Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 8


__ADS_3

Bandara


Internasional Soekarno Hatta – Indonesia


Aidenbaru saja


menginjakkan kakinya kembali di Negara kelahirannya. Ia membuka kacamata hitam


yang bertengker di hidung mancungnya kemudian menatap sekeliling.


                Setelah 5 tahun


berlalu, kini ia kembali lagi ke Negara ini. Negara yang menyimpan banyak


sekali kenangan. Kenangan yang membuatnya trauma dan merasakan rasa sakit.


                Setelah menghela napasnya,


Aiden melanjutkan langkahnya seraya menderek koper kecil miliknya. Ia memesan


sebuah taxi online untuk menuju ke apartemennya.


                Rumah milik keluarganya


telah di sita oleh pihak Bank karena utang milik ayahnya. Kekayaan keluarganya


telah raib karena keserakahan kedua orang tua nya.


                Kehidupan Aiden


berubah drastis sejak 5 tahun lalu. Bukan hanya kehilangan cinta dan


kekasihnya, ia juga harus kehilangan segala kekayaan dan fasilitas mewah yang


di miliki keluarganya. Hidup keluarganya pecah. Elena, ibunya harus masuk ke


dalam sel penjara dan ayahnya meninggal karena kebangkrutan dan semua


kekayaannya raib. Aiden pergi meninggalkan kota ini dengan harta simpanan


pribadinya.


                Tidak mudah untuk


melalui kesulitan itu sampai akhirnya mampu ke titik saat ini.



                Aiden baru sampai di apartemen


miliknya. Seluruh barang di tutupi kain putih bersih dan debu dimana-mana. Ia


kemudian menyimpan kopernya di sisi pintu dan mulai membuka setiap kain yang


menutupi barang-barang.


                Ia mulai sibuk


membereskan apartemennya sendirian.



                Hari ini Catherine


merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Aiden telah pergi ke Indonesia dalam


waktu yang cukup lama. Dan entah kenapa ia merasa kesepian. Biasanya Aiden akan


datang dan mengajaknya berbicara walau dirinya masih bersikap dingin pada


Aiden.


                Entah bagaimana ada


rasa takut didalam hatinya. Aiden kembali ke Indonesia, akankah perasaannya


pada wanita akan kembali tumbuh.


                ‘Ada apa dengan dirimu, Catherine? Bukankah kamu tidak perduli padanya?’ batin Catherine


menghela napasnya seraya mengusap wajahnya gusar.


                “Permisi Nyonya, ada


Mr. Robert datang,” seru Sekretarisnya melalui intercom.


                “Biarkan masuk.”


                Tak lama pintu ruangan


terbuka dan muncullah sosok Robert dengan setelan jasnya.


                “Siang Honey,” seru


Robert berjalan mendekati Catherine dan mencium keningnya. Kemudian ia duduk di


sofa yang ada di ruangan itu.


                “Tumben kamu datang,


ada apa?” tanya Catherine duduk di hadapannya.


                “Begini Hon. Aku


berencana membangun proyek baru di daerah SI.”


                “Tapi kamu tau daerah


itu sudah aku jadikan cagar alam.”


                “Ayolah Honey, kita


bisa buat lapangan golf di sana. Atau sebuah resort, apartemen. Aku yakin akan

__ADS_1


banyak customer yang memilih tinggal di daerah sana.”


                “Tidak Robert, aku


tidak akan melepaskan daerah itu. Aku bermimpi ingin membangun sebuah rumah di


sana. Untuk tempat tinggalku dan keturunanku.”


                “Jangan bodoh! Kawasan


itu sangat diincar banyak orang. Kita harus mengambil keuntungan untuk ini.


Sekali saja kita tawarkan kerja sama di daerah itu dengan beberapa perusahaan.


Mereka akan langsung berebut untuk mendapatkannya. Kita akan mendapatkan untung


miliaran dollar.”


                Catherine terdiam.


                “Daerah itu adalah


kenangan terakhir dari mendiang Mommy ku. Aku mohon kamu jangan memaksaku akan


hal ini.”


                “Jangan pelitlah. Aku


ini calon suamimu. Kita bisa mencari daerah lain untuk rumah kita kelak. Daerah


sana sayang sekali kalau tidak kita lepas.”


                “Maaf Robert tetapi


aku tidak bisa.” Catherine melirik jam tangan yang bertengker di pergelangan


tangannya. “Aku harus menjemput Jasmine. Aku akan pergi.”


                Catherine beranjak


dari duduknya dan mengambil tasnya. “Kamu mau pergi bersamaku?” tanya


Catherine.


