Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 17


__ADS_3

Aidenmembuntuti


Catherine menuju ruangan Catherine setelah meeting bersama Alan selesai.


                “Siapa pria itu?”


tanya Aiden to the point saat mereka sampai didalam ruangan milik Catherine.


                “Sedang apa anda di


sini, Mr. Aiden? Apa ada hal yang tidak anda pahami mengenai kerja sama tadi?”


tanya Catherine kembali dingin dan bersikap formal menatap ke arah Aiden.


                “Cukup Cath. Jangan


bersikap dingin lagi padaku,” seru Aiden berjalan mendekati Catherine.


                “Tolong pergilah, Mr.


Aiden.” Catherine memalingkan wajahnya saat Aiden berdiri di hadapannya.


                “Siapa pria itu?


Kenapa kalian sangat akrab?” tanya Aiden.


                “Apa urusannya


denganmu. Sudah aku katakan jangan urusin lagi hidupku dan jangan ganggu


kehidupanku lagi. Kita di sini hanya sebagai rekan kerja, dan jangan lupa Mr.


Aiden. Aku adalah atasanmu!”


                Aiden membeku


mendengar penuturan Catherine barusan.


                “Pergilah, aku ingin


istirahat.” Catherine berpaling menuju kursi kebesarannya.


                Aiden beranjak pergi


dan sedikit keras saat menutup pintu ruangan. Catherine yang masih berdiri


dengan berpegangan pada kursi kebesarannya memejamkan matanya dengan tangannya


mencengkram kulit dari kursi.


                ‘Berhenti untuk memperdulikanku, Aiden. Jangan semakin menyiksa hatiku.


Aku sangat terluka karenamu,’ batin Catherine dan tanpa sadar air matanya


kembali jatuh membasahi pipinya.



                “Sial!”


                Aiden meninju setir


mobilnya. Ia rasanya sangat terbakar dan begitu emosi.


                Ada apa dengan


dirinya. Kenapa ia merasa begitu sangat marah melihat kedekatan Catherine


dengan Alan. Apa masalahnya?


                Aiden termenung seolah


mencari jawaban dalam dirinya. Ada apa dengannya?


                Aiden memegang dadanya


yang sebelah kiri. Kenapa rasanya begitu sakit.



                Aiden datang ke klab


milik Harry. Di private room terlihat sudah ada Mike juga Harry yang merupakan


temannya.


                “Kau datang terlambat,


Brother,” ucap Mike saat melihat Aiden masuk ke dalam ruangan.


                “Sepertinya kamu tidak


bersemangat,” ucap Harry menghisap rokok di tangannya seraya menyilangkan


kakinya. “Bagaimana kalau aku undang beberapa primadona di klab ini untuk


menemanimu.”


                “Tidak perlu. Aku


tidak suka terlalu ramai,” ucap  Aiden


duduk di samping Mike.


                “Kalau begitu hari ini


kamu harus mentraktirku dan memberikanku voucher liburan bersama wanita. Aku


sudah berhasil meredakkan issue dan berita tentang Catherine mu itu,” seru


Mike.


                Aiden tersenyum ke


arah Mike.


                “Thanks Mike,”


ucapnya.


                “Jangan lupa


imbalannya,” seru Mike.

__ADS_1


                “Tenang saja. Aku akan


siapkan cek untuk liburanmu,” ucap Aiden.


                “Begitu dong,” jawab


Mike tampak senang.


                “Kau sudah gila Aiden.


Padahal di foto itu wajahmu tidak terekspos. Tapi kamu malah susah


menghilangkan pemberitaan itu,” seru Harry mengejeknya.


                Aiden tak menjawabnya


dan meneguk minuman dalam gelas yang telah di siapkan untuk dirinya.


                “Namanya juga cinta,”


ejek Mike.


                “Diamlah Mike.”


                “Kau beneran jatuh


cinta dengan sahabatmu itu?” tanya Harry.


                “Aku tidak tau,” jawab


Aiden santai.


                “Kau masih ragu dengan


perasaanmu sendiri. Tetapi melakukan hal besar seperti ini. Siap-siap saja kamu


mendapatkan masalah dengan Menteri itu,” ucap Mike.


                “Bahkan kamu rela


kehilangan impianmu demi wanita itu. Hebat sekali,” seru Harry bertepuk tangan.


                “Kalian sungguh


berisik,” ucap Aiden meneguk minumannya habis dan kembali menuangkan wine dari


botol ke dalam gelasnya kembali.


                “Hei, apa kamu berniat


untuk mabuk?” tanya Mike.


                “Ya.”


                Harry terkekeh.


“Biarkan saja Mike. Semoga dengan mabuk berat, dia bisa sadar kalau dia telah


jatuh cinta,” kekeh Harry meneguk minumannya.


