Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 34


__ADS_3

Castnya Aiden



Aiden berdiri di jembatan tempat biasa dirinya menenangkan diri. Salju masih setia menghujani kota N. Udara dingin menusuk tulang juga sendi-sendi. Tetapi semua itu tak berpengaruh pada Aiden.


"Kamu dimana Cath," gumam Aiden menatap nyalang ke depan.


Kini ia dapat merasakan, sesaknya kehilangan. Sesaknya di tinggalkan dan sesaknya rasa rindu ini.


Beribu kali ia mengutuk dirinya yang seakan mengunci dirinya sendiri dalam belenggu itu.


Benar kata Evelyn. Catherine dan Agneta berbeda, jelas kalau Catherine mencintainya. Sedangkan Agneta-?


Bahkan Aiden sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Agneta memilih bersama nya karena balas budi, tidak lebih dari itu.


Betapa menyedihkannya Aiden. Bahkan ia tidak mampu membedakan mana cinta yang tulus dan mana yang hanya balas budi.


Aiden menghela nafasnya panjang seraya mengusap wajahnya yang terasa dingin dan seakan beku. Ia memejamkan matanya dan merasakan salju dingin menyentuh wajahnya.


Ia kembali membuka matanya dan bayangan wajah Catherine saat menangis berada tepat di hadapannya.


"Cath-" panggilnya tetapi bayangan itu perlahan menghilang.


Kemudian ia melihat bayangan Cath yang mengatakan kalau ia mencintainya dan kata-kata menyakitkan lainnya.


Tangan Aiden terangkat ingin menggapai bayangan itu tetal lenyap begitu saja. Air mata Aiden tanpa sadar luruh dari sudut matanya.


"Maafkan aku," gumamnya. "Aku terlalu bodoh."


Aiden mengepalkan kedua tangannya yang memegang pagar pembatas jembatan.


Dering handphone menyadarkan lamunannya.


"Ya Harry?"


"...."


"Benarkah? Aku akan segera datang."


Aiden memutuskan sambungan telponnya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


***


Catherine masih duduk di tempatnya dengan wajah pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya kaku juga ngilu. Udara di sini pun begitu dingin dan menusuk. Ia menatap sekeliling yang tidak terlihat ada satu orang pun di sana.


"Hmm..." gumamnya memejamkan matanya sesaat dan kembali membuka matanya.


'Aku harap keadaan Mine baik-baik sana.' batinnya.


Sekelebat bayangan Aiden muncul di kepalanya. 'Aiden... Apa kamu mencariku?' batin Catherine.


---


Saat ini Aiden dan Harry tengah berada di dalam mobil milik Harry. Beberapa anak buah Harry mengikut di mobil belakang dan satu mobil yang memimpin di bagian depan.


"Apa ini tidak begitu ramai untuk menyelamatkan Catherine? Aku takut akan mengundang kecurigaan Robert dan membuat Catherine terancam," seru Aiden.


"Santai saja," seru Harry yang tengah duduk santai di samping Aiden.


Di depan ada dua orang anak buah Harry yang menyetir mobil dan satunya lagi duduk di kursi penumpang depan.


Harry adalah pewaris tunggal dari perusahaan besar di bidang hiburan dan pelatihan untuk para bodyguard.


"Apa sudah pasti Catherine di sekap di sana?" tanya Aiden.


"Aku percaya anak buah ku tidak akan keliru," seru Harry dengan penuh percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri. Aku takut semua ini hanya jebakan Robert," ucap Aiden.


"Ck. Kau ini kenapa jadi begitu cerewet sih," seru Harry. "Bahkan melebihi si Mike. Benar sekali kalau orang di landa penyakit cinta itu akan keluar dari karakter sesungguhnya."


"Bicara apa kau ini," seru Aiden.


"Ngomong-ngomong aku sudah membantumu sebesar ini. Apa kau tidak berniat membalas budi?" seru Harry.


"Dengan teman sendiri pun begitu perhitungan," seru Aiden.


"Hoho bisnis is bisnis. Tidak ada namanya teman," seru Harry.


