Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 43 ~ Bodoh


__ADS_3

Keringat sudah mengguyur seluruh tubuh seorang pria yang sedang menggerakkan peck deck atau butterfly gym selama 30 menit. Pria berusia 43 tahun itu, masih terlihat bugar dan perkasa. Selain menjaga pola makan, ia juga rajin berolahraga.


Setiap bangun tidur, tempat yang ia tuju pertama kali adalah ruangan gym yang ia bangun di apartemen sebelahnya, kemudian menyatukan unit tersebut. Ada beberapa alat gym di sana, seperti treadmill, peck deck, lat pull down machine.


Sejak kehilangan cinta pertama yang entah di mana, kemudian kehilangan istri yang tidak pernah ia lihat, hingga kehilangan calon buah hatinya, Rico berubah menjadi lebih pendiam dan sama sekali tidak melirik perempuan.


Rico tergerus dalam penyesalan yang begitu dalam. Hidupnya benar-benar tak berarti. Apalagi ketika usahanya dalam mencari cinta pertamanya sama sekali tak ada hasil. Karena Lala, sama sekali tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Ia hancur, terpuruk, tapi dia ingat masih punya tanggung jawab lain, yaitu Rainer.


Ia hanya fokus bekerja sembari membesarkan Rain, mencurahkan seluruh kasih sayang pada anak tirinya itu. Selain itu, Rico juga menjaga Cheryl—sang nona kecil melebihi nyawanya. Takut kehilangan lagi untuk ke sekian kalinya.


“Dari mana saja kamu?” tanya Rico ketika berpapasan dengan Rain baru masuk apartemennya.


“Eee ... ada urusan pekerjaan mendadak, Yah. Biar pernikahan Cheryl nanti, udah nggak ada tanggungan,” sahut Rain melepas sepatu, tanpa berani menatap sang ayah.


Rico menyeka keringat di wajah, turun ke dada bidangnya dengan handuk. Lalu melempar handuk itu tepat pada wajah putranya. “Kau berbohong?” selidik Rico melipat kedua lengannya.


Meski sempat terkejut, Rain berusaha menetralkan wajahnya. “Enggak, Yah,” elaknya.


“Lalu kenapa tanganmu bisa terluka?” cecar Rico menghunuskan tatapan tajamnya.

__ADS_1


“Eee ... ini ....” Rain belum menyiapkan jawabannya.


“Kau tidak pandai berbohong, Rain!” sentak Rico membuat Rain tertunduk.


Benar, pria itu tidak pernah bisa menyembunyikan kebohongan. Rico tentu sangat tahu perangai laki-laki yang ia besarkan.


“Maaf, Yah!” lirih Rain tertunduk.


Rico meraih lengan Rain dan membawanya duduk di sofa tamu. Melenggang ke kamar dan tak lama kemudian, kembali dengan membawa kotak P3K.


Tanpa berucap apa pun lagi, Rico membawa telapak tangan Rain ke pangkuannya. Membuka lilitan kain yang berubah warna menjadi merah. Sebelah alis Rico terangkat melihat luka yang tak kunjung tertutup. Bahkan masih ada darah yang mengalir.


Diam, tidak ada suara. Rico menekan lukanya sedikit lebih keras, hingga membuat Rain menjerit kesakitan.


“Sakit, Ayah!” rintihnya.


“Katakan!” tuntut Rico dengan suara tidak ingin dibantah.


“Nanti.” Rain menjawab dengan singkat.

__ADS_1


“Sekarang!” geram Rico kembali menekan luka itu.


“Aaaaaa! Nanti selepas acara pernikahan Cheryl, Ayah!” pekik Rain memeluk erat lengannya sembari membungkuk. Karena nyeri yang luar biasa menjalar hingga seluruh tubuhnya. "Ayah tega banget!" gerutu Rain bersuara lirih.


Rico berdecak kesal. Kembali menarik tangan Rain dan menutup luka itu. Lalu membalutnya dengan kasa putih hingga benar-benar tertutup sempurna.


“Ayah tunggu.” Rico beranjak ke kamar mengembalikan kotak P3K. Sekalian membersihkan tubuhnya.


Setengah jam kemudian, Rico tampak sudah rapi. Kacamata pun membingkai sepasang netra elangnya. Tubuh tegap itu melangkah dengan tergesa.


“Ayah mau ke mana?” tanya Rain yang masih bersantai menyandarkan punggung bermain ponselnya.


“Ke hotel. Mastiin keamanan dan kenyamanan untuk para tamu undangan nona dari Jakarta!” sahut Rico ketus tanpa menoleh. Ia masih kesal pada anaknya itu.


Rain mendelik, buru-buru meraih ponselnya untuk menghubungi pihak hotel. “Bodoh! Kenapa aku bawa Mama ke hotel yang sama dengan para tamu undangan lainnya. Tidak! Tidak! Mereka nggak boleh ketemu dulu!” gerutu Rain tidak tenang.


Bersambung~


Halo Uncle.. makin berumur makin hot aja 😌

__ADS_1



__ADS_2