Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 16


__ADS_3

Saatini Aiden


menemui Evelyn di restaurant yang ada di sebrang apartemen mereka.


                Aiden tengah berjalan


menuju ke arah meja dimana Evelyn sudah duduk dengan anggun dan tersenyum ke


arahnya.


                “Hai,” sapa Evelyn


membuat Aiden tersenyum dan duduk di hadapan Evelyn.


                “Sudah menunggu lama?”


tanya Aiden.


                “Tidak. Aku baru


sampai 5 menit yang lalu,” seru Evelyn.


                “Sudah pesan?” tanya


Aiden.


                “Belum. Aku menunggu


kamu. Baiklah mau pesan apa?” tanya Evelyn seraya melambaikan tangannya pada


salah satu waiter.


                Mereka berdua memesan


makanan kepada waiters.


                “Jangan lupa satu


botol anggur terbaik,” seru Evelyn yang di angguki oleh waiters itu dan berlalu


pergi meninggalkan mereka berdua.


                “Jadi apa yang sedang


kamu kerjakan sekarang?” tanya Aiden.


                “Aku kembali ke pekerjaanku


sebelumnya. Tetapi bukan sebagai asisten desaigner lagi, sekarang akulah


desaignernya,” seru Evelyn.


                “Syukurlah. Sudah aku


katakan kamu itu berbakat Eve.”


                Evelyn tersenyum


tersipu. “Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang kamu sudah menemukan seseorang


setelah 3 tahun berlalu?” tanya Evelyn sangat berharap Aiden masih sendiri.


                Aiden hanya tersenyum


kecil.


                “Tidak ada yang


berubah dengan hidupku, Eve. Aku masih tetap sama seperti dulu,” jawab Aiden


mampu membuat Evelyn sangat bahagia mendengarnya.


                Pesanan mereka datang.


Dua piring steak kini tersaji di hadapan mereka. Waiter itu kini menuangkan


anggur jenis terbaik ke dalam gelas berkaki.


                “Mari kita bersulang


terlebih dahulu. Untuk pertemuan kita berdua,” seru Evelyn mengangkat gelas


miliknya.


                “Baiklah,” seru Aiden


ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang bersama.


                Setelah menyesap


sedikit anggurnya, mereka berdua pun menikmati makanan mereka dengan berbagai


obrolan mengenai banyak hal.


                ---


                Aiden baru saja sampai


di apartemennya setelah menikmati makan malam bersama Evelyn.


                Ia mendaratkan


pantatnya ke atas sofa. Dering handphone menyadarkannya. Aiden mengangkat


sambungan telpon itu.


                “Ya Mike?


                “......”


                “Apa kamu sudah bisa


mengatasi berita berita yang saat ini tranding itu?” tanya Aiden.


                “.....”


                “Kenapa sulit?


Biasanya kamu sangat mampu menyelesaikan masalah seperti ini.”


                “.....”


                “Kalau begitu, coba


kamu cari informasi yang lebih tranding untuk meredakan berita tentang


Catherine.”


                “......”

__ADS_1


                “Ah, aku ada beberapa


informasi tentang salah satu menteri yang memiliki skandal. Aku ingin kamu


menyebarkan informasi ini.”


                “......”


                “Kalau terjadi


sesuatu, aku yang akan bertanggung jawab.”


                “......”


                “Aku harus


menolongnya. Tolong lakukan ini untukku.”


                “.....”


                “Catherine bukan siapa-siapa.”


                “......”


                “Aku perduli padanya.”


                “......”


                “Ya, aku tau resikonya


kalau berurusan dengan seorang Menteri. Aku tidak masalah kalau harus di


berhentikan dari firma hukum.”


                “.......”


                “Lakukan saja.”


                “.....”


                “Apa? Tidak Mike, aku


tidak mencintainya.”


                “.....”


                “Sudahlah jangan


banyak bertanya. Kau lakukan saja, dan nanti datanya aku email kepadamu.”


                “.....”


                “Baiklah weekend ini


kita bertemu di klab nya Harry.”


                “.....”


                Aiden menutup


sambungan telponnya dan termenung sesaat.


                Kau sudah gila, Aiden. Kenapa kamu ingin melakukan semua ini demi wanita itu. Apa kamu mencintainya....


                Kau bahkan bisa di berhentikan


dari firma hukum karena ini.


                “Tidak, itu tidak


mungkin,” gumam Aiden mengusap wajahnya. “Aku hanya perduli padanya sebagai


sahabat.”



                Saat ini Catherine


akan mengadakan pertemuan dengan salah satu clientnya.


Aiden tampak sudah datang di ruang meeting bersama dengan Catherine juga salah


satu Manager.


                Catherine berusaha


mengabaikan keberadaan Aiden dan berbincang beberapa hal dengan Managernya.


Aiden sesekali melihat ke arah Catherine yang terlihat jelas menghindarinya


juga menjaga jarak darinya.


