
“Takdir yang memisahkan kami. Takdir juga yang akan mempertemukan kami. Sampai kapan pun, aku tidak akan bisa menghapusnya dari hatiku. Tapi tenang saja, aku tetap akan bertanggung jawab penuh atasmu dan juga Rain.”
Jawaban Rico tentu seakan melesatkan panah tepat di jantung Airin. Bibirnya tersenyum getir menerima nasib yang sudah digariskan untuknya.
“Baik, saya terima, Tuan,” sahut Airin tanpa ragu.
Pernikahan pun berlangsung di kampung halaman Rico. Tanpa banyak persiapan, hanya pesta kecil-kecilan untuk membungkam mulut para tetangga.
Airin dengan cepat bisa menyesuaikan diri, bergabung dengan keluarga Rico yang tentu mempertanyakan kisah cinta mereka. Padahal sebelumnya, wanita pilihan Rico bukan dirinya. Akan tetapi Airin hanya menjawab singkat, “Sudah takdir.” Cukup dua kata itu, bisa mengalihkan topik pembicaraan mereka semua.
Bahkan Rico sama sekali tidak memberi kabar Tiger maupun Jihan. Ia hanya meminta izin pulang kampung, tanpa menjelaskan alasannya.
“Tidurlah! Kamu pasti lelah,” ucap Rico menyela perbincangan para wanita yang masih berkumpul di ruang tamu.
Rain sedari tadi bersenda gurau bersama ayah dan ibu Rico. Wanita itu tampak lebih ceria, beban pikiran seolah terangkat.
“Bentar lagi napa! Ah elah, pengantin baru nggak sabaran amat!” goda tantenya Rico mengedipkan mata.
Rico malas menjawab, ia berbalik dan segera ke kamar untuk membersihkan diri. Karena memang hanya acara keluarga, tidak banyak tamu undangan yang hadir.
“Apakah ini keputusan yang tepat? La, aku sudah melakukannya. Aku terpaksa melakukannya. Tapi tenang saja, hati ini tetap milikmu! Seorang pun tidak akan ada yang bisa menggesermu, La!” batin Rico di bawah kucuran air shower kamar mandinya.
Tubuh dan pikirannya memanas. Air dingin yang menghujani tubuh atletisnya, seolah tak mampu meresap ke dalam kulit.
Keluar dari kamar mandi, senyum Airin menyambut dengan pakaian ganti untuk Rico di tangannya. Rico menatap bergantian pada wajah dan tangan Airin.
“Makasih,” ucapnya meraih pakaian itu dan bergegas mengenakannya.
__ADS_1
Airin duduk di tepi ranjang dengan bingung, kedua jemarinya saling meremas karena gugup. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.
Terperanjat saat terasa getaran di ranjang sebelahnya. Airin menoleh, namun perhatian Rico fokus pada layar ponselnya. Airin menghela napas panjang, ‘Setidaknya dia tidak pernah bersikap kasar,’ gumam Airin dalam hati.
“Mau ke mana?” tanya Rico ketika melihat Airin beranjak.
“Ee ... mau ambil Rain,” ucap Airin yang memanggil nama putranya sesuai identitas baru anak itu.
“Jangan! Biarkan saja bersama nenek dan kakeknya. Besok saja kita langsung kembali ke Jakarta!” sergah Rico yang seketika diangguki oleh Airin.
Wanita itu kembali naik ke ranjang, merebahkan tubuh membelakangi Rico. Airin memaksa matanya terpejam, namun sebenarnya hatinya berkecamuk di dalam sana.
Malam pertama mereka, tidak terjadi suatu apa pun layaknya pengantin baru pada umumnya. Rico bahkan baru tertidur saat menjelang pagi. Karena ia masih berusaha mencari keberadaan Lala.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Myconos, Yunani ....
Kakinya melangkah di atas daun kering yang berserakan. Sesekali berputar menikmati kesendiriannya. Tanpa memikirkan apa pun, selain dirinya sendiri dan ... janin dalam kandungannya.
Satu bulan lalu, ia baru menyadari kehadirannya. Antara sedih, bahagia dan sesak. Tapi Lala tak ingin terus terpuruk. Ia menganggap, kehadiran anak itu adalah sebuah anugerah. Setidaknya, Lala memiliki bagian berharga dari Rico setelah melepasnya dengan ikhlas.
'Aku janji akan menjaganya dengan baik, Sayang. Aku akan melakukan apa pun untuknya,' gumamnya memejamkan mata menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya.
“Starla! Dipanggil ibu!” teriak seorang perempuan seusianya.
Sejak tahu kondisinya hamil, Lala meninggalkan semua fasilitas yang diberikan oleh Jihan. Meninggalkan ponsel, kartu atm, di apartemen Jihan. Karena Lala tidak ingin mereka bisa melacak keberadaannya.
__ADS_1
Keputusannya bulat untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Lala tidak ingin membuat keluarganya semakin malu karena kehamilannya. Tidak! Dia tidak ingin semakin menyakiti hati orang tuanya.
Menyesal? Sudah pasti. Tapi hidup harus terus berjalan. Jika terus meratapi masa lalu dan menyesalinya, tidak akan mampu melanjutkan hidup.
“Siap!” sahut Lala dengan ceria kembali masuk ke villa.
Pertemuannya dengan Nyonya Felix, membawa Lala masuk ke dalam keluarga itu. Nyonya Felix pernah dibantu Lala ketika mengalami gangguan pernapasan di jalan. Jika saja terlambat menghubungi tenaga medis, wanita itu tidak akan selamat.
Sejak saat itu hingga sekarang, Lala bekerja di villa wanita tua itu. Setelah perkenalan singkat, Nyonya Felix pun meminta Lala bekerja di rumahnya sebagai ucapan terima kasih. Walaupun tahu kondisinya tengah hamil. Nyonya Felix meminta untuk mengerjakan pekerjaan ringan.
“Nyonya? Anda memanggil saya?” tanya Lala menemui wanita tua itu.
“Iya, bagaimana kehamilanmu? Bulan ini sepertinya belum ke dokter ya?” tanya Nyonya Felix yang memang sangat baik pada semua pekerjanya.
“Eee ... belum, Nyonya.”
“Yasudah, nanti berangkat bersama saja. Aku juga ada jadwal kontrol!” ajak wanita berambut blonde itu.
“Tidak, Nyonya. Jangan repot-repot,” tolak Lala merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa, nanti ajak juga Frida ya. Sekalian kita belanja bulanan. Katakan padanya kita berangkat satu jam lagi,” tutur Nyonya Felix dengan seuntai senyum ramah.
“Baik, Nyonya,” balas Lala mengangguk sopan.
Sungguh, Lala begitu bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik. Sedikit banyak mampu mengurangi kesedihannya. Walau hanya sedikit.
__ADS_1
Bersambung~