Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 26


__ADS_3

Jasmine memegang tangan Aiden membuatnya menatap Jasmine dengan penuh kehangatan.


                “Uncle maukah Uncle menikah dengan Mommy dan menjadi Daddy aku.”


                Deg


                Aiden membeku di tempatnya mendengar penuturan Jasmine yang terlihat penuh harap dengan tatapan polosnya.


                Di ambang pintu, Catherine pun membeku mendengar penuturan Jasmine. Ia sudah sejak lama berdiri di sana dan mendengarkan ucapan Jasmine.


                “Bagaimana Uncle?” tanya Mine.


                Aiden tersenyum kecil. “Akan Uncle pertimbangkan,” jawab Aiden.


                “Mommy aku cantik kok, dia juga sangat baik. Om nggak akan nyesel deh punya istri kayak Mommy,” seru Mine.


                Catherine tersenyum mendengarnya. ‘Ck, anak ini malah mempromosikanku.’ Batin Catherine.


                “Mommy tuh hanya sibuk. Dia jarang ada waktu buat Mine. Jadi kalau ada Uncle, aku nggak akan kesepian lagi dan Mommy nggak akan bekerja terus.” Mine begitu polos hingga


mampu membuat Aiden tersenyum ironis.


                Catherine memilih mundur perlahan dan bersembunyi di balik dinding di dekat pintu. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia merasa sedih mendengar ucapan Mine. Memang benar selama ini Catherine selalu sibuk dengan pekerjaannya dan waktunya bersama Mine


begitu terbatas.


                Catherine kaget saat melihat Aiden keluar dari ruangan. Tatapan mereka bertemu dan terpaut satu sama lainnya.


                “Mine sudah tidur,” seru Aiden yang di angguki Catherine.


                Mungkin Catherine terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak sadar kalau Mine sudah tertidur.


                “Aiden. Aku ingin bicara,” ucap Catherine.


                “Baiklah. Kita bicara di taman,” ucap Aiden.


                Mereka berdua berjalan menuju taman yang berada tak jauh dari ruangan Mine. Mereka mengambil duduk di kursi taman saling berdampingan.


                “Aiden, kenapa kamu tidak mengatakan sejujurnya pada Mine kalau kamu adalah Daddy kandungnya,” seru Catherine.


                “Aku tidak ingin membuatnya syok. Dia baru saja bangun. Aku akan mengatakannya secara perlahan nanti setelah dia keluar dari rumah sakit.”


                Catherine mengangguk paham. “Aku akan memberikanmu kesempatan untuk semakin dekat dengannya,” ser Catherine walau ada sisi di hatinya yang sakit.


                “Cath, maaf karena membuatmu sulit selama 5 tahun ini,” seru Aiden.


                “Tidak Aiden, jangan meminta maaf. Semuanya sudah di takdirkan untuk kita. Aku tidak menyesali semua itu. Apalagi lahirnya Jasmine mampu memberi cahaya untuk kehidupanku. Aku bahagia telah melahirkan seorang malaikat kecil,” ucap Catherine.


                “Dia memang seorang malaikat kecil,” seru Aiden.


                “Mmmm... Aiden, mengenai yang di bicarakan Mine tadi-“


                “Aku sudah memikirkanya. Aku akan menikahi kamu, Cath.”


                Deg


                Catherine menoleh ke arah Aiden yang juga tengah menatapnya. Tatapan mereka bertemu satu sama lain.


                “Maaf Aiden, tapi aku tidak bisa menerimanya,” seru Catherine membuat Aiden mengernyitkan dahinya.


                “Cath-“


                “Aku bukan boneka, aku punya perasaan. Dan aku tidak ingin hidup berdampingan dengan seseorang yang bahkan tidak memahami perasaannya sendiri. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak butuh belas kasihan darimu.”


                Catherine beranjak dari duduknya dan berdiri memunggungi Aiden.


                “Seperti yang kamu bilang, aku tidak boleh menjual kebahagiaanku. Maka aku akan melakukannya, aku ingin hidup bahagia,” ucap Catherine diam-diam air matanya luruh membasahi pipinya.


                Ia sengaja memunggungi Aiden supaya Aiden tidak melihat air mata yang jatuh di pipinya.