"Ck. Baiklah aku akan membayarmu nanti," seru Aiden.


"Memangnya apa yang bisa kau bayarkan. Kau kan sekarang pengangguran," ejek Harry membuat Aiden mencibir.


"Aku tinggal sombong sebenarnya. Tapi aku akan membuatmu kecewa. Aku bukanlah pengangguran, aku masih memiliki saham di WT. Ya walaupun saham warisan," seru Aiden.


"Jadi kau berniat menikahi Catherine dan memboyong dia dan Jasmine ke Indonesia?" tanya Harry.


"Ah kau berpikir kejauhan," ucap Aiden.


"Hey. Apa kau tidak berniat menikahi Catherine?" seru Harry.


"Tidak bukan begitu. Aku hanya takut Catherine kembali menolak ku," seru Aiden merenung sesaat. "Yang jelas sekarang aku ingin menolongnya dari pria brengsek itu," ucap Aiden.


"Baiklah terserah kau." Harry terdiam sesaat. "Oh iya beberapa hari lalu aku melihatmu dengan seorang wanita. Dia adalah seorang designer terkenal di kota ini. Bagaimana kalau bayaran dari bantuanku ini, kau memperkenalkan ku dengan wanita cantik itu," seru Harry membuat Aiden menoleh ke arahnya.


"Maksudmu Evelyn?" tanya Aiden.


"Ya, nona Evelyn. Sudah lama aku memperhatikan dan mengagumi nya. Aku berusaha mendekatinya tetapi dia seakan menjaga jarak. Makanya saat kemarin melihatmu dengannya, aku rasa kau dekat dengannya," ucap Harry.

__ADS_1


"Jadi Brother. Jangan rakus, kau cukup Catherine saja dan berikan Evelyn padaku," seru Harry.


"Kau pikir mereka barang yang bisa di serahkan seenaknya," ucap Aiden. "Aku akan mengenalkanmu dengan Eve. Setelahnya kau usaha sendiri."


"Oke."


"Tapi ingat, Evelyn bukan seperti wanita yang pernah kau kencani. Jangan sakiti dia, kalau kau berniat serius padanya, aku akan mendukungmu."


"Saat pertama kali bertemu dengannya, aku merasa jantungku berdebar cepat dan rasanya ingin loncat keluar. Aku tidak pernah merasakan itu sebelumnya saat bertemu dengan beberapa wanita. Dan semakin kesini aku semakin di buat penasaran olehnya."  Harry termenung mengingat kejadian pertemuan pertama dirinya dengan Evelyn.


"Kau tau sendiri aku tidak pernah mengejar wanita seperti ini," seru Harry.


"Ya aku percaya padamu. Evelyn itu sahabatnya Catherine," seru Aiden.


"Wow, dunia ini sungguh sempit," seru Harry sangat bersemangat.


Tak lama mobil mereka memasuki area pegunungan daan terlihat sepi juga jalanan nya begitu berbatu.


"Ah sialan si Robert itu. Dia membawa Catherine kemari," seru Aiden mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin segera memukul wajah Robert hingga hancur.


"Kita akan parkir mobil di sini. Dari sini masih cukup jauh. Tapi kalau dengan menggunakan mobil kita akan mengundang kecurigaan mereka," seru anak buah Harry.


Mereka semua menuruni mobil dan berjalan kaki dengan tanpa meninggalkan jejak dan mengundang kecurigaan.


---


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Mereka melihat sebuah bangunan besar. Lebih tepatnya sebuah gedung untuk pembuatan sesuatu. Dan terlihat beberapa orang berjaga di luar bangunan.


"Sekarang bagaimana?" tanya Aiden.


"Kita akan mengawasi dulu di sini. Beberapa anak buahku akan menerobos masuk di setiap sisi," jelas Harry.


"Ngomong-ngomong apa kau bisa bela diri?" tanya Harry menatap Aiden.


"Apa kau meremehkan ku?" seru Aiden tampak kesal karena Harry meremehkan nya.


