
Susah payah Airin menggerakkan anggota tubuhnya. Beberapa memar dan luka yang belum kering, membatasi pergerakannya. “Jino!” teriak Airin sekuat tenaga.
Beberapa tenaga medis yang kebetulan melalui, bergegas masuk. Mereka segera menenangkan Airin.
"Suster, di mana Jino dirawat? Aku mau bertemu putraku, Suster. Tolong bawa aku ke sana!" teriak Airin.
Kondisi yang belum stabil membuat perawat itu memberi obat penenang, agar wanita itu bisa beristirahat untuk memulihkan tenaga.
...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...
Ruangan dingin dengan aroma desinfektan yang menyengat, menjadi saksi bagaimana kesabaran Rico mengurus anak yang baru saja diakuinya. Menenangkan Rain dengan segala cara, membujuk agar mau menelan makanan dan obat.
Pria itu mendesah lega ketika obat yang diberikan dokter mulai bereaksi. Rasa kantuk pun menggelayuti mata Rain, hingga anak itu tertidur.
Getaran di saku jas, mengalihkan perhatian Rico. Segera ia merogoh gawainya, menilik sang penelepon. Rico beranjak dari duduknya, setelah memastikan Rain benar-benar pulas. Menjauh agar suaranya tidak mengganggu.
“Iya, Tuan!” ucap Rico menempelkan benda pipih itu di telinga.
“Di ruangan mana?”
Berpikir sejenak, lalu memutar tubuh dan menyebutkan nomor beserta nama ruang rawat Rain. Baru berhenti berucap, sambungan pun terputus.
“Mungkin Jihan sudah bercerita.” Rico mengedikkan kedua bahu. Hendak kembali masuk, namun tertahan karena seseorang menarik salah satu bahunya.
“Tuan?!” seru Rico membelalak, terkejut ketika tiba-tiba Tiger berdiri gagah di hadapannya.
“Apa?” sahut Tiger menarik Rico agar duduk di kursi stainless di depan ruangan tersebut.
“Maaf, Tuan. Saya tidak tahu jika Tuan berada di sini.” Rico mengangguk sejenak.
__ADS_1
Dua lelaki itu saling terdiam. Rico tidak tahu apa yang ada di benak sang bos. Lebih tepatnya merasa takut jika Tiger tidak memperbolehkan dirinya untuk merawat anak tersebut. Khawatir bisa mengganggu pekerjaannya.
Sedangkan Tiger sebenarnya sedang merangkai kalimat yang tepat.
“Tuan!”
“Rico!”
Panggil mereka serentak. Hingga Rico kembali mengangguk, “Maaf, silakan, Tuan,” ucapnya mempersilakan.
“Kau sudah urus identitas dan surat adopsi anak itu?” Diluar dugaan, Tiger justru menanyakan hal lain. Tidak seperti yang ada dalam bayangan Rico.
“Belum, Tuan.”
Tiger menghela napas berat, menegakkan punggung sembari melirik dengan mata birunya. “Jika kamu memang berniat merawatnya, urus semua dokumen untuk identitasnya. Biar mudah mengurus jika terjadi sesuatu!”
“Ee ... Tuan tidak marah? Apakah Tuan mengizinkan saya untuk merawatnya?” tanya Rico hati-hati.
“Siap, Tuan! Terima kasih banyak!” seru Rico menjabat tangan Tiger dengan bersemangat.
“Hmm. Mana identitas kamu. Biar dibantu Bian mengurusnya!” Tiger menjulurkan tangan meminta kartu identitas Rico. Pria itu pun segera mengambil dan menyerahkan pada Tiger.
“Itu saja. Untuk sisanya nanti biar Bian yang menghubungimu! Jangan khawatir, semua biaya aku yang tanggung. Termasuk rumah sakit ini!” sambung Tiger melenggang pergi menjauh. Meninggalkan Rico yang masih terpaku di tempat. Tidak menyangka jika sang bos yang begitu galak dan tegas ternyata turut membantunya.
Tiger teringat akan kebaikan ayah angkatnya, Milano Sebastian. Pria yang sudah membesarkan dan merawatnya. Kesuksesannya sedikit banyak merupakan campur tangan ayah angkatnya itu. Tidak ada alasan bagi Tiger untuk menolak keinginan mulia Rico. Ia justru akan memberi support untuk bawahannya itu.
Rico tersenyum tipis, lalu kembali masuk ke ruangan untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Getaran singkat kembali terasa. Rico merebahkan tubuh di sofa sembari membuka sebuah pesan yang membuat senyumnya semakin lebar.
__ADS_1
“Di mana?” —pesan yang dikirim oleh Lala.
“Rumah sakit.”
“Apa? Rumah sakit mana? Kamu kenapa?” balas Lala dengan cepat.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya, sudah waktunya pulang untuk Lala. Rico menekan tombol video call dan mengangkat ponsel tepat di depan wajahnya.
Cukup lama, panggilan itu baru diterima. Tampak Lala yang sudah bersiap untuk pulang. Bahkan kini sudah berjalan meninggalkan Butik Anastasia.
Berhenti sejenak di halte bus. Menautkan sepasang alisnya saat menatap layar ponselnya dipenuhi wajah Rico. “Kamu ngerjain aku lagi? Katanya di rumah sakit.”
“Beneran kok. Tuh yang sakit,” balas Rico mengalihkan kamera belakang, menyorot pada Rainer yang terbaring. Tak lama kembali mengarahkan padanya.
“Rain kenapa?” tanya Lala membelalak.
“Ada insiden tadi. Biasalah, namanya juga anak-anak. Mau pulang ke apartemen? Apa ke rumah nyonya?”
“Ke apartemen. Nona Cheryl mau sama mamanya dulu katanya.” Lala menunduk, raut wajahnya tampak lesu.
“Yaudah, enggak usah ditekuk gitu wajahnya. Makin gemes tahu nggak? Paling tiga hari lagi nanti ketemu,” seloroh Rico tertawa.
Lala tinggal di apartemen yang sama dengan Rico, sejak Cheryl masuk sekolah. Hanya sesekali saja tinggal di rumah besar sang nyonya.
“Dihh gombal. Di RS mana sih?” Pandangan Lala beralih ada bus yang baru saja berhenti. “Aku matiin ya. Mau pulang.”
Belum dijawab, sambungan video sudah terputus. Karena lelah, Rico meletakkan ponselnya di atas meja. Tanpa sadar ia pun tertidur.
Beberapa waktu berlalu, pria itu terusik dengan sebuah tangan halus yang begitu dingin menempel di pipinya. Rico terperanjat mencekal tangan itu dan melotot tajam ke arah wanita yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
Bersambung~