
BLURB:
Diratukan kakak sendiri hingga baper, Izora Finley berusaha keras menepis perasaannya sendiri, mencoba menjalin hubungan dengan lelaki lain.
Rainer Arnold, sejak bertemu sang adik yang telah berusia 17 tahun, selalu berusaha keras untuk membahagiakan adiknya. Ia sampai berjanji tidak akan menikah sebelum sang adik mendapat pendamping yang tepat.
Semakin hari, Zora semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya. Hingga memaksa sang kakak untuk menikah. Namun, siapa sangka jika mereka berdua ternyata bukan saudara sedarah. Rain adalah anak angkat sang ayah.
Menjelang pernikahan, Zora baru mengetahuinya dan menyatakan cintanya pada sang kakak.
Siapa yang akan Rain pilih? Melanjutkan pernikahannya ataukah membalas perasaan Izora? Lalu bagaimana dengan lelaki yang menjadi kekasih Zora?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...CUPLIKAN BAB 1...
Sepasang kaki jenjang gadis itu menjajak di pelataran usai membayar taksi tersebut. Koper hitam tak begitu besar juga sudah diturunkan. Gadis dengan balutan celana jeans dan hoodie berwarna putih itu tampak menyamakan alamat di tangannya dengan plank apartemen tersebut.
“Sepertinya di sini,” gumamnya melanjutkan langkah dengan cepat.
“BRUM!”
Sebuah motor besar dengan kecepatan tinggi melesat dan mengerem mendadak ketika jalannya dihalangi oleh Zora. Alhasil, gadis itu terserempet hingga tubuhnya terpelanting dan terjatuh.
“Aarrrghh! Sssshhh!” rintih gadis itu merasakan nyeri luar biasa di lengan dan bokongnya.
Motor itu berhenti, sang pengendara turun sembari membuka helmnya dan menggantungkan di lengan. Ia menghampiri Zora yang tampak mengibaskan lengannya. Seorang lelaki menjulang tinggi di hadapan Zora.
Bukannya mengulurkan bantuan, ia malah membungkuk dan menatap Zora dengan tajam.
“Heh! Kau mau mati? Jangan di sini, bodoh! Sana tengah jalan raya!” sentak lelaki muda itu.
Secepat kilat Zora menoleh, ia beranjak berdiri dan melayangkan kilatan penuh amarah dari mata sipitnya. Giginya bergemeletuk dengan sangat kuat, napasnya pun menderu dengan kasar.
__ADS_1
BUGH
Dalam sepersekian detik, sebuah bogem mentah mendarat di rahang lelaki itu hingga kakinya mundur beberapa langkah.
“Kau yang ugal-ugalan, sialan!” berang gadis itu berkacak pinggang. Tidak ada ketakutan yang menyelusup di benaknya. Emosinya sangat mudah meledak-ledak.
Lelaki bertubuh kekar dan lebih tinggi dari Zora, semakin menatap nyalang. Menyentuh sudut bibirnya yang lebam dan terasa ngilu. “Kamu jalan enggak pakai mata, malah nyalahin orang. Ini jalur untuk motor. Kau buta?" berang lelaki itu mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Bodoh! Jalan ya pakai kaki. Sejak kapan mata dipakai buat jalan? Belum pernah makan tembok sekolahan ya?” cibir Zora memicingkan mata tajamnya. “Dan lagi, tetap saja kamu enggak hati-hati! Jalan di sana ‘kan masih lebar. Ah, mungkin kamu baru belajar naik motor ya.”
Diremehkan oleh seorang gadis, membuat lelaki itu tidak terima. Ia melangkah semakin dekat dan hampir melayangkan sebuah tamparan. Akan tetapi, Zora bisa menepisnya. Bahkan kali ini ia langsung memiting lengan lelaki itu dan mendorongnya hingga terjerembap.
Zora berjongkok, menekan punggung lelaki itu dengan lututnya. Tangannya mencengkeram kerah kemeja lelaki itu hingga kepalanya terangkat. Dapat terlihat jelas, pancaran kemarahan dari mata pria itu.
“Jangan macam-macam. Atau aku patahkan lenganmu ini, anak muda! Sangat disayangkan jika kamu harus cacat di usia muda,” bisik Zora mendekatkan bibirnya di telinga. Zora sampai tak merasakan lengannya basah, darah mengalir dari sikunya. Rasa kesal yang membuncah, membuatnya melupakan rasa sakit itu.
Beberapa orang yang lewat segera berlarian mendekat, mereka sangat penasaran dan segera berkerumun pada pertikaian dua anak muda itu. Beberapa di antaranya ada yang segera memanggil petugas keamanan.
