
Suara Rico terus mengudara di lorong rumah sakit. Ia mengedarkan pandangan sesekali memutar tubuh mencari-cari wanita yang ia rindukan. Namun, tak juga ketemu.
Di balik dinding pembatas, Lala berdiri merapat pada tembok tersebut, sembari membekap mulutnya sendiri. Lala menarik napas dalam-dalam. Berusaha agar embusannya tak terdengar oleh Rico. Padahal, mereka saling memunggungi. Hanya terpisah dinding pembatas saja.
Rico mengacak rambutnya frustasi. “Aaahh! Sial!” pekiknya menendang tong sampah di hadapannya.
Dengan langkah gontai, Rico kembali menuju ruang rawat Airin. Ia membuka pintu dengan kasar, sehingga membuat Rain terlonjak kaget dan bangun.
“Ayah,” panggil anak itu.
Rico mengatur napas, mendekati Rain sambil memaksa senyum. “Hei, udah bangun?” tanya Rico meraih dan menggendongnya.
Kemudian duduk di samping brankar, “Apa Lala tadi ke sini?” tanya pria itu.
“Iya, Tuan.” Airin mengangguk tipis.
“Apa yang dia bicarakan?” Rico menahan diri untuk bersabar. Apalagi kini Rain di pangkuannya.
“Nona bilang titip Anda. Tapi saya tidak mengerti,” sahut Airin tidak berani menatap Rico.
Satu tangan Rico mengepal dengan sangat kuat. Desir darah dan pacuan jantung terasa begitu cepat. Bahkan rahangnya semakin mengeras.
__ADS_1
“Ayo, kita mandi dulu!” ajak Rico menggendong putranya ke kamar mandi. Setelah itu menyuapinya makan.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Lala menyeka kedua pipinya yang basah. Melangkah dengan anggun dan tegap ketika suara Rico tak terdengar lagi. Ia memasuki sebuah mobil yang sudah dikendarai oleh Tiger, Jihan dan Cheryl.
Setelah perempuan itu duduk, Lala menyambar tubuh Cheryl dan memeluknya erat.
“Sekali lagi aku tanya. Kamu sudah yakin, La?” Jihan menoleh ke belakang. Lala mengangguk, dengan seuntai senyuman. Pelukannya di tubuh Cheryl semakin kuat, karena sebentar lagi akan berpisah dengan nona kecilnya.
Landasan pesawat di sebuah bandara, sudah berdiri gagah pesawat pribadi milik sang bos. Mobil berhenti tak jauh dari sana. Semua penumpang menjajakan kaki di pelataran luas itu.
“Iya nyonya, terima kasih banyak atas semuanya. Maafkan semua kesalahan saya selama ini," sahut Lala yang matanya sudah memerah.
Cheryl cemberut sedari tadi. Gadis kecil yang biasanya cerewet itu, tiba-tiba berubah pendiam. Wajahnya pun menjadi dingin tanpa ekspresi seperti sang ayah.
Lala berjongkok, menyamakan tingginya sama Cheryl, tersenyum sembari merapikan anak rambut gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. “Nona kecil, harus nurut apa kata mama dan papa ya. Semoga Nona bisa mendapat mbak yang lebih baik dari Mbak Lala. Maafin Mbak ya, Non,” ucapnya dengan suara gemetar, lalu memeluknya sangat erat.
“Pergilah, Mbak!” titah gadis kecil itu bernada perintah.
Lala menjulurkan kedua lengannya, menatap Cheryl dengan tatapan nanar. Gadis kecil itu bahkan membuang muka sembari melipat kedua lengan di dada.
__ADS_1
“Pergi!” ketus gadis kecil itu.
Jihan mendekat, mengusap kedua lengan Cheryl berulang kali. Menatap Lala dan memberikan sebuah anggukan.
“Tuan, terima kasih banyak atas semua bantuannya. Saya permisi, Tuan, Nyonya, Nona kecil,” ucap Lala menunduk sedih.
Langkahnya teramat pelan, sesuatu seakan meledak di dadanya. Berkali-kali Lala menghela napas berat, tapi tak kunjung mengurai sesak di dada. Justru semakin menjadi. Ia berbalik setelah meniti anak tangga yang terakhir, melambaikan tangannya hingga pintu pesawat ditutup oleh pramugari.
Cheryl sedari tadi membelakangi Lala kini menoleh cepat ketika pesawat mulai lepas landas dan semakin tinggi terbang di udara
Barulah tangis gadis itu pecah. Cheryl berlari mengejar dengan kaki kecilnya, kepalanya mendongak, “Mbak Lala! Mbak Lala! Mbak!” jerit Cheryl menangis histeris.
Jihan segera menangkap putrinya, mendekapnya erat dan berusaha menenangkan Cheryl yang masih memberontak dengan raungan yang begitu keras. "Sayang, kita pulang ya," bisik Jihan menekan tubuh Cheryl dalam dadanya.
"Mbak Lala, Ma! Mbak Lala!" pekik Cheryl masih memberontak.
"Nanti kalau Cheryl kangen, kita bisa menyusulnya," ujar Tiger turut mendekat, membelai punggung gadis kecilnya. "Sekarang pulang dulu ya, Sayang," rayu Tiger membungkuk, mengecup istri dan putrinya bergantian.
Bersambung~
__ADS_1