
Catherinesudah
kembali pulang ke rumahnya. Ia hanya perlu kontrol kakinya saja. Catherine
mampu bernapas lega akhirnya ia bisa sedikit jauh dengan Aiden. Sebenarnya
terus bersama dengan Aiden, sangat tidak baik untuk kondisi jantungnya.
Catherine
belum kembali bekerja. Ia hanya bekerja dari rumah dan sekretaris nya yang
datang ke rumah saat membutuhkan tanda tangannya.
Pagi
itu Catherine baru saja bangun tidur. Ia sedikit merenggangkan ototnya. Ia
mendengar suara berisik dan gelak tawa dari luar kamar.
"Apa
yang terjadi yah?" gumam Catherine. Kemudian ia mengikat rambutnya asal.
Dengan gerakan pelan ia berpindah tempat ke atas kursi roda dan membawanya
keluar dari kamar.
Karena
untuk sementara ia pindah kamar ke lantai satu. Yang langsung menghubungkannya
ke ruang keluarga dan dapur tanpa ada sekat dinding. Matanya sedikit melebar
saat melihat sosok tinggi dengan celemek menempel di tubuh nya sedang memasak
di dapur. Dan Mine terlihat duduk di atas meja pantry dengan bertepuk tangan
dan terlihat bahagia.
Seketika
wajah Catherine memanas melihat sosok Aiden yang terlihat sangat seksi dan
memukau dengan celemek di tubuhnya.
"Selamat
pagi Cath. Kamu sudah bangun?" sapaan itu menyadarkan Catherine dari
keterpakuannya.
"Ehem..."
Catherine sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Iya.
Kalian lanjutkan saja," ucap Catherine berniat pergi tetapi Aiden menahan
kursi rodanya membuat Catherine menoleh ke arah Aiden yang berdiri menjulang di
sampingnya.
"Ada
apa?" tanya Catherine.
"Kita
sarapan bersama," seru Aiden.
"Aku
tidak lapar. Kalian saja berdua," ucap Catherine.
"Apa
ini wajah bangun tidur kamu?" tanya Aiden menatapnya dengan intens membuat
Catherine memalingkan wajahnya karena malu. Ia bahkan belum mencuci wajahnya.
"Bukan
urusanmu!" Catherine memalingkan wajahnya.
"Aku
nggak menyangka wajah bangun tidur kamu terlihat sangat manis dan imut."
Deg
Wajah
Catherine langsung memerah mendengar penuturan Aiden untuk pertama kalinya ia
memuji dirinya.
Seorang
Aiden...?
"Apa
kamu salah makan?" seru Catherine masih tidak berani menatap ke arah Aiden
yang masih memakai celemeknya terlihat sangat seksi.
"Memangnya
kenapa? Aku berkata jujur Cath. Kamu selalu tidak mempercayai ku," seru
Aiden.
"Daddy.. Mommy ayo sarapan. Aku terlambat ke
sekolah," seru Mine.
"Ayo
kita sarapan," ujar Aiden hendak mendorong kursi roda Catherine.
"Tidak
perlu. Aku ingin mandi dulu," ucap Catherine.
"Sudahlah
__ADS_1
lebih sarapan dulu," seru Aiden.
"Aku
bahkan belum cuci muka dan gosok gigi. Aku tidak terbiasa makan sebelum gosok
gigi," seru Catherine masih berusaha menolak.
"Baiklah.
Aku antar kamu ke kamar."
Ꙭ
Aiden
baru saja mengantarkan Mine bersama Mouli ke depan rumah. Ia meminta satu orang
bodyguard yang ia sewa dari Harry untuk menjadi sopir pribadi Mine. Aiden belum
bisa mengantarkan Mine ke sekolah karena ia tidak bisa membiarkan Catherine
sendirian di rumah
Aiden
membawakan sarapan dan jus ke kamar Catherine. Ia membuka pintu kamar Catherine
yang tidak di kunci.
Deg
Tubuh
Aiden membeku saat tatapannya melebar melihat pemandangan di depannya.
Catherine
terlihat duduk di atas ranjang dengan memunggungi pintu. Kulit punggung nya yang putih pucat dan halus
terpangpang jelas. Catherine terlihat memakai handuk yang bagian belakangnya
sudah terbuka.
"Mouli.
Tolong ambilkan pakaian yang ada di atas kursi dan bantu aku berpakaian,"
ucap Catherine tanpa menoleh ke belakang.
Aiden
menyimpan nampan yang di bawanya di atas meja nakas. Ia melihat sebuah dress
berwarna berwarna cream bermotif bunga sakura tergeletak di atas sofa. Sepertinya sebelum ke kamar mandi,
Catherine sudah lebih dulu membawa baju itu.
Aiden
menelan salivanya sendiri saat di bawah dress itu terlihat bra dan cd dengan
warna senada. Ia merasa sangat tidak nyaman. Dan mendadak seluruh tubuhnya
terasa panas.
