Mendadak jadi HOT DADDY

Mendadak jadi HOT DADDY
Bab 57 ~ Kualat


__ADS_3

Rico terperanjat kaget, ia mengecup kening Lala sekilas kemudian berlari keluar menyusul Rainer. Langkah kakinya terburu-buru hingga mencapai pintu lift yang sama dengan putranya.


“Ada masalah apa?” tanya Rico sembari mengatur napasnya, ketika pintu lift tertutup semakin bergerak turun.


“Enggak ada!” ucap Rainer dengan santainya.


Tentu saja membuat Rico mendelik, “What the ****?!” umpat Rico menendang betis anak lelakinya.


“Aarrgh!” desis Rainer menekan betisnya yang cukup ngilu.


“Sorry, Yah. Takut ayah keblabasan. Enggak inget gimana dulu?” ringisnya melenggang keluar karena sudah mencapai lantai dasar, pintu pun sudah terbuka.


Rico tercengang, berpikir sejenak lalu membenarkan ucapan Rainer. Ah, dia merasa bersalah karena asal tendang saja.


“Ke mana Rain?” tanya Rico merangkul bahu putranya.


“Pulang. Udah aman semua,” sahutnya melenggang menuju mobil.


“Rain, sorry!” gumam Rico merasa bersalah.


“Hem! Pulang!” tegas lelaki muda itu memicingkan mata. Tatapannya melempar sebuah ancaman.


“Oke.”


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Keesokan harinya, sesuai janji, Rain mengajak adiknya jalan-jalan. Mereka menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja, bermain dan makan-makan. Zora begitu girang lari ke sana ke mari ketika menemukan sesuatu yang menarik di matanya. Rain sampai lelah mengekori sekaligus membawakan belanjaan gadis itu.


“Tau gini tadi bawa pengawal!” cebik Rain kesal. “Zora! Udah belum?” tanya lelaki itu di belakang Zora yang masih kebingungan memilih sepatu.


“Belum, uang kakak belum habis!” celetuk Zora.


“Njirr, kau beli seluruh isi mall ini pun aku bisa bayar walaupun ngutang!” seloroh Rain menendang udara.


“Dih! Ogah! Pokoknya mau kuras isi ATM, Kakak!”


“Astaga, enggak ada hati nih anak. Buka mata woy! Ini dua tangan, leher udah penuh paper bag! Masih kurang puas juga!” geram Rain melotot tajam.


Zora menghentikan gerakannya, ia menggerakkan leher perlahan lalu tersenyum paksa. ‘Iya juga, kasihan sih,’ gumamnya menggaruk kepala yang tidak gatal. Barulah gadis itu berbalik, merangkul lengan sang kakak yang sudah penuh dengan belanjaannya. “Yuk pulang, Kak!” ajaknya.

__ADS_1


Rain mendesah kasar, menatap malas gadis itu. “Andai bukan adikku, kulempar ke laut!” ketus lelaki itu.


“Boleh! Aku pandai berenang!" sahut gadis itu tertawa.


Rain enggan menyahut, ada saja cara gadis itu menimpali ancamannya. Tapi di sisi lain, hatinya diliputi kebahagiaan. Ia seperti menemukan kehidupan baru karena hadirnya Zora.


“Izora, bukakan pintunya!” titah Rain yang tidak bisa meraih kunci mobil.


“Kuncinya mana?” tanya gadis itu menodongkan tangan.


Glek!


Rain termenung, mengerjap berulang ketika sadar, bahwa kunci mobil ada di saku celana bahan yang ia kenakan.


“Mana?” tanya Zora lagi.


“Itu, mmm ....”


Zora tanpa dosa meraba-raba tubuh Rain hingga membuatnya kegelian. Kedua tangan Zora menekan-nekan dada hingga pinggangnya.


“Zora! Issh! Aku buang belanjaanmu nih!”


“Di saku!” sahut Rain tanpa menoleh.


Zora pun kembali meraba bagian tubuh Rainer, karena tak menemukan apa pun, ia beralih pada saku celana. Lengannya masuk, membuat Rain berdebar sembari menahan napas.


