Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 36


__ADS_3

Salju masih setia turun di kota N. Udara dingin begitu menusuk ke dalam kulit.


Seseorang tampak menatap keluar jendela. Menatap butiran salju turun ke bawah. Tatapannya tampak kosong.


"Udaranya sangat dingin," seru seseorang memakaikan mantel di tubuh orang yang tengah duduk di atas kursi roda.


Orang itu adalah Catherine yang duduk diam tanpa banyak berbicara di atas kursi roda. Saat ia sadar, ia harus mendapatkan fakta bahwa dirinya lumpuh. Kedua kalinya tak mampu ia gerakkan. Menurut Dokter ini tidak akan berlangsung lama. Catherine hanya perlu rutin melakukan terapi.


"Terima kasih," ucap Catherine pada seseorang yang tak lain adalah Aiden.


Saat ini Catherine masih di rawat di rumah sakit. Dan Aiden dengan setia menemaninya. Tetapi setelah sadar, Catherine tak banyak bicara dan memilih diam seribu bahasa.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Aiden.


"Tidak."


Aiden sudah biasa mendapat seruan dingin dan datar dari Catherine, tetapi ia tak juga pergi meninggalkan Catherine. Bahkan ia tetap memberikan perhatian nya pada Catherine.


"Apa kamu merindukan Mine?" tanya Aiden.


"Aku bisa menghubungi nya," seru Catherine.


"Siang...."


Sapaan itu membuat mereka berdua menoleh ke ambang pintu dimana Evelyn berada.


"Hai Eve,"


"Hai Aiden. Cath, bagaimana keadaanmu?" tanya Evelyn yang kini berdiri di sisi Catherine.


"Aku merasa lebih baik," ucapnya.


"Aku bawakan macaron untukmu. Ayo makan," serunya.


"Baiklah kalau begitu aku akan pergi ke kantin dulu," ucap Aiden yang di angguki oleh Evelyn.


Aiden pun berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Hey, ada apa dengan wajahmu? Apa kau tidak bahagia?" tanya Evelyn yang kini duduk di atas sofa yang berada tak jauh dari Catherine.


"Apa kamu menyerah untuk mendapatkan hatinya?" tanya Catherine membuat Evelyn membeku.


"Apa maksudmu?" tanya Evelyn.


"Bukankah kamu mencintainya?" seru Catherine.


"Aduh Cath. Aku sudah tidak berharap lagi. Oke, walau rasa itu masih ada, tapi hanya sedikit. Aku berani bersumpah. Dan aku tidak ingin bersama dengan Aiden lagi. Dia hanya milikmu, Cath."


"Milikku bagaimana? Jelas-jelas dia tidak melihatku. Bagaimana dia bisa menjadi milikku."


"Kamu ini ngomong apa sih? Jelas-jelas Aiden mencintai kamu. Dia bahkan selalu menemani kamu, dia merawat kamu. Sudah jelas dia mencintai kamu," seru Evelyn.


"Cinta? Kamu pikir ini cinta? Jelas-jelas ini hanya rasa kasihannya padaku yang sekarang lumpuh!" pekik Catherine sangat emosional.


Tanpa sadar Catherine menangis.


"Aku sungguh menyedihkan. Kini aku lumpuh dan aku harus menerima belas kasihan dari orang yang aku cintai. Dia melakukan ini semua karena rasa bersalahnya terhadapku. Dia seperti ini karena kasihan," isak Catherine.


Evelyn beranjak dari duduknya dan memeluk kepala Catherine.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu. Aku tau Aiden tulus padamu, aku bisa lihat dari matanya," seru Evelyn.


"Kenapa hidupku seperti ini, Eve. Aku sungguh tersiksa dan merasa semakin terluka karena perhatian dari Aiden. Dia melakukan semua ini karena rasa bersalahnya padaku, hikzz...."


"Catherine, kamu terlalu banyak berpikir," ucap Evelyn hanya membiarkan Catherine menumpahkan keluh kesahnya dalam pelukannya.


***


Aiden masuk ke dalam ruangan Catherine dan terlihat Catherine terlelap. Ia berjalan mendekati blangkar dan membelai kepala Catherine.


"Good night..."


Aiden mengecup kening Catherine kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana.


Tatapannya tertuju pada Catherine yang terlelap di atas blangkar.


'Kenapa kamu harus bersikap dingin lagi padaku? Aku harus bagaimana menghadapimu,' batin Aiden.


Aiden hanya mampu bersabar menghadapi Catherine dan tetap merawatnya. Mungkin ini saatnya ia membuktikan bahwa ia mencintai Catherine dan ingin menebus segala kesalahan nya. Ia ingin membahagiakan Catherine dan segera mengakhiri rasa sakit ini.


***


"Oh hai," sapa Evelyn saat ia hendak masuk ke dalam lift.