“Aduh, lepasin, Nak. Bisa mati nanti dia,” seru seorang wanita yang sepertinya baru pulang bekerja.
“Justru karena saya perempuan harus bisa menjaga diri biar tidak diremehkan!” cetus gadis itu beranjak berdiri membiarkan mangsanya bergerak.
“Rega!” teriak seorang gadis sebaya yang langsung menghempaskan tasnya. Tampak panik, khawatir dan segera membantu pujaan hatinya berdiri. "Yaampun, kamu berdarah,” lanjutnya dengan khawatir.
Namun, lelaki yang dipanggil Rega itu menepis lengannya. Seolah tidak ingin disentuh oleh gadis itu.
Rega meraih helm-nya yang terlempar. Melayangkan tatapan yang dingin dan menusuk pada Zora yang juga memberi perlawanan yang sama.
“Awas kamu!” tunjuk Rega tepat di depan wajah cantik Zora.
Dua pria berseragam segera berlari dan mencekal lengan mereka masing-masing. Zora dan Rega sama-sama digelandang ke ruang keamanan karena telah membuat keributan.
“Astaga, Zora!” seru Rain bergegas turun dari mobilnya. Ia baru saja pulang bekerja. Dan saat masuk pelataran apartemen, tak sengaja melihat kerumunan orang-orang yang terlihat seperti tengah ada keributan. Matanya membeliak saat menemukan adiknya digelandang oleh satpam.
“Zora! Zora!” teriak Rain berlari.
__ADS_1
Langkah Zora terhenti, ia segera menoleh. Matanya berbinar ketika menemukan sang kakak. Wajah yang sedari tadi cemberut dan memendarkan amarah, mulai mencair dengan senyum yang lebar.
“Kakak!” seru Zora melepas cekalan satpam dan berlari menghambur ke pelukan kakaknya.
“Astaga, jadi benar ini kamu. Apa yang kamu lakukan? Kenapa bisa sampai di sini, hah? Nekat sekali kamu? Dan lagi kenapa kamu bisa dibawa petugas keamanan?” cecar Rain menangkup wajah imut Zora dan menengadahkannya, agar tubuh tingginya bisa melihat dengan jelas
"Maaf, dia sudah membuat keributan di sini. Jadi, kami harus membawanya ke ruang kemanan!” tegas salah satu satpam dan kembali membawanya.
“Oke, tunggu Kakak di sana. Jangan takut, Kakak parkir mobil dulu!” balas Rain ketika menangkap tatapan nanar dari adiknya.
Zora mengangguk cepat, ia menurut untuk dibawa oleh satpam itu. Sedangkan Rega sudah masuk sedari tadi.
Rain kembali ke mobilnya, ia juga membawakan koper Zora dan segera memarkirkan kendaraannya di basemen. Kekhawatiran membuncah kini ia rasakan. Terkejut, bahagia dan takut berbaur menjadi satu di hatinya.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Setibanya di ruang keamanan, Zora dan Rega masih bersitegang. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau disalahkan.
“Kamu yang jalan sembarangan! Bukan salahku kalau menabrak!” sentak Rega menunjuk Zora.
Gadis itu menepis jari telunjuk Rega dengan kasar. “Gila! Emang kamu pikir ini arena balap? Sudah mencelakai orang, enggak mau minta maaf malah nyalahin korban. Hello! Cowok apaan yang playing fictim kek gitu? Iddihh, najis!”
“Sudah! Sudah, cukup! Tenang semua!” Satpam menggebrak meja yang ada di sana.
Rega hampir nyolot lagi, akan tetapi kehadiran Rain di ruangan itu segera mencairkan suasana. Ia segera menarik kursi dan duduk di hadapan Zora. Menggenggam jemarinya sembari menatap lekat adiknya itu.
“Gimana ceritanya? Kamu bikin masalah apa, hem?” tanya lelaki itu dengan nada lembut sembari menyisihkan anak rambut Zora yang tergerai berantakan.
“Kak, aku tuh enggak salah. Lagi jalan, tiba-tiba dia bawa motor ugal-ugalan. Terus aku ditabrak, Kak. Nih liat lenganku sakit. Kaki aku juga!” rengek Zora dengan manja menunjukkan lengannya yang terasa nyeri.
Ia berubah seperti kelinci imut jika di hadapan sang kakak. Padahal beberapa saat yang lalu, gadis itu mirip serigala betina yang tengah menerkam mangsa. Rega memutar bola matanya jengah sembari mencebikkan bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selengkapnya ada di F*Zzo ya Best. 💋 Mampir ya, gratis kok.
__ADS_1