                “Sudah cukup rasa sakit yang aku rasakan. Jangan mengasihaniku lagi,” ucapnya dengan suara yang bergetar. Catherine menatap ke atas untuk menahan air matanya yang tak urungnya berhenti.


                “Mengenai Jasmine, tanpa kita menikah pun, kita bedua bisa mengurusnya bersama-sama. Aku tidak akan melarang kamu menengok Jasmine dan membawanya menginap di tempatmu.”Aiden termenung menatap punggung Catherine di depannya.


                “Aku sudah selesai bicara. Aku akan pergi, mungkin nanti malam aku akan kembali melihat Jasmine.”


                Catherine pun beranjak pergi meninggalkan Aiden seorang diri.


                ‘Kenapa? Kenapa dadaku rasanya sangat sakit,’ batin Aiden memegang dadanya sendiri.



                Aiden duduk termenung dalam ruangan Jasmine. Mine masih terlelap dalam tidurnya. Ia memikirkan kata-kata Catherine tadi.


                Catherine bilang mencintainya, tetapi dia menolakuntuk menikah dengannya. Dan kenapa hatinya sangat sakit saat mendengar penolakan dari Catherine.


                Apa dirinya memang sudah mencintai Catherine?



                Catherine memasuki klab malam dan tatapannya tertuju pada Evelyn yang terlihat meneguk minuman di gelasnya.


                “Eve?” seru Catherine.


                Evelyn menoleh ke arahnya.


                “Pergi kamu! Jangan ganggu aku!” usir Evelyn.


                “Eve, kamu kenapa?” tanya Catherine.


                Tidak biasanya Evelyn mabuk berat seperti ini. Evelyn bahkan tidak kuat minum, ia akan mabuk setelah meminum dua gelas.


                Tadi seseorang di klab ini yang juga Catherine kenal menghubunginya dan mengatakan kalau Evelyn mabuk berat.


                “Catherine,” seruan itu membuatnya menoleh.


                “Alan, kamu di sini?” tanya Catherine.


                “Ya, tadi Evelyn menghubungiku. Kenapa dia bisa sampai mabuk begini,” seru Alan saat melihat Evelyn sudah menunduk dan menyandarkan kepalanya di lengannya di atas meja bartender.


                “Kita bawa dia pulang,” ucap Alan yang di angguki Catherine.



                Sinar matahari perlahan menerobos masuk ke celah jendela kamar membuat sang empu mengerjapkan matanya berkali-kali.


                Evelyn baru saja terbangun dan ia menatap sekeliling seraya beranjak dari tidurnya.


                “Ini di kamar apartemenku. Bagaimana mana aku bisa ke sini,” gumamnya. “Seingatku semalam aku berada d clum.” Evelyn memejamkan matanya beberapa saat untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya.


                “Kamu sudah bangun?” seruan itu membuatnya menoleh pada seseorang yang baru saja masuk dengan membawa nampan berisi segelas air.


                “Minumlah obat ini, pusingmu akan segera mereda,” ucapnya yang kini duduk di sisi ranjang seraya menyerahkan satu butir obat ke arah Evelyn.


                Tanpa kata Evelyn menerima obat itu dan meminum airnya.


                “Catherine, kenapa kamu ada di sini? Bagaimana dengan Mina?” tanya Evelyn.


                “Mine ada yang menemaninya. Setelah ini aku akan kembali ke rumah sakit,” ucap Catherine.


                Evelyn memalingkan pandangannya ke arah lain dan merenung.


                “Eve,” panggil Catherine membuat Evelyn menoleh ke arahnya.


                “Kenapa kamu minum? Bukankah kamu tidak bisa minum,” serunya.


                “Aku hanya sedang ingin saja,” jawab Evelyn membuat Catherine menghela napasnya.


                “Evelyn, apa pria yang waktu itu kamu ceritakan adalah Aiden? Aiden yang merupakan Ayah biologis


Mine?”


                Deg


                Mata Evelyn membelalak lebar mendengar penuturan Catherine.


                “Emm a-apa yang kamu katakan, Cath,” seru Evelyn memalingkan pandangannya ke arah lain.


