
Bandara
Internasional Soekarno Hatta – Indonesia
Aidenbaru saja
menginjakkan kakinya kembali di Negara kelahirannya. Ia membuka kacamata hitam
yang bertengker di hidung mancungnya kemudian menatap sekeliling.
Setelah 5 tahun
berlalu, kini ia kembali lagi ke Negara ini. Negara yang menyimpan banyak
sekali kenangan. Kenangan yang membuatnya trauma dan merasakan rasa sakit.
Setelah menghela napasnya,
Aiden melanjutkan langkahnya seraya menderek koper kecil miliknya. Ia memesan
sebuah taxi online untuk menuju ke apartemennya.
Rumah milik keluarganya
telah di sita oleh pihak Bank karena utang milik ayahnya. Kekayaan keluarganya
telah raib karena keserakahan kedua orang tua nya.
Kehidupan Aiden
berubah drastis sejak 5 tahun lalu. Bukan hanya kehilangan cinta dan
kekasihnya, ia juga harus kehilangan segala kekayaan dan fasilitas mewah yang
di miliki keluarganya. Hidup keluarganya pecah. Elena, ibunya harus masuk ke
dalam sel penjara dan ayahnya meninggal karena kebangkrutan dan semua
kekayaannya raib. Aiden pergi meninggalkan kota ini dengan harta simpanan
pribadinya.
Tidak mudah untuk
melalui kesulitan itu sampai akhirnya mampu ke titik saat ini.
Ꙭ
Aiden baru sampai di apartemen
miliknya. Seluruh barang di tutupi kain putih bersih dan debu dimana-mana. Ia
kemudian menyimpan kopernya di sisi pintu dan mulai membuka setiap kain yang
menutupi barang-barang.
Ia mulai sibuk
membereskan apartemennya sendirian.
Ꙭ
Hari ini Catherine
merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Aiden telah pergi ke Indonesia dalam
waktu yang cukup lama. Dan entah kenapa ia merasa kesepian. Biasanya Aiden akan
datang dan mengajaknya berbicara walau dirinya masih bersikap dingin pada
Aiden.
Entah bagaimana ada
rasa takut didalam hatinya. Aiden kembali ke Indonesia, akankah perasaannya
pada wanita akan kembali tumbuh.
‘Ada apa dengan dirimu, Catherine? Bukankah kamu tidak perduli padanya?’ batin Catherine
menghela napasnya seraya mengusap wajahnya gusar.
“Permisi Nyonya, ada
Mr. Robert datang,” seru Sekretarisnya melalui intercom.
“Biarkan masuk.”
Tak lama pintu ruangan
terbuka dan muncullah sosok Robert dengan setelan jasnya.
“Siang Honey,” seru
Robert berjalan mendekati Catherine dan mencium keningnya. Kemudian ia duduk di
sofa yang ada di ruangan itu.
“Tumben kamu datang,
ada apa?” tanya Catherine duduk di hadapannya.
“Begini Hon. Aku
berencana membangun proyek baru di daerah SI.”
“Tapi kamu tau daerah
itu sudah aku jadikan cagar alam.”
“Ayolah Honey, kita
bisa buat lapangan golf di sana. Atau sebuah resort, apartemen. Aku yakin akan
__ADS_1
banyak customer yang memilih tinggal di daerah sana.”
“Tidak Robert, aku
tidak akan melepaskan daerah itu. Aku bermimpi ingin membangun sebuah rumah di
sana. Untuk tempat tinggalku dan keturunanku.”
“Jangan bodoh! Kawasan
itu sangat diincar banyak orang. Kita harus mengambil keuntungan untuk ini.
Sekali saja kita tawarkan kerja sama di daerah itu dengan beberapa perusahaan.
Mereka akan langsung berebut untuk mendapatkannya. Kita akan mendapatkan untung
miliaran dollar.”
Catherine terdiam.
“Daerah itu adalah
kenangan terakhir dari mendiang Mommy ku. Aku mohon kamu jangan memaksaku akan
hal ini.”
“Jangan pelitlah. Aku
ini calon suamimu. Kita bisa mencari daerah lain untuk rumah kita kelak. Daerah
sana sayang sekali kalau tidak kita lepas.”
“Maaf Robert tetapi
aku tidak bisa.” Catherine melirik jam tangan yang bertengker di pergelangan
tangannya. “Aku harus menjemput Jasmine. Aku akan pergi.”
Catherine beranjak
dari duduknya dan mengambil tasnya. “Kamu mau pergi bersamaku?” tanya
Catherine.
