
Saljumasih
setia turun di kota N. Udara dingin begitu menusuk ke dalam kulit. Seseorang
tampak menatap keluar jendela. Menatap butiran salju turun ke bawah. Tatapannya
tampak kosong.
"Udaranya
sangat dingin," seru seseorang memakaikan mantel di tubuh orang yang
tengah duduk di atas kursi roda.
Orang
itu adalah Catherine yang duduk diam tanpa banyak berbicara di atas kursi roda.
Saat ia sadar, ia harus mendapatkan fakta bahwa dirinya lumpuh. Kedua kalinya
tak mampu ia gerakkan. Menurut Dokter ini tidak akan berlangsung lama.
Catherine hanya perlu rutin melakukan terapi.
"Terima
kasih," ucap Catherine pada seseorang yang tak lain adalah Aiden.
Saat
ini Catherine masih di rawat di rumah sakit. Dan Aiden dengan setia
menemaninya. Tetapi setelah sadar, Catherine tak banyak bicara dan memilih diam
seribu bahasa.
"Kamu
butuh sesuatu?" tanya Aiden.
"Tidak."
Aiden
sudah biasa mendapat seruan dingin dan datar dari Catherine, tetapi ia tak juga
pergi meninggalkan Catherine. Bahkan ia tetap memberikan perhatian nya pada
Catherine.
"Apa
kamu merindukan Mine?" tanya Aiden.
"Aku
bisa menghubungi nya," seru Catherine.
"Siang...."
Sapaan
itu membuat mereka berdua menoleh ke ambang pintu dimana Evelyn berada.
"Hai
Eve,"
"Hai
Aiden. Cath, bagaimana keadaanmu?" tanya Evelyn yang kini berdiri di sisi
Catherine.
"Aku
merasa lebih baik," ucapnya.
"Aku
bawakan macaron untukmu. Ayo makan," serunya.
"Baiklah
kalau begitu aku akan pergi ke kantin dulu," ucap Aiden yang di angguki
oleh Evelyn.
Aiden
pun berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Hey,
ada apa dengan wajahmu? Apa kamu tidak bahagia?" tanya Evelyn yang kini
duduk di atas sofa yang berada tak jauh dari Catherine.
"Apa
kamu menyerah untuk mendapatkan hatinya?" tanya Catherine membuat Evelyn
membeku.
"Apa
maksudmu?" tanya Evelyn.
"Bukankah
kamu mencintainya?" seru Catherine.
"Aduh
Cath. Aku sudah tidak berharap lagi. Oke, walau rasa itu masih ada, tapi hanya
sedikit. Aku berani bersumpah. Dan aku tidak ingin bersama dengan Aiden lagi.
Dia hanya milikmu, Cath."
"Milikku
bagaimana? Jelas-jelas dia tidak melihatku. Bagaimana dia bisa menjadi
milikku."
"Kamu
ini ngomong apa sih? Jelas-jelas Aiden mencintai kamu. Dia bahkan selalu
menemani kamu, dia merawat kamu. Sudah jelas dia mencintai kamu," seru
Evelyn.
"Cinta?
Kamu pikir ini cinta? Jelas-jelas ini hanya rasa kasihannya padaku yang
sekarang lumpuh!" pekik Catherine sangat emosional.
Tanpa
sadar Catherine menangis.
"Aku
__ADS_1
sungguh menyedihkan. Kini aku lumpuh dan aku harus menerima belas kasihan dari
orang yang aku cintai. Dia melakukan ini semua karena rasa bersalahnya
terhadapku. Dia seperti ini karena kasihan," isak Catherine.
Evelyn
beranjak dari duduknya dan memeluk kepala Catherine.
"Jangan
berkata seperti itu. Aku tau Aiden tulus padamu, aku bisa lihat dari
matanya," seru Evelyn.
"Kenapa
hidupku seperti ini, Eve. Aku sungguh tersiksa dan merasa semakin terluka
karena perhatian dari Aiden. Dia melakukan semua ini karena rasa bersalahnya
padaku, hikzz...."
"Catherine,
kamu terlalu banyak berpikir," ucap Evelyn hanya membiarkan Catherine
menumpahkan keluh kesahnya dalam pelukannya.
Ꙭ
Aiden
masuk ke dalam ruangan Catherine dan terlihat Catherine terlelap. Ia berjalan
mendekati brankar dan membelai kepala Catherine.
"Good
night..."
Aiden
mengecup kening Catherine kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Tatapannya
tertuju pada Catherine yang terlelap di atas brankar.
'Kenapa kamu harus bersikap dingin
lagi padaku? Aku harus bagaimana menghadapimu,'batin
Aiden.
Aiden
hanya mampu bersabar menghadapi Catherine dan tetap merawatnya. Mungkin ini
saatnya ia membuktikan bahwa ia mencintai Catherine dan ingin menebus segala
kesalahan nya. Ia ingin membahagiakan Catherine dan segera mengakhiri rasa
sakit ini.
Ꙭ
"Oh
hai," sapa Evelyn saat ia hendak masuk ke dalam lift.