                “Sejak semalam kamu menyebutkan namanya terus. Dan kamu mabuk setelah aku memberitahumu mengenai Aiden.”


                Evelyn terdiam, ia tidak tau harus mengatakan apa.

__ADS_1


                “Maafkan aku Cath. Tetapi aku memang mencintai Aidenmu,” gumam Evelyn menundukkan kepalanya.


                Catherine memejamkan matanya sesaat menyingkirkan rasa sesak di dadanya. Sebenarnya ia berharap Evelyn mencintai Aiden lain ternyata takdir memang begitu kejam hingga menjebak mereka berdua.


                “Eve, kenapa harus minta maaf. Kamu tidak tau bahwa dia ayah biologis Mine.” Seru Catherine menarik dagu Evelyn yang menangis dan menatap Catherine.


                “Kamu jangan putus asa. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, walaupun dia ayah biologi dari Mine. Kamu masih bisa memperjuangkan cintamu,” seru Catherine menekan sesak di dadanya.


                “Tapi bukankah kamu juga mencintainya,” ucap Evelyn.


                “Iya. Tapi kamu tau bukan, dia selalu menolakku. Saat ini keterikatan kami hanya Jasmine. Jadi kamu bisa bersamanya tanpa merasa telah mengkhianatiku,” seru Catherine.


                “Cath,” Evelyn sangatlah terharu mendengar seruan Catherine barusan.


                Evelyn memeluk tubuh Catherine. “Terima kasih.”


                Catherine memejamkan matanya dan berusaha menekan sesak di dadanya. Ia berharap Aiden tidak menolak Evelyn.



Aiden tengah duduk di taman yang ada di apartemennya. Ia di paksa Catherine untuk pulang dan kini giliran Catherine yang menjaga Mine.


                “Sendirian saja,” seru seseorang yang kini duduk di sampingnya.


                Aiden menoleh ke sumber suara. “Eve.”


                “Tidak dingin duduk di sini?” tanyanya mengeratkan mantel yang ia gunakan.


                “Aku sudah terbiasa dengan rasa dingin,” seru Aiden menatap lurus ke depan. “Aku tidak menyangk ternyata kamu mengenal Catherine.”


                Evelyn tersenyum kecil. “Bukan hanya mengenalnya tapi kami begitu dekat sampai aku menganggap dia sebagai Kakakku sendiri,” jelas Evelyn.


                “Berapa lama kamu mengenalnya?” tanya Aiden.


                “Kami teman satu kampus,” seru Evelyn. “Aku tidak menyangka bahwa kamu adalah Ayah biologis Mine.”


                “Sungguh lucu takdirini,” kekeh Evelyn.


                “Kamu juga dekat dengan Mine?” tanya Aiden.


                “Hmm.... aku sudah merupakan Ibu kedua dari Mine. Bahkan aku saksi saat dia lahir,” ucap Evelyn.


                “Kamu mengetahui kalau saat itu Catherine hamil tanpa suami?” tanya Aiden menoleh ke arahnya.


                “Iya. Dia sudah sangat menderita. Bahkan Ayahnya pernah mau mengusirnya dan mencoretnya dari hak waris karena membuat malu keluarga. Catherine sempat tinggal bersamaku selama satu tahun.”


                “Saat itu, pasti dia melalui hidupnya dengan sangat sulit.”


                “Iya, dia sangat tertekan. Tapi aku heran kenapa dia tidak membencimu dan malah tetap


mencintaimu. Malah aku yang sempat membencimu,” kekeh Evelyn.


                “Aku memang pantas di benci. Aku sudah begitu berengsek menelantarkan dia,” ucap Aiden.


                “Aiden, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu,” seru Evelyn membuat Aiden menoleh padanya.


                “Tanyakan saja,” seru Aiden.


                “Pernahkah kamu mencintainya?”


                Aiden menatap mata Evelyn yang tampak serius. Ia pun memalingkan wajahnya dan menghela napasnya.


                “Mungkin pernah. Tapi aku masih sangat takut untuk mencintai, aku sedikit trauma karena luka di hati ini. Aku juga ingin keluar dari belenggu ini, tapi aku tidak tau bagaimana


caranya,” seru Aiden menatap kosong ke depan.


