Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 9


__ADS_3

Aidenberjalan


menyusuri lorong rumah sakit. Ia menghentikan langkahnya saat telah sampai di


depan ruangan tempat Elena di rawat.


                Ia berdiri menghadap


pintu dan menatap pintu itu cukup lama. Sebenarnya bukan dirinya tidak


menyayangi Elena, tetapi karena Elena lah dirinya kehilangan Agneta. Karena


keserakahan Ibu nya itu, dia harus hidup layaknya bidak catur yang harus di


atur oleh Elena.


                Aiden menghela napasnya


sebelum memegang knop pintu dan membuka pintu itu. Ia masuk ke dalam ruangan


perawatan itu.


                Sosok wanita lansia


terbaring lemah di atas ranjang. Ia menatap sosok itu dimana alat medis


terpasang memenuhi tubuh ringkihnya.


                Elena yang dulu kini


telah berubah. Wanita yang merupakan Ibu nya itu kini tidak se angkuh dan


sesombong dulu. Wanita itu kini terlihat semakin tua, ringkih dan terlihat tak


berdaya.


                Mendengar suara


langkah kaki mendekat, mata keriput itu terbuka dan menoleh ke samping brankar.


                “A-aiden?”


                Gumamnya begitu lemah


dan terdengar berbisik karena bagian mulutnya tertutup dengan alat bantu pernapasan.


                “Iya ini aku, Mom.”


Aiden duduk di sisi brankar seraya menggenggam tangan Elena.


                Sejahat-jahatnya


Elena, dia tetaplah wanita yang telah melahirkan Aiden. Walau masih ada rasa


kesal, tetapi Aiden tidak mungkin membencinya bahkan memusuhinya. Karena kini


keluarga mereka hanya tinggal mereka berdua. Kalau bukan Aiden lalu siapa lagi


yang akan menemani Elena.


                “Ba-bagaimana kabarmu, Nak?” Elena menatap Aiden dengan tatapan


haru penuh rasa bahagia. Air matanya luruh dari sudut matanya. Ia sangat


merindukan putranya ini.


                “Kabarku baik. Maaf


aku baru bisa datang,” seru Aiden.


                Elena menggelengkan


kepalanya seraya menangis. Tangan lainnya yang tidak di genggam Aiden terangkat


ke udara seakan ingin menggapai pipi Aiden untuk di belai.


                Aiden yang paham


dengan gerakan itu, sedikit menundukan kepalanya dan mendekatkan pipinya ke


telapak tangan Elena. Ia membiarkan Elena membelai pipinya penuh rasa sayang.


                “Ma-maafkan Mommy,


Aiden.” Elena terlihat menangis. “Semua ini karena keserakahan Mom, hingga keluarga


kita hancur.”


                “Tidak jangan katakan


itu. Semuanya sudah terjadi, tidak perlu ada yang di sesali,” seru Aiden.


                “Sebaiknya Mom fokus


pada kesehatan Mom saja. Aku berencana membawa Mom pindah ke kota N di


Amerika,” ujar Aiden.


                “Kamu... kamu tinggal


di sana selama ini?” tanya Elena yang di angguki Aiden.


                “Aku akhirnya bisa


menjadi seorang Pengacara, sesuai yang aku inginkan.”


                “Mommy senang


mendengarnya. Kamu hidup dengan baik di sana,” seru Elena tersenyum bahagia


seraya menahan nyeri di tubuhnya. Ia berusaha mengatur napasnya yang terasa


sesak.


                Elena menarik kembali


tangannya, kemudian meraba-raba bagian ranjangnya sampai ia mendapatkan apa


yang ia cari di bawah bantalnya.


                “Ini-“ Elena


menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang ke Aiden. Kotak


berwarna silver itu terlihat antik.


                “Apa ini?” tanya Aiden


menerima kotak itu.


                “Bukalah.”


                Aiden membukanya dan


melihat sebuah kalung dengan gantungan berbentuk hati batupermata Rubi berwarna


merah muda. Juga sebuah cincin dengan batu permata Zamrud berwarna hijau.


                “Perhiasan siapa ini?”


tanya Aiden mengernyitkan dahinya.


                “Hanya itu harta yang


saat ini aku miliki. Itu adalah perhiasaan keluarga kita yang telah turun


temurun di berikan pada menantu keluarga Wiratama. Aku mendapatkannya saat


menikah dengan Daddy mu.” Elena menghela napasnya cukup panjang dan memejamkan


matanya untuk mengusir rasa sakit di dadanya.


                “Berikan ini pada


calon menantuku kelak. Jangan biarkan perhiasan ini hilang. Memberikan


perhiasan itu kepada menantu baru adalah sebuah tradisi keluarga kita.”