"Ah
miss Evelyn. Apa kabar," jawab seseorang yang tak lain adalah Harry. Ia
tersenyum merekah.
ke ruangan Catherine?" tanya Evelyn memasuki lift.
"Iya.
Aku ada perlu dengan Aiden," ucapnya tersenyum.
Evelyn
menekan tombol angka lantai yang akan mereka tuju.
"Kalian
sangat dekat," ucap Evelyn.
"Ya
kami teman satu kampus," jawab Harry.
Entah
kenapa Harry yang biasanya mampu merayu dan menggoda wanita. Saat ini dia
kesulitan berkata-kata. Bahkan otaknya terasa buntu, ia mendadak tidak tau
harus bertanya apa pada Evelyn.
Tak
lama mereka sampai di ruangan Catherine.
"Wah
akur sekali," seru Harry saat melihat Aiden tengah menyuapi Catherine.
"Di
suapi tapi ekspresinya datar begitu. Senyum dong," goda Evelyn pada Catherine.
"Kau
tau. Aku membujuknya sampai setengah jam untuk menyuapinya," keluh Aiden.
"Usaha
dikit, Brother." Harry menimpali.
"Ngomong-ngomong
kalian berdua datang bersama?" tanya Aiden memperhatikan mereka berdua.
"Tidak
tidak, aku bertemu dengannya di lift tadi," ucap Evelyn.
"Sudah
cukup, Aiden." Catherine menolak suapan dari Aiden.
"Baiklah,"
ucap Aiden menuruti.
"Aku
datang untuk memberi tau kalian kalau Robert sudah di tangkap pihak
kepolisian," seru Harry.
"Syukurlah,"
__ADS_1
jawab Catherine.
"Aku
rasa dia akan membusuk di penjara, mengingat apa yang dia lakukan," seru
Aiden masih merasa kesal.
"Biarkan
saja hukum Negara yang menghukumnya," seru Harry.
"Ngomong-ngomong
aku bawa makanan. Ayo makan bersama," ucap Evelyn menunjukkan kantong
kresek yang ia bawa.
"Wah
kebetulan aku belum makan siang," seru Harry terlihat bersemangat.
Harry
dan Evelyn berjalan menuju sofa.
"Harry
sangat menyukai Evelyn," seru Aiden sedikit berbisik membuat Catherine
menoleh ke arahnya.
"Bukankah
mereka berdua sangat cocok?" tanya Aiden yang juga menatap Catherine
dengan senyumannya.
Catherine
tidak menjawab dan memilih memalingkan pandangan nya ke arah Evelyn dan Harry.
"Aiden
ayo makan juga," seru Evelyn.
"Baiklah,"
jawab Aiden. "Kamu mau aku ambilkan makanan yang dibawa Eve?" tanya
Aiden.
"Tidak.
Aku sudah kenyang," jawab Catherine.
Aiden
beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.
Ꙭ
Catherine
membuka matanya. Ia menatap sekeliling yang begitu sepi. Hingga tatapannya
menangkap sosok Aiden yang terlelap di kursi dekat brankar dengan posisi duduk
bersandar ke sandaran kursi. Catherine menatap Aiden dengan tatapan sendu.
'Entah aku harus bahagia atau tidak.
Kamu terus menemaniku dan merawatku. Tapi hati ini sakit, menyadari kamu
melakukan ini karena rasa bersalah dan kasihan terhadapku. Aiden, apa aku tidak
begitu berarti didalam hatimu? Aku harus bagaimana Aiden? Sungguh rasanya
sangat sakit,' batin Catherine.
Catherine
berusaha menggerakkan kedua kakinya yang berat dan kaku. Ia menggunakan kedua
tangannya untuk mengangkat kakinya ke sisi brankar hingga menggantung. Ia tidak
ingin mengganggu Aiden yang terlihat lelah.
Sekuat
tenaga ia mendorong perlahan pantatnya untuk turun dari brankar.
Kaki
telanjang nya menyentuh lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya berpegangan
pada sisi ranjang dengan kuat.
"Ah!"
kedua kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya hingga tubuhnya oleng dan
hampir membentur lantai kalau tidak ada kedua tangan kekar yang menahan
pinggangnya. Kini seluruh tubuh Catherine bertopang pada tubuh kekar milik
Aiden.
Tatapan
mereka beradu dalam keremangan malam didalam ruangan yang minim cahaya.
"Kamu
mau ke mana?" tanya Aiden.
"Aku...
Aku ingin ke kamar mandi," ucap Catherine.
"Aku
akan membantumu," seru Aiden.
"Tapi-"
ucapan Catherine tertahan di udara saat Aiden memangku tubuhnya.
Aiden
membawa tubuh Catherine ke dalam kamar mandi dan mendudukannya di atas closet.
"Kamu
bisa sendiri?" tanya Aiden sedikit berdehem.
"Iya."
"Aku
tunggu di luar. Nanti panggil aku saja," ucap Aiden beranjak pergi.
Catherine
hanya mampu menatap punggung Aiden.
__ADS_1
Ꙭ