Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 25


__ADS_3

Catherine baru saja keluar dari rumahnya. Ia menatap ke langit saat butiran salju jatuh ke tanah. Ia menengadahkan telapak tangannya hingga butiran salju itu menyentuh kulit tangannya.


Tidak terasa, sekarang sudah masuk ke musim dingin dimana salju pertama sudah turun.


Saat tengah menikmati hujan salju pertama, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuatnya melihat ke arah seseorang itu.


"Alan?" seru Catherine.


"Hai, selamat pagi," sapanya dengan senyuman lebar.


"Kamu? Kenapa kesini?" tanya Catherine mengernyitkan dahinya.


"Sengaja aku datang kemari untuk mengantarmu ke kantor," seru Alan.


"Tapi arah menuju kantor berbeda denganmu," seru Catherine.


"Tidak masalah. Ayo aku antar kamu ke kantor," ucap Alan menarik pergelangan tangan Catherine dan masuk ke dalam mobil Alan.


Dari kejauhan sebuah mobil tampak berhenti dan sang sopir terlihat mengawasi Catherine yang masuk ke dalam mobil Alan. Kedua tangannya terlihat mencengkram setir mobil.


"Ada apa denganku," gumamnya yang tak lain adalah Aiden.


"Kenapa rasanya sangat marah melihat Catherine bersama pria itu."


Aiden memukul setir mobilnya karena kesal. Sesaat ia terdiam menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


***


"Mr. Aiden, anda di minta datang ke ruangan Mr. George," seru Sekretaris Aiden saat ia hendak masuk ke dalam ruangannya.


Aiden sudah tau cepat atau lambat ia akan di panggil oleh pemimpin Firma hukum dimana ia bekerja. Kasus Menteri itu sepertinya telah sampai ke telinga atasannya.


"Baik," jawab Aiden.


---


Saat ini Aiden sudah berdiri di depan pintu besar. Ia menguatkan dirinya sebelum mengetuk ruangan itu.


Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Selamat Pagi, Mr."


"Silahkan duduk, Aiden," seru pria tua itu.


Aiden mengambil duduk di hadapan Mr. George yang terlihat emosi.


"Anda memanggil saya?" tanya Aiden.


"Lihat ini!" George melemparkan koran ke atas meja di hadapan Aiden. "Apa-apaan ini Aiden. Bisa kau jelaskan?"


Geroge terlihat emosi sekaligus kesal.


"Apa ada masalah Pak?" tanya Aiden dengan nada tenang.


"Kamu jelas sudah mengetahuinya. Bagaimana media mendapatkan aib Menteri Lian. Bukankah berkas bukti skandalnya kamu yang simpan," serunya. "Kamu yang menangani kasusnya saat itu."

__ADS_1


"Ya," jawab Aiden.


"Apanya yang Ya!"


Brak


George menggebrak meja karena emosi. "Jadi benar kamu yang menyebarkan berita ini?" tanya George.


"Tanpa aku sebar pun, Menteri Lian memang sudah sangat banyak melakukan penggelapan dana dan bermain wanita di luar. Aku hanya tidak suka melindungi seorang penjahat," jawab Aiden dengan tenang.


"Dimana otakmu, hah? Apa kau ingin Firma ini hancur dan di tutup!" pekik George. "Jangan kelewatan batasanmu, Aiden. Kau di sini hanya seorang Pengacara! Kau harus mengikuti aturan yang aku buat!"


Aiden tersenyum kecil. "Apa Menteri itu sangat berpengaruh pada Firma ini?" tanya Aiden.


"Kalau Firma ini berjalan karena melindungi para penjahat. Maka aku akan senang hati mengundurkan diri dari sini," ucap Aiden.


"Jangan sombong kau Aiden. Karena kau pengacara yang begitu handal dan berbakat di sini. Kau akan tamat saat aku mencabut ijinmu," seru George dengan nada angkuh.


George menghela nafasnya seraya kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Kau harus menarik kembali semua berita ini dan mengakui kalau kau yang telah memfitnah Menteri Lian. Katakan kalau dia tidak bersalah," seru George.


"Maaf tapi aku tidak bisa. Aku bekerja untuk kejujuran."


"Kau sungguh angkuh dan sombong," ejek George.


Aiden hanya diam membisu.


"Baiklah kalau kau memang tidak ingin melakukan hal itu. Karena kau sudah membuatku rugi besar karena tuntutan dari Menteri Lian. Maka aku akan putuskan. Mulai sekarang kau bukan lagi pengacara di sini," ucap George.


Aiden hanya terdiam. Ia sudah tau resiko apa yang akan dia terima.