                Aiden hanya diam


menatap kotak itu.



                Aiden tidak menyangka


setelah obrolan panjang itu, Elena menghembuskan napas terakhirnya pada malam


harinya. Kini Aiden benar-benar sebatang kara tanpa kedua orang tuanya.

__ADS_1


                Saat ini Aiden tengah


berdiri di dekat peti mati sang Ibu yang telah di mandikan di beri pakaian.


Beberapa orang pelayat yang datang mengucapkan bela sungkawa padanya.


                Entah kenapa air mata


tak urungnya keluar dari pelupuk matanya. Ia memang merasa sedih dan kehilangan


                “Aiden...”


                Panggilan itu


membuatnya menoleh ke sumber suara dan tatapannya sedikit melebar melihat siapa


yang datang.


                Itu adalah Devara,


Kevin, Dave dan juga Agneta....


                5 tahun berlalu dan ia


tidak menyangka akan bertemu kembali dalam suasana seperti ini.


                “Kalian datang?” tanya


Aiden memalingkan wajahnya dengan masih menunjukkan ekspresi datar.


                “Tadi pagi kami


mendengar kabar tentang kematian tante Elena,” seru Devara.


                “Long time no see, Kakak sepupu...” seru Dave dengan tatapan tajamnya


seperti biasa.


                Aiden menoleh ke arah


Dave juga Agneta yang memilih berdiri di dekat Dave.


                “Ya, sudah lama Dave,


Neta... bagaimana kabar kalian?” tanya Aiden yang bersikap tenang dan biasa


saja.


                Ternyata debaran itu


sudah tidak ada. Ternyata rasa cinta itu sudah hilang. Dan saat ini ia kembali


berhadapan dengan Agneta. Rasa itu telah berubah walau menyisakan sebuah


trauma.


                “Seperti yang kamu


lihat. Bagaimana denganmu? Aku dengar kamu menjadi seorang pengacara di kota N,


Amerika.”


                “Ya itu benar, Adik


sepupu.” Aiden tersenyum kecil dan memalingkan tatapannya.



                Saat ini Aiden duduk


di sofa yang ada di rumah keluarga Wiratama. Setelah pemakaman Elena kemarin,


Devara memaksanya untuk datang kemari, entah akan membahas apa.


                “Kau sudah datang?”


tanya Dave yang baru saja datang dengan setelah casualnya dan duduk di atas


sofa yang ada di hadapan Aiden.


                “Ada apa kamu


memanggilku kemari?” tanya Aiden.


                “Bukan aku. Aku juga di


minta datang oleh Devara,” seru Dave dengan tenang.


dan memilih diam saja. Suasana di sana menjadi begitu canggung. Dave duduk


dengan angkuh, sebelah kakinya ia angkat ke atas lututnya sendiri.


                Aiden hanya duduk


dengan tenang dan memalingkan wajahnya dari Dave.


                Ya, mereka berdua


memiliki karakter yang berbanding terbalik.


                “Jadi, bagaimana


kabarmu di sana, Kakak?” tanya Dave.


                “Baik. Semuanya jauh


lebih baik dari sebelumnya.” Aiden berucap dengan penuh penekanan.


                “Aku senang


mendengarnya.” Dave tersenyum kecil.


                Tak lama Devara datang


menghampiri mereka.


                “Kalian sudah datang


ternyata,” serunya dan duduk di antara mereka.


                “Langsung jelaskan


saja, Vara. Aku berniat akan langsung kembali sore ini,” ucap Aiden.


                “Kenapa buru-buru


sekali?” tanya Devara.


                “Ada banyak pekerjaan


di sana,” ucap Aiden.


                “Baiklah.” Devara


membuka berkas di tangannya. “Aiden, aku dan Dave sudah berunding dan pengacara


keluarga kita juga sudah mengetahuinya. Karena kebetulan pagi ini, Mr. Bramono


ada keperluan, jadi kita bicara ini tanpa ada pengacara.”


                “Apa ada masalah?”


tanya Aiden mengernyitkan dahinya. “Atau orang tuaku masih memiliki utang?”


                “Tenang dulu, Kakak


Sepupu. Kenapa kamu begitu emosional?” seru Dave dengan tenang menyeduh minuman


yang baru saja di sediakan oleh asisten rumah tangga.


                “Tidak ada utang


apapun, Aiden. Mengenai utangorang tua mu, perusahaan Wiratama sudah


melunasinya,” seru Devara. “Dan ini adalah sertifikat rumah keluargamu yang


sempat di sita bank. Kami telah menebusnya.”


                “Dan berkas ini adalah


berkas kepemilikan 40% saham PT Wiratama. Dan telah kami rubah atas namamu.


Kamu hanya perlu menandatangani nya saja.”


