
Waktu terus bergulir, genap satu bulan Rico menikah. Rain sudah mulai bisa bersosialisasi dengan lancar, sehingga Rico menyekolahkan anak itu di tempat yang sama dengan Cheryl. Dua bocah itu pun semakin akrab.
Malam kelabu bagi Rico. Tiada detik yang terlewati tanpa bayangan Lala. Di setiap sudut kediaman Tiger, Butik Anastasia, Lala selalu memenuhi pikiran Rico. Tapi biar bagaimana pun ia tetap profesional dalam bekerja. Meski sekarang menjadi pria yang irit bicara.
Entah kenapa, malam itu Rico tidak ingin pulang. Mobil yang dikendarai justru berhenti di pelataran bar. Yang mana semakin larut, justru semakin ramai.
Rico duduk di depan bartender, meminta sebotol win beserta gelasnya. Otaknya hanya dipenuhi dengan Lala dan Lala saja. Setiap tidur di ranjang bersama Airin, hatinya justru sakit karena mengingat ia telah merenggut mahkota Lala.
“Satu lagi! Udah habis!” pinta Rico setelah menuangkan tetesan terakhir minuman beralkohol itu.
“Maaf, Tuan. Kami akan tutup sebentar lagi. Silakan lakukan pembayaran,” ujar bartender itu dengan sopan.
Rico sudah mabuk berat. Penglihatannya mulai samar-samar, “Aahh! Baru saja duduk sudah ditutup! Kau ini mau uang atau tidak, ha?” decak Rico turun dari kursi dan merogoh beberapa lembar uang dari dompetnya.
Rico melenggang sembari meracau tidak jelas. Bartender itu hanya menggeleng, merasa iba pada Rico yang sepertinya tengah frustasi.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah bahkan sesekali berhenti karena menabrak trotoar atau pepohonan. Untung saja tidak terjadi kecelakaan. Jalanan pun sudah sepi. Langkah gontainya berhasil mengantar Rico sampai di apartemen.
“Lala!” panggil Rico melepas sepatu dan jasnya sembarangan.
Airin terperanjat ketika melihat pintu terbuka dengan kasar, apalagi tubuh Rico yang terhuyung, tidak berjalan tegap. Ia segera turun memapah suaminya ke ranjang.
“La! Aku merindukanmu! Kamu ke mana aja?” gumam Rico menangkap pergelangan tangan Airin.
“Maaf, Ric. Aku Airin, bukan Lala,” tolak Airin mencoba melepas genggaman tangan Rico. Tapi sangat sulit. Apalagi kini pria itu ambruk di ranjang lalu membalik posisi hingga Airin di bawah kungkungannya.
__ADS_1
Dalam bayangannya, wanita itu adalah Lala. Berkali-kali Rico menyebut nama Lala. Rico terus mencumbunya, bau alkohol menyengat di bibirnya. Apa daya, Airin tidak bisa mengelak. Lagi pula, Rico suaminya. Walaupun merasakan nyeri di hati ketika Rico terus menyebut nama wanita lain di tengah penyatuan tubuh mereka.
Entah berapa kali dalam semalam, hingga tubuh keduanya benar-benar letih dan tertidur dalam keadaan polos.
Keesokan paginya, Rico mengerang karena merasa pusing yang luar biasa. Airin segera masuk ke kamar membawakan semangkok sup untuknya.
“Kamu sudah bangun. Ini, semoga bisa menghilangkan pengar. Ini obatnya,” ucap Airin meletakkan nampan di atas nakas.
Rico mengerjapkan mata, lalu terperanjat sembari mendelik ketika merasakan tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Matanya mengeliling, menatap nanar pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Sial!” geram Rico pada dirinya sendiri.
Pria itu menarik selimut untuk membalut tubuhnya, lalu melenggang ke kamar mandi. Dari luar terdengar Rico berteriak kesal sembari memukul sesuatu. Airin sadar, pasti Rico menyesal melakukannya. Tapi, mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur dan tidak bisa dihindari.
Sejak saat itu, sikap Rico pada Airin justru semakin dingin. Meski tidak pernah melakukan kekerasan, Rico hanya bicara sepatah dua patah kata saja. Bahkan ketika mendengar celoteh Rain, Rico hanya menanggapi dengan senyuman sembari menepuk puncak kepalanya. Sesekali memberi pujian.
Malam naas bagi Rico itu, ternyata menumbuhkan benih di rahim Airin. Tetapi wanita itu diam saja. Tidak ingin memberi tahu kabar tersebut pada Rico. Ia takut, Rico akan semakin membencinya.
Tepat pada usia kandungan Airin yang ke lima, perut Airin tampak membuncit. Sekalipun Airin selalu mengenakan baju kedodoran untuk menutupinya. Beruntungnya, Airin tidak mengalami morning sickness. Sehingga sama sekali tidak menimbulkan pertanyaan di benak Rico.
“Kami berangkat dulu,” pamit Rico menggandeng tangan Rain yang bersiap ke sekolah.
“Iya, hati-hati,” balas Airin melambaikan tangan mengantar anak dan suaminya di depan pintu apartemen.
Setelah menjauh, Airin masuk kembali mengambil tasnya. Ia berencana untuk memeriksa kandungan, karena sudah jadwalnya.
__ADS_1
Saat memasuki lift, tiba-tiba seseorang di belakangnya menghunuskan sebuah pisau tepat pada perut wanita itu.
“Aaargggh!” jerit Airin membelalak, menyentuh pisau yang menancap di perutnya. Lalu memutar tubuh, menatap sesosok pria yang tak asing di matanya.
Bersambung~
Gimana? gimana? kabuurr ahh pasti dihujat lagi 😂😂
__ADS_1