Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 27


__ADS_3

Aidenmendatangi rumah


Catherine untuk menemui Jasmine. Langkahnya terhenti saat melihat Catherin


berada dalam pelukan seseorang.


                Hati Aiden terasa


sangat terbakar dan rasanya ia ingin meninju pria yang memeluk Catherine itu.


                Aiden melangkahkan


kakinya menuju mereka berdua dan tanpa pikir panjang ia menarik paksa lengan


pria itu hingga melepaskan pelukannya dan seperdetik kemudian, tinju Aiden


mendarat di rahangnya.


                “AH!” pekik Catherine


yang kaget.


                “Shit!” umpat pria


yang tersungkur itu dan memegang sudut bibirnya yang berdarah.


                “Aiden, apa-apaan kamu


ini!” seru Catherine.


                “Kamu mau membela pria


itu, hah?” bentak Aiden membuat Catherine terpekik kaget. “Apa kamu tidak malu


berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine melihat?”


                “Dan pria ini. Setelah


Alan sekarang pria ini! Apa kamu harus serendah ini Catherine!”


                Plak


                Tangan Catherine melayang ke pipi Aiden membuatnya membeku. Tatapan


Catherine sudah memerah menahan air mata dan amarahnya.


                “Pergi!”


                “Cath-“


                “Aku bilang pergi!”


usir Catherine. “Kamu nggak berhak menghinaku dan mengatur hidupku!” pekiknya


menangis dan beranjak masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu.


                “Oho... hey Bung, aku


akan mengampuni atas pukulanmu barusan. Efek rasa cemburu memang dahsyat,” serunya menunjukkan smirknya.


                “Dan perlu kamu tau.


Aku bukanlah pria peliharaannya Catherine. Aku adalah Kakaknya,” seru pria itu


membuat Aiden membeku di tempatnya.


                “Kaget bukan,” kekehnya.


“Sekarang usahalah untuk mendapatkan maaf darinya. Karena adik perempuanku itu


sulit memberikan maaf.” Pria itu menepuk pundak Aiden dan beranjak pergi


meninggalkan Aiden yang mematung di tempatnya dengan dongkol.


                ‘Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang terjadi dengan diriku?’ batin


Aiden.


                Aiden beranjak pergi


meninggalkan area rumah Catherine.


                Didalam rumah


Catherine berdiri di balik pintu. Bersandar di sana dengan hati yang terluka.


                Kamu mau membela pria itu, hah?


Apa kamu tidak malu berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine


melihat?


                Kenapa? Kenapa Aiden harus menganggap dirinya begitu


rendah? Apa penolakannya belum cukup sampai harus menghinanya.


                Sampai kapan ia harus


terus tersakiti begini olehnya.


                “Mommy...”


                Panggilan itu membuat


Catherine menoleh ke sumber suara. Melihat Jasmine berdiri di lorong penghubung


ruang tamu dan ruang keluarga membuat Catherine segera menghapus air matanya.


                “Kenapa kamu keluar


dari kamar? Kamu belum sembuh, Sayang.” Catherine berjalan mendekati Jasmine.


                “Aku tadi kebangun


karena dengar suara ribut-ribut. Ada apa Mom? Kenapa Mom nangis?” tanya


Jasmine.


                “Tidak apa-apa.


Barusan ada orang asing yang membuat onar,” ucapnya. “Ayo kita ke kamar lagi.


Kamu harus banyak-banyak beristirahat.”



                Aiden meneguk kembali


minuman dalam gelasnya entah sudah gelas yang ke berapa.


                Kepingan kenangan


bersama Catherine juga kata-kata Catherine terus terngiang di kepalanya


bagaikan palu yang terus memukuli kepalanya dan dadanya. Sesak sekali rasanya


sampai berkali-kali ia memukul dadanya yang sangat sakit dan sesak.


                ‘Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Kenapa aku begitu bodoh,’ batin


Aiden. ‘Aku sudah mencintainya, tetapi


rasa takut ini menahan perasaan ini.’


                ‘Aku mencintai Catherine....’


