Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 45 ~ Getaran


__ADS_3

“Mbak Lala!” teriak Cheryl menggema di kamar luas itu.


Tertoleh, pandangan Lala semakin memburam. Ia tahu betul siapa gadis bermata biru itu. Tangisnya semakin pecah, ketika Cheryl berlari dan langsung memeluk tubuhnya yang baru setengah duduk. Pelukannya begitu erat, dengan raungan tangis yang keras. Teringat terakhir kali mereka bertemu.


Zora yang tidak mengerti apa-apa hanya diam saja. Menatap interaksi mereka dengan tatapan bingung.  


“Mbak Lala jahat! Kenapa nggak pernah kasih kabar, Mbak? Kenapa menghilang tanpa jejak? Apa Mbak Lala udah nggak sayang lagi sama aku?!” cecar Cheryl dalam deraian air mata.


Lala membelai rambut bergelombang gadis itu. Gadis kecil yang ia rawat kini sudah beranjak dewasa. Kerinduan yang terpendam belasan tahun meluap sudah. “Maaf, Nona!” Kalimat lirih yang terucap dari bibir Lala.


Cukup lama mereka saling berpelukan, Lala meregangkan pelukannya, membingkai wajah Cheryl dengan lembut, “Semakin cantik,” puji Lala dengan senyumannya.


“Mbak Lala juga masih cantik seperti dulu. Mbak, aku mau nikah. Aku mau Mbak jadi saksi pernikahanku nanti,” ucap Cheryl dengan semangat menggenggam tangan Lala. Senyumnya mengembang dengan sempurna.


“Jadi, penculikan itu ....”


Cheryl mengangguk sebelum Lala menuntaskan kalimatnya. “Maaf ya, Mbak. Karena kalau nggak kayak gini pasti Mbak nggak mau pulang? Apa kamu bahagia selama ini, Mbak?”


Zora tercengang, tetapi ia mencoba biasa saja. Meski kini kedua tangannya terkepal dengan sangat erat. Bola matanya memutar dengan malas.


“Tunggu. Bagaimana Nona bisa menemukanku?” Lala mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Semua karena Rain, Mbak. Dia menemukan akun instagram balapan kuda. Nah di sana dia lihat Mbak Lala. Berulang kali kami cek memang benar. Abis itu dilimpahin ke anak buah papa. Rain juga ikut turun ke Mykonos,” papar Cheryl menjelaskan kronologinya.


Sempat ternganga tak percaya. Bagaimana bisa? Rain yang dulu sangat membencinya, bahkan turun langsung untuk menjemputnya?


Lagi-lagi manik mata Lala basah. Napasnya tak beraturan. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. “Rain?” tanya Lala memastikan.


“Iya, Mbak. Dia justru yang paling bersemangat,” cerita Cheryl.


“Lalu, di mana dia sekarang?” tanya Lala menyeka pipinya.


“Ada kok!” Cheryl memutar tubuhnya, “Loh! Ke mana tu anak?” sambungnya ketika tak menemukan siapa pun di belakangnya. “Tadi ada, Mbak. Dia yang nunjukin kamar ini! Kok ngilang ya! Ah, pokoknya seneng banget Mbak udah kembali. Jangan pergi lagi, Mbak!” celoteh Cheryl memeluk wanita itu lagi dengan penuh kerinduan.


“Ck! Siapa sih tu cewek! Mama sampai segitunya mengabaikanku. Perutku udah keroncongan gini!” gerutunya mencengkeram perut dengan kedua tangan. Ia melangkah tak tahu arah.


Hingga bahunya bersinggungan dengan seorang pria. Tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh, kalau saja pria itu tidak menangkap pinggangnya dengan cepat.


Pandangan mereka saling bertautan. Bahkan hingga beberapa detik berlalu, mereka masih berada di posisi intim seperti itu.


“Eh, Om! Jangan macam-macam ya! Dasar mesum!” teriak Zora mendorong dada pria itu dengan kedua lengan kecilnya.


Kemudian hampir melayangkan sebuah tamparan, namun gerakannya mudah terbaca. Sehingga kini pergelangan kecil tangannya justru dicengkeram kuat. “Lepasin!” seru Zora lagi menghempaskan tangannya walau merasa kesulitan.

__ADS_1


Pria itu masih menatapnya lekat, hal yang tidak pernah ia lakukan semenjak ditinggal pergi oleh Lala. Gadis itu seolah memiliki magnet yang mampu menggetarkan hatinya.


“BUGH!”


Zora menendang perut pria itu hingga terdorong beberapa langkah ke belakang. Karena tidak fokus, ia pun terkena sambaran kaki Zora. Gadis itu masih melayangkan tatapan tajam, “Jangan kurang ajar!” desisnya.


“Ayah!” panggil Rain berlari menghampiri Rico yang sempat terhuyung. Membantu menegakkan tubuh sang ayah, “Ayah nggak apa-apa?” tanyanya.


Rico hanya menggeleng. Ia masih menatap Zora lekat-lekat. Hingga gadis itu bergidik ngeri. Merasa risih mendapat tatapan dari pria itu.


“Eh, nggak punya sopan santun ya, kamu!” sentak Rain menatap Zora. Namun seketika matanya mendelik ketika berdiri di hadapannya.


 


Bersambung~


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2