
Saat ini Mine tengah duduk menonton di temani oleh Aiden. Catherine pun ada di sana dan ikut menonton acara televise. Kini Catherine dan Aiden tidak secanggung sebelumnya. Mereka berdua seakan sama-sama sedang membangun rasa cinta dan kepercayaan dari Catherine.
"Mommy dan Dad tau, Mine sangat bahagia kita bisa berkumpul seperti ini. Ini suasana yang selalu Mine bayangkan," celetuk Mine dengan polosnya membuat Aiden dan Catherine sama-sama menoleh ke arah Mine dan kemudian merekapun saling menatap.
"Mom, Dad, bagaimana kalau kita bertiga pergi piknik," seru Mine menatap Aiden dan Catherine secara bergilir.
"Piknik?" Tanya Catherine.
Mine menganggukan kepalanya. "Mine ingin pergi piknik bersama kalian. Pasti sangat menyenangkan bisa pergi piknik bersama," seru Mine penuh harap.
"Baiklah kita akan pergi akhir pekan ini, bagaimana?" usul Aiden.
"Mau banget Dad," seru Mine sangat bersemangat membuat Aiden tersenyum seraya mengusap kepala Mine yang berada di sampingnya.
"Mom harus ikut yah," seru Mine.
"Mom tidak bisa menolaknya," seru Catherine.
"Yeeee Horeeee...."
Saking senangnya, Mine sampai berjingkrak-jingkrak di atas sofa. Catherine terkekeh melihat tingkah putrinya. Tatapan Catherine tidak sengaja bertemu dengan mata tajam Aiden yang tengah menatapnya. Tawa Catherine berubah menjadi sebuah senyuman. Senyuman tulus yang ia berikan pada Aiden dan Aiden membalasnya dengan lembut.
***
Catherine mendekati Aiden yang tengah memasak sesuatu.
"Kamu sedang memasak apa?" Tanya Catherine yang menghentikan kursi rodanya di dekat Aiden.
Aiden menoleh ke arah Catherine di sisinya. "Membuatkan steak untuk makan malam kita,"
seru Aiden yang begitu cekatan memanggang daging berkualitas terbaik itu.
"Aromanya sangat tajam, aku yakin rasanya sangat enak. Rasanya aku tidak sabar untuk mencicipinya," ucap Catherine.
Aiden mematikan pemanggangan saat daging sudah cukup di panggangnya. Ia beralih menatap ke arah Catherine yang menatap Aiden dengan tatapan polosnya.
"Ah!"
Dalam sekali gerakan Aiden memangku tubuh Catherine hanya memegang kedua pinggang Catherine dan mendudukannya di meja pantry yang ada di belakang Aiden. Kini Aiden berdiri di harapan Catherine yang duduk menggantung di atas meja pantry.
"Apa yang kamu lakukan? Nanti ada yang lihat," seru Catherine menoleh ke arah pintu.
Aiden memegang dagu Catherine supaya melihat ke arahnya dan tidak menoleh kesana kemari.
"Mine sedang tidur. Aku ingin mencicipimu dulu sebelum mencicipi dagingnya," bisik Aiden menempelkan kening dan hidung mereka berdua.
"Nanti Mine melihatnya," seru Catherine.
"Tidak akan. Kalau mencuri-curi begini kan lebih menegangkan dan sangat menggairahkan," seru Aiden mengecup bibir Catherine.
"Dasar mesum," seru Catherine tersenyum kecil.
__ADS_1
"Berkat kamu, aku jadi begitu mesum," kekeh Aiden merengkuh pinggang Catherine supaya lebih menempel dengan tubuh Aiden dan ia langsung memangut bibir Catherine yang sekarang telah menjadi candu bagi dirinya.
Catherine tak melawan, ia membiarkan Aiden dan memeluk leher Aiden. Ia pun membalas ciuman Aiden.
Rasanya semakin mendebarkan, tubuh mereka menjadi terasa panas dan debaran jantung semakin cepat. Darah mereka semakin terasa terbakar oleh gairah yang telah lama terpendam. Keduanya saling memangut seakan itu adalah candu mereka dan tidak ingin lepas maupun menjauh dari genggamannya.
Biarkanlah... kali ini Catherine berusaha tidak menahan dirinya lagi. Ia membiarkan perasaannya pada Aiden mengalir dan ia ingin mempercayai Aiden. Ia ingin melepaskan sesak dan sakit di dalam hatinya karena terus memendamnya dan berusaha mengubur perasaannya walau begitu sulit. Kali ini biarkanlah... biarkanlah seperti ini seiring waktu berjalan. Ia hanya berharap Aiden tidak akan mencampakkannya lagi.
"Whoaaaa...."
Seruan itu membuat mereka melepaskan pangutan mereka dan melihat ke ambang pintu dimana Evelyn berdiri dengan memegang handphone nya.
