
Aidenmembuntuti
Catherine menuju ruangan Catherine setelah meeting bersama Alan selesai.
“Siapa pria itu?”
tanya Aiden to the point saat mereka sampai didalam ruangan milik Catherine.
“Sedang apa anda di
sini, Mr. Aiden? Apa ada hal yang tidak anda pahami mengenai kerja sama tadi?”
tanya Catherine kembali dingin dan bersikap formal menatap ke arah Aiden.
“Cukup Cath. Jangan
bersikap dingin lagi padaku,” seru Aiden berjalan mendekati Catherine.
“Tolong pergilah, Mr.
Aiden.” Catherine memalingkan wajahnya saat Aiden berdiri di hadapannya.
“Siapa pria itu?
Kenapa kalian sangat akrab?” tanya Aiden.
“Apa urusannya
denganmu. Sudah aku katakan jangan urusin lagi hidupku dan jangan ganggu
kehidupanku lagi. Kita di sini hanya sebagai rekan kerja, dan jangan lupa Mr.
Aiden. Aku adalah atasanmu!”
Aiden membeku
mendengar penuturan Catherine barusan.
“Pergilah, aku ingin
istirahat.” Catherine berpaling menuju kursi kebesarannya.
Aiden beranjak pergi
dan sedikit keras saat menutup pintu ruangan. Catherine yang masih berdiri
dengan berpegangan pada kursi kebesarannya memejamkan matanya dengan tangannya
mencengkram kulit dari kursi.
‘Berhenti untuk memperdulikanku, Aiden. Jangan semakin menyiksa hatiku.
Aku sangat terluka karenamu,’ batin Catherine dan tanpa sadar air matanya
kembali jatuh membasahi pipinya.
Ꙭ
“Sial!”
Aiden meninju setir
mobilnya. Ia rasanya sangat terbakar dan begitu emosi.
Ada apa dengan
dirinya. Kenapa ia merasa begitu sangat marah melihat kedekatan Catherine
dengan Alan. Apa masalahnya?
Aiden termenung seolah
mencari jawaban dalam dirinya. Ada apa dengannya?
Aiden memegang dadanya
yang sebelah kiri. Kenapa rasanya begitu sakit.
Ꙭ
Aiden datang ke klab
milik Harry. Di private room terlihat sudah ada Mike juga Harry yang merupakan
temannya.
“Kau datang terlambat,
Brother,” ucap Mike saat melihat Aiden masuk ke dalam ruangan.
“Sepertinya kamu tidak
bersemangat,” ucap Harry menghisap rokok di tangannya seraya menyilangkan
kakinya. “Bagaimana kalau aku undang beberapa primadona di klab ini untuk
menemanimu.”
“Tidak perlu. Aku
tidak suka terlalu ramai,” ucap Aiden
duduk di samping Mike.
“Kalau begitu hari ini
kamu harus mentraktirku dan memberikanku voucher liburan bersama wanita. Aku
sudah berhasil meredakkan issue dan berita tentang Catherine mu itu,” seru
Mike.
Aiden tersenyum ke
arah Mike.
“Thanks Mike,”
ucapnya.
“Jangan lupa
imbalannya,” seru Mike.
__ADS_1
“Tenang saja. Aku akan
siapkan cek untuk liburanmu,” ucap Aiden.
“Begitu dong,” jawab
Mike tampak senang.
“Kau sudah gila Aiden.
Padahal di foto itu wajahmu tidak terekspos. Tapi kamu malah susah
menghilangkan pemberitaan itu,” seru Harry mengejeknya.
Aiden tak menjawabnya
dan meneguk minuman dalam gelas yang telah di siapkan untuk dirinya.
“Namanya juga cinta,”
ejek Mike.
“Diamlah Mike.”
“Kau beneran jatuh
cinta dengan sahabatmu itu?” tanya Harry.
“Aku tidak tau,” jawab
Aiden santai.
“Kau masih ragu dengan
perasaanmu sendiri. Tetapi melakukan hal besar seperti ini. Siap-siap saja kamu
mendapatkan masalah dengan Menteri itu,” ucap Mike.
“Bahkan kamu rela
kehilangan impianmu demi wanita itu. Hebat sekali,” seru Harry bertepuk tangan.
“Kalian sungguh
berisik,” ucap Aiden meneguk minumannya habis dan kembali menuangkan wine dari
botol ke dalam gelasnya kembali.
“Hei, apa kamu berniat
untuk mabuk?” tanya Mike.
“Ya.”
Harry terkekeh.
“Biarkan saja Mike. Semoga dengan mabuk berat, dia bisa sadar kalau dia telah
jatuh cinta,” kekeh Harry meneguk minumannya.
