Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 9 ~ Naluri


__ADS_3

Senyuman Rico tiba-tiba lenyap. Tersentak ketika tersadar, bahwa Lala belum memberi jawaban. “Jadi sebenarnya diterima apa enggak?” gumamnya pada diri sendiri.


Lelaki itu melangkah panjang untuk menyusul Lala. Namun, tubuhnya justru hampir bertumbukan dengan Jihan. Keduanya sontak menghentikan langkah tergesa dengan cepat. Tangan Jihan masih mencengkeram kuat lengan kecil Rainer.


“Rico!” panggil Jihan tersentak sekaligus panik.


Lelaki itu masih mengatur napasnya sesaat. Memudarkan keterkejutan yang mencuat. Ia berjongkok ketika menatap Rainer yang tengah menangis. “Loh, ada apa? Jagoan kok nangis?” tanyanya menangkup kedua pipi Rain, menyeka air mata yang berjatuhan.


“Tangannya nggak sengaja kejepit pintu. Darahnya nggak berhenti mengalir. Malah justru semakin banyak, Ric,” lapor Jihan panik menunjukkan jemari Rainer yang terluka. Darah masih mengalir walaupun sudah dibalut kasa, karena memang sudah diobati Jihan sebelumnya. Akan tetapi, cairan merah itu tetap tidak bisa dihentikan.


“Ayo bawa ke rumah sakit, sekarang juga!” sentak Jihan menyadarkan lamunan Rico, karena pria itu hanya terbengong menatapnya.


“I ... iya! Iya!” Rico segera meraup tubuh kecil Rainer. Berlari membawanya keluar menuju parkir. Diikuti Cheryl yang menangis ketakutan dalam gendongan Jihan.


Rico tidak ingin menanyakan kronologinya. Mendudukkan Rainer di jok depan, lalu mengenakan sabuk pengaman.


“Hati-hati, Ric!” pesan Jihan yang sudah ikut masuk mobil. Cheryl masih terisak dalam pangkuan sang mama. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada teman barunya itu.


Rico hanya mengangguk, lalu memfokuskan diri pada laju mobilnya. Sesekali menoleh pada Rainer yang mengangkat tangan sejajar dengan dada.


“Sabar ya,” ucap Rico menepuk puncak kepala Rain.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


Membutuhkan sekitar 30 menit, akhirnya mobil berhasil berhenti di area parkir rumah sakit. Tanpa membukakan pintu untuk majikannya, Rico beralih menghampiri Rain dan segera menggendongnya.


Langkah kakinya tegap dan terburu-buru. Segera menerobos IGD agar putranya mendapat penanganan.


“Tolong, Dok! Anak saya terluka!” seru Rico mendudukkan Rain di atas brankar pasien.


Beberapa perawat segera menghampiri. Melakukan pemeriksaan dasar. Membuka perban yang membalut luka itu sebelumnya.

__ADS_1


Tangisan Rainer semakin menjadi. Entah karena merasa takut atau kesakitan, yang jelas jeritan bocah itu terdengar menyayat hati Rico. Tak tahan rasanya mendengar anak itu menangis. Ia kembali teringat ketika pertama kali menemukannya.


Rico mendekat, memeluk tubuh bocah itu dengan erat. Membiarkan satu tangan Rainer dikendalikan oleh dua perawat. “Rain, kamu itu anak hebat. Tenang ya, bentar lagi sembuh. Biar diobati sama dokter,” gumam Rico mendekapnya dengan sayang.


Lelaki berjas putih berjalan mendekat setelah perawat selesai dengan pemeriksaan dasar. Lukanya di dua jari Rain masih belum ditutup. Menunggu dokter memeriksanya. Karena mereka merasa ada keanehan dalam menangani luka tersebut.


“Segera ambil sampel darah untuk pemeriksaan PT (prothrombin time), APTT (activated partial thromboplastin time) dan fibrinogen!” titah sang dokter yang langsung dilakukan oleh perawat.


Dokter juga meminta perawat satunya memasang infus, lalu memberikan antibiotik dan obat untuk pembekuan darah agar pendarahan segera berhenti.


“Saya anjurkan untuk rawat inap, Tuan. Hasil pemeriksaan baru keluar besok pagi. Tolong dijaga lukanya, jangan terbentur atau tertekan sesuatu. Itu akan sangat berbahaya,” papar dokter pada Rico.


“Sebenarnya dia sakit apa, Dok? Kenapa bisa sampai seperti ini?” seru Rico dengan raut khawatir.


