
Pengantin baru yang kini saling memeluk tanpa penghalang kain, mengatur napas yang terengah-engah. Usia yang tak lagi muda sama sekali tak mengurangi stamina keduanya. Mereka menggila bahkan entah sampai tidak sadar saking lamanya. Peluh pun membanjiri sekujur tubuh mereka.
“Terima kasih, La. Kamu sungguh membuatku gila! Bahkan lebih gila dari waktu kita muda dulu, masih sempit banget,” bisik Rico mengecup punggung polos Lala yang membelakanginya. Ia merasakan sensasi yang berbeda jika dibandingkan saat dulu, yang hanya karena dibutakan naffsu semata.
“Mungkin karena kita sudah ada ikatan,” balas Lala malas banyak bicara. Karena memang ia kelelahan usai pergulatan panas itu.
“Enggak pengen berhenti, La,” gumam Rico yang ingin melanjutkan aktivitasnya kembali.
“Ric, please, aku capek banget,” rengek Lala memutar tubuh, wajah lelahnya terlihat begitu jelas. Kedua netranya begitu sendu.
Rico menepikan rambut panjang Lala yang begitu basah karena keringat. Ia pun menjadi tak tega, “Yaudah, istirahat sebentar.”
“Aku mau mandi dulu,” sergah Lala hendak turun dari ranjang. Namun buru-buru Rico melompat hingga berdiri tegap di depannya. Tentu saja Lala langsung memalingkan muka yang memerah.
“Dih! Malu-malu, udah ngerasain juga!" godanya menggendong tubuh wanita itu ke kamar mandi.
Setelah saling membersihkan diri, keduanya baru bisa tidur dengan pulas. Mereka tak berjarak, saling memeluk begitu erat. Rico bisa tidur nyenyak mulai malam ini.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Desau angin yang berembus di balkon kamar, tak membuat Zora kedinginan. Lagi-lagi ia harus merasa kesepian, karena Rain benar-benar pergi.
“Aaaa!” teriak Zora terkejut ketika seseorang melompat di balkon kamarnya.
Namun langkah panjang dan gerakan cepat membuat Zora bungkam, karena tubuhnya diimpit ke dinding sembari dibekap mulutnya.
Hampir saja menendangnya jika ia tak cepat menaikkan pandangan. Zora mengangguk setelah mendapat isyarat pria di depannya.
“Kalau aku punya riwayat penyakit jantung bisa kejang-kejang aku, Kak!” cebik Zora melangkah cepat melihat ke bawah. Rupanya ada tangga yang cukup tinggi hingga mencapai balkon kamarnya.
__ADS_1
“Lagian disuruh tidur malah melamun di sini!” ujar Rain duduk di kursi yang ada di balkon itu.
“Katanya pulang? Terus kenapa kayak maling? Enggak lewat pintu depan aja?” cecar gadis itu.
Terlihat Rain menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat yang berukuran A3.
“Apa itu?” tanyanya penasaran.
“Punyamu! Semua dokumen penting, identitasmu ada di sana. Termasuk surat pindah sekolah,” papar Rain dengan santai. Ya, terpaksa menyerahkan secara langsung pada adiknya itu, mengingat ia harus segera kembali ke ibukota. Sejak kedatangan Zora ke Indonesia, ia memang meminta bawahan untuk mengurusnya.
Zora segera memeriksanya, sesuai ucapan Rainer. “Mmm ... makasih. Udah sana pergi!” ucapnya ketus.
Rain beranjak berdiri, menatap lekat adiknya sebelum akhirnya melangkah kembali pada tangga tempat ia berpijak tadi. “Jaga diri baik-baik ya, Zo. Aku janji kalau libur nanti sering ke sini!”
Zora memalingkan muka, sama sekali tidak menanggapinya. Ia juga malas menatap sang kakak. Ia sangat kesal karena lagi-lagi harus kesepian.
“Jadilah penurut. Kali aja nanti dibolehin kuliah di Jakarta,” pesan Rain mengusap kepala Zora. Beberapa saat mereka saling diam dengan posisi seperti itu. Tak lama, Rain segera pergi. Benar-benar menghilang dari pandangan Zora yang mulai memburam.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...
Tidak seperti pengantin baru pada umumnya, Rico dan Lala sudah bangun pagi-pagi sekali. Mereka melakukan aktivitas masing-masing. Lala yang sibuk di dapur, sedangkan Rico dengan pakaian olahraga sudah berlari di pelataran rumah yang cukup luas itu.
Zora menguap, meregangkan tubuh dari atas balkon. Matanya memicing ketika melihat sang papa berlari seorang diri di bawah sana.
Buru-buru ia berganti pakaian dan berlari keluar. Ia bergabung menyamakan langkah kaki sang ayah.
“Hei, sudah bangun!” sapa Rico menoleh, kakinya masih berlari, namun sedikit memelankan kecepatannya.
“Heem! Papa nanti kerja?” tanya Zora begitu menikmati aktivitas pagi pertamanya dengan sang papa.
__ADS_1
“Masih ada waktu 3 hari, Sayang. Kenapa?”
“Bikin kandang Hero, Pa. Hehe.” Gadis itu cengengesan, menapakkan kaki beriringan dengan papanya.
“Oh, iya. Nanti Papa cariin tukang. Nyenyak tidurnya semalam?” tanya Rico basa basi.
Keringat sudah mulai menetes dari wajah tampannya. Menatap lekat putrinya yang sangat cantik dan energik. Tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa ia memiliki anak perempuan yang bahkan sudah berusia remaja. Rasanya ingin mengembalikan Zora ke usia bayi lagi.
“Nyenyak. Papa kerjanya apa sih? Kok keliatannya santai. Beda sama Kakak?”
Rico memutuskan untuk menepi, duduk di teras mendinginkan tubuhnya dengan kedua kaki berselonjor. Diikuti Zora di sebelahnya.
“Kakakmu ‘kan jadi asisten CEO, jadi ya memang lebih sibuk kerjanya. Kalau Papa dari dulu sebelum Nona Cheryl lahir, jadi bodyguard Nyonya Jihan,” ucapnya mengusap keringat dengan handuk kecil.
“Wah! Keren dong. Berarti Papa pinter bela diri, terus main tembak-tembakan juga ya, Pa?” seru Zora antusias.
“Ya pastilah. Makanya Papa selalu jaga pola hidup biar tetep sehat dan bugar.”
“Kapan-kapan ajarin ya, Pa!” pinta gadis itu berbinar bergelayut manja di lengan sang ayah.
“Ajarin apa?” sela Lala yang membawa jus untuk suaminya. Ia tidak tahu jika Zora juga turut lari pagi tadi, terlalu fokus menyiapkan sarapan di dapur. Hatinya menghangat melihat suami dan anaknya semakin dekat.
Bersambung~
Haii Bestt... aku bawain rekomendasi novel seru lagiihh dari author Ayura yang berjudul Penyesalan Balas Dendam. mampir ya 🥰
__ADS_1