                “Tidak. Aku sibuk.”


Robert beranjak pergi dengan wajah kesalnya. Sial! Pikirnya.


                Catherine menghela napasnya.


Ia kembali teringat ucapan Aiden yang mengatakan untuk tidak menjual


kebahagiaannya demi bisnis.



                Aiden pergi ke sebuah


nya.


                “Eh Aiden?”


                Ia menoleh ke sumber


suara dan sedikit kaget melihat siapa orang yang menyapanya.


                “SI kembar,” serunya.


                “Benarkan kamu?” seru


Kay sangat kaget dan duduk di hadapan Aiden yang dengan santai menyeduh


kopinya.


                “Sudah lima tahun


berlalu, kalian masih saja kompak ke sana kemari berdua. Manis sekali,” seru


Aiden.


                “Ck, ini si Kay


ngekori aku terus,” keluh Key.


                “Kau saja yang selalu


ingin aku temani,” jawab Kay.


                “Jangan fitnah. Aku


selalu tidak ingin jalan bersamamu. Itu membuatku kehilangan pamor.”


                “Kamu yang terlalu


malu untuk mengakuinya. Kalau kamu ingin selalu bersamaku.”


                “Hei-!”


                “Haduh masih tidak


berubah,” keluh Aiden membuat pria kembar itu berhenti berdebat. “Makanya cepat


menikah, jadi kalian tidak akan berduaan terus.”


                “Aku benci wanita!”


seru Kay.


                “Itu karena kamu


terlalu bodoh. Mau saja di manfaatkan wanita ular itu,” jawab Key.


                “Memangnya kamu punya

__ADS_1


kekasih. Padahal jomblo akut.”


                “Aku seperti sedang


menonton acara wayang,” keluh Aiden.


                “Baiklah kita ganti


topik padamu saja. Kamu ke mana saja selama ini?” tanya Kay.


                “Aku memulai kehidupan


baruku di kota N.”


                “Apa kamu baik-baik


saja?” tanya Key. Tatapannya berubah menjadi tatapan iba.


                “Jangan menatapku


seperti itu. Apa aku terlihat sangat lemah dan frustasi?” tanya Aiden.


                “Tidak sih, kamu


terlihat semakin tampan,” kekeh Key.


                “Kamu datang kemari


karena tante Elena?” tanya Kay.


                Aiden mengangguk.


“Setelah melihatnya, aku akan kembali ke kota N.”


                “Kenapa tidak menetap


di sini saja. Kadang kita kangen saat kita kumpul bersama dengan Dave juga,”


seru Key sedikit memelankan suaranya menyebut nama Dave.


                “Entahlah. Mungkin itu


tak akan pernah terjadi,” seru Aiden terlihat merenung sesaat.


                “Kamu masih mempunyai


dendam padanya?” tanya Kay.


                “Dendam?” Aiden


tersenyum kecil. “Aku sudah tidak memikirkan semua hal itu. Hanya saja, aku


tidak ingin berbaur kembali dengan masalaluku.”


                “Aku bukan pria baik


yang pemaaf,” tambah Aiden terlihat acuh.


                “Baiklah kita tidak


perlu membahas itu. Jadi bagaimana kamu di kota N? Apa kamu sudah menikah?”


tanya Key.


                “Kalau kamu beneran


sudah menikah tanpa mengundang kami. Ter-la-lu sekali.” Aiden terkekeh mendengarnya.


                “Kalau aku sudah menikah,


aku tidak mungkin berada di sini sendirian.”


                “Bagus kalau begitu.


Tapi kekasih ada, kan?” tanya Kay.


                “Sepertinya peringkat


Key sebagai jomblo akut akan tergeser olehku,” seru Aiden.


                “Jangan begitu.


Carilah kekasih. Wanita di kota N pasti sangat cantik dan juga seksi,” seru


Key.


                “Biarkan peringkat


jomblo akut tetap di pegang oleh si Key. Sebaiknya kamu mencari kekasih,” seru


Kay.


                “Apa sih!” cibir Key


ke arah Kay.


                “Tidak semudah itu


menjalin sebuah hubungan.” Aiden termenung sesaat, larut dalam pikirannya


sendiri. “Sudahlah kita akhiri saja pembahasan ini. Kita kembali ke kehidupan


kalian berdua.”


                Aiden tidak ingin


membahas lagi mengenai masa lalunya dan sebuah hubungan. Ia juga tidak memiliki


rencana untuk mencari seorang kekasih. Apalagi memikirkan menikah. Mungkin


dalam kondisi sekarang itu, jauh lebih baik untuk dirinya sendiri.


__ADS_1


__ADS_2