
BUGH!
Kepalan tangan besar Dodi mendarat di sudut bibir Rico begitu kuatnya, hingga cairan merah seketika mengalir. Tubuhnya sampai terhuyung ke samping.
“Papa!” jerit Zora meraih bahu sang ayah dan menariknya. Zora begitu ketakutan, dia tidak ingin kembali jauh dari pria yang telah membuatnya lahir ke dunia.
Lala pun segera melepas pelukan dari ibunya, ia terkejut dan hendak menghampiri Rico namun tangan Dodi melayang ke udara dan hendak mendaratkan sebuah tamparan di pipi Lala.
Zora yang melihatnya segera bergerak cepat dan menjadi tameng Lala, hingga tamparan kuat itu mendarat di pipinya.
“Zora!” teriak mereka bersamaan.
Rambut pendek Zora bergerak menutupi wajahnya, napasnya tersengal merasakan kebas dan perih di pipinya. Bibirnya bergetar dan kepala yang masih menoleh ke samping kanan.
“Sayang, Sayang, kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu menghalanginya, Mama memang salah, Mama pantas mendapatkannya. Jangan gitu lagi, Nak. Mama nggak mau lihat kamu terluka,” cecar Lala panik berurai air mata. Ia menyibak rambut Zora hingga wajah gadis itu terlihat jelas. Sebelah pipinya memerah. Bibirnya menyunggingkan senyum getir.
__ADS_1
“Tenang aja, Ma. Zora nggak apa-apa,” sahutnya mencium kedua telapak tangan Lala.
Gadis itu berbalik, hingga kini bertatapan dengan mata tajam kakeknya. Terlihat jelas, tangan pria tua itu gemetar setelah menampar cucunya.
Zora menghela napas panjang, “Kakek, Pak atau bagaimana saya memanggilnya? Kami datang ke sini baik-baik. Saya memang enggak tahu bagaimana rasanya menjadi Anda. Tetapi, dalam hati kecil saya sangat berharap kami membawa kebahagiaan,” tuturnya dengan suara parau. Matanya memerah, sebisa mungkin menahan air mata, sialnya tidak bisa. Linangan air mata berjatuhan dengan lancang membasahi pipinya.
“Ternyata, tidak sesuai ekspektasi saya. Terlalu tinggi harapan saya mempunyai keluarga yang utuh. Tolong jangan salahkan mama. Semua gara-gara saya. Karena kehadiran saya, mama tidak berani pulang. Beliau takut karena telah mengecewakan Anda. Mama takut dihakimi dan membuat aib keluarga Anda. Jadi cukup, jika memang Anda tidak menginginkan kehadiran kami, setidaknya beri restu untuk papa dan mama.” Zora semakin terisak, napasnya semakin berat dengan dentuman kepala yang begitu hebat.
Lala memeluknya sembari menggeleng, “Jangan bicara seperti itu, Sayang,” ujarnya merasa bersalah.
“Zora! Zora!” teriak Lala memeluk erat anak gadisnya. “Rain, Rico cepat bawa ke rumah sakit!” pekik Lala panik memangku tubuh putrinya, memeluknya begitu erat.
Rico segera menggendong tubuh Zora dan berlari keluar rumah, Rain juga melangkah panjang dan menghentikan taksi. Untung saja ada taksi yang kosong sehingga mereka tak perlu menunggu lama.
Rain membukakan pintu bagian belakang, membiarkan sang ayah masuk dengan Zora di pangkuannya. Pria itu memeluk putrinya dengan begitu erat. Takut sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1
Lala langsung duduk di sebelah Rico. Rain berpindah ke depan dan segera melesat ke rumah sakit.
Dodi terpaku, tubuhnya melemas hingga terjatuh. Pandangannya tampak kosong, bulir bening mulai berjatuhan di pipinya.
“Sudah begitu lama aku menunggu kedatangannya. Dia yang sangat aku rindukan dan selalu kusebut dalam doa, selalu aku mimpikan telah pulang. Tapi kamu kembali membuatnya pergi. Kamu selalu memikirkan reputasi, aib. Tapi pernahkah kamu memikirkan keadaannya? Pernahkah kamu berpikir kenapa dia melakukannya? Karena sikapmu yang keras seperti ini, Pa,” lirih Hera menatap nanar keluar gerbang.
Tidak terdengar jawaban apa pun, pria itu pun mematung dalam penyesalannya. Kesal tiba-tiba kembali membuncah ketika melihat Lala. Ia yang sedari dulu memiliki tempramen tinggi, tidak bisa mengontrol emosi. Padahal di hati kecilnya, Dodi juga sangat merindukan putrinya yang kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa.
“Kamu bahkan menyakiti cucuku.” Tangis Hera semakin pecah.
Wanita tua itu masuk ke rumah, tak berapa lama keluar dengan sweater tebal dan sebuah tas. Ia berjalan dengan langkah pelan menyusul Lala.
Dodi mengusap wajahnya kasar, menyandarkan punggungnya pada dinding. Tak berapa lama tangisnya pun pecah. Tubuhnya sampai terguncang.
Bersambung~
__ADS_1