
Derit pintu terbuka semakin membuat suasana semakin tegang. Seorang pria yang sudah beruban, berdiri menatap mereka satu per satu secara bergantian.
Zora tersenyum sembari mengangguk sebagai sapaan, begitu pun dengan Rainer. Pria tua itu memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya. Keningnya semakin berkerut dalam. Manik matanya kembali bergerak hingga mendapati Rico yang tersenyum ramah padanya.
Pandangan terakhir tertuju pada seorang wanita yang sangat dikenalinya. Tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka semua mengunci bibirnya rapat-rapat. Bahkan untuk mengembuskan napas saja, mereka lakukan dengan sangat perlahan.
Cukup lama mereka berdiri, jemari Lala sudah terasa panas dingin. Ia memberanikan diri menaikkan pandangan, hingga manik matanya menembus mata sayu ayahnya. Penglihatannya seketika memburam.
“Kamu? Masih ingat jalan pulang rupanya? Setelah sekian lama pergi tanpa kabar apa pun beraninya kamu kembali ke sini, hah? Kamu anggap kami itu apa?” teriak pria itu hendak menyerang Lala.
Akan tetapi, tubuh Rico dengan siaga menjadi tameng dari serangan ayah Lala. Menarik lengan Lala dengan sigap dan menyembunyikan di belakang punggungnya. Sedangkan satu tangan lainnya berusaha menepis pukulan-pukulan calon ayah mertua.
“Kurang ajar! Durhaka kamu! Enggak mikir bagaimana perasaan orang tuamu!” Segala sumpah serapah terlontar dari bibir pria tua itu.
Zora semakin mengimpit tubuh Rain yang secara refleks, pria itu pun melindungi adiknya. Memeluk erat gadis itu.
Mendengar suara gaduh di luar, Mama Lala bergegas menyusul keluar. “Ada apa ini, Pa!” teriak wanita tua itu mencekal lengan suaminya. “Hentikan! Apa yang kamu lakukan?” tambahnya meninggikan suara hingga berhasil menghentikan gerakan suaminya.
__ADS_1
Deru napas Dodi bergerak begitu kasar, matanya masih menatap begitu tajam ke arah punggung Rico, lalu mengangkat telunjuknya, “Dia ....”
“Ada apa dengan Rico?” tanya Hera berkerut kening. Karena ia hanya melihat tubuh kekar Rico yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Bukan! Di belakangnya!” Dodi mulai menurunkan nada suaranya, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya masih memerah karena kemarahan yang meledak-ledak sedari tadi.
Merasa sudah aman, Lala menampakkan diri. Tapi masih tidak berani menatap kedua orang tuanya. Kedua kakinya langsung bersimpuh di hadapan orang tuanya. Memeluk kaki sang ibu dalam isak tangis yang pecah.
“Maafin Lala, Ma!” ucapnya dengan suara parau, tak melepaskan lilitan tangan dari kaki ibunya.
Hera mematung, tenggorokannya tercekat saat sekilas melihat wajah putrinya disambung dengan suara yang sangat ia rindukan.
Rico ikut berjongkok, membelai punggung Lala sembari menunduk dalam. Begitu pun dengan Zora yang turut bersimpuh sembari menunduk dalam. Ia memang tidak mengerti apa-apa. Tapi menurutnya ini lebih baik, dari pada berdiri mematung menjadi penonton saja.
“La—la,” lirih wanita tua itu menegakkan tubuh Lala. Hingga kini mereka saling menatap lekat dalam jarak yang begitu dekat.
Hera menaikkan kedua tangannya dengan gemetar, meraba kedua pipi Lala yang langsung dicium oleh putrinya itu.
__ADS_1
“Ya Tuhan! Akhirnya kamu pulang, Nak!” jerit Hera menangis meraung. Menarik bahu Lala dan memeluknya erat. Lala membalasnya lebih erat lagi, tangis keduanya pecah tak terkendali. Mereka saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Melepas kerinduan setelah sekian lama.
“Maaf, Ma, Pa. Kedatangan saya ke sini ingin mengutarakan niat baik saya yang sempat tertunda. Saya ingin melanjutkan pernikahan saya dengan Lala tempo lalu. Mama dan Papa tenang saja, semua sudah saya atur. Dengan segala kerendahan hati saya memohon pada Anda, Pa. Agar minggu depan berkenan mengantarkan Lala ke atas altar untuk menjadi pengantin saya,” papar Rico setelah semuanya saling terdiam dan hanya bertukar isak tangis saja.
“Cih! Saya tidak akan pernah melakukannya. Sakit hati ini dipermainkan anak sendiri,” sahut Dodi yang tidak bisa mengingat kejadian memalukan dulu.
Ya, kepergian Lala, membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata, tentu membuatnya menanggung malu.
Lala tidak berani membantah, ia mengaku salah. Mungkin dulu sempat berpikir untuk segera kembali. Akan tetapi ketika menyadari kehadiran buah hatinya, Lala semakin takut membuat aib keluarga. Hingga keputusannya bulat untuk semakin pergi jauh tak berjejak.
“Maaf sebelumnya, Pa. Tapi, Lala sudah melahirkan buah hati kami, yang baru saya ketahui.” Rico merangkul bahu Zora, menatapnya dengan tersenyum. “Izora Finley, putri kami, cucu dari papa dan mama,” lanjutnya memperkenalkan Zora.
Bersambung~
Mampir juga di karya bestie ya gaeess.. 💋
__ADS_1