“Tidak. Aku sibuk.”
Robert beranjak pergi dengan wajah kesalnya. Sial! Pikirnya.
Catherine menghela napasnya.
Ia kembali teringat ucapan Aiden yang mengatakan untuk tidak menjual
kebahagiaannya demi bisnis.
Ꙭ
Aiden pergi ke sebuah
nya.
“Eh Aiden?”
Ia menoleh ke sumber
suara dan sedikit kaget melihat siapa orang yang menyapanya.
“SI kembar,” serunya.
“Benarkan kamu?” seru
Kay sangat kaget dan duduk di hadapan Aiden yang dengan santai menyeduh
kopinya.
“Sudah lima tahun
berlalu, kalian masih saja kompak ke sana kemari berdua. Manis sekali,” seru
Aiden.
“Ck, ini si Kay
ngekori aku terus,” keluh Key.
“Kau saja yang selalu
ingin aku temani,” jawab Kay.
“Jangan fitnah. Aku
selalu tidak ingin jalan bersamamu. Itu membuatku kehilangan pamor.”
“Kamu yang terlalu
malu untuk mengakuinya. Kalau kamu ingin selalu bersamaku.”
“Hei-!”
“Haduh masih tidak
berubah,” keluh Aiden membuat pria kembar itu berhenti berdebat. “Makanya cepat
menikah, jadi kalian tidak akan berduaan terus.”
“Aku benci wanita!”
seru Kay.
“Itu karena kamu
terlalu bodoh. Mau saja di manfaatkan wanita ular itu,” jawab Key.
“Memangnya kamu punya
__ADS_1
kekasih. Padahal jomblo akut.”
“Aku seperti sedang
menonton acara wayang,” keluh Aiden.
“Baiklah kita ganti
topik padamu saja. Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Kay.
“Aku memulai kehidupan
baruku di kota N.”
“Apa kamu baik-baik
saja?” tanya Key. Tatapannya berubah menjadi tatapan iba.
“Jangan menatapku
seperti itu. Apa aku terlihat sangat lemah dan frustasi?” tanya Aiden.
“Tidak sih, kamu
terlihat semakin tampan,” kekeh Key.
“Kamu datang kemari
karena tante Elena?” tanya Kay.
Aiden mengangguk.
“Setelah melihatnya, aku akan kembali ke kota N.”
“Kenapa tidak menetap
di sini saja. Kadang kita kangen saat kita kumpul bersama dengan Dave juga,”
seru Key sedikit memelankan suaranya menyebut nama Dave.
“Entahlah. Mungkin itu
tak akan pernah terjadi,” seru Aiden terlihat merenung sesaat.
“Kamu masih mempunyai
dendam padanya?” tanya Kay.
“Dendam?” Aiden
tersenyum kecil. “Aku sudah tidak memikirkan semua hal itu. Hanya saja, aku
tidak ingin berbaur kembali dengan masalaluku.”
“Aku bukan pria baik
yang pemaaf,” tambah Aiden terlihat acuh.
“Baiklah kita tidak
perlu membahas itu. Jadi bagaimana kamu di kota N? Apa kamu sudah menikah?”
tanya Key.
“Kalau kamu beneran
sudah menikah tanpa mengundang kami. Ter-la-lu sekali.” Aiden terkekeh mendengarnya.
“Kalau aku sudah menikah,
aku tidak mungkin berada di sini sendirian.”
“Bagus kalau begitu.
Tapi kekasih ada, kan?” tanya Kay.
“Sepertinya peringkat
Key sebagai jomblo akut akan tergeser olehku,” seru Aiden.
“Jangan begitu.
Carilah kekasih. Wanita di kota N pasti sangat cantik dan juga seksi,” seru
Key.
“Biarkan peringkat
jomblo akut tetap di pegang oleh si Key. Sebaiknya kamu mencari kekasih,” seru
Kay.
“Apa sih!” cibir Key
ke arah Kay.
“Tidak semudah itu
menjalin sebuah hubungan.” Aiden termenung sesaat, larut dalam pikirannya
sendiri. “Sudahlah kita akhiri saja pembahasan ini. Kita kembali ke kehidupan
kalian berdua.”
Aiden tidak ingin
membahas lagi mengenai masa lalunya dan sebuah hubungan. Ia juga tidak memiliki
rencana untuk mencari seorang kekasih. Apalagi memikirkan menikah. Mungkin
dalam kondisi sekarang itu, jauh lebih baik untuk dirinya sendiri.
Ꙭ
__ADS_1