“Saya belum bisa menjelaskan, sebelum hasil tes darah keluar. Dugaan saya, ada kelainan dalam proses pembekuan darah di tubuhnya. Silakan segera urus pendaftaran rawat inapnya,” papar dokter mengangguk, beralih menangani pasien lainnya.


Sekalipun baru mengenalnya, dada Rico bergemuruh mendengarnya. Apalagi, Rain terlihat begitu ketakutan. Bahkan sampai sekarang terus memeluk erat tubuh Rico. Infus yang menancap di lengan kecilnya sampai tak terasa.


“Baik, Tuan.”


Setelah mengurus semua administrasi pendaftaran, Rain segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Jihan yang menunggu di luar segera beranjak dan menanyakan keadaan Rainer.


“Ji, maaf. Rain harus dirawat. Jadi, kamu pulangnya sama sopir dulu ya. Kasihan Nona Kecil.” Rico berbicara sambil ikut mendorong brankar pasien.


“Apa yang terjadi, Ric?”


“Besok aku kabari. Hasil tesnya baru keluar besok. Tolong izinin sama Tuan. Pulanglah!” perintah Rico melenggang masuk ke pintu lift pasien yang sudah terbuka.


Jihan masih penasaran, namun tidak mungkin juga mengajak Cheryl masuk. Bukan menelepon sopir, Jihan justru menghubungi sang suami untuk menjemputnya di rumah sakit.


Tanpa mendengar alasan, Tiger langsung mematikan telepon sepihak. Bergegas ke rumah sakit tanpa memedulikan rapat bersama para bawahannya saat ini. Semua orang kebingungan, ketika Tiger melesat tanpa kata dan meninggalkan ruangan begitu saja.

__ADS_1


Mobil dikendarai dengan kecepatan penuh. Bak raja jalanan, menyelusup ke setiap celah-celah yang ada. Panik dan khawatir merayap ke sekujur tubuhnya. Takut terjadi sesuatu dengan putri atau istri kesayangannya.


Tak butuh waktu lama, mobil mewah yang dikendarai Tiger berhenti di depan ruang IGD. Tidak peduli satpam yang berteriak memintanya untuk menyingkirkan mobil. Tiger fokus mengedarkan pandangan, untuk mencari keberadaan sang istri.


“Sayang! Hei, kamu kenapa? Cheryl, ada apa? Kalian terluka?” cecar Tiger menyentuh kedua bahu Jihan, memeriksa sekujur tubuh wanita itu dan juga putrinya.


“Tiger, kami nggak apa-apa,” elak Jihan yang masih mendekap Cheryl dalam gendongan.


“Tidak apa-apa bagaimana? Kalau tidak apa-apa kenapa bisa di rumah sakit?” teriak Tiger menyugar rambutnya.


Cheryl memundurkan tubuh, lalu menatap sang ayah dengan mata yang basah. “Papa, jangan marahi mama,” ucap gadis cilik itu masih terisak.


Embusan napas kasar terdengar jelas dari bibir Tiger. Satu tangannya mengusap wajah dengan kasar. “Astaga! Sayang. Papa nggak marah. Papa cuma khawatir dengan kondisi kalian.” Tiger menurunkan nada bicaranya.


“Itu tadi marah-marah. Cheryl nggak suka!” gerutu gadis itu mengerucut lucu.


“Maaf, Sayang. Papa nggak sengaja,” ucap Tiger mengatur napas. Ia meraih tubuh Cheryl dan menggendongnya. Lalu meraih pinggang Jihan, merapatkannya. “Maaf, Sayang. Aku khawatir. Nggak sengaja bentak kamu,” gumamnya lalu mendaratkan ciuman di kening Jihan.


“Jadi, siapa yang di rumah sakit?” lanjut Tiger dengan suara pelan.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


Roda-roda brankar yang bergerak menyadarkan lamunan seorang wanita yang berbaring di atas ranjangnya. Kepalanya menoleh keluar jendela bening tembus pandang.


Sudah dua hari menjalani rawat inap tanpa seorang pun yang menemaninya. Kesepian dan kerinduan pada putra kecilnya menyelusup dalam hati.


“Jino,” lirih Airin membeliak ketika melihat putranya sekilas.


Ingin sekali beranjak namun tubuhnya tak mampu. Suaranya pun sangat lirih. Hingga brankar yang didorong beberapa perawat itu menghilang di ujung lorong.


Airin hanya bisa menangis, mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. “Apa benar itu kamu, Nak? Kamu kenapa? Jino!” pekiknya dalam hati semakin terisak.  

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2