“Buruan!”


“Ihh, sabar. Lagian dalam banget sakunya,” gerutu Zora memperdalam lengannya, keduanya tubuh mereka tak berjarak. Tangan Zora lainnya memeluk tubuh Rain. Hingga tanpa sengaja, ia menyenggol wisata masa depan Rainer.


Wajah Rain memerah, ia membuang muka. Darahnya berdesir dengan irama detak jantung bertalu kuat.


“Nah ini dia!” seru Zora menatap kunci mobil tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Segera ia membuka kunci lalu berlari ke belakang membuka bagasi. Membantu meletakkan paper bag yang melilit kedua lengan Rainer. “Menunduk, Kak!” ujar gadis itu hendak meraih tas belanja di leher Rain.


Pria itu menurut, wajah mereka begitu dekat. Rain berkedip lembut menatap setiap jengkal wajah Zora.


“Kenapa muka kakak merah gitu? Alergi panas?” tanya Zora mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Rain tersadar, menegakkan punggungnya, “Enggak! Ayo pulang. Aku masih banyak kerjaan!” ujarnya melangkah panjang menuju kursi kemudi.


Zora mengedikkan bahu tak acuh, kemudian sedikit berlari dan duduk di sebelah sang kakak.


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Tepat di hari pernikahan Cheryl, tubuh Zora ternyata drop. Kelelahan usai berbelanja, bermain, bahkan sampai di hotel pun ia berenang sampai sore.


Tubuh gadis itu demam tinggi, hingga membuat Lala terpaksa menjaga anak gadisnya di kamar hotel. Tanpa bisa menyaksikan pernikahan nona kecilnya.


Rain yang sedari tadi mencarinya pun kini menyusul ke kamar. Ia menemukan Zora terbaring di bawah selimut tebal. Kepalanya terdapat handuk kecil untuk mengompresnya.


“Zora kenapa, Ma?” tanya Rain segera melenggang masuk.


“Demam sejak semalam. Sepertinya Mama nggak bisa ikut hadir. Tolong sampaikan maaf ke Nona Cheryl ya,” sahut Lala.


“Kok bisa sih? Terlalu lincah sih kamu, Zo! Aku panggilin dokter, Ma! Ada yang selalu stanby di sini kok,” ucap Rain khawatir segera menelepon dokter di hotel tersebut.


Setelah itu, Rain duduk di sebelah Zora, menempelkan telapak tangannya di pipi dan kening Zora, meski akhirnya ditepis oleh gadis itu. “Tahu nggak kamu kenapa? Ini namanya kualat karena kemarin ngerjain aku,” ucap Rainer.


“Bodo! Nggak tahu apa itu kualat!” seru Zora dengan suara seraknya.


“Cepet sembuh cabe rawit! Entar sepi nggak ada teman berantem!” ucap Rainer mengacak rambut Zora yang hanya dibalas deheman saja. Rain harus segera hadir dalam pesta pernikahan sang bos.


\=\=\=ooo\=\=\=\=


Hari telah berganti, Lala benar-benar tidak bisa hadir dalam acara pernikahan Cheryl. Apa mau dikata, putrinya sedang terbaring lemah. Padahal, Cheryl sudah menyiapkan gaun spesial untuk mereka berdua.


“La, gimana kondisi Zora?” tanya Rico berlari menuju kamar Zora.


“Udah mendingan, tidur habis minum obat,” sahut Lala.


Rico mendaratkan tubuhnya perlahan di ranjang Zora, menyentuh wajah putrinya bolak-balik. “Syukurlah, mmm ... tadinya aku mau ajak kalian pulang ke rumah orang tuamu? Tapi Zora ....”


“Aku nggak apa-apa, Pa! Ayok!” sahut Zora bersemangat beranjak duduk.


Bersambung!~


Rekomendasi kali ini aku bawain dari othor Nurmay, yang berjudul Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)... Mampir ya best 💋

__ADS_1



__ADS_2