"Ah miss Evelyn. Apa kabar," jawab seseorang yang tak lain adalah Harry. Ia tersenyum merekah.


"Mau ke ruangan Catherine?" tanya Evelyn memasuki lift.


"Iya. Aku ada perlu dengan Aiden," ucapnya tersenyum.


Evelyn menekan tombol angka lantai yang akan mereka tuju.


"Ya kami teman satu kampus," jawab Harry.


Entah kenapa Harry yang biasanya mampu merayu dan menggoda wanita. Saat ini dia kesulitan berkata-kata. Bahkan otaknya terasa buntu, ia mendadak tidak tau harus bertanya apa pada Evelyn.


Tak lama mereka sampai di ruangan Catherine.


"Wah akur sekali," seru Harry saat melihat Aiden tengah menyuapi Catherine.


"Di suapin tapi ekspresinya datar begitu. Senyum dong," goda Evelyn pada Catherine.


"Kau tau. Aku membujuknya sampe setengah jam untuk menyuapinya," keluh Aiden.


"Usaha dikit, Brother." Harry menimpali.


"Ngomong-ngomong kalian berdua datang bersama?" tanya Aiden memperhatikan mereka berdua.


"Tidak tidak, aku bertemu dengannya di lift tadi," ucap Evelyn.


"Sudah cukup, Aiden." Catherine menolak suapan dari Aiden.


"Baiklah," ucap Aiden menuruti.


"Aku datang untuk memberi tau kalian kalau Robert sudah di tangkap pihak kepolisian," seru Harry.


"Syukurlah," jawab Catherine.


"Aku rasa dia akan membusuk di penjara, mengingat apa yang dia lakukan," seru Aiden masih merasa kesal.

__ADS_1


"Biarkan saja hukum Negara yang menghukumnya," seru Harry.


"Ngomong-ngomong aku bawa makanan. Ayo makan bersama," ucap Evelyn menunjukkan kantong kresek yang ia bawa.


"Wah kebetulan aku belum makan siang," seru Harry terlihat bersemangat.


Harry dan Evelyn berjalan menuju sofa.


"Harry sangat menyukai Evelyn," seru Aiden sedikit berbisik membuat Catherine menoleh ke arahnya.


"Bukankah mereka berdua sangat cocok?" tanya Aiden yang juga menatap Catherine dengan senyumannya.


Catherine tidak menjawab dan memilih memalingkan pandangan nya ke arah Evelyn dan Harry.


"Aiden ayo makan juga," seru Evelyn.


"Baiklah," jawab Aiden. "Kamu mau aku ambilkan makanan yang di bawa Eve?" tanya Aiden.


"Tidak. Aku sudah kenyang," jawab Catherine.


Aiden beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.


***


Catherine membuka matanya. Ia menatap sekeliling yang begitu sepi. Hingga tatapannya menangkap sosok Aiden yang terlelap di kursi dekat blangkar dengan posisi duduk bersandar ke sandaran kursi.


Catherine menatap Aiden dengan tatapan sendu.


'Entah aku harus bahagia atau tidak. Kamu terus menemaniku dan merawatku. Tapi hati ini sakit, menyadari kamu melakukan ini karena rasa bersalah dan kasihan terhadapku. Aiden, apa aku tidak begitu berarti di dalam hatimu? Aku harus bagaimana Aiden? Sungguh rasanya sangat sakit,' batin Catherine.


Catherine berusaha menggerakkan kedua kakinya yang berat dan kaku. Ia menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat kakinya ke sisi blangkar hingga menggantung. Ia tidak ingin mengganggu Aiden yang terlihat lelah.


Sekuat tenaga ia mendorong perlahan pantatnya untuk turun dari blangkar.


Kaki telanjang nya menyentuh lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya berpegangan pada sisi ranjang dengan kuat.


"Ah!" kedua kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya hingga tubuhnya oleng dan hampir membentur lantai kalau tidak ada kedua tangan kekar yang menahan pinggangnya. Kini seluruh tubuh Catherine bertompang pada tubuh kekar milik Aiden.


Tatapan mereka beradu dalam keremangan malam di dalam ruangan yang minim cahaya.


"Kamu mau kemana?" tanya Aiden.


"Aku... Aku ingin ke kamar mandi," ucap Catherine.


"Aku akan membantumu," seru Aiden.


"Tapi-" ucapan Catherine tertahan di udara saat Aiden memangku tubuhnya.


Aiden membawa tubuh Catherine ke dalam kamar mandi dan mendudukannya di atas closet.


"Kamu bisa sendiri?" tanya Aiden sedikit berdehem.


"Iya."


"Aku tunggu di luar. Nanti panggil aku saja," ucap Aiden beranjak pergi.


Catherine hanya mampu menatap punggung Aiden.


***

__ADS_1


__ADS_2