"Ciuman kalian sangat luar biasa," serunya menggelengkan kepalanya. "Aku sampai merekamnya," kekehnya.
"Dasar jahil, hapus rekamannya," seru Catherine.
"Sebelum protes, sebaiknya kau bersihkan dulu bibirmu yang bengkak itu," ejek Evelyn membuat Catherine menutup mulutnya yang memang sudah bengkak karena ulah Aiden.
"Tidak masalah, kau kirimkan saja rekaman itu ke nomorku," seru Aiden.
"Untuk apa sih, bikin malu saja," keluh Catherine.
"Supaya aku selalu melihatnya dan melihat betapa ganasnya kekasihku ini," seru Aiden mencubit pipi Catherine.
"Wow kekasih, jadi kalian sudah memutuskan untuk berdamai dan bersama?" Tanya Evelyn.
"Aku belum memberikan kepercayaan kepadanya," seru Catherine.
"Sialan," gerutu Catherine. "Ada apa kamu datang kemari? Bukankah kamu sedang berkencan dengan Harry?"
"Aku sudah bersamanya kemarin," seru Evelyn.
"Baiklah kalian berbincanglah di ruang keluarga. Aku akan menyelesaikan masakanku," seru Aiden memangku tubuh Catherine dan mendudukannya di atas kursi roda.
"Baiklah Chef tampan," seru Evelyn.
Catherine menatapnya dengan menyipitkan matanya. "Ayolah Nyonya jangan cemburu. Chef tampan ini hanya milikmu, Oke," seru Evelyn membuat Aiden terkekeh.
"Apa sih," seru Catherine merasa malu sendiri.
Aiden melanjutkan masakannya dan Evelyn mendorong kursi roda Catherine meninggalkan dapur.
"Kamu dan Harry bersama kemarin, apa terjadi sesuatu?" Tanya Catherine saat mereka sudah berada di ruang keluarga di dekat perapian.
Evelyn mengangguk antusias diiringi senyuman lebarnya.
"Jadi kalian sudah tidur bersama?" Tanya Catherine.
"Iya Cath sayang. Astaga aku sampai terus terbayang kejadian semalam itu," seru Evelyn terlihat wajahnya memerah.
"Kalian gerak cepat sekali," seru Catherine.
__ADS_1
"Aku tidak suka menunggu lama lagi. Ah, kamu tau Cath, Harry itu sangat luar biasa. Dia begitu ahli di atas ranjang. Aku sampai di buat melayang olehnya. Aku benar-benar sudah tergila-gila padanya," seru Evelyn terlihat sangat antusias.
"Duh irinya," keluh Catherine.
'Kamu dan Aiden belum melakukannya?" seru Evelyn dan Catherine hanya menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Entahlah, mungkin kami butuh waktu. Aku juga sedikit trauma. Aku takut dia memanggil nama lain lagi. Aku belum siap sakit hati lagi," seru Catherine.
"Itu dulu. Sekarang kan berbeda, di mata Aiden hanya ada kamu wanita yang ia cintai," seru Evelyn.
"Entahlah." Catherine terdiam memikirkannya.
"Kamu kan sudah menerimanya, apalagi yang kamu takutkan sih?" Tanya Evelyn.
"Aku memang sudah menerimanya, dan aku bahagia bahkan sangat. Tetapi di sisi lain aku masih memiliki ketakuta, takut di campakkan lagi, takut semua ini hanya mimpi. Entahlah, aku hanya takut sakit hati lagi," seru Catherine.
"Kamu belum sepenuhnya menerima Aiden. Mungkin dengan berjalannya waktu, kamu akan bisa menerimanya kembali dengan sepenuh hati," seru Evelyn.
"Semoga saja, saat ini aku hanya ingin terus bersamanya seperti ini," ucap Catherine. "Walau ini mimpi, aku ingin lebih lama menikmatinya."
Evelyn hanya diam mendengarkannya.
---
Saat ini Mine, Catherine, Evelyn dan Aiden tengah menikmati makan malam mereka.
"Wow ini sangat lezat, sungguh aku tidak pernah memakan makanan selezat ini di restaurant manapun," seru evelyn melahap potongan besar daging.
"Berlebihan," seru Aiden.
"Ini beneran enak. Kenapa kamu tidak membuka restaurant saja?" Tanya Evelyn.
"Aku tidak tertarik," seru Aiden.
"Sayang sekali, padahal kalau kamu buka usaha restaurant. Akan sangat banyak pengunjung yang datang," seru Evelyn.
"Aku hanya akan menjadi Chef untuk Catherine dan Mine," ucap Aiden.
"Iya, tidak boleh ada yang rasain masakan Daddy nya Mine," seru Mine.
"Like father like daughter," kekeh Evelyn.
"Ngomong-ngomong Harry tidak datang?" Tanya Aiden.
"Mungkin setengah jam lagi dia akan menjemputku," seru Evelyn.
***
TBC...
30-05-2020
__ADS_1