
Jangan nangis ya, cukup authornya aja.... :")
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hening, tanpa suara apa pun setelah pintu tertutup rapat. Dua pasang netra berlapis cairan bening, saling menatap dalam. Embusan napas keduanya begitu berat, seolah tengah menghancurkan kerinduan dan kesakitan yang terpendam selama ini.
Jemari besar milik Rico meraba pipi Lala dengan perlahan, menyeka bulir bening yang terus berjatuhan. Kemudian meraih jemari lentik Lala dan mengecupnya. Matanya terpejam, hingga air matanya pun berjatuhan.
Perlahan Rico menggerakkan tangan, dan menekan tangan Lala di dadanya. Ia kembali menatap nanar wanita itu. “Di sini, masih terbungkus utuh namamu. Tidak seorang pun mampu menggantikannya. Bahkan sekedar menggesernya saja tidak bisa, La. Maaf, sempat mengkhianatimu. Tapi itu benar-benar terpaksa. Dan pada akhirnya takdir pun tidak membiarkan hatiku dimiliki wanita lain. Kamu pemenangnya, La. Hingga detik ini tidak ada yang berubah. Aku hancur sejak kamu menghilang.”
Suara Rico yang parau, tatapan begitu dalam seolah menembus palung hati Lala hingga terdalam. Ia tidak pernah membayangkan akan kembali bertemu lagi dengan Rico. Menghayal saja tidak pernah. Karena ia sudah yakin, jika Rico akan mendapat kebahagiaan, walau tanpa dirinya.
“Ric. Maafin aku....” Tenggorokan Lala tercekat. Tangisnya semakin tak terbendung. Ternyata begitu dalam cinta Rico untuknya.
Rico kembali memeluknya, sangat erat. Membayar semua lukanya selama ini. “Jangan pergi lagi, La. Aku hidup tapi mati selama ini. Aku frustasi mencarimu. Bahkan Tuan Tiger sama sekali tidak mendapat petunjuk keberadaanmu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi,” pinta Rico di tengah tangisnya yang pecah.
Ya, lelaki itu menangis. Hal yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Tapi tidak di hadapan Lala. Dengan gamblang ia tunjukkan sisi terlemahnya.
Pelukan itu semakin erat, Lala mengangguk di dada bidang Rico. Penyesalan besar pun seketika menanjak dari hatinya, karena selama ini tidak pernah mau tahu bagaimana kondisi Rico. Ia benar-benar ingin membuka lembaran baru tanpa orang-orang di masa lalu.
Akan tetapi, Lala baru sadar bahwa ternyata sikapnya justru melukai banyak orang. Keluarga, Rico dan ....
Lala terperanjat, ia mendorong dada Rico dan mendongak, matanya membeliak. “Zora!” seru Lala mengingat putrinya. Orang yang paling terluka karena keputusannya.
Kening Rico mengernyit dalam, “Siapa Zora?” tanya lelaki itu.
__ADS_1
Lala mengedarkan pandangannya, tidak menemukan siapa pun. Tanpa menjawab perkataan Rico, Lala melenggang keluar.
“La, tunggu! Siapa Zora?” teriak Rico berlari dan menahan langkah Lala.
“Zora ... putriku,” ucap Lala menahan napasnya sesaat.
“Kamu sudah menikah?” tuntut Rico semakin mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.
Bahkan tanpa sadar sampai menyakitinya. Matanya tampak menyalang merah. Bagaimana bisa Lala menikah, sedangkan ia dalam kehancuran selama ini, pikirnya.
Lala meringis, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Rico. “Ric, sakit,” rintih Lala menyadarkan lelaki itu.
“Ah, maaf,” ucap Rico melepasnya, menangkup kedua bahu Lala dan menatapnya serius. “Jawab aku, kamu sudah menikah? Kamu bahagia selama ini?” tanya Rico menurunkan nada bicaranya. Tatapannya melembut.
“Rico.” Lala menghela napas berat, “Zora adalah putrimu. Darah daging kita,” ucap Lala seketika membuat Rico membelalak lebar, dengan mulut yang menganga.
“A ... apa? Di mana dia sekarang?” seru Rico dengan sekujur tubuh yang bergetar hebat.
Lala menggeleng, keduanya pun segera berbalik dan melangkah cepat. Lala mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru koridor hotel.
\=\=\=\=°°°°\=\=\=\=
Tangis Zora tak kunjung mereda di pelukan Rain. Cheryl ingin menenangkan, tetapi dengan berat hati ia harus segera kembali ke rumah. Karena masih banyak hal yang harus dia persiapkan.
“Zora, mengertilah....”
__ADS_1
Dengan cepat Zora mendorong dada Rain sembari mendongak. Menatap tajam lelaki itu. Zora memukul dada Rain dengan telapak tangannya, “Mengerti kau bilang? Aku mengerti kalian semua? Lalu siapa yang mau mengerti aku, hah?” teriak gadis itu meluapkan amarahnya.
Rain menunduk, tatapannya menyendu. Ia tahu, pasti kenyataan ini sangat mengguncangnya.
“Seenak jidat kamu memintaku mengerti? 17 tahun aku hidup dalam hinaan dan cacian orang karena tidak punya ayah. Kamu tidak pernah tahu rasanya dikucilkan! Kamu nggak pernah tahu betapa aku iri dengan teman-temanku yang membangga-banggakan ayahnya. Kamu nggak tahu rasanya ketika mereka liburan bersama keluarganya, sedangkan aku....”
Air mata Zora mengalir dengan deras, tubuhnya melemah karena tangis yang tidak bisa mereda, ia hampir luruh ke lantai. Namun dengan sigap Rain menahan kedua bahunya.
“Aku tidak pernah memiliki cerita tentang ayah. Aku tutup mata dan telinga ketika teman-temanku menceritakan asyiknya liburan bersama keluarga. Aku tidak ada tempat untuk mengadu dan bersandar. Sakit!” Zora memukul-mukul dadanya yang teramat sesak.
Gadis yang selama ini pekerja keras, tahan banting, kuat, rela melakukan apa saja demi bisa membantu sang mama, kini luluh lantak karena sebuah kenyataan. Luka yang selama ini ia pendam, nyatanya kini meledak dan memporak porandakan perasaannya.
Lala segera berlari menghampiri, menarik Rain dan memeluk anak gadisnya dengan begitu kuat. Tidak seperti biasanya, Zora langsung membalas pelukan sang ibu. Dua tangan Zora justru menggantung ke lantai. Sama sekali tak berniat untuk membalasnya.
“Maafin mama, Sayang. Maaf!” ucap Lala penuh sesal.
Ia tidak pernah tahu tentang perasaan Zora. Lala tidak pernah mengerti seberapa dalam luka putrinya. Ia mengira semua baik-baik saja. Ternyata salah besar. Dan dadanya sesak ketika mendengar jeritan Zora yang sesungguhnya. Rasa bersalah itu semakin membumbung tinggi.
Gadis itu berhasil melapisi kesedihannya dengan topeng. Zora yang ia kenal, adalah Zora yang tangguh, tidak pernah menangis atau mengeluh. Nyatanya, Zora rapuh.
“Lepas!” pinta Zora lirih. Lala menggeleng, tetap memeluk putrinya kuat-kuat. “Lepasin, Ma!” teriak Zora yang kali ini mendorong wanita itu. Untung saja Rico sigap menangkap tubuhnya. “Kalian semua sama saja! Harusnya aku nggak pernah lahir!” teriaknya berlari meninggalkan orang tuanya.
“Zora!” teriak Lala dengan tangis yang pecah.
Bersambung~
__ADS_1