
Kebingungan mulai melanda, baik Rico maupun Lala. Lilitan tangan Rain begitu kuat diiringi isak tangis sesenggukan.
Lala membelai lembut punggung Rain, tangannya bergerak dengan teratur. Namun masih tidak mengubah keadaan.
Tak berapa lama, terdengar lengkingan suara Cheryl mengudara di pelataran parkir. “Uncle Ric!”
Rico menoleh, terlihat Cheryl melepas tautan tangan ibunya. Berlari menghampiri. Ia tahu kabar kepulangan Rainer dari Jihan, sehingga meronta tak sabar ingin bertemu teman barunya itu.
“Rain, ada Cheryl,” bisik Rico, berharap putranya itu bisa sedikit lebih tenang.
“Dia kenapa?” tanya Jihan setelah berada di dekat mereka bersama sang suami. Keningnya mengernyit melihat kondisi Rain yang ketakutan.
Lala menceritakan kejadian singkat yang mereka alami tadi. Karena Rico masih berusaha menenangkan Rain. Berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Cheryl.
“Ric! Mending kamu bawa ke psikiater deh. Dia kayak ketakutan gitu. Atau mau panggil Khansa ke sini?” tanya Jihan mengira-ngira.
“Iya, nanti aku konsultasi ke dokter anak dulu. Tapi sekarang harus banyak istirahat,” balas Rico mendongak.
“Mama. Aku ikut uncle ya,” pinta Cheryl.
Jihan menoleh pada Tiger untuk meminta persetujuan. Lelaki itu mengangguk dengan senyuman tipis sekali, nyaris tak terlihat. Ia percaya dengan para bawahannya itu. Apalagi, Lala merupakan pengasuhnya sejak bayi.
“Boleh, Sayang,” ucap Jihan membelai puncak kepala putrinya. “La, nitip ya. Nanti sore bawa pulang. Sekalian kamu nginep di rumah utama,” pintanya.
“Baik, Nyonya,” sahut Lala patuh merengkuh kedua bahu Cheryl dengan seuntai senyum manis.
“Baiklah, kalau gitu aku tinggal. Sayang, jangan rewel ya.” Jihan meninggalkan sebuah kecupan di kening Cheryl, melepasnya pada sang pengasuh.
Tiger hanya mengangguk tanpa suara. Kemudian meraih pinggang sang istri dan mundur dua langkah. Memberi jalan mobil Rico yang sudah bersiap pergi.
Bunyi klakson yang menggema, merupakan tanda pamit pada sang boss. Jihan tersenyum lebar sambil membalas lambaian tangan putri kecilnya, hingga mobil tersebut menghilang dari pandangan.
“Jadi?” Suara Tiger menyadarkan lamunan Jihan.
Wanita itu menoleh, menautkan sepasang alisnya karena tidak mengerti. “Jadi apa?”
“Kita lanjutin bikin adek buat Cheryl,” bisik Tiger tepat di telinga Jihan, hingga sekujur tubuh wanita itu meremang.
__ADS_1
Jihan mendecap halus. Ia melirik sang suami yang sudah menampilkan wajah mesumnya.
“Ayo, Sayang. Mau di rumah apa di hotel?” tawar Tiger merunduk, menempelkan dagu di bahunya.
“Ihh, apa sih. Jangan kayak gini. Malu tahu diliatin banyak orang.” Jihan melenggang dengan cepat. Meninggalkan suaminya ke mobil, ketika beberapa pasang mata tampak mengarah padanya. Tiger terkekeh, melangkah lebar demi bisa cepat menyusul sang istri. “Ini tanda setuju ‘kan?” gumamnya menahan senyum.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
Dua minggu kemudian, hari yang ditunggu oleh Rico dan Lala pun tiba juga. Rico memboyong keluarga besarnya ke kediaman Lala.
Sempat terkejut dengan lamaran dadakan itu. Apalagi bertambah terkejut dengan kehadiran Rainer, yang sudah resmi menjadi anak angkatnya secara hukum dan negara. Meski begitu, kedua orang tua Rico sangat mendukung keputusan putranya itu. Mereka pun menerima Rainer dengan tangan terbuka.
Tiger dan Jihan pun turut andil dalam acara lamaran tersebut. Jihan bahkan membuatkan kebaya khusus untuk dikenakan oleh Lala. Ia sampai rela lembur selama dua minggu demi bisa menyelesaikan kebaya modern yang sangat mewah untuk orang kepercayaannya itu. Beberapa seserahan juga sebagian dari Jihan. Dia sangat antusias dengan kabar membahagiakan tersebut.
