
“Ayo, turun!” ajak Rico membukakan pintu untuk putrinya. Menjulurkan lengan dan segera disambut oleh Zora. Namun seketika kening Rico mengernyit, menatap lekat putrinya yang tampak gugup.
“Kenapa tanganmu dingin sekali, Zora?” tanya pria itu.
Zora menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Degup jantungnya meningkat pesat. “Pa, serius mafia? Kayak di drakor-drakor gitu enggak sih? Yang pada tembak-tembakan, saling serang gitu?” Zora menimpali dengan pertanyaan.
Senyum tipis tersungging di bibir Rico, “Tenang aja, di sini nggak seseram yang kamu bayangkan. Kalau memang ada yang mengusik klan ini, semua akan bersiaga. Dan satu lagi, jika ada pengkhianat, sama saja mengantar nyawanya sendiri. Klan Black Stone, tidak akan menyerang tanpa sebab. Makanya jangan kebanyakan nonton!” jelas Rico terkekeh mengusak rambut pendek putrinya.
“Tetep aja, Pa.” Zora masih ragu. Namun, Rico segera melingkarkan tangan di lengannya dan menggenggam erat.
“Ada Papa, tenang aja!” sahutnya mulai melangkah, yang mau tak mau diikuti oleh Zora.
Gadis itu terperangah saat melihat pintu raksasa yang terbuka usai scan retina dan sidik jari sang ayah. Hawa dingin seketika menyerang di sekujur tubuh Zora.
Apalagi kini manik gadis itu langsung disambut para pria bertubuh kekar yang berjaga di sepanjang lorong pintu, berjas rapi serba hitam dengan senjata laras panjang di tangannya. Wajah mereka yang datar, manik elang yang tajam membuat Zora meringis dan semakin mencengkeram lengan ayahnya.
“Tuan sudah sampai?” tanya Rico pada Grey.
“Belum,” sahutnya singkat memicingkan mata pada gadis di sebelahnya.
“Apa lihat-lihat?” seru gadis itu membalas dengan tatapan tajam.
“Sugar baby kamu, oke juga!” bisik Grey menepuk bahu Rico.
BUGH!
Rico mengayunkan kepalan lengan di perut Grey. Serangan tak terduga tentu saja membuat pria itu terkejut dan membungkuk menahan rasa sakit.
__ADS_1
“Aaayys! Sialan!” umpat Grey kesal usai terbatuk.
Perlahan menegakkan punggung dan menatap lawannya. Rahang Rico mengeras, bahkan sorot netra pria itu setajam ujung mata pisau. “Jaga mulutmu kalau tidak mau kurobek!” geram Rico dengan napas yang menderu.
Zora tentu saja melebarkan manik matanya, ia menutup mulut tak percaya. Pria yang selalu lembut ketika bersamanya, menjadi sosok yang berbeda. “Pa,” lirih gadis itu menarik lengan Rico.
“Mulutnya memang harus diberi pelajaran biar tidak bisa berbicara seenaknya!" Jiwa seorang ayah yang akan menjadi garda terdepan ketika putrinya dihina.
Grey terkejut ketika bibir Zora memanggil Rico. Bibirnya melebar dengan sempurna, “Sorry, Bro!” ucapnya menepuk-nepuk jas Rico yang tidak kotor. Merasa bersalah atas ucapannya tadi.
“Hmm!” Pria itu hanya membalas dengan deheman sembari menepis lengan Grey dengan kasar.
Rico lalu menggenggam jemari lentik Zora dan membawanya ke ruangan lain. Sepanjang lorong, gadis itu terkagum-kagum dengan desain interior bangunan yang hampir keseluruhan terbuat dari kaca, namun jangan diragukan tingkat keamanannya. Kaca-kaca tersebut bahkan tidak bisa ditembus oleh peluru.
Setiap ruangan banyak sekali para pria berpakaian senada. Raut mereka juga terlihat kaku dan serius. Zora menghela napas sesaat. Ia akui memang tempat yang sangat cocok untuk cuci mata, tapi tidak cocok untuk jantungnya.
“Setiap ruangan memiliki tugas dan pekerjaan yang berbeda, Sayang. Ada yang siaga menjaga sinyal bahaya dan memastikan keamanan klan, ada yang merakit senjata, ada yang bertugas menjadi malaikat pencabut nyawa, kalau yang masih baru bergabung mereka harus melalui pelatihan yang ketat sebelum resmi menjadi anggota. Nah, kita akan ke sana,” papar Rico meski tidak seluruhnya ia sebutkan.
“Kedengerannya serem,” gumam Zora meraba tengkuknya yang bergidik.
Rico membuka sebuah ruangan yang cukup luas. Hingga Zora refleks menutup telinga ketika suara tembakan demi tembakan menggelegar di ruangan itu.
“Yaampun, semoga jantung ini enggak pernah lepas dari tempatnya.” Zora tampak mengatur napasnya. Salah Rico yang tidak memberikan aba-aba untuk bersiap.
Melihat kedatangan Rico semua bersiap, membungkuk serentak dengan hormat. Sebagai orang kepercayaan Tiger, Rico memang memiliki pengaruh yang cukup besar.
Decak kagum diiringi gelengan kepala kini tampak dari binar mata Zora. Tanpa sadar, gadis berambut pendek itu mengangkat kedua tangan di atas kepala. Matanya enggan berkedip melihat sekelompok pria bertelanjang dada dengan keringat yang menetes melalui setiap perut sixpack mereka.
__ADS_1
“Mataku!” jerit Zora dalam hati. Namun matanya sangat berat untuk dipejamkan.
“Lanjutkan! Saya akan lihat sejauh mana perkembangan kalian! Oh ya, sisakan satu tempat untuk Zora, putriku!” tegas Rico sekaligus memperkenalkan Zora. Tidak ada yang berani membantah, bahkan untuk menatap Zora lebih dari lima detik saja tidak berani.
Salah satu pria itu mundur dengan langkah tegap. Mempersilakan Zora untuk menempatinya.
“Terima kasih, kamu bisa latihan yang lain dulu!" ucap Rico melangkah sembari menarik lengan Zora. Ia sendiri yang akan mengajari anak gadisnya.
Zora tentu saja begitu bersemangat. Ia sampai bertepuk tangan dengan senyum lebarnya. Ah, untung saja dia tidak pernah mengenakan gaun kecuali acara tertentu. Selalu mengenakan jeans dengan tanktop yang dibalut kemeja kebesaran.
“Pelajaran pertama, menembak. Kuncinya, fokus, konsentrasi dan berani!” ucap Rico mengambil alat sebagai penutup telinga. Lalu memosisikan tubuh Zora dengan benar, ia mengendalikan dari belakang Zora.
“Siap, Pa!” serunya bersemangat. Tidak menyangka, sang ayah akan mengabulkan ucapannya secepat ini.
Para pria kekar di ruangan itu tidak melanjutkan latihannya sesuai titah Rico. Mereka lebih terpesona memerhatikan Rico yang kini tengah mengajari putrinya dengan seksama. Ah, bukan Rico, lebih tepatnya pada gadis kecil, cantik nan energik itu.
Setelah beberapa kali membimbing, Rico melepaskan Zora untuk berlatih seorang diri. Ia memutar tubuh yang langsung berkacak pinggang, “Apa yang kalian lihat?! Bukankah saya mengatakan untuk melanjutkan latihan?! Atau mau kucongkel bola mata kalian?" pekik Rico menggelegar yang seketika membuat para bawahannya kalang kabut.
Bersambung~
Mampir juga ke sini ya, Best 💖
__ADS_1