Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 31


__ADS_3

Aiden tengah duduk di taman yang ada di apartementnya. Ia di paksa Catherine untuk pulang dan kini giliran Catherine yang menjaga Mine.


"Sendiran saja," seru seseorang yang kini duduk di sampingnya.


Aiden menoleh ke sumber suara. "Eve."


"Tidak dingin duduk di sini?" tanyanya mengeratkan mantel yang ia gunakan.


"Aku sudah terbiasa dengan rasa dingin," seru Aiden menatap lurus ke depan. "Aku tidak menyangka ternyata kamu mengenal Catherine."


Evelyn tersenyum kecil. "Bukan hanya mengenalnya tapi kami begitu dekat sampai aku menganggap dia sebagai Kakakku sendiri," jelas Evelyn.


"Berapa lama kamu mengenalnya?" tanya Aiden.


"Kami teman satu kampus," seru Evelyn. "Aku tidak menyangka bahwa kamu adalah Ayah biologis Mine."


"Sungguh lucu takdir ini," kekeh Evelyn.


"Kamu juga dekat dengan Mine?" tanya Aiden.


"Hmm.... aku sudah merupakan Ibu kedua dari Mine. Bahkan aku saksi saat dia lahir," ucap Evelyn.


"Kamu mengetahui kalau saat itu Catherine hamil tanpa suami?" tanya Aiden menoleh ke arahnya.


"Iya. Dia sudah sangat menderita. Bahkan Ayahnya pernah mau mengusirnya dan mencoretnya dari hak waris karena membuat malu keluarga. Catherine sempat tinggal bersamaku selama satu tahun."


"Saat itu, pasti dia melalui hidupnya dengan sangat sulit."


"Iya, dia sangat tertekan. Tapi aku heran kenapa dia tidak membencimu dan malah tetap mencintaimu. Malah aku yang sempat membencimu," kekeh Evelyn.


"Aku memang pantas di benci. Aku sudah begitu brengsek menelantarkan dia," ucap Aiden.


"Aiden, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu," seru Evelyn membuat Aiden menoleh padanya.


"Tanyakan saja," seru Aiden.


"Pernahkah kamu mencintainya?"


Aiden menatap mata Evelyn yang tampak serius. Ia pun memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya.


"Mungkin pernah. Tapi aku masih sangat takut untuk mencintai, aku sedikit trauma karena luka di hati ini. Aku juga ingin keluar dari belenggu ini, tapi aku tidak tau bagaimana caranya," seru Aiden menatap kosong ke depan.


"Sebenarnya ketakutan itu hanyalah ilusi yang kamu buat sendiri," seru Evelyn membuat Aiden menoleh ke arahnya. "Kalau kamu mencoba melangkah dan menerima cinta itu, maka tidak akan merugikan siapapun. Apalagi sudah jelas Catherine mencintaimu, berbeda dengan wanita di masalalumu," seru Evelyn membuat Aiden terpaku.


Ucapan Evelyn bagaikan tamparan keras untuk dirinya.


"Tidak akan ada rasa sakit lagi kalau kamu mampu melawan ketakutanmu itu. Kalian berdua bisa bersama-sama bangkit dan saling mengobati luka kalian masing-masing," seru Evelyn dan Aiden masih terpaku mendengarnya.


"Aiden, kamu tau kalau aku sudah jatuh cinta padamu," kekeh Evelyn terdengar menyakitkan.


"Eve, kamu-"


"I know. Kamu hanya menganggapku sebagai teman atau adik. Tetapi hati siapa yang tau dan siapa yang mampu menahan cinta. Karena cinta selalu datang begitu saja," seru Evelyn.


"Baiklah jangan pikirkan aku, Oke. Setidaknya patah hatiku tidak sesakit yang di rasakan oleh Catherine," ucap Evelyn membuat Aiden menatapnya dengan pandangan yang sulit di tebak.

__ADS_1


"Aiden, aku ikhlas dan aku rela melepaskanmu dan melupakanmu. Tapi tolong pertimbangkan lagi perasaanmu pada Catherine. Jangan lagi terulang kisah di masalalu yang membuat kalian seperti ini. Pikirkan juga tentang Jasmine," ucap Evelyn.


"Aku akan memikirkannya," jawab Aiden.


"Baguslah," jawab Evelyn. "Di sini sangat dingin, aku akan masuk terlebih dulu. Bye."


Evelyn berjalan meninggalkan Aiden. Tanpa di ketahui Aiden, Evelyn menangis. Sebenarnya tak mudah mengatakan semua itu, ia harus sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri yang ia yakini akan tak terbalaskan. Hancur sudah hatinya, hanya sakit yang tersisa di dalam hatinya.


***


Hari ini Jasmine pulang dari rumah sakit. Aiden mengantar Jasmine dan Catherine ke rumah Catherine.


"Uncle Tampan, Mine senang Uncle terus nemenin Mine," seru Mine yang duduk di belakang. Sedangkan Catherine duduk di depan berdampingan bersama Aiden.


"Benarkah? Uncle juga sangat senang bisa bersama terus dengan Mine," ucap Aiden membuat Jasmine tersenyum bahagia.