"Terima kasih Mr. George. Kalau begitu saya permisi," sahut Aiden berjalan keluar ruangan Geroge.


***


Aiden berdiri di sebuah jembatan dengan memegang minuman kaleng. Tatapannya tertuju menatap ke depan, sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan sebelah lagi memegang bir dalam kaleng. Ia meneguknya sesekali.


"Ah jadi sekarang dalam sekejap kau berubah menjadi seorang pengangguran," seru Mike berdiri di sisi Aiden bersandar ke pegangan jembatan seraya meneguk bir dalam kalengnya.


"Hmmm... apa kau akan membantuku mencari pekerjaan?" tanya Aiden.


"Ck. Aku saja kerja serabutan. Kalau kau ingin pekerjaan, minta saja pada Harry," seru Mike membuat Aiden tersenyum kecil.


"Aiden, sebenarnya aku penasaran. Kamu melakukan pengorbanan besar untuk wanita itu. Apa kamu begitu mencintainya?" tanya Mike.


"Aku tidak tau. Aku hanya ingin melindunginya, dan aku tidak ingin dia di hina dan di tuduh sebagai wanita tidak baik dan bermoral," ucap Aiden.


"Ah ternyata kau memang mencintainya," seru Mike.


"Benarkah? Apa yang kau tau tentang cinta, Mike?" tanya Aiden melihat ke arah Mike. "Apa kau pernah mencintai seseorang?"


"Belum sih," kekeh Mike.


"Aku tidak akan pernah percaya pendapatmu tentang cinta. Kamu sendiri pun tidak pernah jatuh cinta dan pekerjaanmu hanya bersenang-senang dengan beberapa wanita," seru Aiden.

__ADS_1


"Tapi aku juga tidak begitu bodoh mengenai cinta. Sebenarnya aku masih tidak menyangka. Demi dia, kamu rela melepaskan impianmu," seru Mike membuat Aiden terdiam dan fokus menikmati minumannya.


***


Saat ini Aiden mendatangi kantor Catherine dengan memakai pakaian casual dan mantel berwarna coklat. Ia berjalan melewati lobby kantor dan menuju ke lift.


Ting


Pintu lift terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang menyesakkannya.


Di depannya Alan tengah berpelukan dengan Catherine. Mendengar suara lift, Catherine terlihat mendorong dada Alan dan menoleh ke arah lift. Tatapannya melebar saat beradu pandang dengan mata tajam Aiden.


"Baiklah Cath, sampai ketemu akhir pekan nanti. Aku pergi yah," seru Alan.


"Iya, hati-hati," seru Catherine tersenyum kecil.


Alan masuk ke dalam lift dan Aiden berjalan keluar dari lift dengan perasaan tidak karuan. Ia berjalan terlebih dulu meninggalkan Catherine yang sepertinya masih ingin melihat kepergian Alan.


Aiden mengambil duduk di kursi yang ada di ruangan Catherine menunggu kedatangan Catherine. Tak lama terdengar derap langkah anggun dan hentakan sepatu yang teratur.


Catherine masuk ke dalam ruangan, kemudian mengambil duduk di kursi kebesarannya tepat berhadapan dengan Aiden.


"Sepertinya kau semakin dekat dengan Ceo itu," seru Aiden.


"Ada apa kamu datang kemari? Bukankah dokumen perjanjian kemarin sudah di kirim ke kantormu," ucap Catherine.


"Aku kemari hanya akan mengatakan sekaligus berpamitan," seru Aiden membuat Catherine menegang.


Pamitan....?


Catherine masih menanti lanjutan ucapan dari Aiden. Ia berhapan ini bukan sesuatu yang akan sangat menyakitinya.


"Aku berhenti dari Firma. Ke depannya akan ada pengacara yang menggantikanku untuk bekerja di sini."


Deg


"Ke-kenapa?" tanya Catherine.


"Apanya?"


"Kenapa kamu keluar dari Firma?" tanya Catherine.


"Mungkin aku tidak cocok bekerja di sana," jawab Aiden dengan santai.


"Baiklah aku tidak akan mengganggu mu lebih lama. Aku pergi," ucap Aiden berdiri dari duduknya kemudian menyodorkan tangannya ke arah Catherine.


Catherine melihat tangan Aiden di depannya dengan perasaan tak menentu. Setelah cukup lama, ia pun menyambut uluran tangan Aiden.


"Terima kasih atas kerjasama kita selama ini," ucap Aiden.


"Iya."


Setelah mengatakan itu, Aiden pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Catherine.


*** 

__ADS_1


TBC...


14-04-2020


__ADS_2