“Ck. Aku benar-benar
tidak paham dengan pemikirannya,” seru Mike bersandar ke sofa seraya memakan camilan
Ꙭ
“Beritanya lenyap
begitu saja?” gumam Catherine melihat tablet miliknya.
“Ini tidak mungkin
lenyap begitu saja kalau bukan karena ulah tangan seseorang. Apa ini karena
Robert sudah menyerah?”
“Miss, Mr. Alan datang
untuk menemui Miss.”
Catherine menyimpan
tabletnya di laci meja. “Baiklah persilakan masuk.”
2Tak lama setelah
perintah dari Catherine. Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok tampan di
sana.
“Alan, silakan masuk,”
seru Catherine menyambut Alan.
Mereka duduk di sofa.
“Aku datang untuk
mengajakmu makan siang,” seru Alan.
“Kau jauh-jauh datang ke
sini hanya untuk mengundangku makan siang?” tanya Catherine.
“Ya. Lagipula sudah
lama kita tidak bertemu dan mengobrol, bukan?” seru Alan.
Alan adalah teman kuliah
Catherin di Oxford bersama dengan Evelyn.
“Benar juga sih. Kalau
begitu ayo kita pergi,” ucap Catherine yang di angguki Alan.
Ꙭ
Catherinebaru saja
kembali dari makan siangnya bersama Alan. Mereka berpisah di lobby kantor. Dan
kini Catherine berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.
__ADS_1
Catherine berjalan
sedikit melamun hingga tatapannya melebar melihat seseorang berdiri di dekat
meja sekretarisnya. Karena kehilangan fokus, tubuhnya mendadak oleng karena
kaget dan hampir saja jatuh ke belakang kalau seseorang tidak dengan sigap
merengkuh pinggangnya juga memegang lengannya.
Tatapan mereka berdua
terkunci satu sama lainnya.
Aiden....
Sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri dan berusaha melupakan, tetap
saja ujung-ujungnya pertahanannya kembali runtuh dan kembali jatuh dalam
perasaan cintanya sendiri.
Aiden membantu
Catherine berdiri tegak dan melepaskan pegangannya. Catherine berdehem sedikit
dan sedikit menjaga jarak pada Aiden. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Kebetulan sekretarisnya belum kembali dari makan siangnya.
“Apa ada masalah, Mr.
Aiden?” tanya Catherine.
“Kamu makan siang
dengan Alan?” tanya Aiden.
“Bukan urusan anda.
Kalau ada pertanyaan mengenai pekerjaan, anda bisa bicarakan dengan sekretaris
saya,” seru Catherine dengan nada formal.
Catherine kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
“Cath, apa harus
seperti ini?” tanya Aiden menatap Catherine.
Catherine menghentikan
langkahnya mendengar pertanyaan Aiden. Ia menghela napasnya kemudian kembali
melangkahkan kakinya.
Tetapi sebelum kakinya
melangkah, seseorang menarik paksa lengannya membuatnya tertarik dan menabrak
sesuatu yang keras.
“Aiden lepaskan aku!”
Catherine berusaha mendorong dada Aiden yang kini berada di depannya. Aiden
memeluknya dengan paksa.
“Aiden, lepaskan aku!”
“Sebentar saja,” ucap
Aiden memeluk Catherine dengan erat dan menyandarkan kepala Catherine di dada
bidangnya yang berdebar kencang.
“Jangan
mempersulitku,” gumam Catherine sudah tak mampu berusaha tegar lagi.
Pertahanannya kini telah runtuh.
“I Miss You, Cath.”
Aiden bergumam pelan dan mampu terdengar oleh Catherine.
Catherine memejamkan
matanya merasakan sesuatu yang menghangat ke dalam hatinya. Ia sudah ingin
menangis dan menjawab ungkapan Aiden. Tetapi lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya
terasa tersumbat sesuatu yang keras.
“Apa yang kamu
inginkan, Aiden? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku harus melupakanmu
dan mencari kebahagiaanku. Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya akan terus
menyakitiku,” ucap Catherine melepaskan pelukannya dan segera memalingkan
wajahnya.
“Jangan seperti ini
dan semakin mempersulitku. Aku mohon.”Setelah mengatakan itu, Catherine masuk
ke dalam ruangannya dan menutup rapat ruangannya. Ia bersandar ke daun pintu
dengan memejamkan matanya. Air mata luruh membasahi pipinya.
‘I Miss You too, Aiden...’ batin Catherine memegang dadanya yang terasa nyeri.
Aiden berjalan dengan
tatapan kosong menyusuri lorong kantor dan masuk ke dalam lift.
Ada apa dengan dirinya....? apa ia memiliki perasaan lebih pada
Catherine atau hanya sayang sebagai sahabat?
Ꙭ
__ADS_1