Catherine melirik dari kaca depan. Wajah Jasmine tidak pernah secerah dan seceria itu sebelumnya. Aiden benar-benar berefek besar untuk Jasmine.


Menyadari hal itu, Catherine merasa semakin bersalah pada Mine. Harusnya ia tidak membiarkan anaknya terlalu lama menderita dan menyembunyikan semua ini.


Ia kemudian melirik ke arah Aiden yang sedang fokus menyetir. Ia mengingat ajakan pernikahan dari Aiden yang tampak sekali terpaksa atau karena keinginan Jasmine. Hatinya sakit mengingat itu.


Apa dia salah hanya ingin cintanya di balas dan tidak di kasihani. Kenapa sulit sekali untuk itu.


Catherine menghela nafasnya dan memalingkan pandangannya keluar jendela. Aiden menoleh ke arahnya dan memperhatikan Catherine dari samping.


***


Aiden datang menemui Harry di apartement Harry. Harry terlihat baru bangun tidur dan mempersilahkan Aiden untuk masuk.


"Kau di sini juga, Mike?" tanya Aiden saat melihat Mike tiduran di atas sofa.


Aiden duduk di sofa single dan Harry terlihat ke arah dapur membuatkan minuman.


"Jadi bagaimana?"tanya Aiden.


"Belum ada hasil, orang yang menusuk Jasmine di temukan tewas karena di tembak seseorang," seru Mike.


"Aku yakin dia hanya orang suruhan," ucap Aiden.


Harry datang menghampiri mereka dan menyodorkan satu gelas mug ke arah Aiden yang langsung di terima oleh Aiden.


"Hey, kau hanya membuatkan kopi untuk Aiden? Untukku mana?" protes Mike.


"Ck, kau bisa bikin sendiri. Aku bukan asisten rumah tangga," jawab Harry dengan santai meneguk minumannya.


"Dasar sialan!" gerutu Mike beranjak menuju dapur.


"Aku sudah meminta anak buahku untuk menyebar dan mencari informasi mengenai siapa dalang di balik percobaan pembunuhan pada Jasmine," seru Harry.


"Thanks Harry."


"Kau tidak mencintai Catherine tapi kau sangat perduli pada putrinya. Gak paham aku sama cara pikirmu," seru Mike yang kini berdiri di dekat Harry seraya meneguk kopinya.


"Jasmine adalah putri kandungku."

__ADS_1


Byur.....


"Ah! Sialan!" amuk Harry saat Mike menyemburkan kopi di dalam mulutnya ke wajah Harry. "Menjijikan!" gerutu Harry mengusap wajahnya dengan kaos yang ia gunakan.


"Itu pembalasan karena tidak mau buatkan aku kopi," seru Mike dengan santai.


Aiden hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Melihat Harry dan Mike membuat Aiden mengingat tingkah laku Kay dan Key. Si kembar yang kompak.


"Hoho, kau menjauhi para wanita ternyata kau membuat anak orang hamil anakmu," ejek Mike.


"Ah sungguh di luar dugaan. Kau ternyata lebih parah dari kami. Sampai menyimpan benih di rahim wanita yang merupakan teman satu malam saja," seru Harry.


"Itu semua hanya kecelakaan," seru Aiden.


"Tapi anak itu bukanlah sesuatu yang bikin celaka. Lalu bagaimana ceritanya, coba ceritakan lebih detail," seru Harry.


"Dasar kepo," ejek Mike.


"Kau juga ingin mendengarkannya kan, Mike." Harry tak ingin kalah.


"Ya ya, ayo coba ceritakan. Apa seperti kisah dalam novel novel romance," seru Mike.


"Ah korban Novel. Pantas saja mukamu kotak kayak buku," ejek Harry seakan balas dendam.


"Sialan!"


Aiden terkekeh melihatnya. "Sudah cukup. Aku datang hanya ingin menanyakan kelanjutan pencarian kalian. Bukan untuk berdongeng," seru Aiden.


"Pelit."


"Jadi apa kau akan bersama dengan Catherine sekarang?" tanya Mike.


"Entahlah. Catherine menolak lamaranku untuk menikahi dia," seru Aiden.


"Ya iyalah nolak. Secara kan ngajak nikahnya karena anak bukan karena hati," seru Mike.


"Hati perempuan itu sangat misterius bagaikan labirin," seru Harry.


"Hmmm... aku akan memikirkan semua itu. Baiklah kalian bisa lanjutkan bermesra-mesraan. Aku akan pergi," seru Aiden beranjak dari duduknya.


"Dih mesra-mesraan sama gorila. Males banget," seru Harry.


"Memangnya aku mau berdekatan denganmu. Dasar muka cabul," seru Mike.


"Sialan!"


Mike terkekeh dan kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Menurutmu apa Aiden mencintai wanita itu?" tanya Harry.


"Sudah jelas. Kau lihat saja tingkah lakunya. Jelas sekali kalau dia sangat mencintai wanita itu. Hanya dia terlalu bodoh dan tutup mata sampai gak menyadari itu. Ah kadang aku gemas sendiri dan ingin membenturkan kepalanya ke dinding supaya dia sadar dan lebih peka," ceroscos Mike.


"Kau benar."


*** 

__ADS_1


TBC...


25-04-2020


__ADS_2