
Lala tercengang dengan cetusan Rico. Diam mematung menatap lelaki itu yang masih asyik bersenda gurau dengan Rainer. Senyum dan tawa yang terurai, membuat lesung pipi Rico terlihat jelas. Tentu mampu membuat darah Lala berdesir hebat mengalir dalam tubuhnya.
“Eh, La! Dipanggil tuh!” seru Rico menyadarkan Lala dari lamunan.
“Hah?” Lala tampak gelagapan, matanya menangkap pergerakan dagu Rico pada kasir yang sudah menunggu pembayaran sedari tadi.
“Oh, maaf. Ini, Mbak,” ucap Lala menyerahkan kartu ATM milik Rico. Menunggu beberapa detik, harus memasukkan nomor pin. Lala benar-benar gugup, tangannya bahkan gemetar menekan setiap tombol yang terdiri dari 6 angka itu.
“Terima kasih, selamat berbelanja kembali!” seru kasir menangkupkan kedua tangan di dada, usai transaksi pembayaran beres.
Rico menepikan keranjang belanja mereka di tempat yang lengang dari pengunjung. Di sebuah sudut kamar ganti, untuk memakaikan pakaian baru pada tubuh Rainer.
"Pakaikan ini juga, biar hangat. Balurkan di perut, punggung dan dada!" pinta Lala mengulurkan minyak telon yang sudah ia beli. Lala juga sudah menyiapkan sepasang pakaian lengkap dengan baju dalamnya.
Rico menerimanya, mengamati sejenak lalu mengangguk. "Makasih, sepertinya kamu udah cocok jadi ibu," cetus Rico mengajak Rain masuk ke bilik kecil di balik tirai. Hanya decakan halus yang terdengar dari mulut Lala.
Setelah selesai, mereka berpindah ke counter lainnya. Lala berjalan lebih dulu, menyelipkan rambut di belakang telinga untuk mengurai kegugupannya.
“La! Kamu kenapa sih?” tanya Rico yang merasa aneh pada gadis itu.
Tak ada jawaban, Lala masih melajukan langkahnya sembari menoleh ke sekeliling. Tepatnya mencari pengalihan kegugupannya.
Rico mendengkus kesal merasa diabaikan. Ia melangkah lebih panjang hingga kini tangannya bisa menggapai lengan Lala dan berjalan di sisinya.
__ADS_1
“Eh,” Lala terperanjat. Berhenti sejenak untuk menatap tangannya. Lalu menaikkan pandangan hingga bertatapan dengan manik hitam Rico.
“Kamu kenapa? Marah? Jangan diambil hati ya ucapanku tadi.” Rico mengira Lala menjadi canggung dan marah akibat celetukan tak sengajanya tadi.
“Eng ... nggak apa kok. Santai aja. Eh, Rain. Mau es krim nggak? Kita beli es krim yuk,” ujar Lala mencoba biasa saja, sembari melepas cengkeraman tangan Rico. Sedikit membungkuk agar bisa sejajar dengan Rainer.
Anak itu menoleh pada sang ayah, meminta persetujuan terlebih dahulu. Meski ia sangat menginginkannya tanpa ditawari.
“Kalau mau ayo aja,” ucap Rico yang mengerti tatapan anak barunya.
Senyum lebar tersungging di bibirnya hingga deretan gigi putih pun terlihat jelas. Rain mengangguk beberapa kali dengan bersemangat.
Mereka segera masuk ke stand es krim, memesan tiga cup sesuai dengan rasa favorit mereka masing-masing. Rainer menikmati es krimnya sembari menoleh pada Rico, ekspresi lucunya membuat ayah baru itu terkekeh.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Hampir setengah hari mereka berkeliling di mall. Usai berbelanja, Rico mengajak ke area permainan anak-anak dilanjutkan makan siang. Ia terus membuat anak itu tertawa.
Karena kelelahan, Rain tertidur di pangkuan Lala ketika dalam perjalanan pulang. Lala enggan menoleh pada Rico, memilih memperhatikan pemandangan di luar jendela.
“Aku taruh belanjaan di apartemen dulu ya. Bentar lagi Nona Kecil pulang,” ucap Rico memecah keheningan di dalam mobil. Lala menjawab dengan sebuah anggukan.
Tak berapa lama, Rico berhenti di basemen apartemen. Ia segera turun membawa banyak sekali belanjaan kebutuhan Rainer. Sedangkan Lala hanya menunggunya di dalam mobil yang masih menyala. Agar AC juga tetap nyala dan mereka tidak kegerahan.
__ADS_1
“Thanks ya, La. Udah dibelanjain semuanya. Ah, untung ada kamu,” ucap Rico tersenyum sembari mengenakan sabuk pengaman.
“Bukan masalah, lagian pakai uang kamu kok. Aku milihin doang,” sahutnya tanpa menoleh.
“Kamu kenapa jadi aneh sih, La?” Rico melajukan kembali kendaraannya. “Aku ada salah sama kamu?” lanjutnya fokus dengan jalan, sesekali menoleh pada Lala.
‘Dasar laki-laki nggak peka!’ gerutu Lala dalam hati.
Ia masih memilih bungkam. Semakin menjawab, ia justru semakin kesal. Lala mengabaikannya, sedikit pun tak ingin menoleh pada Rico. Ia merasa tengah dipermainkan oleh lelaki itu.
Akhirnya Rico menghentikan mobil di tepi jalan. Ia melepas sabuk pengamannya, meraih dagu Lala dan menolehkan ke wajahnya. Kening Rico mengernyit saat menemukan mata Lala memerah.
“Ada apa, La? Aku ada salah sama kamu?” tanya Rico dengan pertanyaan yang berulang.
Hanya sebuah gelengan yang diberikan Lala sebagai jawaban. Rico semakin menatapnya dalam, hingga bulir bening terpaksa membobol kedua netra Lala karena tak sanggup berlama-lama bertatapan dengan lelaki itu.
“Ngomong dong, La. Tuh ‘kan, malah nangis.” Rico menyeka air mata yang mengalir di pipi Lala dengan ibu jarinya.
“Ric, kita sudah terlambat jemput nona.” Lala memperingatkan, sengaja mengalihkan perhatian Rico.
Rico menilik jam tangannya lalu menepuk dahinya. “Sial! Terlambat lagi,” keluhnya kembali menjalankan mobil. "Nanti kita harus bicara. Aku bukan tipe laki-laki yang lari dari tanggung jawab!" gumamnya masih terdengar jelas di telinga Lala.
Gadis itu semakin sakit hati. Entahlah, perasaannya begitu sensitif. Ia merasa di PHP oleh Rico. Meskipun sebenarnya ia sendiri yang berlebihan mengartikan kedekatan mereka selama ini. 'Kalau tanggung jawab kenapa justru aku yang kamu seret untuk belanja. Harusnya istrimu! Ibu dari anak ini!' gerutu Lala dalam hati.
Bersambung~
__ADS_1