
Aidenmendatangi rumah
Catherine untuk menemui Jasmine. Langkahnya terhenti saat melihat Catherin
berada dalam pelukan seseorang.
Hati Aiden terasa
sangat terbakar dan rasanya ia ingin meninju pria yang memeluk Catherine itu.
Aiden melangkahkan
kakinya menuju mereka berdua dan tanpa pikir panjang ia menarik paksa lengan
pria itu hingga melepaskan pelukannya dan seperdetik kemudian, tinju Aiden
mendarat di rahangnya.
“AH!” pekik Catherine
yang kaget.
“Shit!” umpat pria
yang tersungkur itu dan memegang sudut bibirnya yang berdarah.
“Aiden, apa-apaan kamu
ini!” seru Catherine.
“Kamu mau membela pria
itu, hah?” bentak Aiden membuat Catherine terpekik kaget. “Apa kamu tidak malu
berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine melihat?”
“Dan pria ini. Setelah
Alan sekarang pria ini! Apa kamu harus serendah ini Catherine!”
Plak
Tangan Catherine melayang ke pipi Aiden membuatnya membeku. Tatapan
Catherine sudah memerah menahan air mata dan amarahnya.
“Pergi!”
“Cath-“
“Aku bilang pergi!”
usir Catherine. “Kamu nggak berhak menghinaku dan mengatur hidupku!” pekiknya
menangis dan beranjak masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu.
“Oho... hey Bung, aku
akan mengampuni atas pukulanmu barusan. Efek rasa cemburu memang dahsyat,” serunya menunjukkan smirknya.
“Dan perlu kamu tau.
Aku bukanlah pria peliharaannya Catherine. Aku adalah Kakaknya,” seru pria itu
membuat Aiden membeku di tempatnya.
“Kaget bukan,” kekehnya.
“Sekarang usahalah untuk mendapatkan maaf darinya. Karena adik perempuanku itu
sulit memberikan maaf.” Pria itu menepuk pundak Aiden dan beranjak pergi
meninggalkan Aiden yang mematung di tempatnya dengan dongkol.
‘Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang terjadi dengan diriku?’ batin
Aiden.
Aiden beranjak pergi
meninggalkan area rumah Catherine.
Didalam rumah
Catherine berdiri di balik pintu. Bersandar di sana dengan hati yang terluka.
Kamu mau membela pria itu, hah?
Apa kamu tidak malu berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine
melihat?
Kenapa? Kenapa Aiden harus menganggap dirinya begitu
rendah? Apa penolakannya belum cukup sampai harus menghinanya.
Sampai kapan ia harus
terus tersakiti begini olehnya.
“Mommy...”
Panggilan itu membuat
Catherine menoleh ke sumber suara. Melihat Jasmine berdiri di lorong penghubung
ruang tamu dan ruang keluarga membuat Catherine segera menghapus air matanya.
“Kenapa kamu keluar
dari kamar? Kamu belum sembuh, Sayang.” Catherine berjalan mendekati Jasmine.
“Aku tadi kebangun
karena dengar suara ribut-ribut. Ada apa Mom? Kenapa Mom nangis?” tanya
Jasmine.
“Tidak apa-apa.
Barusan ada orang asing yang membuat onar,” ucapnya. “Ayo kita ke kamar lagi.
Kamu harus banyak-banyak beristirahat.”
Ꙭ
Aiden meneguk kembali
minuman dalam gelasnya entah sudah gelas yang ke berapa.
Kepingan kenangan
bersama Catherine juga kata-kata Catherine terus terngiang di kepalanya
bagaikan palu yang terus memukuli kepalanya dan dadanya. Sesak sekali rasanya
sampai berkali-kali ia memukul dadanya yang sangat sakit dan sesak.
‘Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Kenapa aku begitu bodoh,’ batin
Aiden. ‘Aku sudah mencintainya, tetapi
rasa takut ini menahan perasaan ini.’
‘Aku mencintai Catherine....’
