
“Bisa makan masakan mama tiap hari pasti nikmat banget ya, Zo. Sesederhana apa pun masakan ibu, pasti rasanya enak. Karena dibuat dengan penuh cinta. Enggak akan pernah bisa ditemukan restoran mana pun,” timpal Rain lagi ketika tak mendengar jawaban dari Zora.
Derasnya air hujan, sama sekali tidak keduanya hiraukan. Bahkan hawa dingin yang berembus, tak membuat keduanya beranjak.
“Kalau capek ada yang pijitin, kalau sakit ada yang panik dan ngomel tiada henti, aku juga iri tau sama teman-temanku. Apalagi dulu sewaktu sekolah sering ada acara hari ibu. Semua teman-temanku merayakan bersama ibunya. Aku? Nangis di pojokan,” lanjutnya terkekeh. Namun jemarinya menyeka air mata dengan cepat.
“Tapi kamu nggak pernah ada yang bully. Enggak pernah ada yang kasih label anak haram! Enggak pernah direndahkan orang dan dipandang sebelah mata, Kak! Aku harus tahan banting demi mama,” adu Zora memeluk kedua lututnya dengan erat.
Rain menoleh, ia kembali merengkuh bahu Zora, menepuknya berulang. Berharap Zora bisa lebih tenang.
“Kamu hebat. Dipaksa kuat karena keadaan. Tapi sekarang, kamu nggak sendiri. Ada ayah, aku, yang gantian lindungi kamu dan mama. Kalau kamu masih marah sama mama, seenggaknya jangan bikin dia khawatir. Kamu akan menyesal kalau kalau sudah kehilangan selamanya,” tutur Rain yang mampu menusuk hati Zora.
Gadis itu mengangkat kepalanya dengan cepat, kalimat terakhir Rain cukup mengoyak hatinya. Tentu saja ia tidak siap kehilangan.
“Jangan bicara sembarangan!” ketusnya memicingkan mata.
“Kamu tahu? Tubuh manusia itu hanya bisa menahan rasa sakit sebesar 45 del. Sedangkan wanita melahirkan, rasa sakitnya mencapai 57 del. Itu setara dengan 20 tulang yang dipatahkan secara serentak, Zora. Bisa membayangkan? Apa kamu tega menyakiti mamamu lagi? Menyakiti wanita yang sudah memberimu kehidupan?” ucap Rain panjang lebar.
Kehilangan seorang ibu benar-benar membuat Rain menjadi pribadi yang dewasa. Ia juga sangat menghargai wanita. Bahkan sampai di usianya yang mencapai 23 tahun, ia sama sekali tidak pernah berpacaran. Rain takut menyakiti perempuan.
Sering kali mengatakan pada Cheryl pergi berpacaran, itu hanya alibi saja agar bebas dari tugas dadakan. Padahal sebenarnya hanya tidur saja di apartemen.
“Aku nggak mau nyakitin mama!” rengek Zora yang semakin tersedu.
Rain mengembuskan napas lega, ia tersenyum karena mampu membuka pikiran adiknya. “Mama pasti punya alasan melakukannya. Kamu tenangin diri dulu aja. Aku pesenin kamar lain ya. Mungkin kamu butuh waktu buat sendiri,” tawar Rain memungut ponselnya yang sempat terjatuh.
__ADS_1
Rain menghubungi pihak hotel dan segera meminta kamar VIP untuk Zora. Ia tahu, walaupun Zora tak menjawab apa-apa. Ya, gadis itu butuh waktu untuk menenangkan diri.
Setelah lima belas menit berlalu, Rain memapah Zora ke kamar yang telah disiapkan. Tidak terlalu jauh dari kamar Lala, masih satu lantai.
“Istirahatlah. Besok kita beli ponsel dan belanja pakaian!” titah Rain lalu memutar tubuhnya hendak keluar.
“Tunggu!” sergah Zora menatapnya nanar.
“Ya? Emm ... sementara kalau mau apa-apa pakai telepon itu dulu. Besok pagi aku jemput.” Rain melenggang lalu mengacak puncak kepala Zora.
“Kenapa kamu baik sama aku?” tanya gadis itu menuntut.
Rain merundukkan tubuhnya, menatap Zora yang sudah duduk di tepi ranjang. “Hei, aku sudah lama sendirian, kesepian. Kamu pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja? Jangan harap kelinci kecil!” ucapnya tersenyum. “Sudahlah, tidur saja biar pikiranmu tenang. Atau mau aku pesankan makanan?” tawar lelaki itu.
Hanya gelengan kepala dari Zora sebagai jawaban. Gadis itu pun langsung merebahkan tubuh dan menyelimuti tubuhnya. Memunggungi Rain yang masih menatapnya.
Mendengar pintu yang tertutup, Zora berbalik. Memejamkan mata sejenak, diiringi helaan napas berat. Mengurai sesak di dada, sembari menenangkan pikiran yang memanas sedari tadi.
\=\=\=\=\=ooo\=\=\=\=\=
“Rain! Gimana?” tanya Lala yang sedari tadi tidak mau kembali ke kamar. Ia sangat khawatir dengan Zora. Takut gadis itu pergi, mengingat, Zora sama sekali tidak tahu wilayah tersebut.
“Mama tenang aja. Sementara, biar dia sendiri dulu, Ma. Karena kalau terus dipaksa, takutnya dia semakin berontak dan tidak terima. Lebih baik Mama istirahat sekarang.” Rain menyentuh kedua bahu Lala dan memutarnya menuju pintu.
“Tuh, ‘kan? Rain memang selalu bisa diandalkan.” Rico menyahut sembari menepuk dadanya dengan bangga. “Siapa dulu trainernya!” tuturnya dengan sombong.
__ADS_1
Lala hanya terkekeh melihat kekompakan ayah dan anak itu. “Makasih ya, Rain. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kamu.”
“Udah tugas aku, Ma. Aku cuma mau kita menjadi keluarga yang utuh. Ayah, tinggalkan biarkan mama istirahat! Tugas ayah masih banyak. Bye, Ma!” Rain merangkul bahu ayahnya.
“Duluan aja, Rain! Ayah masih kangen,” bisik Rico melirik Lala.
Rico masih merasa berat, kakinya terpaku dan enggan melangkah. Tetapi, ia kalah tenaga dengan putranya itu.
“Enggak bisa! Jangan aneh-aneh, Yah!” tolak Rain melenggang tanpa melepas rengkuhannya.
“Tapi Rain ....”
“Enggak ada tapi-tapi!” tukas Rain memotong dengan cepat.
Dua punggung kekar itu semakin menjauh dari jangkauan Lala, bahkan sampai menghilang dari pandangannya. Lala menekan dadanya yang penuh kelegaan. Kebahagiaan yang telah lama ia tinggalkan, perlahan mulai menghampiri.
Bersambung~
Best! sambil nunggu up lagi mampir sini dulu yuk....
Judul: I Love You, Ibu Guru
Napen: Ayi
__ADS_1