                “Shit!” umpat Aiden kembali meneguk minumannya. Wajahnya telah memerah dan


ia sudah mabuk berat. Rasanya ia ingin membiarkan cairan yang ia minum membakar


dadanya dan dirinya.


                Karena kebodohannya


yang telat menyadari satu hal. Dan karena rasa trauma yang mendalam membuat dia


malah terus menerus menyakiti wanita yang ia cintai.


                Ia takut di sakiti


lagi, tetapi malah dirinya yang menyakiti orang lain.


                Aiden mengingat


kata-kata Evelyn dimana dirinya lah yang bisa menyembuhkan trauma nya sendiri.


                “Bodoh!” Aiden tertawa


kecil. Ia mentertawakan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya.


                Tanpa sadar air


matanya luruh dari pelupuk matanya.


                Di ambang pintu Harry


tengah memperhatikan temannya itu. Ia tidak ingin mengganggu Aiden sama sekali.


Ia tau Aiden sedang frustasi saat ini.



                Catherine baru saja


keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju mobilnya di parkiran basement


khusus para petinggi. Ia berjalan dengan santai menuju mobilnya dengan


mengeluarkan kunci mobilnya menekan tombol buka kunci.


                Sebelum ia sampai di


mobilnya. Tiba-tiiba saja seseorang membekam mulutnya. Catherine yang kaget


sempat memberontak tetapi tenaganya langsung lemas. Tubuhnya lunglai dan ia


jatuh pingsan.


                “Cepat bawa ke mobil,”


seru pria yang memegang tubuh Catherine.


                Ada dua orang yang membawa


tubuh Catherine masuk ke dalam mobil minibus dan satu orang lagi menyetir


mobil. Dan langsung meninggalkan tempat itu.



                Aiden baru saja


terbangun. Ia semalaman mabuk berat dan tidak mengingat apapun.


                Inilah kelemahan


Aiden. Ia tidak bisa minum dan saat mabuk, ia benar-benar tidak mampu


mengendalikan dirinya dan mengingat apapun.


                “Kau sudah bangun?”


pertanyaan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.


                “Lala?” pekik Aiden


melihat seorang wanita yang hanya memakai tangtop dan hotpants. “Ba-bagaimana kamu


bisa ada di sini?”


                Aiden sudah kalut. Ia


takut kejadian di masa lalu terulang lagi.


                “Memangnya kamu


mengharapkan siapa di sini?” tanya Lala tersenyum kecil.


                “Lala, aku serius


bertanya padamu. Kamu yang bawa aku ke sini?” tanya Aiden.


                “Begitulah.”


                “A-apa kita?”


                Ucapan Aiden


menggantung di udara dengan ekspresi yang sangat syok dan ngeri.


                “Ekspresimu seperti


wanita yang habis di perkosa,” kekeh seseorang membuat Aiden melihat ke


arahnya.


                “Harry,” serunya.

__ADS_1


                “Apa kamu ingin


menonton adegan panas semalam? Uch aku sampai di buat terangsang,” canda Harry.


                “Berhenti bergurau.


Ini tidak lucu,” seru Aiden yang tau kalau semalam tidak terjadi apapun.


                Aiden beranjak dari


atas tempat tidur.


                “Aiden, aku membawakan


minum dan obat penghilang rasa pusing,” seru Lala.


                Aiden melihat ke arah


Lala, kemudian ia melihat ke arah Harry.


                “Kenapa dia bisa ada


di sini?” tanya Aiden.


                “Semalam ia khawatir


padamu yang sudah tidak sadarkan diri. Jadi aku membiarkannya ikut ke sini,”


jawab Harry dengan santai dan beranjak pergi meninggalkan kamar.


                “Apa kamu begitu tidak


sukanya sama aku?” tanya Lala.


                “Aku sedang tidak


ingin membahas ini. Kamu simpan saja obat itu di atas nakas, nanti aku


meminumnya,” ucap Aiden beranjak pergi memasuki kamar mandi.


                Lala hanya mampu menghela


napasnya dan menyimpan nampan yang ia bawa di atas nakas.