                “Sebenarnya ketakutan itu hanyalah ilusi yang kamu buat sendiri,” seru Evelyn membuat Aiden menoleh ke arahnya. “Kalau kamu mencoba melangkah dan menerima cinta itu, maka tidak akan merugikan siapapun. Apalagi sudah jelas Catherine mencintaimu, berbeda


dengan wanita di masalalumu,” seru Evelyn membuat Aiden terpaku.


                Ucapan Evelyn bagaikan tamparan keras untuk dirinya.


                “Tidak akan ada rasa sakit lagi kalau kamu mampu melawan ketakutanmu itu. Kalian berdua bisa bersama-sama bangkit dan saling mengobati luka kalian masing-masing,” seru


Evelyn dan Aiden masih terpaku mendengarnya.


                “Aiden, kamu tau kalau aku sudah jatuh cinta padamu,” kekeh Evelyn terdengar menyakitkan.


                “I know. Kamu hanya menganggapku sebagai teman atau adik. Tetapi hati siapa yang tau dan siapa yang mampu menahan cinta. Karena cinta selalu datang begitu saja,” seru Evelyn.


                “Baiklah jangan pikirkan aku, Oke. Setidaknya patah hatiku tidak sesakit yang di rasakan oleh Catherine,” ucap Evelyn membuat Aiden menatapnya dengan pandangan yang sulit di tebak.


                “Aiden, aku ikhlas dan aku rela melepaskanmu dan melupakanmu. Tapi tolong pertimbangkan lagi perasaanmu pada Catherine. Jangan lagi terulang kisah di masa lalu yang membuat kalian seperti ini. Pikirkan juga tentang Jasmine,” ucap Evelyn.


                “Aku aka memikirkannya,” jawab Aiden.


                “Baguslah,” jawab Evelyn. “Di sini sangat dingin, aku akan masuk terlebih dulu. Bye.”


                Evelyn berjalan meninggalkan Aiden. Tanpa di ketahui Aiden, Evelyn menangis. Sebenarnya tak mudah mengatakan semua itu, ia harus sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri yang ia yakini akan tak terbalaskan. Hancur sudah hatinya, hanya sakit yang tersisa didalam hatinya.



                Hari ini Jasmine pulang dari rumah sakit. Aiden mengantar Jasmine dan Catherine ke rumah Catherine.


                “Uncle Tampan, Mine senang Uncle terus nemenin Mine,” seru Mine yang duduk di belakang. Sedangkan Catherine duduk di depan berdampingan bersama Aiden.


                “Benarkah? Uncle juga sangat senang bisa bersama terus dengan Mine,” ucap Aiden membuat Jasmine tersenyum bahagia.


                Catherine melirik dari kaca depan. Wajah Jasmine tidak pernah secerah dan seceria itu sebelumnya. Aiden benar-benar berefek besar untuk Jasmine.


                Menyadari hal itu, Catherine merasa semakin bersalah pada Mine. Harusnya ia tidak membiarkan anaknya terlalu lama menderita dan menyembunyikan semua ini.


                Ia kemudian melirik ke arah Aiden yang sedang fokus menyetir. Ia mengingat ajakan pernikahan dari Aiden yang tampak sekali terpaksa atau karena keinginan Jasmine. Hatinya sakit mengingat itu.


                Apa dia salah hanya


ingin cintanya di balas dan tidak di kasihani. Kenapa sulit sekali untuk itu.


                Catherine menghela napasnya


dan memalingkan pandangannya keluar jendela. Aiden menoleh ke arahnya dan


memperhatikan Catherine dari samping.



                Aiden datang menemui


Harry di apartemen Harry. Harry terlihat baru bangun tidur dan mempersilakan


Aiden untuk masuk.


                “Kau di sini juga,


Mike?” tanya Aiden saat melihat Mike tiduran di atas sofa.


                “Ya, karena tugas


darimu. Aku jadi lembur,” keluh Mike.


                Aiden duduk di sofa


single dan Harry terlihat ke arah dapur membuatkan minuman.


                “Jadi bagaimana?”tanya


Aiden.


                “Belum ada hasil,


orang yang menusuk Jasmine di temukan tewas karena di tembak seseorang,” seru


Mike.


