Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 21


__ADS_3

Tok tok tok


Pintuterbuka dan


terlihat wajah Aiden yang baru bangun tidur.


                “Hai,”


                “Oh Hai Eve,” seru


Aiden mengacak rambutnya.


                Evelyn di buat terpaku


di depan pintu melihat Aiden yang hanya memakai celana boxer putihnya saja dan


memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sixpack


dan kekar. Rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat begitu seksi.


                “Evelyn,” seruan itu


menyadarkan Evelyn dari keterpakuannya yang sangat terpesona.


                “Eh?”


                “Ada apa?” tanya Aiden


bersandar ke daun pintu dan terlihat sangat memukau dan begitu menggiurkan.


Rasanya tangan Evelyn ingin bermain di dada bidangnya yang kekar dan pastinya


begitu hangat saat berada di pelukannya.


                “Aku membuatkan


pancake untukmu sarapan,” ucap Evelyn. “Apa aku boleh masuk?”


                Aiden memberi jalan


Evelyn. “Masuklah Eve.”


                Evelyn berjalan masuk


ke dalam apartemen Aiden. Ia melihat sekeliling apartemen, terlihat begitu


rapi. Padahal Aiden seorang pria tetapi ia merawat rumahnya dengan sangat baik.


                “Duduklah, aku akan ke


kamar mandi sebentar,” ucap Aiden berjalan memasuki kamarnya.


                Evelyn berjalan


mendekati meja pantry dan membuka tas bekal yang ia bawa. Kemudian ia


menyiapkannya di atas meja pantry.


                Setelahnya Evelyn


berjalan ke dekat sofa ruang televisi dan melihat sekelilingnya. Di sana banyak sekali miniatur mobil sport yang


berada di etalase kecil.


                “Sepertinya Aiden


menyukai miniatur mobil seperti ini,” gumam Evelyn melihat miniatur milik


Aiden.


                “Mau kopi atau teh?”


pertanyaan itu membuatnya menoleh dan melihat Aiden sudah lebih segar dan


memakai kaos berwarna putih.


                “Teh hangat boleh,”


seru Evelyn berjalan mengikuti Aiden menuju pantry yang menjadi pembatas dapur


dan ruang televisi.


                Evelyn duduk di pantry


dan Aiden terlihat membuatkan teh untuknya dan segelas kopi untuk Aiden


sendiri.


                “Minumlah,” seru Aiden


menyimpan gelas teh di hadapan Evelyn. Kemudian ia duduk di hadapan Evelyn dan


menyeduh kopi nya.


                “Kamu tidak bersiap


untuk bekerja?” tanya Evelyn.


                “Hmm... aku sudah


berhenti bekerja,” jawab Aiden dengan santai.


                “Eh benarkah? Tapi


kenapa?” tanya Evelyn.


                “Sudah waktunya


pensiun,” kekeh Aiden.


                “Ck, enak sekali,”


seru Evelyn ikut terkekeh.


                Evelyn meneguk teh


miliknya. “Jadi apa rencana mu selanjutnya?” tanya Evelyn.


                “Entahlah. Mungkin


kembali ke Indonesia,” seru Aiden.


                “Kembali?” gumam


Evelyn merasa sangat tak rela.


                “Ini pancake buatanmu


sendiri?” tanya Aiden.

__ADS_1


                “Iya, cobalah,” seru


Evelyn.


                “Baiklah aku coba


yah,” ucap Aiden menikmati pancake buatan Evelyn.


                “Enak,” puji Aiden


membuat Evelyn bersemu merah.


                “Kalau begitu


habiskanlah.”


                “Pasti. Kebetulan aku


belum membuat sarapan apapun,” ucap Aiden menikmati pancake nya.


                Evelyn sangat bahagia


bisa menyiapkan sarapan untuk Aiden. Ia semakin jatuh cinta pada sosok pahlawan


di depannya ini.Dulu saat keluarganya hancur karena kelakuan Ayahnya yang suka


sekali dengan judi. Bahkan dengan tega menjual Evelyn ke pria tua kaya raya.


Ibunya selalu di siksa dan di pukuli oleh ayahnya itu. Ayah yang merupakan Ayah


tirinya. Tetapi kedatangan Aiden sungguh menjadi pahlawan untuk hidup dirinya


dan Ibunya.


                Bukan hanya menolong


dirinya untuk tidak jadi di jual. Tetapi juga berhasil menjebloskan Ayah


tirinya ke balik jeruji besi dan mendapatkan hukuman yang berat. Saat itulah


Evelyn sudah menyimpan nama Aiden didalam hatinya.


                Kembalinya ia ke kota


ini pun karena ingin menggapai cintanya yang dulu sempat tertunda. Semoga kali


ini berjalan dengan lancar.


                “Sudah habis,” seru Aiden


menyadarkan lamunan Evelyn yang tengah memperhatikan Aiden.


                “Wah senangnya,” seru


Evelyn.


                “Kamu sendiri tidak


kerja?” tanya Aiden.


                “Emmm tidak. Oh iya


nanti malam jangan lupa untuk datang yah,” seru Evelyn seraya menyerahkan


sebuah undangan ke hadapannya.


                “Undangan apa ini?”