                “Ck. Aku benar-benar


tidak paham dengan pemikirannya,” seru Mike bersandar ke sofa seraya memakan camilan



                “Beritanya lenyap


begitu saja?” gumam Catherine melihat tablet miliknya.


                “Ini tidak mungkin


lenyap begitu saja kalau bukan karena ulah tangan seseorang. Apa ini karena


Robert sudah menyerah?”


                “Miss, Mr. Alan datang


untuk menemui Miss.”


                Catherine menyimpan


tabletnya di laci meja. “Baiklah persilakan masuk.”


                2Tak lama setelah


perintah dari Catherine. Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok tampan di


sana.


                “Alan, silakan masuk,”


seru Catherine menyambut Alan.


                Mereka duduk di sofa.


                “Aku datang untuk


mengajakmu makan siang,” seru Alan.


                “Kau jauh-jauh datang ke


sini hanya untuk mengundangku makan siang?” tanya Catherine.


                “Ya. Lagipula sudah


lama kita tidak bertemu dan mengobrol, bukan?” seru Alan.


                Alan adalah teman kuliah


Catherin di Oxford bersama dengan Evelyn.


                “Benar juga sih. Kalau


begitu ayo kita pergi,” ucap Catherine yang di angguki Alan.



Catherinebaru saja


kembali dari makan siangnya bersama Alan. Mereka berpisah di lobby kantor. Dan


kini Catherine berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.

__ADS_1


                Catherine berjalan


sedikit melamun hingga tatapannya melebar melihat seseorang berdiri di dekat


meja sekretarisnya. Karena kehilangan fokus, tubuhnya mendadak oleng karena


kaget dan hampir saja jatuh ke belakang kalau seseorang tidak dengan sigap


merengkuh pinggangnya juga memegang lengannya.


                Tatapan mereka berdua


terkunci satu sama lainnya.


                Aiden....


                Sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri dan berusaha melupakan, tetap


saja ujung-ujungnya pertahanannya kembali runtuh dan kembali jatuh dalam


perasaan cintanya sendiri.


                Aiden membantu


Catherine berdiri tegak dan melepaskan pegangannya. Catherine berdehem sedikit


dan sedikit menjaga jarak pada Aiden. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain.


Kebetulan sekretarisnya belum kembali dari makan siangnya.


                “Apa ada masalah, Mr.


Aiden?” tanya Catherine.


                “Kamu makan siang


dengan Alan?” tanya Aiden.


                “Bukan urusan anda.


Kalau ada pertanyaan mengenai pekerjaan, anda bisa bicarakan dengan sekretaris


saya,” seru Catherine dengan nada formal.


                Catherine kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


                “Cath, apa harus


seperti ini?” tanya Aiden menatap Catherine.


                Catherine menghentikan


langkahnya mendengar pertanyaan Aiden. Ia menghela napasnya kemudian kembali


melangkahkan kakinya.


                Tetapi sebelum kakinya


melangkah, seseorang menarik paksa lengannya membuatnya tertarik dan menabrak


sesuatu yang keras.


                “Aiden lepaskan aku!”


Catherine berusaha mendorong dada Aiden yang kini berada di depannya. Aiden


memeluknya dengan paksa.


                “Aiden, lepaskan aku!”


                “Sebentar saja,” ucap


Aiden memeluk Catherine dengan erat dan menyandarkan kepala Catherine di dada


bidangnya yang berdebar kencang.


                “Jangan


mempersulitku,” gumam Catherine sudah tak mampu berusaha tegar lagi.


Pertahanannya kini telah runtuh.


                “I Miss You, Cath.”


Aiden bergumam pelan dan mampu terdengar oleh Catherine.


                Catherine memejamkan


matanya merasakan sesuatu yang menghangat ke dalam hatinya. Ia sudah ingin


menangis dan menjawab ungkapan Aiden. Tetapi lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya


terasa tersumbat sesuatu yang keras.


                “Apa yang kamu


inginkan, Aiden? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku harus melupakanmu


dan mencari kebahagiaanku. Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya akan terus


menyakitiku,” ucap Catherine melepaskan pelukannya dan segera memalingkan


wajahnya.


                “Jangan seperti ini


dan semakin mempersulitku. Aku mohon.”Setelah mengatakan itu, Catherine masuk


ke dalam ruangannya dan menutup rapat ruangannya. Ia bersandar ke daun pintu


dengan memejamkan matanya. Air mata luruh membasahi pipinya.


                ‘I Miss You too, Aiden...’ batin  Catherine memegang dadanya yang terasa nyeri.


                Aiden berjalan dengan


tatapan kosong menyusuri lorong kantor dan masuk ke dalam lift.


                Ada apa dengan dirinya....? apa ia memiliki perasaan lebih pada


Catherine atau hanya sayang sebagai sahabat?


__ADS_1


__ADS_2