“Sayang, aku ada panggilan darurat di Palembang.” Tiger masuk ke kamar setelah menerima panggilan di balkon.
“Yah, kamu nggak ikut dong?”
“Aku udah minta sebagian bodyguard untuk memberi pengawalan,” sahut lelaki itu.
“Baiklah, hati-hati suamiku,” ucap Jihan merapikan dasi sang suami.
“Mama! Uncle Ric udah sampai!” pekik Cheryl menggedor pintu dengan tangan kecilnya.
Ciuman dua insan itu pun terlepas. Tiger menyeka bibir Jihan yang basah karena ulahnya. Lipstik waterproof itu, sama sekali tidak terlihat pudar. Warnanya masih sama seperti semula.
“Mama! Papa!” teriak Cheryl lagi.
“Iya, Sayang.” Jihan meraih tas brandednya kemudian tersenyum pada sang suami. “Hati-hati ya. Cepat kembali,” ucap Jihan dengan nada sensual, membuat Tiger gemas dan ingin menerkamnya. Namun, tentu saja tidak bisa. Apalagi putri kecilnya terus berteriak sedari tadi.
Pintu kamar terbuka. Cheryl sudah begitu cantik dengan balutan gaun yang indah. Rambut keritingnya digelung rapi, senyumnya begitu lebar tatkala bersitatap dengan mamanya.
“Sayang! Papa mau ke Palembang. Kamu baik-baik sama mama ya. Jangan repotin mama,” ucap Tiger menggendong tubuh gadis cilik itu sembari berjalan menuruni anak tangga.
“Papa mau ke markas? Cheryl ikut!” rengek Cheryl melingkarkan kedua lengan kecilnya di bahu kokoh sang ayah.
“No! Cuma mau ke perusahaan, Sayang. Kamu ikut ke acara Uncle Ric aja ya.”
__ADS_1
Cheryl mengerucutkan bibirnya. Ia paling tidak bisa jauh dari sang ayah. Kemanapun lelaki itu pergi, Cheryl selalu ingin mengikutinya. Sekalipun ke markas yang begitu menyeramkan bagi orang awam. Tapi, gadis cilik itu justru sangat menyukainya.
“Cuma sebentar, Sayang.” Tiger mencubit hidung mancung Cheryl yang masih tampak cemberut.
“Nanti kalau ke markas ajak Cheryl ya, Pa!” bisik Cheryl yang langsung diangguki oleh Tiger.
“Siap, Tuan Putri!” ujar Tiger mendudukkan Cheryl di kursi penumpang. Disusul oleh Jihan di sebelahnya.
Deretan mobil Rico, keluarga dan bodyguard mulai beriringan meninggalkan kediaman mewah milik Tiger.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
Semburat jingga di ufuk barat mulai membias langit Kota Bandung. Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya mereka tiba di kediaman Lala.
Dua besan itu pun saling bersambut penuh kehangatan. Seserahan yang cukup banyak secara teratur dimasukkan oleh para pria berpakaian rapi. Sempat membuat keluarga Lala terkejut, karena suasana mendadak tegang bagi mereka.
Rico pun berjalan pelan dengan menggenggam dua tangan kecil di sampingnya. Ia berjalan sembari diapit oleh pangeran dan putri kecil. Siapa lagi kalau bukan Rain dan Cheryl. Pria itu tampak sangat gugup bahkan sampai mengabaikan sapaan keluarga Lala.
“Baiklah, silakan masuk.” Ayah Lala pun menjulurkan lengan ke dalam rumah. Senyum ramah membias dari wajah tua itu. Mencoba mencairkan suasana.
“Terima kasih, Tuan.” Rico mengangguk sejenak, ketika berhadapan dengan calon ayah mertua.
Tubuhnya mematung ketika berpapasan dengan gadis cantik nan anggun. Dadanya berdebar kuat, apalagi saat senyuman lebar membias di wajah cantik itu. Sekujur tubuh Rico mendadak lemas karena tancapan panah asmara yang melesat di jantungnya.
\=\=\=\=°°°\=\=\=\=
Dari kejauhan, tampak sebuah mobil hitam terus mengawasi. Tidak ada yang curiga karena jaraknya begitu jauh. Kemudian mengirimkan sebuah pesan. Menatap lamat-lamat kediaman Lala yang terdapat dekorasi sederhana lengkap beserta acara.
“Pria itu baru akan melangsungkan acara lamaran!”
Bersambung~
Selalu saja dadakan 🥱 kan jadi ga sempet bikin undangan...
__ADS_1