
Tok tok tok
Pintuterbuka dan
terlihat wajah Aiden yang baru bangun tidur.
“Hai,”
“Oh Hai Eve,” seru
Aiden mengacak rambutnya.
Evelyn di buat terpaku
di depan pintu melihat Aiden yang hanya memakai celana boxer putihnya saja dan
memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sixpack
dan kekar. Rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat begitu seksi.
“Evelyn,” seruan itu
menyadarkan Evelyn dari keterpakuannya yang sangat terpesona.
“Eh?”
“Ada apa?” tanya Aiden
bersandar ke daun pintu dan terlihat sangat memukau dan begitu menggiurkan.
Rasanya tangan Evelyn ingin bermain di dada bidangnya yang kekar dan pastinya
begitu hangat saat berada di pelukannya.
“Aku membuatkan
pancake untukmu sarapan,” ucap Evelyn. “Apa aku boleh masuk?”
Aiden memberi jalan
Evelyn. “Masuklah Eve.”
Evelyn berjalan masuk
ke dalam apartemen Aiden. Ia melihat sekeliling apartemen, terlihat begitu
rapi. Padahal Aiden seorang pria tetapi ia merawat rumahnya dengan sangat baik.
“Duduklah, aku akan ke
kamar mandi sebentar,” ucap Aiden berjalan memasuki kamarnya.
Evelyn berjalan
mendekati meja pantry dan membuka tas bekal yang ia bawa. Kemudian ia
menyiapkannya di atas meja pantry.
Setelahnya Evelyn
berjalan ke dekat sofa ruang televisi dan melihat sekelilingnya. Di sana banyak sekali miniatur mobil sport yang
berada di etalase kecil.
“Sepertinya Aiden
menyukai miniatur mobil seperti ini,” gumam Evelyn melihat miniatur milik
Aiden.
“Mau kopi atau teh?”
pertanyaan itu membuatnya menoleh dan melihat Aiden sudah lebih segar dan
memakai kaos berwarna putih.
“Teh hangat boleh,”
seru Evelyn berjalan mengikuti Aiden menuju pantry yang menjadi pembatas dapur
dan ruang televisi.
Evelyn duduk di pantry
dan Aiden terlihat membuatkan teh untuknya dan segelas kopi untuk Aiden
sendiri.
“Minumlah,” seru Aiden
menyimpan gelas teh di hadapan Evelyn. Kemudian ia duduk di hadapan Evelyn dan
menyeduh kopi nya.
“Kamu tidak bersiap
untuk bekerja?” tanya Evelyn.
“Hmm... aku sudah
berhenti bekerja,” jawab Aiden dengan santai.
“Eh benarkah? Tapi
kenapa?” tanya Evelyn.
“Sudah waktunya
pensiun,” kekeh Aiden.
“Ck, enak sekali,”
seru Evelyn ikut terkekeh.
Evelyn meneguk teh
miliknya. “Jadi apa rencana mu selanjutnya?” tanya Evelyn.
“Entahlah. Mungkin
kembali ke Indonesia,” seru Aiden.
“Kembali?” gumam
Evelyn merasa sangat tak rela.
“Ini pancake buatanmu
sendiri?” tanya Aiden.
__ADS_1
“Iya, cobalah,” seru
Evelyn.
“Baiklah aku coba
yah,” ucap Aiden menikmati pancake buatan Evelyn.
“Enak,” puji Aiden
membuat Evelyn bersemu merah.
“Kalau begitu
habiskanlah.”
“Pasti. Kebetulan aku
belum membuat sarapan apapun,” ucap Aiden menikmati pancake nya.
Evelyn sangat bahagia
bisa menyiapkan sarapan untuk Aiden. Ia semakin jatuh cinta pada sosok pahlawan
di depannya ini.Dulu saat keluarganya hancur karena kelakuan Ayahnya yang suka
sekali dengan judi. Bahkan dengan tega menjual Evelyn ke pria tua kaya raya.
Ibunya selalu di siksa dan di pukuli oleh ayahnya itu. Ayah yang merupakan Ayah
tirinya. Tetapi kedatangan Aiden sungguh menjadi pahlawan untuk hidup dirinya
dan Ibunya.
Bukan hanya menolong
dirinya untuk tidak jadi di jual. Tetapi juga berhasil menjebloskan Ayah
tirinya ke balik jeruji besi dan mendapatkan hukuman yang berat. Saat itulah
Evelyn sudah menyimpan nama Aiden didalam hatinya.
Kembalinya ia ke kota
ini pun karena ingin menggapai cintanya yang dulu sempat tertunda. Semoga kali
ini berjalan dengan lancar.
“Sudah habis,” seru Aiden
menyadarkan lamunan Evelyn yang tengah memperhatikan Aiden.
“Wah senangnya,” seru
Evelyn.
“Kamu sendiri tidak
kerja?” tanya Aiden.
“Emmm tidak. Oh iya
nanti malam jangan lupa untuk datang yah,” seru Evelyn seraya menyerahkan
sebuah undangan ke hadapannya.
“Undangan apa ini?”