“Shit!” umpat Aiden kembali meneguk minumannya. Wajahnya telah memerah dan
ia sudah mabuk berat. Rasanya ia ingin membiarkan cairan yang ia minum membakar
dadanya dan dirinya.
Karena kebodohannya
yang telat menyadari satu hal. Dan karena rasa trauma yang mendalam membuat dia
malah terus menerus menyakiti wanita yang ia cintai.
Ia takut di sakiti
lagi, tetapi malah dirinya yang menyakiti orang lain.
Aiden mengingat
kata-kata Evelyn dimana dirinya lah yang bisa menyembuhkan trauma nya sendiri.
“Bodoh!” Aiden tertawa
kecil. Ia mentertawakan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya.
Tanpa sadar air
matanya luruh dari pelupuk matanya.
Di ambang pintu Harry
tengah memperhatikan temannya itu. Ia tidak ingin mengganggu Aiden sama sekali.
Ia tau Aiden sedang frustasi saat ini.
Ꙭ
Catherine baru saja
keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju mobilnya di parkiran basement
khusus para petinggi. Ia berjalan dengan santai menuju mobilnya dengan
mengeluarkan kunci mobilnya menekan tombol buka kunci.
Sebelum ia sampai di
mobilnya. Tiba-tiiba saja seseorang membekam mulutnya. Catherine yang kaget
sempat memberontak tetapi tenaganya langsung lemas. Tubuhnya lunglai dan ia
jatuh pingsan.
“Cepat bawa ke mobil,”
seru pria yang memegang tubuh Catherine.
Ada dua orang yang membawa
tubuh Catherine masuk ke dalam mobil minibus dan satu orang lagi menyetir
mobil. Dan langsung meninggalkan tempat itu.
Ꙭ
Aiden baru saja
terbangun. Ia semalaman mabuk berat dan tidak mengingat apapun.
Inilah kelemahan
Aiden. Ia tidak bisa minum dan saat mabuk, ia benar-benar tidak mampu
mengendalikan dirinya dan mengingat apapun.
“Kau sudah bangun?”
pertanyaan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.
“Lala?” pekik Aiden
melihat seorang wanita yang hanya memakai tangtop dan hotpants. “Ba-bagaimana kamu
bisa ada di sini?”
Aiden sudah kalut. Ia
takut kejadian di masa lalu terulang lagi.
“Memangnya kamu
mengharapkan siapa di sini?” tanya Lala tersenyum kecil.
“Lala, aku serius
bertanya padamu. Kamu yang bawa aku ke sini?” tanya Aiden.
“Begitulah.”
“A-apa kita?”
Ucapan Aiden
menggantung di udara dengan ekspresi yang sangat syok dan ngeri.
“Ekspresimu seperti
wanita yang habis di perkosa,” kekeh seseorang membuat Aiden melihat ke
arahnya.
“Harry,” serunya.
__ADS_1
“Apa kamu ingin
menonton adegan panas semalam? Uch aku sampai di buat terangsang,” canda Harry.
“Berhenti bergurau.
Ini tidak lucu,” seru Aiden yang tau kalau semalam tidak terjadi apapun.
Aiden beranjak dari
atas tempat tidur.
“Aiden, aku membawakan
minum dan obat penghilang rasa pusing,” seru Lala.
Aiden melihat ke arah
Lala, kemudian ia melihat ke arah Harry.
“Kenapa dia bisa ada
di sini?” tanya Aiden.
“Semalam ia khawatir
padamu yang sudah tidak sadarkan diri. Jadi aku membiarkannya ikut ke sini,”
jawab Harry dengan santai dan beranjak pergi meninggalkan kamar.
“Apa kamu begitu tidak
sukanya sama aku?” tanya Lala.
“Aku sedang tidak
ingin membahas ini. Kamu simpan saja obat itu di atas nakas, nanti aku
meminumnya,” ucap Aiden beranjak pergi memasuki kamar mandi.
Lala hanya mampu menghela
napasnya dan menyimpan nampan yang ia bawa di atas nakas.
