Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 23


__ADS_3

Aiden membuntuti Catherine menuju ruangan Catherine setelah meeting bersama Alan selesai.


"Siapa pria itu?" tanya Aiden to the point saat mereka sampai di dalam ruangan milik Catherine.


"Sedang apa anda di sini, Mr. Aiden? Apa ada hal yang tidak anda pahami mengenai kerjasama tadi?" tanya Catherine kembali dingin dan bersikap formal menatap ke arah Aiden.


"Cukup Cath. Jangan bersikap dingin lagi padaku," seru Aiden berjalan mendekati Catherine.


"Tolong pergilah, Mr. Aiden." Catherine memalingkan wajahnya saat Aiden berdiri di hadapannya.


"Siapa pria itu? Kenapa kalian sangat akrab?" tanya Aiden.


"Apa urusannya denganmu. Sudah aku katakan jangan urusin lagi hidupku dan jangan ganggu kehidupanku lagi. Kita di sini hanya sebagai rekan kerja, dan jangan lupa Mr. Aiden. Aku adalah atasanmu!"


Aiden membeku mendengar penuturan Catherine barusan.


"Pergilah, aku ingin istirahat." Catherine berpaling menuju kursi kebesarannya.


Aiden beranjak pergi dan sedikit keras saat menutup pintu ruangan. Catherine yang masih berdiri dengan berpegangan pada kursi kebesarannya memejamkan matanya dengan tangannya mencengkram kulit dari kursi.


'Berhenti untuk memperdulikanku, Aiden. Jangan semakin menyiksa hatiku. Aku sangat terluka karenamu,' batin Catherine dan tanpa sadar air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.


***


"Sial!"


Aiden meninju setir mobilnya. Ia rasanya sangat terbakar dan begitu emosi.


Ada apa dengan dirinya. Kenapa ia merasa begitu sangat marah melihat kedekatan Catherine dengan Alan. Apa masalahnya?


Aiden termenung seolah mencari jawaban dalam dirinya. Ada apa dengannya?


Aiden memegang dadanya yang sebelah kiri. Kenapa rasanya begitu sakit.


***

__ADS_1


Aiden datang ke club milik Harry. Di private room terlihat sudah ada Mike juga Harry yang merupakan temannya.


"Kau datang terlambat, Brother," ucap Mike saat melihat Aiden masuk ke dalam ruangan.


"Sepertinya kau tidak bersemangat," ucap Harry menghisap rokok di tangannya seraya menyilangkan kakinya. "Bagaimana kalau aku undang beberapa primadona di club ini untuk menemanimu."


"Tidak perlu. Aku tidak suka terlalu ramai," ucap Aiden duduk di samping Mike.


"Kalau begitu hari ini kau harus mentraktirku dan memberikanku voucher liburan bersama wanita. Aku sudah berhasil meredakkan issue dan berita tentang Catherine mu itu," seru Mike.


Aiden tersenyum ke arah Mike.


"Thanks Mike," ucapnya.


"Jangan lupa imbalannya," seru Mike.


"Tenang saja. Aku akan siapkan cek untuk liburanmu," ucap AIden.


"Begitu dong," jawab Mike tampak senang.


"Kau sudah gila Aiden. Padahal di foto itu wajahmu tidak terekspos. Tapi kau malah susah menghilangkan pemberitaan itu," seru Harry mengejeknya.


"Namanya juga cinta," ejek Mike.


"Diamlah Mike."


"Kau beneran jatuh cinta dengan sahabatmu itu?" tanya Harry.


"Aku tidak tau," jawab Aiden santai.


"Kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri. Tetapi melakukan hal besar seperti ini. Siap-siap saja kau mendapatkan masalah dengan Menteri itu," ucap Mike.


"Bahkan kau rela kehilangan impianmu demi wanita itu. Hebat sekali," seru Harry bertepuk tangan.


"Kalian sungguh berisik," ucap Aiden meneguk minumannya habis dan kembali menuangkan wine dari botol ke dalam gelasnya kembali.

__ADS_1


"Hei, apa kau berniat untuk mabuk?" tanya Mike.


"Ya."


Harry terkekeh. "Biarkan saja Mike. Semoga dengan mabuk berat, dia bisa sadar kalau dia telah jatuh cinta," kekeh Harry meneguk minumannya.


"Ck. Aku benar-benar tidak paham dengan pemikirannya," seru Mike bersandar ke sofa seraya memakan cemilan yang tersedia.


***


"Beritanya lenyap begitu saja?" gumam Catherine melihat tablet miliknya.


"Ini tidak mungkin lenyap begitu saja kalau bukan karena ulah tangan seseorang. Apa ini karena Robert sudah menyerah?"


"Miss, Mr. Alan datang untuk menemui Miss."


Catherine menyimpan tabletnya di laci meja. "Baiklah persilahkan masuk."


2Tak lama setelah perintah dari Catherine. Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok tampan di sana.


"Alan, silahkan masuk," seru Catherine menyambut Alan.


Mereka duduk di sofa.


"Aku datang untuk mengajakmu makan siang," seru Alan.


"Kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengundangku makan siang?" tanya Catherine.


"Ya. Lagipula sudah lama kita tidak bertemu dan mengobrol, bukan?" seru Alan.


Alan adalah teman kuliah Catherin di Oxford bersama dengan Evelyn.


"Benar juga sih. Kalau begitu ayo kita pergi," ucap Catherine yang di angguki Alan.


*** 

__ADS_1


TBC...


12-04-2020


__ADS_2