Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 33


__ADS_3

Catherinesudah


kembali pulang ke rumahnya. Ia hanya perlu kontrol kakinya saja. Catherine


mampu bernapas lega akhirnya ia bisa sedikit jauh dengan Aiden. Sebenarnya


terus bersama dengan Aiden, sangat tidak baik untuk kondisi jantungnya.


Catherine


belum kembali bekerja. Ia hanya bekerja dari rumah dan sekretaris nya yang


datang ke rumah saat membutuhkan tanda tangannya.


Pagi


itu Catherine baru saja bangun tidur. Ia sedikit merenggangkan ototnya. Ia


mendengar suara berisik dan gelak tawa dari luar kamar.


"Apa


yang terjadi yah?" gumam Catherine. Kemudian ia mengikat rambutnya asal.


Dengan gerakan pelan ia berpindah tempat ke atas kursi roda dan membawanya


keluar dari kamar.


Karena


untuk sementara ia pindah kamar ke lantai satu. Yang langsung menghubungkannya


ke ruang keluarga dan dapur tanpa ada sekat dinding. Matanya sedikit melebar


saat melihat sosok tinggi dengan celemek menempel di tubuh nya sedang memasak


di dapur. Dan Mine terlihat duduk di atas meja pantry dengan bertepuk tangan


dan terlihat bahagia.


Seketika


wajah Catherine memanas melihat sosok Aiden yang terlihat sangat seksi dan


memukau dengan celemek di tubuhnya.


"Selamat


pagi Cath. Kamu sudah bangun?" sapaan itu menyadarkan Catherine dari


keterpakuannya.


"Ehem..."


Catherine sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


"Iya.


Kalian lanjutkan saja," ucap Catherine berniat pergi tetapi Aiden menahan


kursi rodanya membuat Catherine menoleh ke arah Aiden yang berdiri menjulang di


sampingnya.


"Ada


apa?" tanya Catherine.


"Kita


sarapan bersama," seru Aiden.


"Aku


tidak lapar. Kalian saja berdua," ucap Catherine.


"Apa


ini wajah bangun tidur kamu?" tanya Aiden menatapnya dengan intens membuat


Catherine memalingkan wajahnya karena malu. Ia bahkan belum mencuci wajahnya.


"Bukan


urusanmu!" Catherine memalingkan wajahnya.


"Aku


nggak menyangka wajah bangun tidur kamu terlihat sangat manis dan imut."


Deg


Wajah


Catherine langsung memerah mendengar penuturan Aiden untuk pertama kalinya ia


memuji dirinya.


Seorang


Aiden...?


"Apa


kamu salah makan?" seru Catherine masih tidak berani menatap ke arah Aiden


yang masih memakai celemeknya terlihat sangat seksi.


"Memangnya


kenapa? Aku berkata jujur Cath. Kamu selalu tidak mempercayai ku," seru


Aiden.


"Daddy..  Mommy ayo sarapan. Aku terlambat ke


sekolah," seru Mine.


"Ayo


kita sarapan," ujar Aiden hendak mendorong kursi roda Catherine.


"Tidak


perlu. Aku ingin mandi dulu," ucap Catherine.


"Sudahlah

__ADS_1


lebih sarapan dulu," seru Aiden.


"Aku


bahkan belum cuci muka dan gosok gigi. Aku tidak terbiasa makan sebelum gosok


gigi," seru Catherine masih berusaha menolak.


"Baiklah.


Aku antar kamu ke kamar."



Aiden


baru saja mengantarkan Mine bersama Mouli ke depan rumah. Ia meminta satu orang


bodyguard yang ia sewa dari Harry untuk menjadi sopir pribadi Mine. Aiden belum


bisa mengantarkan Mine ke sekolah karena ia tidak bisa membiarkan Catherine


sendirian di rumah


Aiden


membawakan sarapan dan jus ke kamar Catherine. Ia membuka pintu kamar Catherine


yang tidak di kunci.


Deg


Tubuh


Aiden membeku saat tatapannya melebar melihat pemandangan di depannya.


Catherine


terlihat duduk di atas ranjang dengan memunggungi pintu.  Kulit punggung nya yang putih pucat dan halus


terpangpang jelas. Catherine terlihat memakai handuk yang bagian belakangnya


sudah terbuka.


"Mouli.


Tolong ambilkan pakaian yang ada di atas kursi dan bantu aku berpakaian,"


ucap Catherine tanpa menoleh ke belakang.


Aiden


menyimpan nampan yang di bawanya di atas meja nakas. Ia melihat sebuah dress


berwarna berwarna cream bermotif bunga sakura tergeletak  di atas sofa. Sepertinya sebelum ke kamar mandi,


Catherine sudah lebih dulu membawa baju itu.


Aiden


menelan salivanya sendiri saat di bawah dress itu terlihat bra dan cd dengan


warna senada. Ia merasa sangat tidak nyaman. Dan mendadak seluruh tubuhnya


terasa panas.