Ꙭ
Aidenmendatangi rumah
Catherine. Ia dipersilakan masuk oleh pengasuh Mine.Aiden berjalan masuk dan
melihat Mine tengah menonton acara televisi.
"Hai cantik," sapa Aiden.
"Uncle..." Mine terlihat bahagia
melihat kedatangan Aiden di sana.
"Sedang menonton apa?" tanyanya
yang kini duduk di samping Mine.
"Frozen," ucapnya tersenyum lebar.
"Bagaimana kondisimu sekarang?"
tanya Aiden.
"Mine sudah baik-baik aja, Uncle. Perut
Mine juga sudahnggak terlalu sakit," ucapnya.
"Syukurlah."
Kini tatapan Aiden menyisir ke seluruh
penjuru mencari keberadaan seseorang tetapi tak ia temukan.
"Mommy kamu mana? Apa sudah berangkat
bekerja?" tanya Aiden.
"Mommy?" seru Mine menoleh ke arah
Aiden. "Mommy nggak pulang dari kemarin."
Aiden mengernyit mendengar penuturan Mine
itu.
"Maksud kamu nggak pulang? Apa Mommy
kamu sering tidak pulang seperti ini?" tanya Aiden.
Bagaimana bisa Catherine tidak pulang di saat
anaknya sakit seperti ini. Ke mana dia sebenarnya. Pikir Aiden.
"Mommy tidak pernah seperti ini. Dia
selalu pulang ke rumah. Tapi enggak tau kenapa sekarang nggak pulang,"
seru Mine.
"Baiklah. Kamu disini dulu. Uncle akan
tanya ke pengasuh kamu," seru Aiden.
Aiden beranjak dari duduknya dan berjalan
menuju dapur dimana pengasuh Mine berada.
"Apa Catherine memberi kabar ke mana?"
pertanyaan itu membuatnya menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Aiden.
"Tidak Tuan. Nyonya tidak biasanya
seperti ini. Kalau dia pulang telat pun pasti menghubungi saya dulu atau
menghubungi Nona Mine," ucapnya membuat Aiden termenung.
"Apa ada kemungkinan dia pergi ke rumah orang
tua nya?" tanya Aiden.
Pengasuh itu terdiam sesaat sebelum menjawab
pertanyaan Aiden.
"Rumah orang tua Nyonya ada di
Singapura," jelasnya.
Tidak mungkin Catherine keluar Negeri tanpa memberi kabar dan meninggalkan Mine disini
sendiri. Pikir Aiden.
"Aku akan keluar. Kamu temani Mine dulu.
Kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Nomor saya ada di Mine," ucap Aiden
yang di angguki pengasuh itu.
Aiden bergegas meninggalkan area rumah
Catherine menggunakan mobilnya.
"Ke mana kamu Cath," gumam Aiden
memikirkan Catherine.
----
Aiden kini telah berdiri di depan pintu apartemen
milik Evelyn. Ia menekan bell kamar itu.
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan Evelyn
yang terlihat sudah bersiap hendak bekerja.
"Aiden? Ada apa?" tanya Eve sedikit
kaget melihat Aiden di hadapannya.
"Eve, apa Catherine bersamamu?"
tanya Aiden to the point.
"Catherine? Tidak," serunya.
"Mungkin Catherine ada di rumahnya," ucap Eve.
"Aku baru dari rumahnya. Dan Mine bilang
Catherine tidak pulang dari kemarin," ucapnya.
"Tidak biasa nya. Apa kalian kembali
bertengkar?" tanya Evelyn membuat Aiden termenung.
"Mungkin dia marah dan kesal padaku. Aku
bersikap bodoh dan menyakitinya," ucap Aiden menghela napasnya.
"Kapan kalian akan akur dan
bersama," ucap Eve.
"Aku menyadarinya kalau aku memang sudah
mencintainya. Mungkin sudah sejak lama," ucap Aiden membuat Evelyn
menatapnya dengan tatapan terluka. Tapi ia berusaha menekan perasaannya
sendiri.