                “Aku yakin dia hanya


orang suruhan,” ucap Aiden.


                Harry datang


menghampiri mereka dan menyodorkan satu gelas mug ke arah Aiden yang langsung

__ADS_1


di terima oleh Aiden.


                “Hey, kamu hanya


membuatkan kopi untuk Aiden? Untukku mana?” protes Mike.


                “Ck, kamu bisa bikin


sendiri. Aku bukan asisten rumah tangga,” jawab Harry dengan santai meneguk


minumannya.


                “Dasar sialan!” gerutu


Mike beranjak menuju dapur.


                “Aku sudah meminta


anak buahku untuk menyebar dan mencari informasi mengenai siapa dalang di balik


percobaan pembunuhan pada Jasmine,” seru Harry.


                “Thanks Harry.”


                “Kau tidak mencintai


Catherine tapi kamu sangat perduli pada putrinya. Nggak paham aku sama cara


pikirmu,” seru Mike yang kini berdiri di dekat Harry seraya meneguk kopinya.


                “Jasmine adalah putri


kandungku.”


                Byur.....


                “Ah! Sialan!” amuk Harry saat Mike menyemburkan kopi didalam mulutnya ke


wajah Harry. “Menjijikan!” gerutu Harry mengusap wajahnya dengan kaos yang ia


gunakan.


                “Itu pembalasan karena


tidak mau buatkan aku kopi,” seru Mike dengan santai.


                Aiden hanya terkekeh


seraya menggelengkan kepalanya. Melihat Harry dan Mike membuat Aiden mengingat


tingkah laku Kay dan Key. Si kembar yang kompak.


                “Hoho, kamu menjauhi


para wanita ternyata kamu membuat anak orang hamil anakmu,” ejek Mike.


                “Ah sungguh di luar


dugaan. Kau ternyata lebih parah dari kami. Sampai menyimpan benih di rahim


wanita yang merupakan teman satu malam saja,” seru Harry.


                “Itu semua hanya


kecelakaan,” seru Aiden.


                “Tapi anak itu


bukanlah sesuatu yang bikin celaka. Lalu bagaimana ceritanya, coba ceritakan


lebih detail,” seru Harry.


                “Dasar kepo,” ejek


Mike.


                “Kau juga ingin


mendengarkannya kan, Mike.” Harry tak ingin kalah.


                “Ya ya, ayo coba


ceritakan. Apa seperti kisah dalam novel novel romance,” seru Mike.


                “Ah korban Novel.


Pantas saja mukamu kotak kayak buku,” ejek Harry seakan balas dendam.


                “Sialan!”


                Aiden terkekeh


melihatnya. “Sudah cukup. Aku datang hanya ingin menanyakan kelanjutan pencarian


kalian. Bukan untuk berdongeng,” seru Aiden.


                “Pelit.”


                “Jadi apa kamu akan


bersama dengan Catherine sekarang?” tanya Mike.


                “Entahlah. Catherine


menolak lamaranku untuk menikahi dia,” seru Aiden.


                “Ya iyalah nolak.


Secara kan ngajak nikahnya karena anak bukan karena hati,” seru Mike.


                “Hati perempuan itu


sangat misterius bagaikan labirin,” seru Harry.


                “Hmmm... aku akan


memikirkan semua itu. Baiklah kalian bisa lanjutkan bermesra-mesraan. Aku akan


pergi,” seru Aiden beranjak dari duduknya.


                “Dih mesra-mesraan


sama gorila. Males banget,” seru Harry.


                “Memangnya aku mau


berdekatan denganmu. Dasar muka cabul,” seru Mike.


                “Sialan!”


                Mike terkekeh dan


kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa.


                “Menurutmu apa Aiden


mencintai wanita itu?” tanya Harry.


                “Sudah jelas. Kau


lihat saja tingkah lakunya. Jelas sekali kalau dia snagat mencintai wanita itu.


Hanya dia terlalu bodoh dan tutup mata sampai nggak menyadari itu. Ah kadang


aku gemas sendiri dan ingin membenturkan kepalanya ke dinding supaya dia sadar


dan lebih peka,” ceroscos Mike.


                “Kau benar.”


__ADS_1


__ADS_2