Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 7 ~ Lelaki Brengsek!


__ADS_3

Cheryl mengentakkan kaki kecilnya, bibir mungil itu mengerucut lucu dengan tangan yang terlipat di dada, ketika melihat Rico berlari mendekat ke arahnya.


“Nona kecilku, maafin uncle ya,” ucap Rico yang langsung menggendong tubuh Cheryl. “Terima kasih, Miss. Maaf atas keterlambatannya,” lanjut Rico mengangguk pada guru yang setia menemani Cheryl.


“Uncle dari mana aja? Kaki Cheryl sampai kesemutan nungguin,” seru gadis cilik itu melirik dengan tatapan tajam.


“Maaf, Nona kecil. Tadi uncle harus membeli pakaian untuk Rain. Kasihan dia belum punya baju.” Rico berucap sambil melenggang dengan langkah panjang.


Mata Cheryl mulai berbinar, senyum pun mengembang di bibir ketika teringat ia mempunyai teman baru. “Uncle, di mana Rain?” tanya Cheryl bersemangat.


“Di mobil sama Mbak Lala. Dia kelelahan, jadi ketiduran deh.”


“Asyik! Nanti aku mau main sama Rain,” seru Cheryl bertepuk tangan.


Rico menggeleng pelan sembari tersenyum, geli sendiri dengan sang nona yang mood-nya mudah berubah.


Setelah mendudukkan di jok penumpang belakang, Rico memakaikan sabuk pengaman pada gadis cilik itu. Ia tersenyum senang ketika mengintip bayangan Rain dari cermin kecil yang menggantung di depan.


...\=\=\=\=000\=\=\=\=...


“Nona kecil, ganti baju dulu. Nanti dimarahi mama!” perintah Rico pada Cheryl yang tak sabar ingin bermain bersama Rain, ketika mereka baru sampai di butik.


Gadis berambut keriting itu, akhirnya menurut. Rico mengambil alih tubuh Rain yang sudah terbangun sejak mobil berhenti.


“Tapi Rain jangan boleh pergi ya, Uncle!” seru Cheryl berlari kecil memasuki butik milik sang mama.

__ADS_1


“Tunggu di tempat biasa—tempat yang selalu mereka habiskan berdua ketika ada waktu luang," ucap Rico pada Lala yang masih cemberut sedari tadi. "Aku kenalin Rain dulu sama Cheryl."


Langkah lelaki itu melebar, semakin meninggalkan Lala yang termangu. Memasuki ruangan sang boss setelah mengetuk beberapa kali.


Telinganya langsung menangkap celoteh Cheryl, bercerita keseruannya di sekolah hari ini. Dan Jihan yang memakaikan gaun pada putrinya pun, tampak seru menanggapi. Ia selalu suka melihat komunikasi juga kedekatan antara ibu dan anak itu. Meskipun sang nyonya begitu sibuk dengan sekelumit pekerjaan. Tetap saja bisa meluangkan waktu untuk sang buah hati.


“Uncle!” seru Cheryl berlari meraih jemari Rico dan menggenggamnya. Kepalanya mendongak, menyunggingkan senyum lebar ke arah Rainer yang membisu menatapnya.


Pria itu berjongkok, menurunkan Rainer tepat di hadapan Cheryl. “Rain, ini namanya Nona Cheryl.”


“No, Uncle. Cheryl aja. Rain ‘kan temen aku,” tolak Cheryl.


“Baiklah, baiklah. Rain, mau ‘kan main sama Cheryl?” tawar Rico pelan.


Rainer menoleh, menatap gadis cantik bermata biru yang masih tersenyum ke arahnya. Perlahan mengangguk, lalu membalas senyum Cheryl.


“Hah! Akhirnya, ada yang bisa meluluhkannya,” desah Rico menyeka keningnya yang basah karena keringat. Napasnya berembus lega karena Rain sudah mau terlepas darinya dan mulai berkomunikasi selain dengannya.


“Mereka sepertinya seumuran ya, Ric,” gumam Jihan menoleh pada Rico. Sedari tadi mengamati interaksi putrinya bersama Rainer.


Rico mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah, mungkin. Ah, yang penting udah mau bicara dan komunikasi sama orang lain, udah seneng aku. Nggak kayak pertama kali aku nemuin dia. Kek patung,” selorohnya kembali bangkit. “Titip sebentar. Aku ada keperluan.” Hendak melangkah namun terhenti karena suara Jihan.


“Ke mana lagi? Nanti dicariin anakmu loh,” sanggah Jihan.


“Bentar doang. Masih di sini kok.” Pria itu segera menghilang di balik pintu.

__ADS_1


...\=\=\=^^^\=\=\=...


Desau angin yang berembus menerbangkan helaian rambut panjang Lala. Jemari lentiknya mencengkeram ujung gaun yang dikenakan. Bulu mata lentik saling bertumbukan setiap berkedip pelan.


Raganya luluh lantak, mengingat kilasan kejadian beberapa waktu lalu. Napasnya terlihat berembus dengan berat.


Getaran kursi kayu panjang di sebelah, membuat Lala menoleh sekilas. Pria tampan yang ia kenal sejak tiga tahun lalu, berhasil merebut separuh hatinya.


“Mau kamu sebenarnya apa, Ric?” Lala akhirnya buka suara.


Tertoleh, hingga manik tajamnya memindai wajah cantik yang menyejukkan. Rico bergeming, menunggu ucapan Lala selanjutnya.


“Kalau memang kamu sudah beristri, nggak seharusnya kamu selalu deketin aku. Kamu tebar pesona sama siapa pun aku nggak peduli. Tapi, ketika kamu menyeret aku jadi pelakor ....” Lala mengembangkan dadanya, menghirup udara sebanyak mungkin. “Kamu benar-benar brengsek!” ketus Lala dengan deru napas yang tak beraturan. Bahkan nada bicaranya terdengar bergetar.


Rico menatap gadis itu lamat-lamat. Akan tetapi diam tanpa suara. Hingga ketika Lala menoleh padanya, Rico langsung menangkup kedua pipi Lala. Tiba-tiba mencuri ciuman di bibir perempuan itu.


Susah payah Lala mendorong dada lelaki itu. Hingga sebuah tamparan dilayangkan begitu kuat di pipi Rico.


“Kamu lelaki paling brengsek yang pernah aku kenal!” teriak Lala dengan emosi membuncah. Perempuan itu segera beranjak dan hendak berlari meninggalkan Rico.


Akan tetapi, dengan cepat Rico berdiri. Mencekal lengan perempuan itu, lalu menariknya dengan kuat hingga punggung Lala berbenturan dengan dada bidang nan kokohnya.


Lengan kekar pria itu melingkar di perut Lala yang tidak bisa bergerak. Kedua kaki gadis itu terasa lunglai. Air mata mulai terburai di wajah cantiknya.


__ADS_1


Bersambung~


Ingat ya, Uncle Ric! Wanita selalu benar. 😜


__ADS_2