Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 47 ~ Enggak Selera!


__ADS_3

Rain menelan salivanya susah payah. Menatap lekat sepasang netra Zora yang sekilas mirip dengan ayahnya. Tetapi, ia tidak bisa menduga-duga sebelum mengetahui kebenarannya.


“Ayah, dia salah satu tamunya Cheryl. Emm... ini rencana Cheryl, mau kasih dia kejutan,” aku Rain tanpa mengalihkan pandangan dari mata Zora.


“Apaan, orang aku nggak kenal Cher ... siapa tuh Cheryl?!” cebik Zora memicingkan mata.


Rico yang merasa kesal akhirnya melanjutkan perjalanannya memeriksa keamanan dan kenyamanan di hotel tersebut. Ia malas dengan pertengkaran anak muda itu. Ia percaya akan kemungkinan bahwa gadis itu adalah tamu Cheryl.


“Ayo makan. Kamu kalau lapar bawaannya pengen nelen orang! Aku anter ke resto hotel ini. Pilih semua makanan yang kamu mau,” ajak Rain.


“Ogah, jangan-jangan nanti kamu kasih racun!” elak Zora sembari berdecak sebal.


“Astaga dede emes! Aku minta maaf, okay? Aku tahu, kamu pasti belum makan. Kebrutalanmu ini pasti karena kelaparan! Buruan!” Rain merangkul bahu Zora, meski langsung mendapat sikutan maut dari gadis itu.


“Aaassh! Remuk! Remuk!” desis Rain menekan dadanya yang disiku kuat oleh Zora.


Meski begitu, keduanya berjalan beriringan. Apa mau dikata, Zora benar-benar kelaparan karena perutnya memang keroncongan. Dan tidak tahu menahu di mana lokasi hotel ini. Sengaja keluar kamar, merasa suntuk karena diabaikan.


“Tolong beri menu terbaik di hotel ini, dua porsi. Semua hidangan,” titah Rain pada penanggung jawab resto ketika mereka sampai di sana.


“Baik, Tuan. Segera kami siapkan,” ucap pria paruh baya membungkukkan setengah tubuhnya.


Rain mempersilakan Zora duduk di sebuah kursi, diikuti olehnya. Mereka saling berhadapan. Rain sibuk meraih beberapa lembar tissu, menekan lukanya yang masih basah.

__ADS_1


Zora menaikkan sebelah alisnya, “Perasaan aku nggak terlalu kuat mukulnya. Kenapa darahnya ngalir terus?” tanya gadis itu mulai khawatir.


“Enggak apa-apa. Nanti juga berhenti. Memang seperti ini,” sahut Rain.


Ada sedikit rasa bersalah yang menyelinap hatinya. Zora mengalihkan pandangan hingga tak berani menatap Rain lagi. Kebetulan minuman mereka disajikan terlebih dahulu. Ia mulai mengaduk minuman dingin di hadapannya, menyesapnya perlahan.


Hingga makanan datang satu persatu, tanpa banyak basa basi dan tanpa merasa jaim, Zora melahap makanan yang tersaji.


Rain tersenyum menatapnya, selama ini tidak pernah bertemu perempuan yang apa adanya seperti itu. “Pelan-pelan aja. Nggak ada yang minta. Kaya nggak pernah makan aja,” cibir Rain masih sibuk menekan lukanya.


“Emang nggak pernah makan seenak gini kok!” sahut Zora apa adanya. “Apalagi udah kelaparan sejak semalam!” sambungnya yang membuat hati Rain seketika tercubit.


“Zora.”


“Taulah, mamamu kemarin teriak-teriak sebutin namamu. Ehm! Ayah kamu di mana?” tanya Rain ragu-ragu. Namun ini sangat penting baginya.


“Mati!” balas Zora dengan ketus kembali melahap makanannya. Sesekali menyesap minumannya.


Rain tentu saja mendelik, “Apa?”


“Nggak tahu. Nggak pernah tahu, dan nggak mau tahu. Aku anggep dia udah mati!” Sensitif sekali memang jika berbicara soal ayah.


“Zora, umur kamu berapa?” Rain kembali mencecarnya. Dadanya berdegup hebat saat ini.  

__ADS_1


“17! Kenapa? Mau lamar? Sorry, nggak selera sama cowok lemah kayak kamu!” cibir Zora masih dengan suara yang sama.


Rain menatap Zora tak berkedip, ia sangat yakin bahwa Zora adalah putri dari ayah angkatnya, Rico.


“Habiskan saja makananmu. Aku mau ketemu mamamu!” Rain berucap sembari berlari meninggalkan Zora di sana.


“Eh! Mau ngapain dia ketemu mama? Woy! Tunggu!” pekik Zora bergegas mengikuti langkah panjang Rain.


Rain tak peduli, ia mempercepat langkahnya dan nyaris berlari agar lekas sampai di kamar Lala. Tak peduli bahkan darah di hidungnya kembali mengalir.


“Ma!” panggil Rain dengan napas terengah-engah, berdiri di ambang pintu yang terbuka.


Lala dan Cheryl sontak menoleh serentak. Keduanya membelalak ketika melihat wajah Rain yang penuh luka.


“Rain? Habis ngapain kamu? Kenapa bonyok begitu?” tanya Cheryl.


Lala tercengang ketika lelaki yang kini berdiri gagah di ambang pintu adalah Rain. Ia menatap lelaki itu tak berkedip. Hingga kini langkah kaki Rain semakin mengikis jarak di antara mereka.


“Ma, maafin Rain,” ucapnya berlutut dengan kepala menunduk dalam.


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2