
Tepat pukul 23.00 waktu setempat, Rico yang memang sengaja tidak pulang ke apartemen tercengang menemukan putrinya berdiam diri di roof top hotel. Sudah ada sebagian tamu undangan Cheryl yang tiba di hotel. Ia bersama tim selalu siaga.
Dadanya berdenyut hebat, bahkan ia merasa gugup. Lebih gugup dibandingkan saat bertemu dengan Lala. Kakinya terpaku, tidak berani melangkah. Ia masih belum siap untuk bertatap muka dengan buah hati yang tidak pernah ia duga.
Manik matanya berkabut, sesak mulai melanda. Bayangan ketika putrinya itu lahir, sampai beranjak remaja tanpa ia ketahui, tentu meremas hatinya.
Cukup lama Rico berdiri di sana, menyaksikan Zora yang duduk di lantai, menggenggam erat tralis besi pembatas roof top. Pandangannya kosong, desir angin yang menyelusup tubuhnya sama sekali tak membuatnya menggigil.
Alih-alih menemui Zora, Rico justru meraih ponselnya dan segera menghubungi Rain. Ia takut, Zora akan nekat. Apalagi, ia belum tahu akankah Zora mau menerimanya atau tidak.
“Ayah tunggu di roof top sekarang juga. Jangan lupa bawa jaket yang tebal!” titah Rico saat telepon terhubung.
“Ada apa, Yah?” tanya Rain terkejut. Khawatir ada sesuatu yang terjadi.
“Sudah jangan banyak tanya. Cepat ke sini!” Rico mematikan ponsel setelah mengatakannya. Sorot matanya tak lepas dari punggung Zora yang tampak meluruh. Bersandar pada besi dan memeluknya erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Derap langkah kaki yang begitu cepat mulai terdengar. Rico menoleh, tampak anak lelakinya itu berlari tergesa. Napasnya terengah-engah dengan bulir keringat menghias wajah tampannya.
“Kenapa, Yah? Ada masalah apa?” tanya Rain sembari mengatur napas.
Rico memutar pandangannya lagi pada Zora, lalu mengedikkan dagunya pada gadis itu.
“Hah? Zora? Ngapain dia di sana, Yah?” seru Rain membeliak.
Tangan Rico dengan cepat membekap mulut lelaki muda itu. Takut jika Zora mendengar dan akan melakukan hal yang nekat.
__ADS_1
“Ssshh! Pelankan suaramu!” geram Rico menekankan kalimatnya. “Makanya aku suruh kamu ke sini. Hibur dia, jangan sampai kenapa-napa!” titah Rico.
“Kenapa tidak ayah saja?” tanya Rain menaikkan sebelah alisnya.
Helaan napas berat berembus dari bibir Rico, menepuk tengkuk putranya cukup keras. “Kalau ayah sudah siap, lalu ngapain telepon kamu, bodoh!” sentaknya namun tak bersuara keras.
“Sialan! Sakit, Ayah!” gerutu Rain mengusak belakang kepalanya.
“Aku bahkan lebih berdebar menghadapinya dari pada Lala.”
“Jangan bilang ayah jatuh cinta pada putrimu sendiri!” cibir Rain memicingkan mata sembari melipat kedua lengannya.
“Mulutmu, Rain!” geram Rico mendelik sambil menginjak kaki Rainer.
Lelaki itu membuka mulutnya lebar-lebar namun tanpa suara. Mengangkat sebelah kakinya, merasakan ngilu yang berdenyut hingga ubun-ubun.
“Hidupku hancur di tangan ayah dan anak. Like a father like a daughter,” desah Rain memelas.
“Sudah sana! Apa perlu kutendang dulu nih?” ancam Rico mengangkat sebelah kakinya, bersiap untuk menendang.
Rain segera melangkah cepat sebelum terkena sambaran sepatu mahal ayahnya. Ia langsung menjatuhkan bokongnya di sebelah Zora, hingga gadis itu mendelik sekaligus terkejut. Hampir saja Zora menyerangnya.
“Ihh, kurang kerjaan banget ngagetin orang!” cebik Zora kembali menatap hamparan kota, dihiasi kerlap kerlip lampu yang begitu indah.
Rain tersenyum, melepas jaket yang ia kenakan lalu menangkupkan ke tubuh mungil Zora. “Dingin, Zo. Ngapain tengah malam di sini?” ucapnya lembut.
“Di Mykonos lebih dingin dari ini kalau musim dingin. Suhu udaranya bisa sampai 5°. Di sini mah nggak ada apa-apanya,” ucap gadis itu mengenakan jaket kebesaran sang kakak.
__ADS_1
“Wah, aku kalau di sana udah mati rasa kali ya.”
“Coba aja. Biar beku sekalian!” cetus Zora dengan senyum lebarnya. Penderitaan lelaki itu tampak membahagiakan.
“Kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain tengah malam di sini?” Rain memutar tubuh, menyandarkan punggung di pada tralis besi yang dipegangi Zora. Tatapannya tak beralih dari gadis cantik itu.
“Kangen Hero,” sahutnya singkat.
“Pacarmu? Heh, cabe rawit berani-beraninya pacaran?!” tutur Rain mendelik menoyor kepala adiknya.
Zora menautkan kedua alisnya, ekor matanya menajam, “Sok tahu! Hero itu kuda kesayangan aku.”
“Hah? Kuda? Oh ya, baru inget karena balapan kuda ‘kan aku nemuin kamu,” ucap Rain menepuk keningnya.
Ia membuka kembali galeri ponsel dan memutar video tersebut. Jika sebelumnya hanya Lala yang ia perhatikan, kali ini matanya fokus pada gadis yang memacu kuda dengan begitu liar. Kepalanya menggeleng tak percaya, “Yaampun, keren!” puji lelaki itu.
Zora diam saja, ia malas menanggapi. Napasnya berembus dengan berat.
“Zora, bagaimana tanggapanmu mengenai ayah? Kalau kamu saat ini bicara empat mata dengan ayah, kamu mau bilang apa?” tanya Rainer.
Bersambung~
Bestii... aku bawain rekomendasi novel keren dari Kak Asri Faris nih... kuyss mampir sambil nunggu. Judulnya Tawanan Presdir Kejam.
__ADS_1