
Keesokan paginya, Rico meregangkan tubuh hingga terdengar suara bergemeletuk. Semalaman penuh, Rain tidak mau melepaskan lengan ayah barunya.
Ia benar-benar takut ditinggalkan oleh pria muda itu. Pasalnya, semua reka ulang adegan ayah kandungnya kembali berputar di kepala. Hingga ketakutan melingkupi jiwanya. Rain takut kehilangan kenyamanan yang baru saja didapatkannya.
Senyum semringah langsung terpancar dari muka bantal Rico, ketika baru membuka mata menemukan sang pujaan hati duduk manis di sofa.
“Hai,” sapa Rico dengan suara seraknya. Perlahan melepas genggaman tangan Rain yang melemah, karena masih lelap dalam tidurnya.
Setelah meninggalkan sebuah kecupan di kening Rainer, Rico beranjak mendekati Lala. Duduk di sebelahnya sembari meraih jemari lentik itu.
“Udah lama?” tanyanya.
“Baru.” Lala menilik jam di pergelangan tangannya. “Setengah jam yang lalu,” sambungnya terkekeh.
“Kenapa nggak bangunin aku?” protes Rico mencubit kedua pipi Lala dengan gemas.
Gadis itu meringis, meraih tangan lebar sang kekasih dan menggenggamnya. “Enggak apa-apa. Aku lihat kamu capek banget. Makanya nunggu sampai bangun aja. Mandi dulu sana, aku bawain baju ganti sama sarapan,” ujar Lala menyodorkan dua paper bag di meja.
Terharu, Rico sampai tidak bisa berkata-kata. Meraih tengkuk Lala dan menjatuhkan sebuah ciuman di sana. “Makasih, My Lala,” ucap Rico tersenyum hingga lesung pipinya terlihat jelas.
Usai membersihkan diri, mereka sarapan bersama. Hingga terpaksa berpisah, karena Lala harus segera berangkat ke butik sebelum terlambat.
Tak berapa lama, dokter masuk bersama beberapa perawat. Mengontrol kondisi Rainer sekaligus membawa hasil pemeriksaan.
“Tuan, sesuai dugaan saya kemarin. Anak Anda menderita penyakit hemofilia,” papar dokter yang sudah selesai memeriksa kondisi Rain pagi itu.
__ADS_1
Kerutan di dahi Rico semakin dalam, menunggu kejelasan sang dokter selanjutnya. Pasalnya, telinganya asing mendengar istilah medis seperti itu.
“Hemofilia merupakan kelainan pembekuan darah. Dalam darahnya kekurangan protein pembentuk faktor pembekuan. Biasanya, ini terjadi karena gen yang diturunkan ibu ke anak laki-laki. Jadi, mohon untuk ke depannya lebih berhati-hati dalam menjaga putra Anda. Jangan sampai terluka lagi. Karena pendarahannya akan sulit untuk dihentikan. Apalagi yang diderita oleh Anananda sudah tergolong hemofilia berat.”
Penjelasan dokter seketika membuat Rico menahan napas sesaat. Menoleh pada Rainer yang sedang berbincang dengan suster, usai membuka mata.
“Apa penyakit itu bisa disembuhkan?” tanya Rico menatap serius.
“Sayangnya sampai saat ini, penyakit itu tidak bisa disembuhkan. Bahkan jika tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan kematian. Jadi, mohon untuk rutin kontrol dan lebih hati-hati lagi, Tuan. Jika suatu hari terluka, segera ambil es batu, balut dengan kain dan tempelkan pada luka sampai pendarahan berhenti. Bawa ke dokter jika tidak bisa tertangani,” jelas dokter panjang lebar.
Rico mengangguk paham, setelahnya dokter bergegas meninggalkan ruangan. Karena harus melakukan kunjungan pada pasien lainnya.
“Rain, makan dulu ya. Abis itu minum obat. Biar cepet bisa keluar dari sini. Nanti Ayah beliin mainan yang banyak,” ucap Rico dengan lembut meraih nampan yang berisi menu sarapan pagi itu.
“Asyik!” seru Rainer bersemangat.
Tiga hari kemudian, Rain sudah diperbolehkan pulang. Rico menggendong bocah itu sembari menggandeng lengan Lala.
Gadis itu selalu datang membawakan makanan untuk sang kekasih. Ia juga masih berusaha melakukan pendekatan pada Rainer. Meskipun masih diabaikan.
“Tunggu di sini dulu sama mama ya. Ayah urus administrasi sebentar.” Rico mendudukkan Rain di kursi tunggu, ditemani Lala yang tersenyum lembut.
Rain tak menjawab, hanya mengangguk tanpa suara. Pandangannya pun sama sekali tak beralih dari punggung Rico.
“Rain, udah nggak sakit lagi ‘kan?” tanya Lala membelai puncak kepala Rain.
__ADS_1
Anak itu bungkam, seolah tak menganggap kehadiran Lala. Helaan napas berat pun berembus dari gadis itu. Ia tetap tersenyum menanggapi cueknya Rain. Berpikir bahwa Rain masih beradaptasi.
“Udah nih. Yuk!” ajak Rico kembali menggendong tubuh Rain.
Mereka lalu melenggang ke area parkir rumah sakit. Rico sama sekali tak melepas genggaman tangan dari kekasihnya. Hingga sampailah di mobil, mendudukkan Rain di kursi belakang.
“Aku di depan aja boleh? Rain masih nggak nyaman sama aku,” tanya Lala di belakang punggung Rico.
Rico berbalik, tersenyum sembari mengacak rambut Lala. “Boleh. Sabar ya,” ucap Rico.
Setelah membukakan pintu untuk Lala, Rico mengitari mobil. Terkejut ketika ada seorang wanita meringkuk di depan mobilnya. Bahkan masih mengenakan seragam pasien rumah sakit tersebut. Tanpa mengenakan alas kaki.
Rico menjulurkan tangan untuk menyentuh bahunya. “Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya Rico.
Wanita itu terkejut, hingga tanpa sadar menepis tangan Rico dengan kuat. Tubuhnya bergetar ketakutan. Air matanya membasahi kedua pipi yang masih ada sisa-sisa lebam di sana.
“Airin! Di mana kamu!” teriak seorang pria dengan arogan.
“Tu ... tuan, tolong. Orang itu sedang mengejarku. Tolong, Tuan,” mohon Airin menangkupkan dua tangan. Suaranya bergetar ketakutan.
Rico menegakkan tubuh, mengedarkan pandangan hingga melihat seorang pria berbadan kekar terlihat mencari-cari keberadaan seseorang.
“Pria itu ....” gumam Lala ketika pandangannya juga mengarah pada lelaki itu.
__ADS_1
Bersambung~