"Baguslah kalau begitu," kekehnya membuat Aiden mencibir.


Harry memberi intruksi ke beberapa anak buahnya untuk maju.


Terlihat beberapa anak buah Harry dengan mudah menjatuhkan musuh dengan mudah.


"Ayo kita masuk," seru Harry.


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gedung itu.


Gedung itu sangat besar dan memiliki banyak lorong.


Aiden dan Harry semakin masuk ke bagian dalam bangunan dan meninggalkan beberapa anak buah Harry yang tengah menjatuhkan beberapa penjaga.


Aiden dan Harry berjalan menyusuri lorong panjang hingga mereka mendengar suara langkah kaki. Dengan cepat Harry menarik Aiden memasuki sebuah ruangan.


"Oh God!" pekik Aiden saat melihat beberapa binatang seperti ular, burung, harimau, beruang, dan beberapa jenis ikan.


"Ini semua adalah binatang yang di lindungi," seru Aiden.


"Berarti si Robert ini melakukan jual beli gelap," seru Harry.


"Dia benar-benar lintah," tambah Harry.


"Apa hubungannya dengan lintah? Lintah itu seperti rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Kalau tidak memahami perumpamaan jangan asal bicara," seru Aiden membuat Harry mencibir kesal.


"Hah, baiklah," seru Harry.


"Kita harus melaporkan semua ini," ucap Aiden berjalan mendekati pintu dan mengintip.


"Sepertinya sudah tidak ada orang lagi. Ayo keluar," ucap Aiden yang di angguki Harry.


***


Di ruangan lain Robert terlihat memaksa Catherine untuk menandatangi berkas.


"Cepat!" bentak Robert.


"Aku tidak akan melakukannya." Catherine tetap pada pendiriannya.


"Kau sungguh keras kepala!" pekik Robert sudah habis kesabaran karena Catherine.


"Ah!" pekik Catherine saat Robert menjambak rambutnya membuat kepala Catherine mendongak ke atas.


"Kau sungguh tidak takut. Kau pikir ancaman ku hanya ucapan belaka," bisiknya dengan tajam.


"Bawa masuk ular itu," seru Robert.


Tak lama dua orang anak buahnya membawa kotak besar yang terbuat dari kaca. Di dalamnya terlihat seekor ular boa berukuran besar.


"Ular itu sudah lama tidak makan. Kalau kau masih tidak menandatangi berkas ini. Maka kau akan jadi santapannya," seru Robert.


"Kau pikir aku takut," seru Catherine dengan nada tajam dan sedikit meringis karena jambakan Robert semakin kuat.


"Kau masih ingin bermain-main yah. Baiklah kalau begitu, kita bermain dulu sebelum kau menjadi santapan ular boa itu," seru Robert menyeringai.


Melihat seringai itu Catherine langsung menjadi ketakutan. Ia memiliki firasat buruk.


"Ah!"


Robert tiba-tiba saja menarik kemeja Catherine di bagian lengannya hingga sobek. Kemudian ia melepaskan jambakannya dan melepaskan ikatan Catherine.


Setelah itu ia melemparkan tubuh Catherine hingga tersungkur di lantai tepat di hadapan 10 anak buahnya.

__ADS_1


"Aku memberikan bonus untuk kalian. Nikmatilah tubuh ****** ini bersama-sama," seru Robert membuat kedua mata Catherine melebar.


"Kau biadab! Brengsek!" teriak Catherine.


"Hahaha" Robert tertawa puas saat para anak buahnya sudah mengerumuni Catherine yang berusaha menepis setiap tangan yang ingin menyentuhnya.


"Lepaskan! Pergi!" teriak Catherine terisak.


'Tolong siapapun selamatkan aku. Lebih baik aku mati daripada di lecehkan seperti ini,' batin Catherine.


Tubuhnya di dorong hingga terlentang di atas lantai.


"Biar aku dulu yang mencoba bagaimana rasanya Nyonya besar ini,"  tawa salah satu anak buah Robert.


"Menjauh!" teriak Catherine berusaha mencari sesuatu untuk melindungi dirinya.