"Maaf Eve. Aku-"
"It's oke Aiden." Evelyn
memalingkan pandangannya dan tersenyum kecil. "Kamu tidak perlu merasa
begitu. Aku senang akhirnya kamu menyadarinya. Setidaknya kalian tidak akan
saling menyakiti lagi," seru Evelyn.
"Aku ingin mengatakan semuanya pada
Catherine dan meminta maaf padanya," ucap Aiden.
"Bagaimana kalau kita ke kantornya saja.
Mungkin dia ada di kantor," seru Evelyn yang di angguki Aiden.
Mereka pun bersama-sama menuju ke kantor
Catherine.
"Nomornya tidak aktif," seru Evelyn
mencoba menghubungi Catherine.
"Aku sudah menghubunginya beberapa kali
tadi. Dan memang tidak aktif," seru Aiden.
Mobil Aiden memasuki area parkir para
petinggi dan melihat mobil Catherine terparkir di sana.
"Itu mobilnya. Sepertinya dia memang
berada di kantor," seru Evelyn.
Aiden memarkirkan mobilnya dan menuruni mobil
diikuti Evelyn.
"Baiklah kamutemui saja Catherine. Aku
akan pergi dengan taksi. Aku tidak ingin dia salah paham," ucap Evelyn.
"Tunggu sebentar."
Aiden berjalan mendekati mobil Catherine dan
melihat kunci mobilnya yang berada di kolong mobil di bagian belakang.Mata awas
Aiden menangkap kunci mobil itu. Ia berjongkok untuk meraih kunci mobil itu.
"Ada apa?" tanya Evelyn
menghampiri Aiden yang kini sudah
beranjak kembali berdiri.
__ADS_1
"Kunci mobil Catherine," seru Aiden
memperlihatkan kunci mobil di tangannya.
"Kok bisa kunci mobilnya ada di sini.
Apa mungkin terjatuh?" tanya Evelyn.
"Catherine bukan orang yang
teledor," gumam Aiden merenung.
"Sepertinya terjadi sesuatu
padamu," gumamnya.
Aiden mencoba menghubungi sekretaris
Catherine. Dan untuk beberapa saat ia kembali mematikan sambungan telponnya.
"Ada apa?" tanya Evelyn.
"Catherine tidak datang ke kantor hari
ini," ucap Aiden meyakinkan kecurigaannya.
"Bagaimana ini. Ke mana dia
sebenarnya?" seru Evelyn merasa khawatir.
Handphone Aiden berdering dan menampakkan
nama Harry di sana.
"Ya Harry..."
"....."
"Ah ternyata benar Robert yang
mencelakai Mine. Apa kamu bisa menemukan dimana posisi Robert saat ini?"
"...."
"Catherine sepertinya di culik
olehnya."
"....."
"Aku tunggu."
"....."
"Jadi Robert yang mencelakai Mine?"
tanya Evelyn saat Aiden mengakhiri sambungan telponnya.
"Kecurigaanku benar," seru Aiden.
"Kita temui Sekretaris Catherine. Siapa tau kita bisa melihat CCTV dan
menemukan petunjuk mengenai Catherine," ucap Aiden yang di angguki Evelyn.
Mereka berjalan bersama menuju ruangan
Catherine.
----
Saat ini Aiden dan Evelyn juga bersama
Sekretaris Catherine dan salah satu petugas CCTV tengah memperhatikan CCTV hari
kemarin.
"Catherine keluar dari ruangannya pukul
5 sore," seru Aiden.
Dan ternyata tidak terlihat apapun dari CCTV
parkiran.
"Tunggu dulu. Mobil minibus ini
mencurigakan," ucap Aiden saat sebuah minibus memasuki area parkir.
"Mereka bukan pegawai kantor. Dan lagi
kalau mereka tukang service atau pengirim barang tidak mungkin masuk ke
parkiran para petinggi," ucap Sekretarisnya.
"Dan mobil ini kembali keluar 10 menit
kemudian. Coba bisa kamu perbesar untuk nomor polisinya," seru Aiden dan
petugas itu pun menurutinya.