"Mouli,
Aiden
membawa dress berserta ********** dan berjalan mendekati Catherine yang masih
memunggunginya.
"Apa
kamu memang selalu tidak waspada seperti ini."
Deg
Secepat
kilat Catherine menoleh sampai lehernya terasa sakit.
"Aiden?"
"Kenapa?
Kamu tidak menyangka aku yang masuk yah," seru Aiden melipat kedua
tangannya di dada dengan memegang pakaian Catherine.
Melihat
pakaiannya di pegang Aiden, Catherine segera mengambilnya tetapi Aiden
menghindar.
"Berikan
pakaianku dan kamu boleh tunggu di luar," seru Catherine.
Aiden
membungkukkan badannya di hadapan Catherine membuat Catherine sedikit
menghindar dengan masih memegang handuk yang menutupi tubuh bagian depannya.
"Kamu
bersikap dingin kepadaku, tetapi wajahmu tidak menunjukkan seperti itu. Kamu
merona, eh?" Goda Aiden membuat Catherine menjadi salah tingkah dan
semakin merona.
"Ka-kamu
mau apa?" tanya Catherine sudah setengah rebahan.
"Membantumu
berpakaian," seru Aiden tersenyum penuh arti.
"Dasar
mesum. Aku bisa berpakaian sendiri," seru Catherine.
__ADS_1
"Bukankah
kamu yang memintanya," seru Aiden.
"Ada
Mine, jangan macam-macam?" seru Catherine menatap manik mata Aiden.
"Mine
sudah berangkat sekolah. Dan di rumah ini hanya kita berdua. Jadi bagaimana
kalau kita mulai," seru Aiden menekan ranjang di sisi tubuh Catherine
untuk menopang tubuhnya yang semakin membungkuk dan menyudutkan Catherine.
"Aiden
jangan macam-macam. Aku minta kamu keluar dari kamarku!" usir Catherine
dengan nada gugup walau ia berusaha tegas.
Aiden
terlihat tersenyum menatap Catherine dan ia kembali berdiri membuat Catherine
menatap ke arahnya.
"Pakai
ini. Aku akan membantumu memasangkannya dari belakang," ucap Aiden
menyimpan pakaian Catherine di atas pangkuan Catherine.
"Tidak
perlu, aku-"
"Kamu
tidak berniat bertelanjang seperti ini sampai Mouli kembali, bukan?"
seruan Aiden mampu membungkam mulut Catherine.
Akhirnya
Catherine membiarkan Aiden membantu dirinya berpakaian. Aiden terlihat
mengikatkan tali spageti dari bra milik Catherine di punggung Catherine. Kini
ia sudah berada di belakang tubuh Catherine.
Sekuat
tenaga ia menahan dirinya dan menekan bagian bawahnya yang terasa mengeras. Ia
bahkan berkali-kali menelan salivanya sendiri. Come on Aiden juga pria normal
walaupun ia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Terakhir ia berhubungan
dengan Catherine pada 5 tahun lalu. Dan seperti nya miliknya merespon karena
Catherine pernah tidur bersamanya.
Aiden
di kenal sebagai pria yang mampu menahan nafsu birahinya. Hanya melihat wanita
seksi atau tak berpakaianpun itu tidak pernah berpengaruh padanya. Tetapi
melihat Catherine, hanya melihat bagian punggungnya saja, miliknya langsung
siaga membuat dirinya begitu frustasi.
"Sekarang
bagaimana?" tanya Aiden.
Catherine
menarik rilsleting dress-nya dan memasukkan ke bagian kepalanya. Aiden membantu
Catherine dan seketika handuk di tubuh Catherine jatuh ke pahanya yang awalnya
menutupi bagian depan tubuh Catherine.
Aiden
semakin membeku karena posisi ia berdiri tepat dibelakang tubuh Catherine yang
duduk. Ia mampu melihat bagian perut dan bawah perut. Aiden langsung
memalingkan wajahnya seraya berdehem, telinganya sudah terlihat memerah.
Catherine juga langsung menarik handuknya menutupi bagian intimnya.
Aiden
kembali membantu memakaikan dress di tubuh Catherine dengan memalingkan
wajahnya. Kemudian ia menarik rilsleting dress itu.
"Selanjutnya
aku bisa sendiri. Emm apa kamu bisa menungguku di luar," ucap Catherine
terdengar sangat gugup.
"Emm
baiklah. Sarapan kamu sudah ada di meja balas. Panggil aku saat kamu butuh
bantuan," ucap Aiden.
"Baik."
Aiden
berjalan cepat keluar kamar Catherine
"Oh
****..!" Aiden mengumpat beberapa kali seraya mondar mandir di ruang
keluarga. Ia merasa sangat tersiksa dan miliknya terasa sangat nyeri.
"Kau
__ADS_1
menyiksa ku Cath." gumamnya mengusap wajahnya gusar.
Ꙭ