“Peragaan busana. Aku
baru merilis beberapa pakaian musim dingin. Ini peragaan busana pertamaku, jadi
aku sangat berharap kamu bisa datang,” seru Evelyn.
“Baiklah.”
Ꙭ
Jasmine baru saja
keluar dari sekolahnya dan berlari bahagia saat melihat Catherine menjemputnya.
“Mommyy....”
“Mine...”
Catherine membawa
Jasmine ke dalam gendongannya, “Mommy kangen banget sama kamu.”
“Mine juga sangat
merindukan Mommy.”
Catherine menurunkan
Jasmine kembali. “Ayo kita pulang.”
“Aku nggak akan pulang
ke rumah Aunty Marinka lagi?” tanya Jasmine.
“Tidak. Kali ini kita
pulang ke rumah kita,” ucap Catherine membawa Mine masuk ke dalam mobilnya.
Tak jauh dari posisi
mereka, sepasang mata tajam terlihat mengawasi mereka berdua.
“Aku tidak akan
melepaskan kalian berdua,” gumam seseorang itu yang merupakan Robert.
Setelah kepergian
mobil Catherine, Robert kembali memakai kacamata hitamnya dan menjalankan
mobilnya meninggalkan tempat itu.
Ꙭ
Jasmine dan Catherine
sampai di rumah. Langkah mereka berhenti saat melihat Mr. William yang
merupakan Ayah Catherine duduk di sana.
“Grandpa,” seru
__ADS_1
Jasmine berlari menerjang tubuh William yang sudah merentangkan kedua tangannya
dan membawa Jasmine ke dalam gendongannya.
“Anak pintar. Bagaimana
sekolahmu?” tanya William. William sangatlah menyayangi Jasmine, tidak perduli
siapapun Ayahnya.
Sampai detik ini
Catherine masih bungkam dan tidak mengatakan siapa Ayah biologis Jasmine.
“Sangat menyenangkan,
Grandpa.”
“Bagus, kamu harus
rajin belajar yah,” serunya yang di angguki oleh Jasmine.
“Baiklah. Sekarang
pergilah ke kamarmu. Grandpa harus berbicara dengan Mommy.”
“Siap Grandpa.”
Jasmine meloncat turun
dan berlari ke area dalam rumah menuju kamarnya.
“Kita bicara di ruang
kerjamu,” seru William berjalan lebih dulu menuju ruang kerja Catherine.
---
Saat ini William
berdiri memunggungi Catherine dengan keangkuhannya.
“Katakan kenapa kamu
membatalkan begitu saja pertunanganmu dengan Robert?” tanya William yang kini
berbalik ke arah Catherine. “Siapa pria yang ada di foto itu?”
“Aku tidak menyukai
Robert dan dia hanya ingin memanfaatkanku untuk merebut semua kekuasaan milik
keluarga kita.”
“Benarkah? Bukankah
karena kamu berselingkuh?” tanya William. “Jaga sikapmu, Catherine. Kamu ini
seorang Nona dari SR Group. Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita!”
“Aku tidak
berselingkuh. Pria itu adalah orang yang menyelamatkanku dari penganiayaan
Robert,” seru Catherine.
“Apa? Tapi Robert
berkata kalau kamu mencampakkannya karena pria itu.”
Catherine menghela napasnya.
“Ayah, selama ini aku
selalu menurutimu. Apapun yang anda katakan, selalu saya lakukan. Apa aku harus
menipumu seperti ini? Untuk apa, apa aku memiliki alasan untuk memberontak?”
tanya Catherine membuat William menghela napasnya.
“Putriku, maafkan
Ayah.” William berjalan mendekati Catherine dan membawanya ke dalam pelukan
Ayahnya. “Maafkan Ayah karena meragukanmu. Seharusnya Ayah tidak mempercayai
bajingan sialan itu. Apa, apa dia melecehkanmu?” tanya William melepaskan
pelukannya dan menatap Catherine dengan sendu.
“Hampir, tapi itu
tidak berhasil.” Jawab Catherine. “Ayah, bisakah anda tidak menjualku lagi
untuk bisnis?”
Pertanyaan Catherine
membuat William terpaku.
“Apa yang kamu
katakan. Ayah tidak pernah menjualmu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Ayah, kalau memang
seperti itu, maka mulai sekarang biarkan aku menjalani hidupku sesuai
keinginanku. Anda telah banyak menjodohkanku dengan beberapa pria dari kalangan
pebisnis tetapi akhirnya gagal juga. Aku sudah mendapatkan gelar sebagai wanita
yang gagal.” Wiliam masih diam mendengarkan perkataan Catherine.
“Untuk saat ini aku
ingin hidup tenang bersama Jasmine. Tolong jangan jual aku lagi,” serunya.
“Baiklah aku akan
menyetujuinya. Tetapi ingatlah, kalau
kamu memiliki pria yang kamu cintai dan kamu ingin hidup dengannya. Aku yang tetap memutuskan apa pria itu
layak atau tidak.”
“Jangan sampai
reputasi keluarga kita di permalukan.”
__ADS_1
Ꙭ