                “Apa ini sejenis


sumbangan bantuan?” seru Aiden menatap dua berkas di atas meja.


                “Eh?”

__ADS_1


                “Ck, sudah aku bilang


Vara. Kakak sepupu mu ini hanya akan berpikiran negative pada kita. Dia mana


mau menerima semua kebaikan ini,” ucap Dave.


                “Diamlah Dave,” seru


Devara. “Ini bukan sumbangan, Aiden. Kamu adalah pewaris dari keluarga Wiratama


juga. Aku hanya ingin bersikap adil. Itu memang hak kamu,” ucap Devara.


                “Sahamku di Wiratama


adalah 30% begitu juga dengan Dave. Kami membagi seperti ini karena kamu adalah


Kakak kami. Cucu sulung dari keluarga Wiratama.” Jelas Devara.


                “Sekarang ini Dave


sudah tidak mengurus WT corp lagi. Aku juga sebenarnya hanya ingin menjadi Ibu


Rumah Tangga. Kalau kamu mau, kamu bisa kembali WT Corp dan mengambil alih


posisi direktur utama.”


                “Aku datang ke sini


hanya untuk menemui Ibu ku. Aku tidak berminat menetap maupun kembali ke


perusahaan,” ucap Aiden.


                Devara dan Dave saling


bertatapan.


                “Apa kamu sudah bulat


dengan keputusanmu?” tanya Devara.


                “Ya Vara, aku merasa


kehidupanku sekarang adalah di sana,” ucap Aiden.


                “Begini saja, mungkin


kamu masih perlu memikirkannya. Untuk sementara aku yang akan mengambil alih


perusahaan. Sampai kamu datang dan siap kembali memimpin perusahaan.” Aiden


hanya terdiam saja.


                “Kenapa kalian


melakukan ini? Orangtuaku hampir membuat kalian celaka,” seru Aiden.


                “Karena kita ini


keluarga. Biarkahlah masalah mengenai orang tua kita. Mereka sudah tenang di


alam sana. Dan aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kita pun jadi hancur


seperti mereka,” ucap Devara.


                Aiden masih terdiam.


                “Apa kamu masih


membenciku?” tanya Dave kembali bersuara membuat Aiden menoleh ke arahnya.


                “Masalah itu sudah


berlalu, Dave. Dan aku rasa tidak ada gunanya lagi aku membencimu,” ucap Aiden.


                “Baguslah kalau


begitu.”


                Aiden akhirnya


menandatangani berkas yang di berikan oleh Devara. Aiden tetap belum ingin


kembali ke perusahaan dan menetap di Indonesia. Entah kenapa hatinya tertuju ke


kota N dimana ada dua orang yang membuatnya selalu mengingat mereka.


                “Aku akan pergi sore


ini. Jadi sekarang aku pamit.”


                “Tidak ingin makan


siang bersama dulu?” ajak Devara.


                “Tidak. Lain kali


saja.”


                Aiden berdiri dari


duduknya diikuti Dave dan Devara. Ia berjabat tangan dengan kedua sepupunya


sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah yang di tempati Devara itu.


                Langkah Aiden terhenti


saat berpapasan dengan seseorang di pintu utama.


                “Aiden...”


                “Neta...”


                “Ayah Aiden...!” itu


adalah suara Regan yang berlari dari belakang tubuh Agneta dan menerjang Aiden.


                Aiden mengalihkan


tatapannya pada Regan yang kini sudah tumbuh semakin dewasa.


                “Hallo Regan,” seru


Aiden mengusap kepala Regan yang kini tingginya sudah sebatas perutnya.


                “Kapan datang?” tanya


Regan.


                “Sudah tidak cadel


lagi, eh?” seru Aiden membuat Regan terkekeh.


                “Tidak,” kekehnya.


                “Sudah lama tidak


bertemu, kamu semakin tampan dan dewasa saja,” seru Aiden.


                “Iya dong, Ayah Dave


kalah tampannya sama aku,” seru Regan penuh percaya diri.


                Benar - benar putra Dave. Pikir Aiden.


                “Baguslah,” seru


Aiden. “Om tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan kembali ke kota N. Kamu


sehat-sehat dan jangan nakal yah,” seru Aiden.


                “Siap!”


                “Aku pergi dulu,


Neta.”


                “Iya.”


                Aiden beranjak


melewati kedua orang yang pernah singgah dalam kehidupannya 5 tahun lalu.


                Tetapi rasa itu sudah


tidak ada. Debaran itu sudah hilang. Dan Aiden tidak merasakan sesak maupun


beban apapun lagi saat pergi meninggalkan semuanya kali ini, berbeda dengan 5


tahun yang lalu.

__ADS_1



__ADS_2