"Nikmatilah ******." tawa Robert menggelengar.


Catherine berusaha menghindar walau sulit. Kemudian dua orang dari mereka memegang kedua tangan Catherine yang terus melawan. Kemudian dua orang lagi menahan kedua kaki Catherine. Kini posisi Catherine sangat tersudut dan ia tidak bisa melakukan apapun.


Seorang pria mulai membuka sabuk celananya di depan Catherine membuatnya memalingkan wajahnya diiringi isakan.


Bagaimana ini....


Bug


Pria yang sudah membuka celananya itu tiba-tiba terlempar ke belakang karena tendangan seseorang.


Catherine menoleh saat mendengar suara tendangan itu. Dan matanya melebar penuh rasa bahagia dan syukur.


"Aiden..." gumamnya.


Aiden melihat kondisi Catherine yang penuh luka dan pakaian sobek. Emosinya memuncak.


Ia langsung menendang keempat orang yang tengah menahan Catherine. Sedangkan Harry dan dua orang anak buahnya sudah berkelahi melawan musuh yang lain. Robert terlihat melarikan diri dengan membawa berkas. Tetapi sebelum itu, ia melepaskan ular besar itu dari kandangnya.


Aiden melepaskan mantel hitam yang ia gunakan. Kemudian ia berjalan mendekati Catherine. Ia berjongkok di hadapan Catherine.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aiden membantu Catherine terbangun dan memasang kan mantelnya di tubuh Catherine.


"Aiden..." Catherine langsung memeluk tubuh Aiden dan terisak.


"Maafkan aku karena terlambat menolongmu," ucap Aiden.


Catherine hanya menggelengkan kepalanya dan tetap terisak.


"Sudahlah. Semuanya baik-baik saja," ucap Aiden.


"Aiden awas!"


Catherine mendorong tubuh Aiden menjauh darinya saat seseorang memukulkan kursi kayu dengan keras ke arah mereka.


"Ah!"


"Catherine!" pekik Aiden saat pukulan kursi itu mengenai punggung dan kepala bagian belakang Catherine.


Tubuh Catherine ambruk dengan darah mengalir dari bagian belakang kepalanya.


Pandangan Catherine mulai kabur. Aiden terlihat berkelahi dengan penjahat yang memukul Catherine.


Catherine berkeringat dingin dan darah terus mengalir membuatnya memegang kepalanya yabg terasa sakit.


Seekor ular terlihat mendekatinya. Pandangan Catherine semakin lama semakin kabur dan ia tidak begitu jelas melihat ular yang semakin mendekatinya.


Ular itu sudah dekat dengan kaki Catherine. Ular itu mulai melilit kaki Catherine yang sudah tak bertenaga.


"Oh God!" pekik Aiden saat melihat setengah tubuh Catherine sudah di lilit ular boa besar itu.


Tanpa pikir panjang Aiden mencengkram bagian leher ular itu dan menusukkan pisau lipat di tubuhnya. Ular itu meronta dan melepaskan lilitannya di tubuh Catherine.


Aiden sempat berguling dengan masih memegang kuat ular itu. Dan berusaha melawan ular yang semakin agresif dan berbahaya.


Dor


Aiden mampu menghela nafasnya saat Harry menembak tepat sasaran dan ular itu langsung mati.


Dengan cepat Aiden beranjak dan berlari mendekati tubuh Catherine yang sudah terkulai di lantai.


"Cath." Aiden membawa tubuh Catherine ke dalam dekapannya. "Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit."


"A-aiden..." Catherine menatap Aiden dengan tatapan sendu.


Mata Aiden memerah melihat Catherine yang sudah terluka parah.


"Bertahanlah aku mohon," seru Aiden dan air matanya luruh membasahi pipi.


"Kamu menangis?" gumam Catherine tangannya terangkat mengusap air mata di pipi Aiden.


"Aku mencintaimu... Aiden..."


Catherine kehilangan kesadarannya setelah mengatakan itu.


"Catherine!"


****


Tbc....


01-05-2020

__ADS_1


__ADS_2