Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 30


__ADS_3

Saljumasih


setia turun di kota N. Udara dingin begitu menusuk ke dalam kulit. Seseorang


tampak menatap keluar jendela. Menatap butiran salju turun ke bawah. Tatapannya


tampak kosong.


"Udaranya


sangat dingin," seru seseorang memakaikan mantel di tubuh orang yang


tengah duduk di atas kursi roda.


Orang


itu adalah Catherine yang duduk diam tanpa banyak berbicara di atas kursi roda.


Saat ia sadar, ia harus mendapatkan fakta bahwa dirinya lumpuh. Kedua kalinya


tak mampu ia gerakkan. Menurut Dokter ini tidak akan berlangsung lama.


Catherine hanya perlu rutin melakukan terapi.


"Terima


kasih," ucap Catherine pada seseorang yang tak lain adalah Aiden.


Saat


ini Catherine masih di rawat di rumah sakit. Dan Aiden dengan setia


menemaninya. Tetapi setelah sadar, Catherine tak banyak bicara dan memilih diam


seribu bahasa.


"Kamu


butuh sesuatu?" tanya Aiden.


"Tidak."


Aiden


sudah biasa mendapat seruan dingin dan datar dari Catherine, tetapi ia tak juga


pergi meninggalkan Catherine. Bahkan ia tetap memberikan perhatian nya pada


Catherine.


"Apa


kamu merindukan Mine?" tanya Aiden.


"Aku


bisa menghubungi nya," seru Catherine.


"Siang...."


Sapaan


itu membuat mereka berdua menoleh ke ambang pintu dimana Evelyn berada.


"Hai


Eve,"


"Hai


Aiden. Cath, bagaimana keadaanmu?" tanya Evelyn yang kini berdiri di sisi


Catherine.


"Aku


merasa lebih baik," ucapnya.


"Aku


bawakan macaron untukmu. Ayo makan," serunya.


"Baiklah


kalau begitu aku akan pergi ke kantin dulu," ucap Aiden yang di angguki


oleh Evelyn.


Aiden


pun berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Hey,


ada apa dengan wajahmu? Apa kamu tidak bahagia?" tanya Evelyn yang kini


duduk di atas sofa yang berada tak jauh dari Catherine.


"Apa


kamu menyerah untuk mendapatkan hatinya?" tanya Catherine membuat Evelyn


membeku.


"Apa


maksudmu?" tanya Evelyn.


"Bukankah


kamu mencintainya?" seru Catherine.


"Aduh


Cath. Aku sudah tidak berharap lagi. Oke, walau rasa itu masih ada, tapi hanya


sedikit. Aku berani bersumpah. Dan aku tidak ingin bersama dengan Aiden lagi.


Dia hanya milikmu, Cath."


"Milikku


bagaimana? Jelas-jelas dia tidak melihatku. Bagaimana dia bisa menjadi


milikku."


"Kamu


ini ngomong apa sih? Jelas-jelas Aiden mencintai kamu. Dia bahkan selalu


menemani kamu, dia merawat kamu. Sudah jelas dia mencintai kamu," seru


Evelyn.


"Cinta?


Kamu pikir ini cinta? Jelas-jelas ini hanya rasa kasihannya padaku yang


sekarang lumpuh!" pekik Catherine sangat emosional.


Tanpa


sadar Catherine menangis.


"Aku

__ADS_1


sungguh menyedihkan. Kini aku lumpuh dan aku harus menerima belas kasihan dari


orang yang aku cintai. Dia melakukan ini semua karena rasa bersalahnya


terhadapku. Dia seperti ini karena kasihan," isak Catherine.


Evelyn


beranjak dari duduknya dan memeluk kepala Catherine.


"Jangan


berkata seperti itu. Aku tau Aiden tulus padamu, aku bisa lihat dari


matanya," seru Evelyn.


"Kenapa


hidupku seperti ini, Eve. Aku sungguh tersiksa dan merasa semakin terluka


karena perhatian dari Aiden. Dia melakukan semua ini karena rasa bersalahnya


padaku, hikzz...."


"Catherine,


kamu terlalu banyak berpikir," ucap Evelyn hanya membiarkan Catherine


menumpahkan keluh kesahnya dalam pelukannya.



Aiden


masuk ke dalam ruangan Catherine dan terlihat Catherine terlelap. Ia berjalan


mendekati brankar dan membelai kepala Catherine.


"Good


night..."


Aiden


mengecup kening Catherine kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Tatapannya


tertuju pada Catherine yang terlelap di atas brankar.


'Kenapa kamu harus bersikap dingin


lagi padaku? Aku harus bagaimana menghadapimu,'batin


Aiden.


Aiden


hanya mampu bersabar menghadapi Catherine dan tetap merawatnya. Mungkin ini


saatnya ia membuktikan bahwa ia mencintai Catherine dan ingin menebus segala


kesalahan nya. Ia ingin membahagiakan Catherine dan segera mengakhiri rasa


sakit ini.



"Oh


hai," sapa Evelyn saat ia hendak masuk ke dalam lift.


