
Saatini Aiden
menemui Evelyn di restaurant yang ada di sebrang apartemen mereka.
Aiden tengah berjalan
menuju ke arah meja dimana Evelyn sudah duduk dengan anggun dan tersenyum ke
arahnya.
“Hai,” sapa Evelyn
membuat Aiden tersenyum dan duduk di hadapan Evelyn.
“Sudah menunggu lama?”
tanya Aiden.
“Tidak. Aku baru
sampai 5 menit yang lalu,” seru Evelyn.
“Sudah pesan?” tanya
Aiden.
“Belum. Aku menunggu
kamu. Baiklah mau pesan apa?” tanya Evelyn seraya melambaikan tangannya pada
salah satu waiter.
Mereka berdua memesan
makanan kepada waiters.
“Jangan lupa satu
botol anggur terbaik,” seru Evelyn yang di angguki oleh waiters itu dan berlalu
pergi meninggalkan mereka berdua.
“Jadi apa yang sedang
kamu kerjakan sekarang?” tanya Aiden.
“Aku kembali ke pekerjaanku
sebelumnya. Tetapi bukan sebagai asisten desaigner lagi, sekarang akulah
desaignernya,” seru Evelyn.
“Syukurlah. Sudah aku
katakan kamu itu berbakat Eve.”
Evelyn tersenyum
tersipu. “Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang kamu sudah menemukan seseorang
setelah 3 tahun berlalu?” tanya Evelyn sangat berharap Aiden masih sendiri.
Aiden hanya tersenyum
kecil.
“Tidak ada yang
berubah dengan hidupku, Eve. Aku masih tetap sama seperti dulu,” jawab Aiden
mampu membuat Evelyn sangat bahagia mendengarnya.
Pesanan mereka datang.
Dua piring steak kini tersaji di hadapan mereka. Waiter itu kini menuangkan
anggur jenis terbaik ke dalam gelas berkaki.
“Mari kita bersulang
terlebih dahulu. Untuk pertemuan kita berdua,” seru Evelyn mengangkat gelas
miliknya.
“Baiklah,” seru Aiden
ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang bersama.
Setelah menyesap
sedikit anggurnya, mereka berdua pun menikmati makanan mereka dengan berbagai
obrolan mengenai banyak hal.
---
Aiden baru saja sampai
di apartemennya setelah menikmati makan malam bersama Evelyn.
Ia mendaratkan
pantatnya ke atas sofa. Dering handphone menyadarkannya. Aiden mengangkat
sambungan telpon itu.
“Ya Mike?
“......”
“Apa kamu sudah bisa
mengatasi berita berita yang saat ini tranding itu?” tanya Aiden.
“.....”
“Kenapa sulit?
Biasanya kamu sangat mampu menyelesaikan masalah seperti ini.”
“.....”
“Kalau begitu, coba
kamu cari informasi yang lebih tranding untuk meredakan berita tentang
Catherine.”
“......”
__ADS_1
“Ah, aku ada beberapa
informasi tentang salah satu menteri yang memiliki skandal. Aku ingin kamu
menyebarkan informasi ini.”
“......”
“Kalau terjadi
sesuatu, aku yang akan bertanggung jawab.”
“......”
“Aku harus
menolongnya. Tolong lakukan ini untukku.”
“.....”
“Catherine bukan siapa-siapa.”
“......”
“Aku perduli padanya.”
“......”
“Ya, aku tau resikonya
kalau berurusan dengan seorang Menteri. Aku tidak masalah kalau harus di
berhentikan dari firma hukum.”
“.......”
“Lakukan saja.”
“.....”
“Apa? Tidak Mike, aku
tidak mencintainya.”
“.....”
“Sudahlah jangan
banyak bertanya. Kau lakukan saja, dan nanti datanya aku email kepadamu.”
“.....”
“Baiklah weekend ini
kita bertemu di klab nya Harry.”
“.....”
Aiden menutup
sambungan telponnya dan termenung sesaat.
Kau sudah gila, Aiden. Kenapa kamu ingin melakukan semua ini demi wanita itu. Apa kamu mencintainya....
Kau bahkan bisa di berhentikan
dari firma hukum karena ini.
“Tidak, itu tidak
mungkin,” gumam Aiden mengusap wajahnya. “Aku hanya perduli padanya sebagai
sahabat.”
Ꙭ
Saat ini Catherine
akan mengadakan pertemuan dengan salah satu clientnya.
Aiden tampak sudah datang di ruang meeting bersama dengan Catherine juga salah
satu Manager.
Catherine berusaha
mengabaikan keberadaan Aiden dan berbincang beberapa hal dengan Managernya.
Aiden sesekali melihat ke arah Catherine yang terlihat jelas menghindarinya
juga menjaga jarak darinya.