                Sebenarnya sikap


dingin Catherine ini menyakiti dirinya. Tetapi Aiden sendiri tidak berani


melangkah dan mengambil sikap. Ia merasa takut akan dirinya juga perasaannya


sendiri. Ia tidak berani untuk membuat sebuah hubungan lagi. Ada keraguan didalam


hatinya. Tetapi kondisi seperti ini pun membuat dia tidak nyaman.


                “Permisi Mrs.


Catherine. Mr. Alan dari perusahaan Qla sudah datang.”


                “Persilakan masuk,”


ucap Catherine.


                Terlihat tiga orang


pria masuk ke dalam ruangan itu.


                “Selamat siang,” sapa


salah seorang dari mereka.


                “Alan?” seru Catherine


beranjak dari duduknya dan menghampiri pria yang merupakan Ceo dari perusahaan


Qla.


                “Catherine. Apa


kabar?” seru Alan.


                Deg

__ADS_1


                Aiden membeku saat melihat Catherine berpelukan bahkan


mencium pipi kiri dan kanan Alan tanpa ragu.


                “Aku baik. Aku tidak


menyangka akhirnya perusahaan kita bisa bekerja sama,” seru Catherine.


                “Aku sudah menunggu


saat seperti ini,” seru Alan.


                Mereka duduk bersama,


dan saling berdekatan. Tatapan tajam Aiden tak lepas dari mereka berdua. Entah


kenapa ada rasa yang terbakar dari dirinya melihat semua itu.


                “Aku baru pindah dan


mulai mengelola perusahaan yang di sini. Makanya aku langsung menghubungimu dan


mengajakmu untuk bekerja sama,” seru Alan.


                “Aku juga sempat kaget


mendapat email darimu,” seru Catherine. Raut wajah catherine berubah seketika.


                Yang tadi begitu


dingin, kini terlihat begitu ramah dan bersahabat. Aiden merasa sangat kesal


karena hal itu.


                Sebenarnya siapa Alan ini? Batin Aiden terlihat mengepalkan kedua


tangannya.


                “Bisa kita mulai


meetingnya.” Ucapan Aiden yang penuh penekanan membuat Catherine dan Alan


melihat ke arahnya.


                “Baiklah. Mr. Alan


kenalkan ini Mr. Aiden, dia adalah pengacara di perusahaan ini. Dan ini Mr.


Sihab kepala Manager di sini,” ucap Catherine.


                Alan pun mulai


memperkenalkan siapa saja yang bersama dirinya.


                Kemudian setelah sesi


perkenalan. Mereka pun membahas mengenai kerja sama mereka.


                Aiden kembali di buat


emosi dan terbakar karena melihat mereka berdua yang sangat akrab satu sama


lain. Bahkan Catherine tanpa ragu untuk tersenyum dan tertawa. Bahkan tangannya


sesekali menepuk pelan lengan Alan tampak begitu akrab.


                Aiden memalingkan


wajahnya dan menghirup udara untuk menenangkan dirinya yang rasanya ingin


sekali melayangkan tinjunya ke wajah Alan dan menjauhkan Alan dari Catherine.



Aidenmembuntuti


Catherine menuju ruangan Catherine setelah meeting bersama Alan selesai.


                “Siapa pria itu?”


tanya Aiden to the point saat mereka sampai didalam ruangan milik Catherine.


                “Sedang apa anda di


sini, Mr. Aiden? Apa ada hal yang tidak anda pahami mengenai kerja sama tadi?”


tanya Catherine kembali dingin dan bersikap formal menatap ke arah Aiden.


                “Cukup Cath. Jangan


bersikap dingin lagi padaku,” seru Aiden berjalan mendekati Catherine.


                “Tolong pergilah, Mr.


Aiden.” Catherine memalingkan wajahnya saat Aiden berdiri di hadapannya.


                “Siapa pria itu?


Kenapa kalian sangat akrab?” tanya Aiden.


                “Apa urusannya


denganmu. Sudah aku katakan jangan urusin lagi hidupku dan jangan ganggu


kehidupanku lagi. Kita di sini hanya sebagai rekan kerja, dan jangan lupa Mr.


Aiden. Aku adalah atasanmu!”


                Aiden membeku


mendengar penuturan Catherine barusan.


                “Pergilah, aku ingin


istirahat.” Catherine berpaling menuju kursi kebesarannya.


                Aiden beranjak pergi


dan sedikit keras saat menutup pintu ruangan. Catherine yang masih berdiri


dengan berpegangan pada kursi kebesarannya memejamkan matanya dengan tangannya


mencengkram kulit dari kursi.


                ‘Berhenti untuk memperdulikanku, Aiden. Jangan semakin menyiksa hatiku.


Aku sangat terluka karenamu,’ batin Catherine dan tanpa sadar air matanya


kembali jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1



__ADS_2