Aidenmendatangi rumah


Catherine. Ia dipersilakan masuk oleh pengasuh Mine.Aiden berjalan masuk dan


melihat Mine tengah menonton acara televisi.


"Hai cantik," sapa Aiden.


"Uncle..." Mine terlihat bahagia


melihat kedatangan Aiden di sana.


"Sedang menonton apa?" tanyanya


yang kini duduk di samping Mine.


"Frozen," ucapnya tersenyum lebar.


"Bagaimana kondisimu sekarang?"


tanya Aiden.


"Mine sudah baik-baik aja, Uncle. Perut


Mine juga sudahnggak terlalu sakit," ucapnya.


"Syukurlah."


Kini tatapan Aiden menyisir ke seluruh


penjuru mencari keberadaan seseorang tetapi tak ia temukan.


"Mommy kamu mana? Apa sudah berangkat


bekerja?" tanya Aiden.


"Mommy?" seru Mine menoleh ke arah


Aiden. "Mommy nggak pulang dari kemarin."


Aiden mengernyit mendengar penuturan Mine


itu.


"Maksud kamu nggak pulang? Apa Mommy


kamu sering tidak pulang seperti ini?" tanya Aiden.


Bagaimana bisa Catherine tidak pulang di saat


anaknya sakit seperti ini. Ke mana dia sebenarnya. Pikir Aiden.


"Mommy tidak pernah seperti ini. Dia


selalu pulang ke rumah. Tapi enggak tau kenapa sekarang nggak pulang,"


seru Mine.


"Baiklah. Kamu disini dulu. Uncle akan


tanya ke pengasuh kamu," seru Aiden.


Aiden beranjak dari duduknya dan berjalan


menuju dapur dimana pengasuh Mine berada.


"Apa Catherine memberi kabar ke mana?"


pertanyaan itu membuatnya menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Aiden.


"Tidak Tuan. Nyonya tidak biasanya


seperti ini. Kalau dia pulang telat pun pasti menghubungi saya dulu atau


menghubungi Nona Mine," ucapnya membuat Aiden termenung.


"Apa ada kemungkinan dia pergi ke rumah orang


tua nya?" tanya Aiden.


Pengasuh itu terdiam sesaat sebelum menjawab


pertanyaan Aiden.


"Rumah orang tua Nyonya ada di


Singapura," jelasnya.


Tidak mungkin Catherine keluar Negeri tanpa memberi kabar dan meninggalkan Mine disini


sendiri. Pikir Aiden.


"Aku akan keluar. Kamu temani Mine dulu.


Kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Nomor saya ada di Mine," ucap Aiden


yang di angguki pengasuh itu.


Aiden bergegas meninggalkan area rumah


Catherine menggunakan mobilnya.


"Ke mana kamu Cath," gumam Aiden


memikirkan Catherine.


----


Aiden kini telah berdiri di depan pintu apartemen


milik Evelyn. Ia menekan bell kamar itu.


Tak lama pintu terbuka dan menampakkan Evelyn


yang terlihat sudah bersiap hendak bekerja.


"Aiden? Ada apa?" tanya Eve sedikit


kaget melihat Aiden di hadapannya.


"Eve, apa Catherine bersamamu?"


tanya Aiden to the point.


"Catherine? Tidak," serunya.


"Mungkin Catherine ada di rumahnya," ucap Eve.


"Aku baru dari rumahnya. Dan Mine bilang


Catherine tidak pulang dari kemarin," ucapnya.


"Tidak biasa nya. Apa kalian kembali


bertengkar?" tanya Evelyn membuat Aiden termenung.


"Mungkin dia marah dan kesal padaku. Aku


bersikap bodoh dan menyakitinya," ucap Aiden menghela napasnya.


"Kapan kalian akan akur dan


bersama," ucap Eve.


"Aku menyadarinya kalau aku memang sudah


mencintainya. Mungkin sudah sejak lama," ucap Aiden membuat Evelyn


menatapnya dengan tatapan terluka. Tapi ia berusaha menekan perasaannya


sendiri.