Sebenarnya sikap
dingin Catherine ini menyakiti dirinya. Tetapi Aiden sendiri tidak berani
melangkah dan mengambil sikap. Ia merasa takut akan dirinya juga perasaannya
sendiri. Ia tidak berani untuk membuat sebuah hubungan lagi. Ada keraguan didalam
hatinya. Tetapi kondisi seperti ini pun membuat dia tidak nyaman.
“Permisi Mrs.
Catherine. Mr. Alan dari perusahaan Qla sudah datang.”
“Persilakan masuk,”
ucap Catherine.
Terlihat tiga orang
pria masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang,” sapa
salah seorang dari mereka.
“Alan?” seru Catherine
beranjak dari duduknya dan menghampiri pria yang merupakan Ceo dari perusahaan
Qla.
“Catherine. Apa
kabar?” seru Alan.
Deg
__ADS_1
Aiden membeku saat melihat Catherine berpelukan bahkan
mencium pipi kiri dan kanan Alan tanpa ragu.
“Aku baik. Aku tidak
menyangka akhirnya perusahaan kita bisa bekerja sama,” seru Catherine.
“Aku sudah menunggu
saat seperti ini,” seru Alan.
Mereka duduk bersama,
dan saling berdekatan. Tatapan tajam Aiden tak lepas dari mereka berdua. Entah
kenapa ada rasa yang terbakar dari dirinya melihat semua itu.
“Aku baru pindah dan
mulai mengelola perusahaan yang di sini. Makanya aku langsung menghubungimu dan
mengajakmu untuk bekerja sama,” seru Alan.
“Aku juga sempat kaget
mendapat email darimu,” seru Catherine. Raut wajah catherine berubah seketika.
Yang tadi begitu
dingin, kini terlihat begitu ramah dan bersahabat. Aiden merasa sangat kesal
karena hal itu.
Sebenarnya siapa Alan ini? Batin Aiden terlihat mengepalkan kedua
tangannya.
“Bisa kita mulai
meetingnya.” Ucapan Aiden yang penuh penekanan membuat Catherine dan Alan
melihat ke arahnya.
“Baiklah. Mr. Alan
kenalkan ini Mr. Aiden, dia adalah pengacara di perusahaan ini. Dan ini Mr.
Sihab kepala Manager di sini,” ucap Catherine.
Alan pun mulai
memperkenalkan siapa saja yang bersama dirinya.
Kemudian setelah sesi
perkenalan. Mereka pun membahas mengenai kerja sama mereka.
Aiden kembali di buat
emosi dan terbakar karena melihat mereka berdua yang sangat akrab satu sama
lain. Bahkan Catherine tanpa ragu untuk tersenyum dan tertawa. Bahkan tangannya
sesekali menepuk pelan lengan Alan tampak begitu akrab.
Aiden memalingkan
wajahnya dan menghirup udara untuk menenangkan dirinya yang rasanya ingin
sekali melayangkan tinjunya ke wajah Alan dan menjauhkan Alan dari Catherine.
Ꙭ
Aidenmembuntuti
Catherine menuju ruangan Catherine setelah meeting bersama Alan selesai.
“Siapa pria itu?”
tanya Aiden to the point saat mereka sampai didalam ruangan milik Catherine.
“Sedang apa anda di
sini, Mr. Aiden? Apa ada hal yang tidak anda pahami mengenai kerja sama tadi?”
tanya Catherine kembali dingin dan bersikap formal menatap ke arah Aiden.
“Cukup Cath. Jangan
bersikap dingin lagi padaku,” seru Aiden berjalan mendekati Catherine.
“Tolong pergilah, Mr.
Aiden.” Catherine memalingkan wajahnya saat Aiden berdiri di hadapannya.
“Siapa pria itu?
Kenapa kalian sangat akrab?” tanya Aiden.
“Apa urusannya
denganmu. Sudah aku katakan jangan urusin lagi hidupku dan jangan ganggu
kehidupanku lagi. Kita di sini hanya sebagai rekan kerja, dan jangan lupa Mr.
Aiden. Aku adalah atasanmu!”
Aiden membeku
mendengar penuturan Catherine barusan.
“Pergilah, aku ingin
istirahat.” Catherine berpaling menuju kursi kebesarannya.
Aiden beranjak pergi
dan sedikit keras saat menutup pintu ruangan. Catherine yang masih berdiri
dengan berpegangan pada kursi kebesarannya memejamkan matanya dengan tangannya
mencengkram kulit dari kursi.
‘Berhenti untuk memperdulikanku, Aiden. Jangan semakin menyiksa hatiku.
Aku sangat terluka karenamu,’ batin Catherine dan tanpa sadar air matanya
kembali jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Ꙭ