
Sejak saat itu, Rico berubah 180°. Ia semakin bersemangat dalam beraktivitas. Sadar, tanggung jawab yang ia emban semakin banyak. Terutama pada putra bungsunya.
Setiap pulang bekerja, Rico selalu mencari keberadaan Ozil dan bermain bersama buah hatinya. Tawa memekik khas bayi itu tentu mampu meruntuhkan lelah dan kepenatannya setelah berkutat dengan pekerjaan. Bayi empat bulan itu kini menjadi salah satu tujuan hidupnya. Bahkan sesekali Rico mengajak bayi itu bekerja. Ia tak kesulitan dalam menyetir dan beraktivitas. Dengan gendongan bayi kanguru, membuat keduanya nyaman.
Rico sudah banyak belajar, mengganti popok, membuat susu dan cara menidurkan bayi sudah ia kuasai dalam waktu singkat. Memang sejatinya, Ozil tidak terlalu merepotkan. Rico, telah menjelma menjadi hot daddy sejati.
Sudah memasuki bulan ke lima, istrinya masih tidak ada perkembangan. Kali ini, ia nekat membawa bayinya ke rumah sakit untuk bertemu dengan Lala.
Rico menarik napas panjang, sebelum membuka ruang VIP yang selama ini menjadi tempat tinggal sang istri. “Kita ketemu mama sebentar ya, Sayang,” bisik Rico di telinga putranya.
Walaupun bayi itu tengah terlelap. Ia teringat sewaktu Tiger mengalami koma sekian lamanya, Jihanlah yang mampu membuat lelaki itu tersadar. Rico pun ingin membawa buah hati mereka, berharap mampu membuat Lala tersadar juga. Karena ikatan darah mereka yang kuat.
Langkah kakinya memelan, hingga mereka tak berjarak. Rico menunduk, satu lengannya menahan kepala bayinya, lalu mencium kening sang istri dengan lembut.
__ADS_1
“Sayang, aku datang bersama Ozil, putra kita,” bisik Rico di telinga Lala.
Ia lalu duduk di kursi tunggu, menggenggam jemari Lala yang masih terdapat selang infus. “Ozil sudah besar, Sayang. Bangunlah! Jangan takut kelelahan. Aku bisa membantumu mengurusnya, aku sudah bisa mengganti popoknya, membuat susu, menggendongnya, bahkan aku sudah belajar memandikannya. Aku bisa mengerjakan semuanya, jadi kumohon, bangunlah, Sayang. Demi aku dan anak-anak kita,” papar lelaki itu menahan sesak di dada.
Sekuat apa pun ia menahan, tetap tidak bisa. Rico selalu lemah ketika berhadapan dengan istrinya yang tak kunjung membuka mata. Ia menggenggam tangan Lala dan menciumnya lama, buliran air bening berjatuhan dan membasahi punggung tangan Lala.
Tak berapa lama, Rico beranjak dan memutuskan pulang. Tidak baik bayinya berada di ruangan itu lama-lama. “Sayang, aku antar Ozil pulang ya. Dia sudah lelah seharian ikut aku bekerja. Pinter banget, dia nggak rewel,” papar Rico berpamitan.
Hal itu sering Rico lakukan, selama satu bulan lamanya. Sering membawa Ozil kemanapun ia pergi.
Dering ponsel yang memekik di tengah malam membuat tidur Rico terusik. Hampir saja lupa bahwa lengan kanannya dibuat bantal oleh Ozil. Rico bergerak perlahan, menyingkirkan lengannya dari kepala bayi itu. Ya, mereka lebih sering tidur bersama.
Rico menyipitkan kedua mata untuk memperjelas penglihatannya. Menatap layar benda pipihnya yang masih menyala. Seketika melebarkan kedua mata dan duduk dengan cepat, dadanya bertalu kuat usai membaca sang penelepon adalah rumah sakit tempat Lala dirawat.
__ADS_1
“Halo! Ada kabar apa? Istriku baik-baik saja ‘kan?” cecar Rico mulai berkeringat dingin.
Pria itu mendengarkan dengan seksama, sembari menatap ke arah Ozil yang ternyata juga turut terbangun. Bayi itu sedang memainkan ujung kakinya, berbicara ala bayi namun tidak menangis.
“Baik, saya segera ke sana!” ucap Rico bergegas mengganti pakaian.
Tak berapa lama, lelaki itu segera meraih tubuh Ozil yang semakin bertambah gembul. “Sayang, kamu di rumah dulu ya,” ucapnya melenggang ke kamar Zora. Terpaksa ia mengetuk pintu di tengah malam buta.
“Kenapa, Pa. Ozil rewel ya?” tanya Zora di tengah rasa kantuknya.
“Papa harus ke rumah sakit. Kamu jaga Ozil ya,” titah Rico menjulurkan bayinya pada Zora.
Zora segera membuka matanya lebar-lebar, menarik kesadaran sepenuhnya saat menerima Ozil. “Mama kenapa, Pa?” tanyanya dengan dada berdegup hebat.
__ADS_1
Bersambung~