Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 16 ~ Menguntit


__ADS_3

Airin benar-benar terkejut ketika tak sengaja ia melihat putranya berada dalam gendongan seorang pria muda, ketika kontrol ke rumah sakit. Kesehatannya masih harus dalam pantauan dokter. Itu pun harus selalu waspada, takut bertemu dengan Satya.


Selama ini, ia hidup berpindah-pindah agar tak meninggalkan jejak. Sehari-hari Airin hidup dari hasil jual tanah warisan orang tuanya yang sudah lama meninggal.


“Jino,” lirih Airin menangis haru. Karena tidak menyangka dipertemukan oleh buah hati yang ia cari-cari sejak lama.


Airin melangkah pelan di belakang Rico. Sesekali menunduk agar tidak ada yang curiga. Selama berjalan, Rico terus berbicara lembut pada Rain, hingga membuat Airin mengernyitkan keningnya dalam. Penasaran dengan laki-laki itu. Airin semakin terkejut ketika mendengar panggilan ayah dari bibir mungil putranya.


“Ayah?” gumam Airin kebingungan.


Bagaimana bisa putranya itu memanggil orang lain dengan sebutan ayah. Namun jika dilihat-lihat, Rain memang nyaman bersama lelaki asing di mata Airin. Ia juga bisa melihat sorot ketulusan dan kasih sayang darinya.


Selama satu jam lebih Airin menunggu di luar ruangan dokter yang dikunjungi oleh Rico. Ia berjalan mondar-mandir dengan perasaan khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan putranya.


Hingga ketika mendengar derit pintu yang terbuka, Airin buru-buru bersembunyi, terus mengekori kemana pun Rico melangkah.  


Selesai dengan antrean obat, Rico tiba-tiba merasa kebelet. Ia serahkan obat-obatan pada Rainer. “Tunggu bentar ya, ayah mau ke toilet. Enggak tahan nih,” seru Rico langsung berlari begitu saja.


Kesempatan emas bagi Airin untuk menemui putranya. Sepeninggal Rico, Airin berlari menghampiri Rain dan memeluknya sangat erat. “Jino! Ibu nyari kamu ke mana-mana!” gumam Airin menitikkan air mata haru.


Airin meregangkan pelukan, mencium wajah Rain bertubi-tubi. Sembari melirik ke arah Rico.

__ADS_1


“Ibu, jangan pergi,” rengek Rain dengan mata berkaca-kaca.


Airin menangkup kedua pipi putranya, “Dengar, apa kamu aman dan bahagia bersamanya?” tanyanya tanpa basa-basi.


Rainer mengangguk, bulir bening meleleh di kedua pipinya. Airin mengusap pipi Rainer dengan sayang. Kembali memeluknya, mencetak senyuman di bibir.


“Syukurlah, yang penting kamu baik-baik saja. Ibu akan cari cara biar kita bisa bersama. Sabar ya, Sayang. Yang penting ibu tahu kamu baik-baik saja.” Airin mencium kening Rain begitu lama, lalu meninggalkan bocah itu lagi karena Rico sudah terlihat di pelupuk matanya.


Benar saja, Rico sudah kembali. Ia segera menggendong tubuh Rain dan membawanya keluar dari rumah sakit.


Airin menggigit kuku-kuku tangannya. Mengingat-ingat wajah yang tak asing baginya itu. Sembari berjalan dengan jarak beberapa meter dari punggung kokoh Rico.


Rain pun terdiam, tubuhnya menghadap ke belakang dengan kedua tangan melingkar di bahu ayahnya. Matanya menatap nanar sang ibu yang tampak kebingungan.


Rico menoleh, menatap wanita yang sedang beranjak bangun. Lalu mengabaikannya dan melenggang masuk ke dalam lift.


Buru-buru Airin ikut masuk. Tak ingin kehilangan jejak pria baik yang kini merawat putranya. Selain itu ia baru teringat, bahwa lelaki itu yang pernah menolongnya dari kejaran Satya.


...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...


“Langsung ke butik aja ya. Udah ditungguin. Cheryl juga di sana.” Rico membukakan pintu dan mendudukkan Rain di kursi samping penumpang.

__ADS_1


Rain mengangguk. Ia tampak celingukan, mencari seseorang. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Airin sudah berada di dalam taksi bersiap untuk mengikuti Rico. Airin ingin melihat di mana mereka tinggal.


“Ikutin mobil hitam itu ya, Pak. Tapi jangan sampai ketahuan,” pinta Airin.


“Baik, Nyonya!” sopir itu mengangguk patuh.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di Butik Anastasia. Rico segera mengajak Rain masuk. Bocah itu terus saja diam sejak pulang dari rumah sakit tadi.


Tatapan Rain masih mengarah keluar. Berharap sang ibu muncul di balik kaca jendela bening yang cukup besar itu. Dan matanya berbinar saat menemukan wanita itu berdiri di pelataran gedung dua lantai itu.


“Ayah, mau turun,” pinta Rainer.


“Oh, iya. Cheryl ada di ruangan mamanya. Langsung ke sana aja ya,” ucap Rico mengusap puncak kepala Rainer.


“Heem, Ayah.” Rain mengangguk dan segera berlari.


Namun bukan menuju ruangan Jihan, ia justru berlari keluar tanpa sepengetahuan Rico. Karena saat ini, Rico tengah sibuk fitting baju bersama Lala.


“Ibu!” ucap Rain ketika pintu utama terbuka. Ia langsung mengambur ke pelukan wanita yang melahirkannya itu. Rain tentu masih sangat merindukan ibunya.


Bersambung~

__ADS_1


Gaiss.. ada yang masih inget resespi Khansa-Leon dan Hansen-Emily? masih dong ya. gak boleh bawa amplop atau kado dalam bentuk apa pun. bahkan dikasih souvenir yang gak main main. Aku sempet bilang, berharap ada di dunia nyata. Dan masha Allah, resepsi Kaesang ternyata sama. Tidak memperbolehkan para tamu bawa amplop maupun kado apa pun. 😍 apakah beliau terinspirasi dari mereka 🤣🤣🤣


ternyata setiap ucapan adalah doa. walaupun dalam hati. Tetep khusnudzon thinking dan berkata yg baik2 ya gaiss... Love you 😘


__ADS_2