
“Zora ke toilet, mules katanya,” ucap Rico setelah anak gadisnya menghilang dari pandangan.
Terdengar embusan napas berat dari ujung telepon. Sudah berulang kali Zora menghindarinya.
“Kenapa? Kalian ada masalah?” Rico bertanya lagi usai mendengar reaksi dari Rainer.
Tak berselang lama, getaran di meja mengalihkan atensi Rico. Ia menegakkan punggungnya, mencari-cari sumber suara. Rupanya getaran dari ponsel Zora yang sengaja ia tinggal di meja.
Sebenarnya ia tidak ingin mengulik privasi putrinya, akan tetapi getaran tersebut seolah tidak ada jeda. Khawatir ada sesuatu penting yang terjadi. Terpaksa Rico menjulurkan lengannya untuk meraih benda pipih itu.
Keningnya mengernyit ketika melihat panggilan dari rumah. “Bentar, Rain. Aku angkat telepon dari rumah dulu," ucap Rico meletakkan ponsel Zora di telinga yang berbeda.
"Ya!"
"Tu ... Tuan, Nyonya!”
“Kenapa?” teriak Rico beranjak dari duduk, apalagi mendengar suara panik dari asisten rumah tangganya.
“Nyonya jatuh di kamar mandi, Tuan!”
DEG!
Lutut Rico serasa bergetar, hampir saja terhuyung jika saja ia tak cepat menyentuh tepian meja. Degup jantungnya berdenyut nyeri, pikirannya berhamburan ke mana-mana.
__ADS_1
“Oke, saya segera pulang!” ucapnya lemah setelah berhasil menguasai diri.
“Yah! Kenapa?” Rain ternyata masih tersambung.
“Mamamu jatuh di kamar mandi!”
Tanpa menunggu balasan atau pertanyaan dari Rain, Rico mematikan sambungan telepon. Tujuannya sekarang tentu ke toilet wanita. Untung saja, Zora berada di luar toilet. Sehingga pria itu tidak perlu menerobos masuk ke tempat terlarang itu.
“Kenapa, Pa?” tanya Zora ketika menemukan wajah sang papa pucat pasi.
“Kita pulang sekarang juga!” tegasnya tanpa memberi penjelasan. Langsung menarik lengan kecil Zora dengan langkah cepat keluar restoran.
Zora ikut berdegup hebat menerka-nerka kemungkinan yang terjadi. Apalagi sekarang, ayahnya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, padahal setahunya, pria itu tidak pernah melebihi batas kecepatan 80 km/jam.
Mereka bungkam sepanjang perjalanan. Zora menggeleng untuk menepis segala pikiran buruk yang mampir di kepalanya.
Dua ART tampak menggosok tangan dan kaki Lala, sesekali memberikan minyak angin di hidungnya. Namun wanita itu tak kunjung sadarkan diri.
“Tuan, Nyonya masih belum sadar,” ucap salah satunya ketakutan.
Rico segera memeriksa denyut nadi Lala, terasa begitu lemah. Ia segera menggendong wanita itu dan melangkah keluar.
Zora menahan dadanya yang terasa hampir meledak. Ia pun bergerak cepat untuk membukakan pintu mobil.
__ADS_1
“Zora, minta antar Pak Arman! Papa duluan!” seru Rico langsung melaju dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Hening, setelah penjelasan dari dokter yang menangani Lala, ayah dan anak itu sama-sama terdiam. Entah ini adalah kabar bahagia atau sebaliknya.
“Tuan, usia nyonya sudah lebih dari 38 tahun. Kehamilannya tergolong berbahaya. Apalagi beliau sempat terjatuh. Untuk saat ini, memang tidak terjadi pendarahan atau tanda-tanda yang buruk. Hanya saja, saya hanya memperingatkan agar istri Anda mendapat penanganan khusus selama hamil,” papar dokter tersebut.
“Lalu saya harus bagaimana? Agar istri saya baik-baik saja,” tanya Rico dengan nada suara lemah.
“Nyonya harus benar-benar bed rest, Tuan. Jangan melakukan aktivitas yang berlebihan, kalau bisa hindari naik turun tangga.
“Berikan obat terbaik untuk istri saya. Atau kalau memang kehamilan itu sangat berbahaya bagi istri saya, ambil saja janinnya. Asal istri saya selamat.”
Kata kehamilan yang berbahaya seolah menghantam dada Rico. Ia benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada Lala. Tidak, ia tidak akan siap kehilangan wanita itu lagi.
“Pa!” sentak Zora yang sedari tadi berdiri di belakang Rico, meremas bahu lelaki itu dengan kuat.
Bersambung~
Beberapa bab lagi, kita akan segera berpisah dengan mereka 😢
__ADS_1
mampir ya ke novel temen 💋