
“Apa liat-liat? Mau dicongkel tu mata?” tantang Zora memicingkan mata sembari melipat kedua lengannya di dada. Sama sekali tidak ada rasa takut yang menghampiri.
“Ngapain kamu di sini? Bukannya istirahat malah kelayapan!” sentak Rain tanpa sadar, melongokkan kepala ke berbagai sisi seperti tengah mencari seseorang.
Kening Zora semakin mengerut dalam, manik matanya menatap curiga karena merasa Rain SKSD dengannya.
Sedangkan Rico meraih lengan Rain dan menariknya, “Kamu mengenalnya, Rain?” tanya Rico terdengar jelas di telinga Zora.
“Rain?” gumam Zora menelisik seluruh tubuh Rain, memindainya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Kemudian mendelik ketika menemukan telapak tangan Rain yang terluka. Tentu saja ia ingat betul tangan mana yang dilukai oleh mamanya. Lalu menyambungkan kalimat Cheryl yang sempat menyebutkan nama Rain. Pria yang turun langsung menjemput mereka di Mykonos.
“Oh, jadi kamu yang culik aku sama mama!” pekik Zora mendekat, lalu mencengkeram kerah kemeja Rain.
“Apa-apaan ini? Lepaskan! Siapa kamu!” Rico mencoba menghalangi.
“Anda jangan ikut campur!” teriak Zora melotot tajam sembari mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Rico.
Rain menahan napasnya sesaat, sembari menggigit bibir bawahnya. Ia baru sadar jika keceplosan.
Tubuh Zora sepenuhnya menegang, perutnya yang sedari tadi meronta ingin diisi, ditambah emosi yang membuncah, semakin meledakkan amarah gadis cantik itu.
__ADS_1
“Brengsek!” sembur Zora memukul wajah Rain tepat pada hidung dan bibirnya.
Sontak saja, membuat tubuh Rain terhuyung. Tidak menyangka akan mendapat serangan dari adiknya itu.
“Rain!” seru Rico membantu Rain berdiri. Darah langsung mengalir deras dari lubang hidung pria itu. Begitu pun dengan sudut bibirnya. Seperti biasa, sedari kecil Rain tidak berubah. Sedikit saja pendarahan akan sulit dihentikan.
Zora berdecak melihatnya. “Cih! Dasar cowok lemah!” ledeknya memicingkan mata.
“Cepat panggil tim medis!” teriak Rico pada beberapa pelayan hotel yang berhamburan mendekat.
Rain segera didudukkan di kursi, kemudian mendapat penanganan. Setelahnya, Rico memutar tubuh, menatap Zora yang masih berdiri dengan pongah di sana.
“Eh, Om. Pertanyaan itu lebih cocok untuk anak Anda yang manja itu. Kenapa tiba-tiba nyulik aku sama Mama. Dia yang membawa aku ke sini! Mana rombongan pula, berasa kek jadi *******!” elak Zora tidak terima.
“Ssshh, udah, Yah. Aku nggak apa-apa. Kamu udah makan? Ayo kita makan dulu.” Rain yang belum selesai pengobatan bergegas melerai pertengkaran Zora dan Rico.
Sambil menekan kapas di bibir dan hidungnya, Rain menarik lengan Zora menuju restoran.
“Enggak usah pegang-pegang!” Zora menepis kasar tangan Rain.
__ADS_1
“Iya, maaf!” Rain mengangkat kedua tangannya. “Kita bisa bicara baik-baik,” lanjutnya.
“Bicara baik-baik apanya? Gedor rumah orang bawa pasukan bersenjata! Seret aku sama mama kek tawanan, ikat mata, tangan sama mulut, ancam pakai pistol. Hello! Situ amnesia?” Zora yang memang masih labil, emosinya tentu mudah meledak-ledak.
“Cukup!” Rico berdiri di antara Zora dan Rain. Menatap dua insan itu bergantian dengan mata elangnya. “Apa yang kalian bicarakan? Penculikan? Apa sih ini, Rain? Jelasin!” tegas pria itu menuntut.
Rain menghela napas panjang, padahal ia masih ingin menyelidiki siapa gadis cantik namun bar-bar itu. Kenapa memanggil Lala dengan panggilan mama. Ia sangat penasaran. Akan tetapi, kehadiran sang ayah tentu mengacaukan semuanya.
“Dia ....”
Bersambung~
Sebelumnya mon maaf buat yang nggak suka alurnya. stp novel yang aku tulis udah ada outline nya sampai ending, gak bisa kalau tiba2 diubah atau diedit. Makasih yang kasih saran ya.
Dan maaf untuk gina atau siapa lah kemarin, terpaksa aku block. Aku ga masalah sih kalau dihujat kek gimana pun. Malah ketawa aja. tapi aku ga bisa kalau tiba2 kasih rate/bintang 1. kalau kamu masih baca, i'm sorry ya. Kamu keterlaluan.
Buat semua komentar positif dan supportnya, terima kasih banyak 🙏🥰
__ADS_1