"Maaf Eve. Aku-"


"It's oke Aiden." Evelyn


memalingkan pandangannya dan tersenyum kecil. "Kamu tidak perlu merasa


begitu. Aku senang akhirnya kamu menyadarinya. Setidaknya kalian tidak akan


saling menyakiti lagi," seru Evelyn.


"Aku ingin mengatakan semuanya pada


Catherine dan meminta maaf padanya," ucap Aiden.


"Bagaimana kalau kita ke kantornya saja.


Mungkin dia ada di kantor," seru Evelyn yang di angguki Aiden.


Mereka pun bersama-sama menuju ke kantor


Catherine.


"Nomornya tidak aktif," seru Evelyn


mencoba menghubungi Catherine.


"Aku sudah menghubunginya beberapa kali


tadi. Dan memang tidak aktif," seru Aiden.


Mobil Aiden memasuki area parkir para


petinggi dan melihat mobil Catherine terparkir di sana.


"Itu mobilnya. Sepertinya dia memang


berada di kantor," seru Evelyn.


Aiden memarkirkan mobilnya dan menuruni mobil


diikuti Evelyn.


"Baiklah kamutemui saja Catherine. Aku


akan pergi dengan taksi. Aku tidak ingin dia salah paham," ucap Evelyn.


"Tunggu sebentar."


Aiden berjalan mendekati mobil Catherine dan


melihat kunci mobilnya yang berada di kolong mobil di bagian belakang.Mata awas


Aiden menangkap kunci mobil itu. Ia berjongkok untuk meraih kunci mobil itu.


"Ada apa?" tanya Evelyn


menghampiri  Aiden yang kini sudah


beranjak kembali berdiri.

__ADS_1


"Kunci mobil Catherine," seru Aiden


memperlihatkan kunci mobil di tangannya.


"Kok bisa kunci mobilnya ada di sini.


Apa mungkin terjatuh?" tanya Evelyn.


"Catherine bukan orang yang


teledor," gumam Aiden merenung.


"Sepertinya terjadi sesuatu


padamu," gumamnya.


Aiden mencoba menghubungi sekretaris


Catherine. Dan untuk beberapa saat ia kembali mematikan sambungan telponnya.


"Ada apa?" tanya Evelyn.


"Catherine tidak datang ke kantor hari


ini," ucap Aiden meyakinkan kecurigaannya.


"Bagaimana ini. Ke mana dia


sebenarnya?" seru Evelyn merasa khawatir.


Handphone Aiden berdering dan menampakkan


nama Harry di sana.


"Ya Harry..."


"....."


"Ah ternyata benar Robert yang


mencelakai Mine. Apa kamu bisa menemukan dimana posisi Robert saat ini?"


"...."


"Catherine sepertinya di culik


olehnya."


"....."


"Aku tunggu."


"....."


"Jadi Robert yang mencelakai Mine?"


tanya Evelyn saat Aiden mengakhiri sambungan telponnya.


"Kecurigaanku benar," seru Aiden.


"Kita temui Sekretaris Catherine. Siapa tau kita bisa melihat CCTV dan


menemukan petunjuk mengenai Catherine," ucap Aiden yang di angguki Evelyn.


Mereka berjalan bersama menuju ruangan


Catherine.


----


Saat ini Aiden dan Evelyn juga bersama


Sekretaris Catherine dan salah satu petugas CCTV tengah memperhatikan CCTV hari


kemarin.


"Catherine keluar dari ruangannya pukul


5 sore," seru Aiden.


Dan ternyata tidak terlihat apapun dari CCTV


parkiran.


"Tunggu dulu. Mobil minibus ini


mencurigakan," ucap Aiden saat sebuah minibus memasuki area parkir.


"Mereka bukan pegawai kantor. Dan lagi


kalau mereka tukang service atau pengirim barang tidak mungkin masuk ke


parkiran para petinggi," ucap Sekretarisnya.


"Dan mobil ini kembali keluar 10 menit


kemudian. Coba bisa kamu perbesar untuk nomor polisinya," seru Aiden dan


petugas itu pun menurutinya.