"Mouli,


Aiden


membawa dress berserta ********** dan berjalan mendekati Catherine yang masih


memunggunginya.


"Apa


kamu memang selalu tidak waspada seperti ini."


Deg


Secepat


kilat Catherine menoleh sampai lehernya terasa sakit.


"Aiden?"


"Kenapa?


Kamu tidak menyangka aku yang masuk yah," seru Aiden melipat kedua


tangannya di dada dengan memegang pakaian Catherine.


Melihat


pakaiannya di pegang Aiden, Catherine segera mengambilnya tetapi Aiden


menghindar.


"Berikan


pakaianku dan kamu boleh tunggu di luar," seru Catherine.


Aiden


membungkukkan badannya di hadapan Catherine membuat Catherine sedikit


menghindar dengan masih memegang handuk yang menutupi tubuh bagian depannya.


"Kamu


bersikap dingin kepadaku, tetapi wajahmu tidak menunjukkan seperti itu. Kamu


merona, eh?" Goda Aiden membuat Catherine menjadi salah tingkah dan


semakin merona.


"Ka-kamu


mau apa?" tanya Catherine sudah setengah rebahan.


"Membantumu


berpakaian," seru Aiden tersenyum penuh arti.


"Dasar


mesum. Aku bisa berpakaian sendiri," seru Catherine.

__ADS_1


"Bukankah


kamu yang memintanya," seru Aiden.


"Ada


Mine, jangan macam-macam?" seru Catherine menatap manik mata Aiden.


"Mine


sudah berangkat sekolah. Dan di rumah ini hanya kita berdua. Jadi bagaimana


kalau kita mulai," seru Aiden menekan ranjang di sisi tubuh Catherine


untuk menopang tubuhnya yang semakin membungkuk dan menyudutkan Catherine.


"Aiden


jangan macam-macam. Aku minta kamu keluar dari kamarku!" usir Catherine


dengan nada gugup walau ia berusaha tegas.


Aiden


terlihat tersenyum menatap Catherine dan ia kembali berdiri membuat Catherine


menatap ke arahnya.


"Pakai


ini. Aku akan membantumu memasangkannya dari belakang," ucap Aiden


menyimpan pakaian Catherine di atas pangkuan Catherine.


"Tidak


perlu, aku-"


"Kamu


tidak berniat bertelanjang seperti ini sampai Mouli kembali, bukan?"


seruan Aiden mampu membungkam mulut Catherine.


Akhirnya


Catherine membiarkan Aiden membantu dirinya berpakaian. Aiden terlihat


mengikatkan tali spageti dari bra milik Catherine di punggung Catherine. Kini


ia sudah berada di belakang tubuh Catherine.


Sekuat


tenaga ia menahan dirinya dan menekan bagian bawahnya yang terasa mengeras. Ia


bahkan berkali-kali menelan salivanya sendiri. Come on Aiden juga pria normal


walaupun ia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Terakhir ia berhubungan


dengan Catherine pada 5 tahun lalu. Dan seperti nya miliknya merespon karena


Catherine pernah tidur bersamanya.


Aiden


di kenal sebagai pria yang mampu menahan nafsu birahinya. Hanya melihat wanita


seksi atau tak berpakaianpun itu tidak pernah berpengaruh padanya. Tetapi


melihat Catherine, hanya melihat bagian punggungnya saja, miliknya langsung


siaga membuat dirinya begitu frustasi.


"Sekarang


bagaimana?" tanya Aiden.


Catherine


menarik rilsleting dress-nya dan memasukkan ke bagian kepalanya. Aiden membantu


Catherine dan seketika handuk di tubuh Catherine jatuh ke pahanya yang awalnya


menutupi bagian depan tubuh  Catherine.


Aiden


semakin membeku karena posisi ia berdiri tepat dibelakang tubuh Catherine yang


duduk. Ia mampu melihat bagian perut dan bawah perut. Aiden langsung


memalingkan wajahnya seraya berdehem, telinganya sudah terlihat memerah.


Catherine juga langsung menarik handuknya menutupi bagian intimnya.


Aiden


kembali membantu memakaikan dress di tubuh Catherine dengan memalingkan


wajahnya. Kemudian ia menarik rilsleting dress itu.


"Selanjutnya


aku bisa sendiri. Emm apa kamu bisa menungguku di luar," ucap Catherine


terdengar sangat gugup.


"Emm


baiklah. Sarapan kamu sudah ada di meja balas. Panggil aku saat kamu butuh


bantuan," ucap Aiden.


"Baik."


Aiden


berjalan cepat keluar kamar Catherine


"Oh


****..!" Aiden mengumpat beberapa kali seraya mondar mandir di ruang


keluarga. Ia merasa sangat tersiksa dan miliknya terasa sangat nyeri.


"Kau

__ADS_1


menyiksa ku Cath." gumamnya mengusap wajahnya gusar.



__ADS_2