
Teriakan demi teriakan menggema di lorong rumah sakit, ketika dua buah mobil berhenti di depan IGD. Teman-teman Lala semua panik memanggil tim medis, sedang Lala dibantu sopir dan Nyonya Felix turun dari mobilnya.
Lala masih mendesis kesakitan, bahkan ia sampai berbalik mencengkeram pintu mobil sembari membungkuk dan mengatur napasnya.
“Ini mana sih, perawatnya!” teriak Nyonya Felix yang tidak tega melihat Lala yang kesakitan seperti itu.
Sebuah kursi roda menghampiri dengan seorang perawat berseragam biru, khas rumah sakit tersebut. Mendudukkan Lala dan membawanya masuk.
“Silakan tunggu di luar, Nyonya! Kami akan memeriksanya terlebih dahulu.”
Keempat teman Lala saling berpelukan, mereka takut sekaligus khawatir dengan kondisi Lala maupun bayinya. Sedangkan Nyonya Felix, duduk dengan raut penuh kecemasan.
Setelah diperiksa, Lala dipindahkan ke ruang rawat inap dan mengganti gaun dengan baju pasien. Masih ada banyak waktu, karena baru mengalami pembukaan kedua. Tapi, perempuan itu sungguh merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, apalagi kini semakin menjalar di punggung.
Dokter menyarankan agar tidur dengan posisi miring ke kiri atau perbanyak jalan untuk semakin mempercepat pembukaan. Namun baru beberapa langkah, kedua lutut Lala terasa gemetar dan kaku digerakkan. Alhasil ia hanya tidur sesuai saran dokter.
Seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu semakin intens. Nyonya Felix dengan sabar menggosok punggung Lala, ada juga yang membelai perutnya. Ikut merasa tegang melihat sekujur tubuh Lala yang sudah memerah, bahkan urat-urat hijau tampak menyembul jelas.
“Starla, kamu hebat. Kamu pasti bisa, Sayang,” gumam Nyonya Felix di telinga Lala.
Rambut lala bahkan sudah basah karena keringat. “Sakit, Nyonya,” sahutnya terengah-engah. Air matanya menetes tanpa diminta. Mengingat semua dosanya pada ibunya.
Mata Lala terpejam, menarik napasnya yang mulai terasa sesak, “Ibu, Ayah, maafin aku,” gumamnya dalam hati dalam helaan napas panjang.
“Nyonya, mau muntah,” rengek Lala yang sudah menjulurkan kepala ke bawah ranjang. Namun kedua kakinya seolah tidak bisa bergerak.
Frida dan teman-temannya segera memberikan wadah stainless yang sudah tersedia di bawah brankar. “Enggak apa-apa, muntah sini aja.”
Lala dibantu bangun, ada yang memijit kepala, tengkuk, mengusap punggung dan perut. Wanita hamil itu mengeluarkan makanan yang sudah masuk ke perutnya sampai lambungnya terasa kosong.
__ADS_1
“Udah?” tanya Frida dijawab anggukan.
Lala kembali rebahan, sakit di perutnya semakin menjadi. “Kalau aku nggak selamat, tolong rawat anakku dengan baik ya. Maafin semua kesalahanku,” ucap Lala di tengah isakannya.
“Kamu ngomong apa, La?! Kamu ibunya. Tentu bayimu akan sangat membutuhkanmu. Kami memang menyayanginya, tapi kamu juga harus berjuang!” sentak Nyonya Felix, menganggap ucapan Lala semakin melantur.
“Nyonya, aku nggak kuat, aaarhhh!” jerit Lala mengerang, dengan cengkeraman yang semakin kuat.
“Panggil dokter!” titah Nyonya Felix.
Tak berapa lama, dokter dan beberapa perawat kembali ke ruangan. Setelah memastikannya, mereka memindahkan ke ruang bersalin.
“Sudah siap melahirkan, Nyonya. Kami akan memindahkan ke ruang bersalin,” ucap Dokter.
Nyonya Felix dan para bawahannya berbondong-bondong berpindah ruangan. Dalam hati mereka merapalkan doa-doa untuk keselamatan Lala maupun bayinya.
\=\=\=000\=\=\=
Rico bergegas meninggalkan pekerjaannya, ketika mendapat telepon dari pihak rumah sakit. Mengabarkan bahwa wanita yang tinggal bersamanya di apartemen menjadi korban penusukan.
Jihan yang mendengar percakapan itu turut mengikuti lelaki itu. Anak-anak sudah mereka antar ke sekolah.
“Dokter! Dokter! Bagaimana kondisi Airin?” tanya Rico panik ketika memasuki ruang IGD.
“Oh, kebetulan sekali. Anda keluarganya?” tanya dokter tersebut.
“Saya suaminya!” tegasnya membuat Jihan membeliak sempurna. Tapi, pertanyaan itu seketika ia simpan karena situasi yang tidak tepat.
“Tuan, Nyonya harus segera menjalani operasi. Selain kehilangan banyak darah, bayi dalam kandungannya harus segera dikeluarkan,” tutur sang dokter.
__ADS_1
Kedua lutut Rico bergetar seketika. Sepasang manik mata nyaris keluar dari tempatnya. “Ba ... bayi?”
“Ya, katanya Anda suaminya? Kok bisa terkejut begitu? Bahkan bayi itu sudah berusia 20 minggu,” seru dokter mengerutkan keningnya.
Rico menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya terhuyung dan dengan cepat berpegangan pada meja. Wajahnya berubah pias. “Tolong, selamatkan semuanya,” lirih Rico yang masih dihujani rasa syok berlebih.
“Silakan tanda tangan persetujuan operasi ini, Tuan. Dan selesaikan administrasi agar segera ditindak lanjuti,” titah sang dokter.
Tanpa berlama-lama, Rico segera membubuhkan tanda tangan di atas surat-surat itu. Airin segera dipindahkan ke ruang operasi.
Rico dan Jihan mengikuti hingga kini duduk di kursi tunggu. Pandangan Rico seolah kosong. Masih mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh dokter.
Tiba-tiba, Rico merasa mual. Ia berlari saat itu juga ke toilet. Jihan menatapnya dengan iba, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak berselang lama, Rico kembali duduk dengan wajah pucatnya sembari menyentuh pinggangnya. Napasnya tampak begitu berat.
Jihan mengernyitkan alisnya, “Kau kenapa, Ric?”
“Enggak tahu!” sahutnya cepat sembari menggeleng.
Bukan hanya sekali. Berkali-kali pria itu mondar-mandir ke toilet karena rasa mual yang menyerang. Punggungnya juga terasa begitu sakit.
“Hei, kau salah makan?” Jihan tampak khawatir.
Rico sampai lemas. “Punggungku juga sakit sekali! Perutku seperti diremas-remas!” rintihnya menunduk, mengusap-usap punggung dan perutnya.
“Aneh. Kamu nggak punya penyakit ‘kan?”
Rico sudah tidak kuat menjawab lagi. Ia sudah kehabisan tenaga. Bahkan ia tak beranjak ketika rasa mual terus menyerangnya saat ini. Tak peduli jika harus keluar di lantai itu.
__ADS_1
Bersambung~