Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 68 ~ Ayah Sekaligus Guru


__ADS_3

Tak terasa tiga bulan berlalu dengan begitu cepat. Setiap hari Zora selalu datang ke markas dengan sebuah motor, yang sebenarnya tidak cocok untuk ukuran tubuhnya. Usai satu bulan fasih dalam tembak menembak, Zora minta diajari naik motor. Ia tertarik usai melihat betapa kerennya para anggota klan yang membawa moge.


Kegigihan gadis itu membuatnya cepat menyesuaikan diri dan bisa menguasai motor besarnya walau tubuhnya begitu ramping. Usia Zora yang sudah genap 17 tahun, langsung dibuatkan SIM oleh sang ayah. Hingga ia bebas ke mana saja dengan kendaraannya. Namun, tentu masih dalam pengawasan Rico.


Zora melepas helm dan meletakkan di atas motor sportnya, tepat bersamaan dengan berhentinya mobil sang ayah. Mereka memang tidak berangkat bersama, karena Rico harus mengantar Jihan terlebih dahulu.


“Hai, Girl! Sudah siap pelajaran hari ini?” tanya Rico melepas kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya, sembari menatap putri kesayangannya itu.


“Siap dong, Pa!” sahutnya bersemangat.


“Lets go!” Rico mengayunkan lengannya melenggang cepat memasuki markas.


Langkah mereka begitu tegas. Sepatu pantouvel yang membentur lantai serentak mengundang atensi siapa pun yang mereka lalui. Beberapa anggota yang dilalui menunduk sejenak.


Zora berlalu terlebih dahulu ke ruang latihan. Sedangkan Rico harus memeriksa pekerjaannya terlebih dahulu. Gadis itu segera melepas kemejanya, menyisakan tank top agar tidak basah atau kotor karena keringat.


Meski ruangan sudah ramai, Zora sama sekali tidak memperhatikan. Ia hanya fokus pada dirinya sendiri. Bahkan tidak sadar jika dirinya selalu menjadi pusat perhatian para lelaki di sana.


Zora berlari lebih dulu di atas treadmill sebagai pemanasan. Mulai dari kecepatan rendah sampai kecepatan tinggi. Tubuh gadis itu bermandikan keringat. Pandangannya lurus ke depan dan tetap fokus.


Satu jam lamanya, Rico baru menghampiri. Ia memang turun langsung untuk mengajari hal sekecil apa pun pada putrinya. Tidak memperbolehkan siapa pun menyentuhnya, sekalipun orang yang sudah profesional. Ya, pria itu merangkap menjadi ayah sekaligus guru bagi Zora.


“Sepertinya cukup,” ucap Rico setelah mengintip layar monitor pada mesin treadmill Zora.

__ADS_1


Perlahan gadis itu mulai memelan, hingga mesin benar-benar mati. Zora langsung menerima sebotol air mineral yang sudah dibuka oleh Rico.


“Ayo, Pa! Aku siap!” seru Zora berdiri tegap usai menenggak habis air tersebut.


“Istirahat dulu sebentar,” balas Rico.


Zora menggeleng, karena ia sudah tidak sabar untuk mendapat ilmu bela diri baru. Dasar-dasarnya saja, Zora memang sudah menguasai. Sehingga memudahkan Rico untuk semakin memperdalam tekniknya.



Rico menggeleng dengan senyum tipis melihat kegigihan putrinya. Sungguh ia sangat bangga karena gadis itu sangat tangguh. Rico segera melepas jas, dasi dan membuka beberapa kancing kemejanya. Ia menjelaskan secara teori lebih dulu, kemudian langsung praktik.


...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...



“Mau makan apa?” tanya Rico ketika mereka berjalan beriringan ke basemen.


“Emm ... apa aja, Pa. Yang penting kenyang. Bawa motor aja ya, Pa!” pinta Zora membuka wistbag dan hendak mengeluarkan kunci.


“Enggak. Kali ini naik mobil aja!” tolak Rico tegas menekan kunci mobil hingga terdengar bunyi khusus dengan lampu yang menyala.


Walaupun berdecak kesal, Zora tetap mengikuti. Sepanjang jalan Zora asyik main ponselnya. Akan tetapi menolak panggilan berulang dari sang kakak.

__ADS_1


Hingga kini, ayah dan anak itu tiba di restoran. Tak butuh waktu lama, sudah menduduki kursi dobel dan memesan makanan.


Di tengah asyiknya mereka menikmati makan siang, ponsel Zora bergetar lagi. Ia mengintip sebentar, lalu mematikan dayanya.


“Kenapa enggak diangkat?” tanya Rico menautkan keningnya.


“Enggak penting, Pa.” Tanpa mengalihkan pandangan, Zora fokus melahap makanan. Terbiasa bergerak cepat, makanan pun tandas dalam waktu singkat.


Giliran ponsel Rico yang berdering. Pria itu segera mengangkat dengan cepat. “Ya, Rain?” sapa Rico.


“Zora sama ayah?” tanya lelaki muda itu di ujung telepon.


“Iya ini. Mau ngobrol?” tawar Rico melirik anak gadisnya.


“Aduh, mules! Mau ke toilet, Pa!” Zora beranjak cepat meninggalkan sang ayah yang bahkan belum menyampaikan apa-apa padanya.


“Loh!” gumam Rico menautkan kedua alisnya bingung.


 


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2