                “Peragaan busana. Aku


baru merilis beberapa pakaian musim dingin. Ini peragaan busana pertamaku, jadi


aku sangat berharap kamu bisa datang,” seru Evelyn.


                “Baiklah.”



                Jasmine baru saja


keluar dari sekolahnya dan berlari bahagia saat melihat Catherine menjemputnya.


                “Mommyy....”


                “Mine...”


                Catherine membawa


Jasmine ke dalam gendongannya, “Mommy kangen banget sama kamu.”


                “Mine juga sangat


merindukan Mommy.”


                Catherine menurunkan


Jasmine kembali. “Ayo kita pulang.”


                “Aku nggak akan pulang


ke rumah Aunty Marinka lagi?” tanya Jasmine.


                “Tidak. Kali ini kita


pulang ke rumah kita,” ucap Catherine membawa Mine masuk ke dalam mobilnya.


                Tak jauh dari posisi


mereka, sepasang mata tajam terlihat mengawasi mereka berdua.


                “Aku tidak akan


melepaskan kalian berdua,” gumam seseorang itu yang merupakan Robert.


                Setelah kepergian


mobil Catherine, Robert kembali memakai kacamata hitamnya dan menjalankan


mobilnya meninggalkan tempat itu.



                Jasmine dan Catherine


sampai di rumah. Langkah mereka berhenti saat melihat Mr. William yang


merupakan Ayah Catherine duduk di sana.


                “Grandpa,” seru

__ADS_1


Jasmine berlari menerjang tubuh William yang sudah merentangkan kedua tangannya


dan membawa Jasmine ke dalam gendongannya.


                “Anak pintar. Bagaimana


sekolahmu?” tanya William. William sangatlah menyayangi Jasmine, tidak perduli


siapapun Ayahnya.


                Sampai detik ini


Catherine masih bungkam dan tidak mengatakan siapa Ayah biologis Jasmine.


                “Sangat menyenangkan,


Grandpa.”


                “Bagus, kamu harus


rajin belajar yah,” serunya yang di angguki oleh Jasmine.


                “Baiklah. Sekarang


pergilah ke kamarmu. Grandpa harus berbicara dengan Mommy.”


                “Siap Grandpa.”


                Jasmine meloncat turun


dan berlari ke area dalam rumah menuju kamarnya.


                “Kita bicara di ruang


kerjamu,” seru William berjalan lebih dulu menuju ruang kerja Catherine.


                ---


                Saat ini William


berdiri memunggungi Catherine dengan keangkuhannya.


                “Katakan kenapa kamu


membatalkan begitu saja pertunanganmu dengan Robert?” tanya William yang kini


berbalik ke arah Catherine. “Siapa pria yang ada di foto itu?”


                “Aku tidak menyukai


Robert dan dia hanya ingin memanfaatkanku untuk merebut semua kekuasaan milik


keluarga kita.”


                “Benarkah? Bukankah


karena kamu berselingkuh?” tanya William. “Jaga sikapmu, Catherine. Kamu ini


seorang Nona dari SR Group. Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita!”


                “Aku tidak


berselingkuh. Pria itu adalah orang yang menyelamatkanku dari penganiayaan


Robert,” seru Catherine.


                “Apa? Tapi Robert


berkata kalau kamu mencampakkannya karena pria itu.”


                Catherine menghela napasnya.


                “Ayah, selama ini aku


selalu menurutimu. Apapun yang anda katakan, selalu saya lakukan. Apa aku harus


menipumu seperti ini? Untuk apa, apa aku memiliki alasan untuk memberontak?”


tanya Catherine membuat William menghela napasnya.


                “Putriku, maafkan


Ayah.” William berjalan mendekati Catherine dan membawanya ke dalam pelukan


Ayahnya. “Maafkan Ayah karena meragukanmu. Seharusnya Ayah tidak mempercayai


bajingan sialan itu. Apa, apa dia melecehkanmu?” tanya William melepaskan


pelukannya dan menatap Catherine dengan sendu.


                “Hampir, tapi itu


tidak berhasil.” Jawab Catherine. “Ayah, bisakah anda tidak menjualku lagi


untuk bisnis?”


                Pertanyaan Catherine


membuat William terpaku.


                “Apa yang kamu


katakan. Ayah tidak pernah menjualmu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”


                “Ayah, kalau memang


seperti itu, maka mulai sekarang biarkan aku menjalani hidupku sesuai


keinginanku. Anda telah banyak menjodohkanku dengan beberapa pria dari kalangan


pebisnis tetapi akhirnya gagal juga. Aku sudah mendapatkan gelar sebagai wanita


yang gagal.” Wiliam masih diam mendengarkan perkataan Catherine.


                “Untuk saat ini aku


ingin hidup tenang bersama Jasmine. Tolong jangan jual aku lagi,” serunya.


                “Baiklah aku akan


menyetujuinya.  Tetapi ingatlah, kalau


kamu memiliki pria yang kamu cintai dan kamu ingin hidup dengannya. Aku yang tetap memutuskan apa pria itu


layak atau tidak.”


                “Jangan sampai


reputasi keluarga kita di permalukan.”

__ADS_1



__ADS_2