Aiden mendapatkan nomor polisinya. Ia
kemudian meminta Harry segera melacak keberadaan mobil itu.
---
Kini Aiden dan Evelyn pergi meninggalkan
kantor.
"Aku yakin Robert yang menculik
Catherine. Astaga pria berengsek itu!" seru Evelyn sangat emosi.
Ꙭ
Byur
Catherine terbangun dari tidurnya saat terasa
air menerpa wajahnya. Ia menatap sekeliling dan menyesuaikan pandangannya.Ia
kaget saat kedua tangan dan tubuhnya terikat di atas kursi. Mulutnya di tutupi
oleh kain.
"Hmmmm....." serunya berusaha
mengeluarkan suara dan meronta untuk melepaskan ikatannya.
"Akhirnya kamu bangun juga, Babe."
Mata Catherine membelalak lebar melihat
seseorang yang berdiri menjulang di hadapannya.
'Robert...' batinnya.
"Lama tidak bertemu. Apa kamu
merindukanmu?" serunya tersenyum dan mengambil duduk di hadapan Catherine.
"Hmmmm!!!" Catherine terus meronta
untuk bisa melepaskan ikatannya.
"Tenanglah Sayangku. Simpan tenagamu.
Percuma saja kamu terus meronta, ikatan itu tidak akan pernah terlepas."
Robert kembali menampilkan senyumannya
menatap ke arah Catherine. "Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu.
Baiklah aku akan melepaskan ini," ucapnya melepaskan kain yang menutup
mulutnya.
"Isshhh...." Catherine meringis
saat merasa ngilu dan sakit di sudut bibirnya.
"Dasar berengsek!" amuk Catherine
membuat Robert tertawa.
"Tenanglah Sayang. Kau begitu
merindukanku sampai kamu begitu bersemangat mengumpatku," tawanya.
"Lepaskan aku! Apa maumu!"
teriaknya.
"Mauku?" Robert kembali tertawa.
"Kau sungguh tidak sabaran dan tidak suka berbasa basi."
"Dasar sialan! Kau memang pria berengsek!"
amuk Catherine.
"Diam!" bentak Robert mencengkram
kedua pipi Catherine. "Mulutmu semakin lama semakin lancang!" seru
Robert.
"Dengarkan aku, Nona William. Aku
menginginkan saham SR dan tanah di daerah itu. Berikan itu maka kamu akan aku
lepaskan."
"Jangan bermimpi!" seru Catherine.
Robert menampar pipi Catherine hingga sudut
bibirnya berdarah.
"Kau semakin sombong saja!" seru
Robert yang kini berdiri dari duduknya.
"Dengar wanita ******." Robert
membungkukkan badannya hingga wajahnya berada dekat dengan wajah Catherine yang
menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau ingat kejadian yang menimpa
Jasmine, putri kesayanganmu itu."
Mata Catherine membelalak lebar mendengar
penuturan Robert.
"Aku bisa melakukan lebih dari itu.
Kalau kamu tidak ingin kehilangan putri kesayanganmu itu. Maka jangan membuatku
kesal. Turuti saja apa yang aku minta."
Catherine menatap benci ke arah Robert.
"Aku tau dia adalah kelemahanku,"
tawa Robert.
"Sekarang renungkanlah. Apa Mine tidak
lebih berharga dari saham dan tanah itu," kekehnya berjalan meninggalkan
Catherine seorang diri.
"Dasar psycopath gila!" teriak
Catherine dan Robert hanya tertawa saja.
"Bagaimana ini. Mine... Ya Tuhan semoga
dia baik-baik saja," gumam Catherine.
Ꙭ
Aiden menatap nyalang langit gelap. Ia
memikirkan Catherine dan sangat khawatir padanya.
Harry bilang mobil itu adalah mobil sewaan.
Dan Harry kehilangan jejaknya.
"Catherine, kamu dimana?" gumam
Aiden. "Aku berharap kamu baik-baik saja."
Aiden mengusap wajahnya gusar. Ia harus
__ADS_1
mencari ke mana keberadaan Catherine dan berengsek Robert....
Ꙭ