"Ah


miss Evelyn. Apa kabar," jawab seseorang yang tak lain adalah Harry. Ia


tersenyum merekah.


ke ruangan Catherine?" tanya Evelyn memasuki lift.


"Iya.


Aku ada perlu dengan Aiden," ucapnya tersenyum.


Evelyn


menekan tombol angka lantai yang akan mereka tuju.


"Kalian


sangat dekat," ucap Evelyn.


"Ya


kami teman satu kampus," jawab Harry.


Entah


kenapa Harry yang biasanya mampu merayu dan menggoda wanita. Saat ini dia


kesulitan berkata-kata. Bahkan otaknya terasa buntu, ia mendadak tidak tau


harus bertanya apa pada Evelyn.


Tak


lama mereka sampai di ruangan Catherine.


"Wah


akur sekali," seru Harry saat melihat Aiden tengah menyuapi Catherine.


"Di


suapi tapi ekspresinya datar begitu. Senyum dong," goda Evelyn pada Catherine.


"Kau


tau. Aku membujuknya sampai setengah jam untuk menyuapinya," keluh Aiden.


"Usaha


dikit, Brother." Harry menimpali.


"Ngomong-ngomong


kalian berdua datang bersama?" tanya Aiden memperhatikan mereka berdua.


"Tidak


tidak, aku bertemu dengannya di lift tadi," ucap Evelyn.


"Sudah


cukup, Aiden." Catherine menolak suapan dari Aiden.


"Baiklah,"


ucap Aiden menuruti.


"Aku


datang untuk memberi tau kalian kalau Robert sudah di tangkap pihak


kepolisian," seru Harry.


"Syukurlah,"

__ADS_1


jawab Catherine.


"Aku


rasa dia akan membusuk di penjara, mengingat apa yang dia lakukan," seru


Aiden masih merasa kesal.


"Biarkan


saja hukum Negara yang menghukumnya," seru Harry.


"Ngomong-ngomong


aku bawa makanan. Ayo makan bersama," ucap Evelyn menunjukkan kantong


kresek yang ia bawa.


"Wah


kebetulan aku belum makan siang," seru Harry terlihat bersemangat.


Harry


dan Evelyn berjalan menuju sofa.


"Harry


sangat menyukai Evelyn," seru Aiden sedikit berbisik membuat Catherine


menoleh ke arahnya.


"Bukankah


mereka berdua sangat cocok?" tanya Aiden yang juga menatap Catherine


dengan senyumannya.


Catherine


tidak menjawab dan memilih memalingkan pandangan nya ke arah Evelyn dan Harry.


"Aiden


ayo makan juga," seru Evelyn.


"Baiklah,"


jawab Aiden. "Kamu mau aku ambilkan makanan yang dibawa Eve?" tanya


Aiden.


"Tidak.


Aku sudah kenyang," jawab Catherine.


Aiden


beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.



Catherine


membuka matanya. Ia menatap sekeliling yang begitu sepi. Hingga tatapannya


menangkap sosok Aiden yang terlelap di kursi dekat brankar dengan posisi duduk


bersandar ke sandaran kursi. Catherine menatap Aiden dengan tatapan sendu.


'Entah aku harus bahagia atau tidak.


Kamu terus menemaniku dan merawatku. Tapi hati ini sakit, menyadari kamu


melakukan ini karena rasa bersalah dan kasihan terhadapku. Aiden, apa aku tidak


begitu berarti didalam hatimu? Aku harus bagaimana Aiden? Sungguh rasanya


sangat sakit,' batin Catherine.


Catherine


berusaha menggerakkan kedua kakinya yang berat dan kaku. Ia menggunakan kedua


tangannya untuk mengangkat kakinya ke sisi brankar hingga menggantung. Ia tidak


ingin mengganggu Aiden yang terlihat lelah.


Sekuat


tenaga ia mendorong perlahan pantatnya untuk turun dari brankar.


Kaki


telanjang nya menyentuh lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya berpegangan


pada sisi ranjang dengan kuat.


"Ah!"


kedua kakinya tidak mampu menahan beban tubuhnya hingga tubuhnya oleng dan


hampir membentur lantai kalau tidak ada kedua tangan kekar yang menahan


pinggangnya. Kini seluruh tubuh Catherine bertopang pada tubuh kekar milik


Aiden.


Tatapan


mereka beradu dalam keremangan malam didalam ruangan yang minim cahaya.


"Kamu


mau ke mana?" tanya Aiden.


"Aku...


Aku ingin ke kamar mandi," ucap Catherine.


"Aku


akan membantumu," seru Aiden.


"Tapi-"


ucapan Catherine tertahan di udara saat Aiden memangku tubuhnya.


Aiden


membawa tubuh Catherine ke dalam kamar mandi dan mendudukannya di atas closet.


"Kamu


bisa sendiri?" tanya Aiden sedikit berdehem.


"Iya."


"Aku


tunggu di luar. Nanti panggil aku saja," ucap Aiden beranjak pergi.


Catherine


hanya mampu menatap punggung Aiden.

__ADS_1



__ADS_2