat Evelyn menyetujui kata-katanya.
"Ya,
kalian benar," gumam Aiden.
Mereka
__ADS_1
bertiga terdiam dan termenung dengan pikiran masing-masing.
Ꙭ