Aiden mendapatkan nomor polisinya. Ia


kemudian meminta Harry segera melacak keberadaan mobil itu.


---


Kini Aiden dan Evelyn pergi meninggalkan


kantor.


"Aku yakin Robert yang menculik


Catherine. Astaga pria berengsek itu!" seru Evelyn sangat emosi.



Byur


Catherine terbangun dari tidurnya saat terasa


air menerpa wajahnya. Ia menatap sekeliling dan menyesuaikan pandangannya.Ia


kaget saat kedua tangan dan tubuhnya terikat di atas kursi. Mulutnya di tutupi


oleh kain.


"Hmmmm....." serunya berusaha


mengeluarkan suara dan meronta untuk melepaskan ikatannya.


"Akhirnya kamu bangun juga, Babe."


Mata Catherine membelalak lebar melihat


seseorang yang berdiri menjulang di hadapannya.


'Robert...' batinnya.


"Lama tidak bertemu. Apa kamu


merindukanmu?" serunya tersenyum dan mengambil duduk di hadapan Catherine.


"Hmmmm!!!" Catherine terus meronta


untuk bisa melepaskan ikatannya.


"Tenanglah Sayangku. Simpan tenagamu.


Percuma saja kamu terus meronta, ikatan itu tidak akan pernah terlepas."


Robert kembali menampilkan senyumannya


menatap ke arah Catherine. "Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu.


Baiklah aku akan melepaskan ini," ucapnya melepaskan kain yang menutup


mulutnya.


"Isshhh...." Catherine meringis


saat merasa ngilu dan sakit di sudut bibirnya.


"Dasar berengsek!" amuk Catherine


membuat Robert tertawa.


"Tenanglah Sayang. Kau begitu


merindukanku sampai kamu begitu bersemangat mengumpatku," tawanya.


"Lepaskan aku! Apa maumu!"


teriaknya.


"Mauku?" Robert kembali tertawa.


"Kau sungguh tidak sabaran dan tidak suka berbasa basi."


"Dasar sialan! Kau memang pria berengsek!"


amuk Catherine.


"Diam!" bentak Robert mencengkram


kedua pipi Catherine. "Mulutmu semakin lama semakin lancang!" seru


Robert.


"Dengarkan aku, Nona William. Aku


menginginkan saham SR dan tanah di daerah itu. Berikan itu maka kamu akan aku


lepaskan."


"Jangan bermimpi!" seru Catherine.


Robert menampar pipi Catherine hingga sudut


bibirnya berdarah.


"Kau semakin sombong saja!" seru


Robert yang kini berdiri dari duduknya.


"Dengar wanita ******." Robert


membungkukkan badannya hingga wajahnya berada dekat dengan wajah Catherine yang


menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau ingat kejadian yang menimpa


Jasmine, putri kesayanganmu itu."


Mata Catherine membelalak lebar mendengar


penuturan Robert.


"Aku bisa melakukan lebih dari itu.


Kalau kamu tidak ingin kehilangan putri kesayanganmu itu. Maka jangan membuatku


kesal. Turuti saja apa yang aku minta."


Catherine menatap benci ke arah Robert.


"Aku tau dia adalah kelemahanku,"


tawa Robert.


"Sekarang renungkanlah. Apa Mine tidak


lebih berharga dari saham dan tanah itu," kekehnya berjalan meninggalkan


Catherine seorang diri.


"Dasar psycopath gila!" teriak


Catherine dan Robert hanya tertawa saja.


"Bagaimana ini. Mine... Ya Tuhan semoga


dia baik-baik saja," gumam Catherine.



Aiden menatap nyalang langit gelap. Ia


memikirkan Catherine dan sangat khawatir padanya.


Harry bilang mobil itu adalah mobil sewaan.


Dan Harry kehilangan jejaknya.


"Catherine, kamu dimana?" gumam


Aiden. "Aku berharap kamu baik-baik saja."


Aiden mengusap wajahnya gusar. Ia harus

__ADS_1


mencari ke mana keberadaan Catherine dan berengsek Robert....



__ADS_2